UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Mau anak!


__ADS_3

"Huftt... Akhirnya aku berhasil membuat kamu lepas dari jerat Nabila sama Mama." Ujar Fathur begitu dia menurunkan Nadya dari gendongannya ke atas ranjang.


Sementara itu, Nadya tertawa kecil mendengar ucapan Fathur. Jerat Nabila dan Mama? Apa-apaan itu. Memangnya kapan Nabila dan Mama Resti menjerat Nadya? Fathur memang ada-ada saja.


"Kok kamu malah ketawa sih, Yang?" Ujar Fathur kepada Nadya.


Jangan heran kalau sekarang Fathur sudah mulai memanggil Nadya dengan panggilan sayang. Awalnya Nadya juga merasa aneh saat Fathur memanggilnya seperti itu, tapi kini Nadya mulai terbiasa saat Fathur memanggilnya sayang atau yang.


"Ya abis Mas Fathur lucu. Sampai sebegitunya rebutan aku sama Nabila dan Mama." Jawab Nadya.


"Ya daripada kamu diambil alih sama mereka, aku nggak mau ya..." Ujar Fathur.


"Pasti Nabila sama Mama bakal mikir kalau Mas itu aneh. Karena biasanya kan Mas Fathur juga enggak pernah protes aku tidur sama Nabila atau tidur dimana aja. Tapi sekarang..."


"Dulu beda, Fathur yang dulu itu bodoh karena udah nyia-nyiain kamu. Kalau Fathur yang sekarang udah pinter, Fathur udah sadar kalau Nadya itu sangat berharga buat dia." Ujar Fathur memotong ucapan Nadya.


Fathur yang sekarang sudah mulai mengesampingkan gengsinya. Fathur akan memberitahu apapun yang dia rasakan kepada Nadya. Karena Fathur tidak ingin terjadi lagi kesalahpahaman diantara mereka seperti yang pernah terjadi sebelumnya.


"Dan nggak papa kalau Nabila sama Mama anggap aku aneh. Yang penting kamu tetap tidur sama aku." Tambah Fathur.


Nadya jujur saja merasa speechless saat mendengar ucapan Fathur. Nadya tidak menyangka kalau perubahan Fathur akan sedrastis ini. Fathur yang awalnya cuek dan kaku bisa semanis ini kepada Nadya.


"Kok diem?" Tanya Fathur kepada Nadya.


Nadya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"Enggak papa." Jawab Nadya.


Kini Fathur dan Nadya saling bertatapan. Entah kenapa, mereka berdua tidak bisa memalingkan wajah mereka satu sama lain.


Dengan senyum misteriusnya, Fathur mendudukkan dirinya diatas ranjang berdampi dengan Nadya.


"Nad, aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu?" Ujar Fathur kepada Nadya.


Sesuatu? Apa? Sebelumnya Fathur tidak pernah meminta apa-apa kepada Nadya.


"Mas mau minta apa?" Tanya Nadya dengan suara lirih.


Entah kenapa mendadak hawa terasa berbeda. Untuk Nadya sendiri rasanya agak sedikit mencekam.


Masih dengan senyum misterius pada bibirnya, Fathur menjawab pertanyaan Nadya.


"Minta anak." Jawab Fathur.


Hening...


Sepertinya Nadya sedang berusaha mencerna jawaban Fathur.


"Anak?" Tanya Nadya memastikan.


Fathur menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya, aku mau minta anak dari kamu." Jawab Fathur.


"Tapi aku nggak punya anak, Mas."


Mendengar jawaban Nadya, Fathur dengan pelan menyentil dahi Nadya.


"Kalau itu aku juga tau, Nad." Ujar Fathur. "Maka dari itu, ayo kita bikin anak bareng."


Sepertinya Nadya yang terlalu terkejut dengan permintaan Fathur belum sepenuhnya mencerna ucapan laki-laki itu. Terbukti dengan jawaban Nadya yang masih saja melantur.


"Emang Mas Fathur udah beli bahan-bahannya?"


Apa Nadya bilang? Bahan? Memangnya buat anak dari adonan roti pakai segala bahan dibawa-bawa. Bukankah Nadya adalah seorang guru? Lalu kenapa Nadya bisa selemot ini? Sekarang Fathur jadi ragu kalau Nadya adalah seorang guru.


Fathur yang tidak tau harus menjawab apalagi memilih untuk langsung memulai aksinya agar Nadya bisa langsung paham.


Dengan segera Fathur langsung meraih leher Nadya dengan kedua tangannya. Membawa wajah Nadya mendekat kearahnya, hingga akhirnya bibir mereka saling bersentuhan. Tentu saja sekedar sentuhan tidak bisa membuat Fathur puas, karena yang Fathur lakukan setelahnya jelas lebih dari itu.


Hingga akhirnya Nadya mulai kehabisan oksigen, barulah Fathur melepaskan tautan bibir mereka. Fathur mengusap bibir Nadya yang basah dan sepertinya mulai bengkak karena dirinya.


"Sekarang udah paham kan?" Tanya Fathur kepada Nadya.


Dengan malu-malu Nadya menganggukkan kepalanya.


"Sekarang bisa kita mulai proses pembuatan anaknya?" Tanya Fathur lagi.


"Eehmm... Aku malu." Jawab Nadya dengan kepala tertunduk.


"Malu kenapa?" Tanya Fathur dengan wajah bingung.


"Sekarang kan kita lagi di rumah Mama. Nanti kalau..."


"Tenang aja, mau sekeras apapun suara kita nanti, nggak bakal ada yang denger. Kamar ini memang di design supaya kedap suara. Jadi semua aman, kamu nggak perlu khawatir kalau soal itu." Jawab Fathur memotong ucapan Nadya.


Kini wajah Nadya semakin memerah setelah mendengar ucapan Fathur. Kalau sudah seperti ini, apalagi alasan yang harus Nadya coba?


Sebenarnya bukan Nadya tidak mau memberikan hak Fathur. Bukan juga karena Nadya tidak ingin atau semacamnya. Nadya tentu saja mau karena ini adalah sesuatu yang sudah Nadya tunggu sejak mereka menikah. Hanya saja Nadya belum mempersiapkan apa-apa untuk malam ini. Kalau saja Nadya tau malam ini Fathur akan memintanya, pasti sehari sebelumnya Nadya akan melakukan perawatan pada tubuhnya.


"Mau kan?" Tanya Fathur dengan lembut.


Karena tidak mungkin juga untuk Nadya menolak, jadi Nadya menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku mau." Jawab Nadya.


Mendengar jawaban iya dari bibir Nadya membuat Fathur langsung bernafas lega. Karena sejujurnya Fathur pasti tidak akan bisa menahan lagi kalaupun Nadya mengatakan tidak. Otak Fathur saat ini sudah memikirkan banyak sekali hal-hal tidak senonoh yang akan dia lakukan kepada Nadya.


Meskipun ini juga akan menjadi kali pertama untuk Fathur, tapi sebelumnya Fathur sudah melakukan beberapa hal yang cukup intim dengan mantan pacar-pacarnya. Jadi bisa dikatakan kalau Fathur sudah cukup pro untuk masalah seperti itu.


Tanpa menunggu lama Fathur kembali memagut bibir manis milik Nadya. Bibir yang selama ini sudah menjadi candu untuknya. Sejak Fathur mengetahui kalau dia adalah first kiss seorang Nadya, rasa bangga begitu melingkupi hatinya. Bahkan kalau bisa Fathur ingin memamerkan fakta itu kepada seluruh dunia kalau perlu. Untung saja Fathur masih bisa berpikir dengan normal dan tidak membicarakan masalah ini dengan orang lain, termasuk Rony.


Begitu tangan Fathur mulai mencoba untuk membuka kancing piyama yang Nadya gunakan, tiba-tiba wanitanya itu mendoro tubuh Fathur dengan pelan.

__ADS_1


Membuat Fathur menatap Nadya dengan bingung.


"Kenapa?" Tanya Fathur kepada Nadya.


Dengan malu-malu...


"Lampunya bisa dimatiin dulu nggak?" Jawab Nadya seraya menundukkan kepalanya.


Benar, Nadya baru sadar kalau lampu kamar masih menggunakan lampu utama. Dan itu membuat Nadya sedikit tidak nyaman jika harus melanjutkan kegiatan mereka. Karena Nadya malu kalau Fathur melihat tubuhnya dengan sangat jelas.


Tanpa banyak bertanya, Fathur langsung mematik lampu utama sesuai dengan permintaan Nadya. Kemudian menggantinya dengan lampu tidur yang cahayanya lebih temaram. Jadi membuat kondisi di kamar saat ini tidak terlalu gelap.


"Sekarang sudah bisa dimulai?" Tanya Fathur dengan senyum tipis pada bibirnya.


Sebenarnya Fathur sudah sangat tidak sabar. Tapi Fathur cukup mengerti kalau dia harus melakukannya secara bertahap. Biar bagaimanapun Nadya termasuk wanita yang bisa dikatakan awam untuk masalah seperti ini.


Nadya menganggukkan kepalanya.


Sebelum Fathur menghampiri Nadya, terlebih dahulu dia membuka semua kain yang menutupi tubuhnya. Hingga menyisakan satu penutup yang menutupi bagian pribadinya.


Sementara itu, tentu saja Nadya sudah memalingkan matanya karena malu melihat apa yang sedang Fathur lakukan.


Fathur sendiri memperlihatkan senyum smirk-nya. Tanpa menunggu lama lagi, Fathur langsung menghampiri Nadya dan memberikan banyak ciuman-ciuman yang membuat istrinya itu pada akhirnya terlena.


Dengan perlahan Fathur mulai mencoba kembali untuk membuka kancing piyama Nadya. Kali ini tidak ada penolakan dari istrinya. Nadya tampak pasrah membiarkan dan membiarkan Fathur melakukan itu.


Hingga akhirnya...


"Sudah siap?" Tanya Fathur dengan suara lembut.


Nadya yang melihat sorot penuh damba di mata Fathur, menganggukkan kepalanya.


"Siap." Jawab Nadya lirih.


Fathur tersenyum kemudian memberikan banyak sekali kecupan pada wajah Nadya. Sampai tiba pada waktunya, Fathur berhasil mengambil sesuatu berharga milik Nadya.


.


.


.


Udah tuhhh malam pertamanya 🤣


Buat yang minta Nadya supaya double up, maaf banget sampe sekarang belum bisa ngabulin. Soalnya aku nggak punya stok bab😅


Tapi aku bakal usahain buat setiap hari up kok😁


Jangan lupa kritik dan sarannya 😍


Terima Kasih 😘🥰

__ADS_1


__ADS_2