
"Bukan, bukan itu maksudnya. Maksud aku, kenapa kamu nggak pakai kartu ATM yang selama ini aku kasih?"
Mendapat pertanyaan itu, Nadya terdiam. Haruskah Nadya berkata jujur mengenai alasan kenapa selama ini dia tidak pernah memakai kartu ATM yang Fathur berikan kepadanya?
"Ak-aku... Eehmm...Selama kita menikah ini aku emang nggak pernah pakai kartu ATM yang Mas kasih." Jawab Nadya akhirnya memilih jujur.
Mendengar jawaban Nadya, membuat Fathur langsung mengangkat kepalanya dari pangkuan istrinya itu. Hingga akhirnya kini Nadya dan Fathur duduk saling berhadapan.
Jujur Fathur benar-benar terkejut mengetahui fakta bahwa selama 6 bulan ini Nadya tidak pernah menggunakan kartu ATM yang dia berikan untuk istrinya itu.
Padahal awalnya Fathur pikir Nadya adalah perempuan matre. Nadya mau menikah dengannya karena Fathur dari keluarga kaya raya. Ditambah status Nadya yang merupakan seorang anak panti asuhan, membuat Fathur yakin kalau tujuan Nadya menikah dengan dirinya adalah karena harta.
Meskipun sekarang Fathur sendiri sama sekali tidak masalah jika memang benar Nadya menikah dengan dirinya karena harta. Karena yang terpenting sekarang adalah fakta bahwa Fathur saat ini sangat mencintai Nadya.
Tapi yang terjadi sebenarnya adalah justru sangat berbanding terbalik. Fathur sama sekali tidak menyangka.
"Kenapa? Kenapa kamu nggak pernah pakai kartu ATM yang aku kasih? Selama ini aku selalu mentransfer uang bulanan buat kamu ke ATM itu, Nad." Ujar Fathur.
Nadya tersenyum tipis.
"Kan dulu Mas Fathur sendiri yang bilang kalau Mas nggak akan pernah anggap aku sebagai istri. Jadi aku merasa tidak berhak buat pakai uang bulanan yang Mas kasih ke aku. Karena aku kan bukan istri Mas Fathur." Jawab Nadya dengan mata berkaca-kaca. Meskipun saat ini bibirnya tetap memperlihatkan senyum tipisnya. "Lagian selama di rumah Mas Fathur juga nggak pernah makan masakan aku. Dan itu semakin memperkuat alasan buat aku nggak pakai uang bulanan dari Mas." Tambah Nadya.
Nadya dengan cepat mengusap air mata yang menetes ke pipinya. Entah kenapa meskipun sekarang Fathur sudah baik kepadanya, Nadya masih merasa sakit setiap mengingat ucapan Fathur yang laki-laki itu katakan dimalam setelah pernikahan mereka. Setelah Fathur meminta untuk Nadya melupakan itu, Nadya sudah berusaha sekeras mungkin untuk melupakannya. Tapi... Rasanya sangat sulit.
Dengan cepat Fathur langsung menarik Nadya masuk kedalam pelukannya. Sekali lagi Fathur disadarkan oleh fakta bahwa selama ini dia sudah sangat melukai Nadya. Fathur juga semakin merasa bersalah karena selama ini dia sudah memfitnah Nadya dengan mencap wanita itu dengan sebutan wanita matre. Untung saja selama ini Fathur tidak pernah mengatakannya secara langsung. Karena kalau iya, mungkin akan banyak sekali luka yang dia berikan kepada Nadya.
"Kamu istri aku, Nadya. Dan selamanya kamu akan tetap menjadi istri aku." Bisik Fathur. "Maaf karena aku sudah menyakiti kamu sebegitu dalamnya."
Pagi harinya Nadya kembali terbangun dalam pelukan Fathur. Benar sekali, semalam Nadya dan Fathur tidur bersama lagi, tapi kali ini mereka tidur di kamar Nadya. Hanya tidur, tidak lebih dari itu.
Semalam Fathur terus mengatakan maaf kepada Nadya. Fathur terus berjanji kalau dia tidak akan pernah mengulangi kesalahannya lagi dengan membuat Nadya terluka.
Mengingat hal itu, Nadya tersenyum tipis. Dengan perlahan Nadya menyingkirkan lengan Fathur yang membelit pinggangnya. Dan untungnya hal itu tidak membuat Fathur sampai terbangun.
Dengan segera Nadya langsung mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi. Nadya harus mandi karena setelahnya dia harus memasak sarapan untuk dirinya dan Fathur.
Setelah Nadya masuk ke kamar mandi, barulah Fathur terbangun. Melihat ranjang disampingnya sudah kosong, membuat Fathur mendengus kesal. Fathur ingin saat dia terbangun ada Nadya disampingnya. Tapi apa ini? Nadya malah bangun lebih dulu dan meninggalkan dirinya begitu saja.
__ADS_1
Entah apa yang Fathur pikirkan, tiba-tiba saja laki-laki itu beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Fathur sama sekali tidak mengetuk pintunya, yang dia lakukan hanya bersandar di tembok yang ada disamping pintu.
Sampai akhirnya tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dengan cepat Fathur langsung memeluk tubuh Nadya. Membuat Nadya yang belum siap dengan apa yang Fathur lakukan itu menjadi terhuyung.
"Mass..."Ujar Nadya memekik.
Handuk yang saat ini Nadya gunakan untuk menggulung rambut basahnya bahkan terjatuh begitu saja karena pelukan Fathur itu.
"Kenapa ninggalin aku gitu aja? Kenapa nggak tunggu aku bangun baru kamu mandi." Ujar Fathur berbisik.
Nadya tersenyum.
"Kalau nunggu Mas bangun, yang ada aku kesiangan, Mas. Aku kan habis ini harus masak buat sarapan." Jawab Nadya.
"Ya tapi kan kamu bisa bangunin aku, nggak perlu tunggu aku bangun sendiri, Nadya." Fathur masih tidak terima dengan alasan Nadya meninggalkan dirinya seorang diri diatas ranjang.
Kini gantian Fathur yang tersenyum. Fathur merasa senang karena Nadya menuruti ucapannya tanpa membantah lagi. Jiwa-jiwa anak tunggal yang selalu dimanja dan segala permintaannya harus dituruti ternyata juga melekat pada diri seorang Fathur.
Dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui sifat Fathur ini. Selain Mama Resti, sudah pasti Rony-lah yang mengetahuinya. Lihat saja bagaimana selama ini Fathur selalu memerintah Rony. Kalau Fathur inginnya itu ya harus itu, tidak bisa diganggu gugat.
Dengan lembut Nadya melepaskan pelukan Fathur dari tubuhnya.
"Ya udah, sekarang Mas Fathur mandi dulu. Aku mau turun buat masak sarapan. Mas mau aku masakin apa?" Tanya Nadya dengan lembut.
"Aku, apapun yang kamu masak pasti bakal aku makan. Aku suka semua masakan kamu, Nadya." Jawab Fathur seraya tersenyum lembut.
__ADS_1
Nadya tersenyum lagi.
"Ya udah, sekarang Mas mandi dulu sana." Ujar Nadya.
Fathur menggelengkan kepalanya.
"Ada hal yang harus kamu lakuin sebelum aku mandi."
Nadya mengerutkan dahinya.
"Aku harus lakuin apa?" Tanya Nadya dengan wajah bingung.
"Cium." Jawab Fathur dengan senyum lebar pada bibirnya.
Jawaban Fathur berhasil membuat wajah Nadya merona karena malu. Apalagi saat ini Nadya belum menggunakan make up, jadi rona pada wajahnya terlihat jelas.
"Mas..." Ucap Nadya dengan wajah memelas.
Seolah tidak peduli, Fathur tetap santai menunggu sampai Nadya mau menciumnya. Hingga akhirnya Nadya meraih leher Fathur dengan kedua tangannya, kemudian berjinjit dan...
Cup...
Nadya memberikan ciuman pada pipi Fathur.
"Ck... Bukan pipi sayang, tapi ini ..."
Tanpa aba-aba Fathur langsung mencium bibir Nadya, dan tentu saja bukan ciuman singkat yang hanya berupa kecupan. Hingga setelah beberapa menit lamanya, barulah Fathur melepaskannya.
"Yang bener tuh kaya gini. Makasih ya, I love you." Bisik Fathur sebelum akhirnya dia keluar dari kamar Nadya menuju kamarnya sendiri untuk mandi.
__ADS_1
Sementara Nadya, dia hanya bisa terpaku ditempatnya. Sepagi ini sudah mendapatkan ciuman sekaligus pernyataan cinta, siapa yang tidak bahagia coba?