UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Ikut ke kantor


__ADS_3

"Mas Fathur..." Panggil Nadya saat melihat ada Fathur didepannya.


Fathur tersenyum.


"Hai... Aku bangunin kamu ya?" Tanya Fathur dengan lembut.


Nadya menganggukkan kepalanya.


"Iya..." Jawab Nadya.


"Maaf ya..." Bisik Fathur.


Nadya yang sudah terlanjur bangun mulai mengumpulkan nyawanya. Kehadiran Fathur yang tiba-tiba saja sudah ada di sini tentu saja membuat Nadya sedikit terkejut. Apalagi yang Nadya ingat, dia tadi sendirian. Tapi...


"Kok Mas Fathur udah pulang? Emangnya ini udah sore? Berarti aku tidur lama banget dong?" Tanya Nadya kepada Fathur.


Yang Nadya ingat , tadi dia tidur saat jam masih menunjukkan sekitar pukul 9 pagi. Tapi saat bangun ternyata sudah ada Fathur disini. Itu berarti ini sudah sore kan?


Fathur tersenyum.


"Enggak, ini masih siang kok. Masih jam 11 kurang." Jawab Fathur.


"Terus kenapa Mas Fathur disini? Bukannya jam segini harusnya Mas Fathur masih ada di kantor? Ini bahkan belum jam makan siang loh Mas." Ujar Nadya.


Setelah mengetahui kalau ini masih jam 11 siang, Nadya semakin dibuat heran dengan keberadaan Fathur disini. Karena memang tidak biasanya saja.


"Aku kangen sama kamu. Makanya aku pulang. Apalagi tadi kami ditelfon nggak diangkat." Jawab Fathur.


Fathur tidak mengatakan kalau dia pulang karena selain rindu juga karena mencemaskan keadaan Nadya. Apalagi Fathur mengetahui kalau Nadya sedang di rumah sendirian. Rasa cemasnya tentu saja semakin bertambah.


Nadya tersenyum.


"Baru juga beberapa jam. Masa udah kangen aja. Bohong nih pasti." Ujar Nadya tidak percaya.


Fathur tertawa kecil. Bisa-bisanya Nadya tidak percaya kalau Fathur merindukan dirinya .


"Kamu butuh bukti apa biar percaya kalau aku kangen sama kamu?" Tanya Fathur.


"Bukti... Ehhmm, bukti apa yah. Enggak usah deh, aku percaya sama Mas Fathur." Jawab Nadya dengan senyum manisnya.


Dan senyuman Nadya benar-benar membuat Fathur tidak tahan untuk mencicipi bibir itu. Sudah Fathur katakan, bibir Nadya memang selalu berhasil membuat dirinya tergoda.

__ADS_1


Cup...


Baru setelah Nadya mulai terengah, Fathur melepaskan tautan bibir mereka.


"Gemes banget sama kamu." Ujar Fathur seraya mengusap dengan lembut bibir Nadya yang basah karena dirinya.


Nadya sendiri hanya tersenyum malu-malu. Nadya memang selalu tidak tahan setiap Fathur bersikap manis seperti ini kepada dirinya. Nadya jadi bingung sendiri harus merespon bagaimana karena dia saja sedang salah tingkah.


Dan Fathur cukup paham akan hal itu.


"Ikut aku ke kantor aja yuk?" Ujar Fathur tiba-tiba.


Dan itu membuat dahi Nadya seketika langsung berkerut.


"Ikut ke kantor? Ngapain?" Tanya Nadya.


"Nggak ada alasan khususnya. Aku cuma pengen kamu ikut ke kantor aja. Biar aku nggak tahan kangen terus selama di kantor." Jawab Fathur.


Itu alasan pertama, yaitu agar Fathur bisa terus bersama dengan Nadya. Dan alasan kedua adalah, agar Fathur bisa terus memastikan kalau Nadya selalu dalam keadaan aman.


"Tapi nanti yang ada aku malah ganggu kerjaan Mas Fathur. Enggak ah, aku di rumah aja." Ujar Nadya.


Nadya menolak bukan tanpa alasan. Itu karena setiap Nadya ikut ke kantor, Fathur jadi akan lebih sering mengajak Nadya ngobrol daripada mengerjakan pekerjaannya. Dan meskipun Fathur adalah pemilik perusahaan, tapi kan Nadya tetap merasa tidak enak. Karena secara tidak langsung kehadirannya itu membuat pekerjaan Fathur jadi terganggu.


"Oo iya? Tapi setiap aku ikut ke kantor, Mas Fathur lebih sering ngobrol sama aku dari pada ngerjain pekerjaan Mas. Itu yang namanya aku nggak ganggu pekerjaan Mas?" Ujar Nadya.


Nadya tau kalau apa yang Fathur katakan tadi adalah sebuah kebohongan. Masa iya Fathur merasa tidak terganggu. Padahal Nadya sendiri merasakan hal itu.


"Beneran sayang. Kamu enggak pernah ganggu kerjaan aku. Dan kenapa aku lebih sering ngobrol sama kamu, itu karena kalau ada kamu, pekerjaan aku emang lebih cepat selesai dari biasanya. Karena aku semangat buat ngerjainnya. Beda kalau nggak ada kamu, aku jadi agak males. Makanya kerjainnya lebih lama." Ujar Fathur menjelaskan.


"Beneran aku nggak ganggu pekerjaan Mas Fathur kalau ikut ke kantor?" Nadya memastikan sekali lagi.


Hal ini karena sejujurnya Nadya juga ingin ikut ke kantor. Karena di rumah sendirian itu sangat membosankan untuk seorang Nadya yang biasanya selalu di kelilingi keramaian. Biasanya kan Nadya selalu berada di sekolah, dan disana sudah jelas selalu ramai. Dan saat Nadya berada di Panti, disana juga selalu ramai dengan suara anak.


Padahal biasanya mau ramai ataupun sepi, Nadya tidak masalah. Tapi sejak hamil, Nadya selalu ingin suasana disekitarnya ramai.


Oo iya, Mengenai kabar kehamilan Nadya ini, dia sudah memberi kabar ini kepada Bunda Sina dan Bunda Tuti. Dan tentu saja kabar kehamilan Nadya disambut dengan sebuah kebahagiaan oleh anak-anak panti yang lainnya.


"Iya, nggak papa sayang. Ya, ikut aku ke kantor aja? Aku bener-bener pengen kamu ikut aku kesana." Ujar Fathur.


Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Nadya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya, aku mau ikut ke kantor." Jawab Nadya.


Mendengar jawaban Nadya, Fathur langsung tersenyum cerah.


"Ya udah, siap-siap sana. Aku tunggu disini." Ucap Fathur dengan lembut.


Nadya menganggukkan kepalanya. Dia segera beranjak dari ranjang untuk ke kamar mandi. Sekedar untuk mencuci wajahnya yang terlihat sayu karena baru bangun tidur.


Sementara itu..


Drrtt... drrtt...


Ponsel yang berada di saku Fathur bergetar tanda ada panggilan telfon masuk.


Rony


"Ha..." Belum juga Fathur mengatakan halo, suara Rony sudah mengalir seperti kereta api.


"Eehh, Kampret... Dimana lo? Pergi nggak bilang-bilang sama gue. Lo lupa kalau habis makan siang bakalan ada rapat? Dimana lo sekarang?"


Suara Rony yang berteriak membuat Fathur menjauhkan ponselnya dari telinga. Dan Fathur memilih untuk diam menunggu Rony menyelesaikan ucapannya.


"Halo... Halo Fat. Lo dengerin omongan gue kan?"


Fathur berdecak pelan.


"Iya gue denger. Udah selesai kan ngomongnya? Sekarang gantian gue yang ngomong." Ujar Fathur. "Gue lagi di rumah. Dan gue ingat kalau habis makan siang ada rapat. Ini gue bentar lagi balik." Tambah Fathur.


"Di rumah? Mak...."


Tut...Tut... Tut...


Belum juga Rony menyelesaikan ucapannya, Fathur sudah mematikan panggilan telfon itu. Bodo amat, Fathur malas mendengar ocehan Rony. Toh sebentar lagi dia akan balik ke kantor.


"Barusan siapa yang telfon Mas?" Tanya Nadya kepada Fathur.


"Rony." Jawab Fathur singkat.


"Suruh Mas Fathur cepet-cepet ke kantor ya?"


Fathur menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Enggak, cuma tanya lagi dimana aja." Jawab Fathur.


Dan setelah Nadya selesai bersiap, Fathur dan Nadya langsung menuju kantor. Tapi sebelum itu Nadya mengirimkan pesan terlebih dahulu kepada Mbak Siti. Agar nantinya Mbak Siti tidak bingung kalau saat pulang nanti tidak mendapati Nadya di rumah.


__ADS_2