
Malam ini Fathur dan Nadya menginap di rumah Mama Resti. Karena tidak mungkin juga mereka langsung pulang begitu saja setelah acara syukuran 4 bulanan kehamilan Nadya dilakukan disini.
"Haii baby... Nggak nyangka kamu sekarang udah besar aja. Mama bahagia banget karena kamu tumbuh dengan sehat didalam sini. 5 bulan lagi, insha kita bakal ketemu sayang." Nadya mengusap perutnya dengan senyum bahagia yang terpancar di wajahnya.
Fathur yang beru keluar dari kamar mandi tersenyum melihat apa yang sedang Nadya lakukan. Dengan segera Fathur naik keatas ranjang bergabung bersama Nadya.
Tangan Fathur terulur mengusap perut Nadya yang sudah membuncit cukup besar. Kemudian Fathur menundukkan dirinya hingga wajahnya sejajar dengan perut Nadya. Nadya yang melihat itu hanya tersenyum. Tangan Nadya kini beralih mengusap rambut Fathur.
"Baby... Ini Daddy sayang... Kamu lagi apa didalam sana?" Ujar Fathur mengajak calon anaknya berbicara.
"Lagi siap-siap mau bobok, Daddy. Sekarang udah malem, jadi aku udah mulai ngantuk." Jawab Nadya seraya menirukan suara anak kecil.
Fathur tersenyum mendengar jawaban Nadya.
"Ya udah, bobok yang nyenyak ya sayang. Daddy mau ajak Mama main sebentar, tapi Daddy janji nggak akan bikin bobok kamu jadi terganggu kok." Ucap Fathur.
Mendengar ucapan Fathur, tidak dipungkiri kalau wajah Nadya seketika langsung memerah karena malu. Nadya tentu saja sangat tau mengenai arti kata 'main' yang Fathur ucapkan. Dan kalian pasti juga tau apa maksudnya kan?
"Mas..." Ujar Nadya memanggil Fathur.
Namun Fathur mengabaik panggilan Nadya, dia justru mengangkat piyama yang Nadya pakai, kemudian memberikan banyak kecupan disana.
"Daddy sayang sama kamu." Bisik Fathur mengakhiri kecupannya.
Dan kini, Fathur dan Nadya duduk dengan posisi saling berhadapan.
"Aku mau kamu, boleh kan sayang? Janji aku bakalan main pelan-pelan." Ujar Fathur kepada Nadya.
Kalau sudah seperti ini, apalagi yang bisa Nadya lakukan selain memberikan Fathur izin. Nadya cukup tau kalau menolak keinginan suami termasuk dosa. Apalagi saat ini kondisi Nadya baik-baik saja.
"Iya boleh." Jawab Nadya dengan malu-malu.
Sudah lama mereka menikah, tapi Nadya masih saja malu-malu kepada Fathur. Dan ini selalu membuat Fathur merasa sangat gemas kepada Nadya. Karenanya, Fathur juga jadi senang menggoda Nadya.
"Tumben langsung jawab iya, biasanya nolak dulu. Pasti kamu juga lagi pengen ya?" Ujar Fathur kepada Nadya.
Nah kan, baru saja dikatakan kalau Fathur senang menggoda Nadya karena kepolosannya. Sekarang Fathur sudah memulai aksinya lagi untuk menggoda Nadya.
Dan benar, wajah Nadya semakin memerah dibuatnya.
"Nanti kalau aku nolak, Mas Fathur pasti bakal ngeluarin dalil kalau menolak keinginan suami itu dosa." Jawab Nadya.
Fathur tertawa kecil mendengar ucapan Nadya. Karena yang Nadya katakan ini memang benar. Kalau Nadya sedang dalam mode sok menolak, maka Fathur akan mengatakan itu. Dan itu selalu berhasil, Nadya langsung setuju kalau Fathur sudah mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Pinter..." Ucap Fathur.
Di usia kehamilan Nadya yang memasuki bulan ke 4 ini, berat badan Nadya sudah baik sebanyak 7 kg. Tapi percayalah, Nadya justru semakin menggairahkan dengan tubuh berisinya ini. Meskipun sebenarnya Fathur juga tetap menyukai bentuk tubuh Nadya yang dulu. Atau mau bagaimana pun bentuk tubuh Nadya, Fathur yakin kalau dia pasti akan tetap menyukainya.
Sejauh ini, Nadya beberapa kali mengeluh akan bentuk tubuhnya yang mulai berubah. Padahal perubahan bentuk tubuh Nadya hanya di tempat yang semestinya. Untuk itu, agar Nadya tetap percaya diri, Fathur selalu memuji bentuk tubuh Nadya dan mengatakan kalau dia menyukainya.
Dengan perlahan Fathur mulai membuka kancing piyama yang Nadya gunakan. Hingga saat semua kancing sudah terlepas, terlihatlah bagian atas tubuh Nadya yang sudah tidak berbalut apa-apa. Karena pada dasarnya, setiap akan tidur Nadya pasti selalu melepas bra-nya.
"Kamu seksi sayang, aku suka." Ucap Fathur tanpa mengalihkan matanya dari tubuh Nadya.
"Jangan diliatin kaya gitu, aku malu Mas." Ujar Nadya kepada Fathur.
Fathur tersenyum.
"Kenapa harus malu? Kamu cantik, kamu juga seksi, jadi tidak ada celah untuk menjadi alasan kamu malu, sayang."
Tidak ingin terlalu banyak berbicara, Fathur langsung melancarkan aksinya dengan mulai memberikan Nadya sentuhan-sentuhan yang membuat wanita itu jadi menginginkan dirinya. Hingga akhirnya Nadya benar-benar pasrah karenanya.
"Kamu diatas, sayang." Bisik Fathur kepada Nadya.
Meskipun sudah sangat ingin, Fathur tetap tidak akan mengabaikan kenyamanan Nadya. Sejauh ini, selama Nadya hamil, posisi inilah yang membuat Nadya merasa paling nyaman.
Selesai dengan urusannya di kamar mandi, Fathur kembali naik ke ranjang bergabung dengan Nadya lagi. Terlihat saat ini Nadya tidur dengan sangat lelap. Akhir-akhir ini Nadya sudah tidak lagi nyaman kalau tidur dengan posisi telentang. Karena itulah, Nadya tidur dengan posisi menyamping ke kiri atau ke kanan.
Fathur tersenyum, tangannya terulur untuk mengusap perut buncit Nadya dengan oeras bahagia.
Benar, sejak mengetahui kalau di perut Nadya terdapat darah daging mereka, Fathur selalu menyambut hari-harinya dengan bahagia.
Karena tdak ingin membangunkan Nadya, Fathur hanya mengusap perut Nadya saja. Fathur akan menyapa calon anaknya nanti kalau Nadya sudah bangun.
__ADS_1
Sampai tidak lama kemudian, Fathur merasakan pergerakan Nadya. Dengan perlahan, mata Nadya juga mulai terbuka.
Cup...
Fathur mencium bibir Nadya.
"Selamat pagi sayang..." Ucap Fathur seraya memperlihatkan senyum terbaiknya.
Nadya juga tersenyum.
"Selamat pagi juga Mas."
Sebelum beranjak dari tempat tidur, Fathur dan Nadya memilih untuk ngobrol sebentar. Sebel akhirnya obrolan pagi ini harus mereka akhiri karena suara ketukan pada pintu kamar.
"Mbak Nad... Mas Fathur... Udah bangun belum? Bude udah nunggu dibawah buat sarapan." Ujar Nabila memanggil Nadya dan Fathur.
.
.
.
*Setelah sekian lama, akhirnya bisa up lagi π*
*Maaf karena udah buat temen-temen nunggu lamaπ*
*Jangan lupa kritik dan sarannya π*
***Terima Kasih ππ₯°***
__ADS_1