UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Kalian tim mana?


__ADS_3

"Modus banget jadi laki." Ujar Fathur ketus.


Melihat foto-foto Nadya yang berada dalam satu frame dengan Andi membuat Fathur merasa marah entah karena apa. Fathur benar-benar tidak suka melihat Andi berada disekitar Nadya.


Karena melihat foto-foto itu, Fathur yang awalnya tidak berniat membuka aplikasi chatting milik Nadya mendadak jadi penasaran. Terlebih dengan chattingan Nadya dengan Andi.


Melihat nama kontak Andi yang dinamai dengan sangat formal oleh Nadya, jujur itu membuat Fathur sedikit senang. Karena itu berarti Nadya tidak menganggap Andi spesial.


from Pak Andi


Selamat malam Nadya.


^^^to Pak Andi^^^


^^^Selamat malam Pak Andi. Ada keperluan apa yang tiba-tiba chat saya?^^^


"Sepertinya Nadya tipe perempuan yang to the point." Gumam Fathur.


from Pak Andi


Enggak ada keperluan apa-apa Nad. Aku cuma pengen ngucapin selamat malam aja ke kamu.


Fathur tertawa.


Membaca pesan pertama Andi yang tidak mendapatkan balasan dari Nadya, membuat Fathur merasa lega dan juga senang. Sekarang Fathur percaya kalau Nadya memang tidak main belakang dengan Andi. Meskipun terlihat sangat jelas kalau Andi memang mengejar-ngejar Nadya. Dilihat dari chatnya saja Nadya selalu menanggapi Andi dengan formal. Dan jika Andi menchatting dirinya tanpa adanya urusan penting, maka Nadya tidak pernah membalasnya.


from Pak Andi


Nad, aku serius dengan perasaan ini. Maaf, aku sudah mencoba untuk berhenti mencintai kamu. Tapi tidak bisa, yang ada aku malah semakin mencintai kamu.


Fathur sangat geram membaca pesan itu.


^^^to Pak Andi^^^


^^^Hentikan, jangan diteruskan, Pak Andi.^^^

__ADS_1


Dan masih banyak lagi pesan-pesan ungkapan cinta dari Andi kepada Nadya. Fathur yang membacanya merasa sangat marah, namun sekaligus senang karena Nadya sama sekali tidak meresponnya. Kalaupun Nadya merespon, itu adalah respon tegas sebuah penolakan.


Namun ada yang membuat Fathur semakin kesal, yaitu bio milik Andi, yaitu NPA dengan emot love berwarna merah dibelakangnya. Bukankah itu inisial dari nama Nadya? Nadya Putri Anjani.


"Alay..." Ujar Fathur kesal.


Setelah membaca semua pesan dari Andi, kini Fathur tertarik membaca pesan dari kontak yang dinamai Pak Restu. Memang tidak terlalu terang-terangan seperti Andi, tetapi Fathur langsung sadar kalau Restu juga menyukai Nadya. Dan ada lagi, kontak dengan nama Noval 12 IPS 1. Fathur sangat yakin kalau itu adalah salah satu murid Nadya. Seperti yang sudah pernah Rony katakan kepadanya, Fathur juga langsung tau kalau Noval ini adalah salah satu murid yang menyukai Nadya.


Benar-benar, rasanya Fathur ingin sekali marah. Tapi Fathur sendiri bingung alasan dirinya marah karena apa. Masa iya marah karena banyak laki-laki yang menyukai Nadya? Memang apa haknya marah?


Tapi...


Loh, tunggu-tunggu. Fathur memiliki hak untuk marah dong. Secara Fathur adalah suami sah Nadya. Benar bukan? Secara hukum dan agama Nadya dan Fathur sah sebagai sepasang suami istri.


Setelah berhasil meredam emosi yang rasanya ingin sekali meledak saat ini juga, Fathur segera memutar balik arah mobilnya kembali menuju sekolah tempat Nadya mengajar.


Biar bagaimanapun, Fathur paham kalau ponsel ini pasti akan sangat penting untuk Nadya. Jadi Fathur memutuskan untuk mengantarnya.


Tapi sesampainya disana, gerbang sudah di tutup. Tentu saja, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah 8. Itu berarti aktivitas belajar dan mengajar sudah dimulai. Dan karena Fathur tidak ingin mengganggu, jadi Fathur memutuskan untuk menitipkan ponsel milik Nadya kepada satpam.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya satpam sekolah bername tag Prapto itu.


"Saya boleh minta tolong nggak Pak? Ini HP istri saya tadi ketinggalan. Saya minta tolong dikasihkan ke dia boleh kan?" Ujar Fathur dengan sopan.


"Nama istrinya kalau boleh tau siapa ya Pak? Masalahnya kita aja baru kenal nih, jadi saya nggak nama istri Bapak." Jawab Pak Prapto.


"Nadya Pak, Guru Bahasa Indonesia. Kenal kan Pak?"


"Ooo Ibu Nadya... Kalau Bu Nadya jelas saya kenal. Semua orang disini juga pasti kenal sama Bu Nadya." Ujar Pak Prapto. "Jadi sampean ini suaminya Bu Nadya to. Ternyata Bu Nadya pinter pilih suaminya." Tambah Pak Prapto.


Fathur tersenyum mendengar pujian yang secara tidak langsung Pak Prapto berikan kepadanya.


"Makasih Pak. Jadi ini saya boleh minta tolong kasihkan HPnya ke Nadya kan?" Tanya Fathur.


"Ya tentu saja bo..." Mendadak ucapan Pak Prapto terhenti karena seseorang menepuk bahunya. Pak Prapto tentu saja langsung membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ada apa Pak?" Tanya orang itu.


"Nggak ada apa-apa Pak Andi. Ini suaminya Bu Nadya mau minta tolong buat kasihkan HP Bu Nadya yang ketinggalan." Jawab Pak Prapto.


Sementara itu, saat ini Fathur tengah menatap tajam kepada laki-laki didepannya ini. Sekali melihat saja Fathur langsung tau kalau laki-laki itu adalah Andi. Dan akhirnya kini keduanya saling bertatapan.


Fathur dengan wajah datarnya, sementara Andi dengan wajah ramahnya. Dan Fathur sangat tau kalau wajah ramah Andi ini hanyalah topeng belaka. Fathur sudah berinteraksi dengan banyak orang, baik kolega bisnisnya maupun karyawannya. Jadi sedikit banyak dia bisa langsung tau karakter orang tersebut seperti apa meskipun mereka baru pertama kali bertemu. Dan yang Fathur lihat dari Andi, sepertinya laki-laki seperti Andi ini adalah tipe orang yang suka bermain belakang.


"Oo ini suaminya Bu Nadya. Kenalin saya Andi, saya guru olahraga disini, sekaligus temen Bu Nadya. Kalau tidak keberatan, biar saya saja yang bawakan ponselnya ke Bu Nadya. Kebetulan saya juga mau ngajar di kelas sebelahnya." Ujar Andi menawarkan diri. Andi juga tetap mempertahankan wajah ramahnya. Senyum tipis bahkan masih tersungging dibibirnya.


Sedangkan Fathur? Sama sekali tidak terlihat wajah ramah apalagi senyum dibibirnya.


"Tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan Anda. Lebih baik Pak Prapto saja yang mengantarkan kepada Nadya." Jawab Fathur datar.


"Justru yang ada Anda malah akan merepotkan Pak Prapto. Secara tugas Pak Prapto adalah menjaga pintu gerbang agar tetap aman. Kalau dia dimintai tolong untuk mengantarkan HP Bu Nadya, siapa yang akan menjaga gerbang? Saya? Jelas saya tidak bisa, karena saya harus mengajar." Ujar Andi tenang.


Dalam hati Fathur sudah sangat kesal, namun sebisa mungkin Fathur mencoba untuk terlihat biasa saja.


Pak Prapto? Sebagai sesama laki-laki, jelas dia tau kalau antara Fathur dan Andi sedang berada dalam sebuah persaingan. Jadi Pak Prapto memilih untuk diam. Dia tidak ingin ikut campur masalah orang lain.


"Kalau begitu saya yang akan mengantarkan HP Nadya sendiri." Jawab Fathur. "Boleh saya masuk Pak?" Fathur menoleh kearah Pak Prapto.


"Nggak boleh! Anda ini orang asing. Dan aturan sekolah tidak memperbolehkan sembarangan orang bisa main asal masuk ke area sekolah begitu saja." Ujar Andi yang kali ini mulai memperlihatkan aura persaingan.


Kalau dipikir-pikir, Andi ini aneh deh. Jelas-jelas Nadya sudah memiliki suami. Kenapa Andi masih saja mengejar Nadya dan berharap cintanya akan dibalas?


"Orang asing? istri saya guru disini loh. Jadi secara tidak langsung saya juga menjadi bagian dari sekolah ini." Jawab Fathur santai. "Benar begitu Pak Prapto? Jadi bagaimana? Saya boleh masuk kan?"


Pak Prapto langsung menganggukkan kepalanya, kemudian membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Fathur untuk masuk. Sementara Andi yang melihat itu hanya bisa mengepalkan tangannya.


"Minggir..." Ucap Fathur dengan suara lirih namun tajam saat melewati Andi.


Setelah Fathur berjalan agak jauh, kini Andi menatap Pak Prapto yang kembali menutup pintu gerbang.


"Kenapa bapak mengizinkan laki-laki itu masuk? Bapak kan tau sendiri kalau peraturan sekolah melarang orang asing masuk ke area sekolah." Ujar Andi.

__ADS_1


Pak Prapto tersenyum.


"Laki-laki tadi kan suaminya Bu Nadya, Pak. Dan saya ini tim suami sah." Jawab Pak Prapto kemudian langsung masuk ke posnya dan meninggalkan Andi yang masih berdiri di depan gerbang begitu saja.


__ADS_2