UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Menurunkan gengsi


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan lagi diantara Nadya dan Fathur. Karena Fathur tidak mengajaknya berbicara, jadi Nadya pun urung melakukannya. Hal ini karena Nadya tidak ingin membuat Fathur merasa tidak nyaman kalau dia banyak bertanya. Apalagi Nadya bisa merasakan kalau sepertinya setelah pembicaraan tadi Fathur menjadi kurang mood.


Dan sekarang, Nadya dan Fathur sudah sampai di rumah. Tanpa mengatakan apa-apa, Fathur langsung naik ke kamarnya. Sementara Nadya, setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, Nadya langsung naik ke kamarnya untuk membersihkan diri. Meskipun tadi sore Nadya sudah mandi di panti, tapi tetap saja Nadya perlu membersihkan diri lagi karena dia dari luar dan hendak tidur.


Baru saja Nadya merebahkan diri diatas ranjang setelah sebelumnya sudah membersihkan diri dan juga berganti pakaian, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


Tok... Tok... Tok...


"Nad, kamu sudah tidur?" Setelah suara ketukan, terdengar suara Fathur dari balik pintu.


Dengan segera Nadya beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu.


"Ada apa Mas?" Tanya Nadya setelah dia dan Fathur berdiri saling berhadapan.


"Udah ngantuk?" Fathur justru balik bertanya.


Nadya menggelengkan kepalanya.


"Belum." Jawab Nadya.


"Saya lapar." Dua kata yang Fathur ucapkan itu sudah cukup untuk membuat Nadya langsung paham.


"Ya udah, biar aku masakin." Jawab Nadya tanpa bertanya apa-apa.


Nadya langsung keluar dari kamarnya dan turun menuju ke dapur. Fathur? Laki-laki itu mengekor dibelakang Nadya begitu wanita itu keluar dari kamarnya.


Flashback


Selama perjalanan pulang tadi jujur saja Fathur merasa sangat kesal setelah pembicaraannya dengan Nadya. Fathur merasa tidak terima karena Nadya menghawatirkan Rony. Karena itulah tadi Fathur tidak mengajak Nadya ngobrol sama sekali. Fathur merasa dia tidak perlu melakukan itu.

__ADS_1


Akan tetapi sesampainya di rumah Fathur justru menyesal karena sudah berbuat seperti itu kepada Nadya. Biar bagaimanapun apa yang Nadya katakan itu ada benarnya. Malam hari adalah waktunya untuk mereka beristirahat, begitu juga dengan Rony. Apalagi tadi siang yang mengurus semua barang-barang yang akan Fathur bawa ke panti asuhan adalah Rony. Harusnya Fathur berterima kasih, dan bukan malah tidak tau terima kasih dengan memberikan Rony tugas lagi untuk mengambilkan sepeda motor milik Nadya yang dia perintahkan untuk ditinggal di panti.


Karena pertimbangan itu, akhirnya Fathur memutuskan untuk tidak jadi menelfon Rony dan memintanya mengambil sepeda motor Nadya. Mengenai Nadya yang besok harus berangkat ke sekolah, Fathur bisa meminta tolong supir Mama Resti untuk datang dan mengantarkan Nadya. Mudah bukan? Jadi tidak usah dibikin pusing untuk masalah itu.


Setelah suasana hatinya membaik, Fathur beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama, karena 15 menit kemudian Fathur sudah keluar dari kamar mandi.


Awalnya Fathur sudah bersiap untuk tidur, dia bahkan sudah mematikan lampu dan melepaskan atasannya. Tapi... Yang terjadi kemudian adalah perutnya dengan tidak tau dirinya berbunyi di jam tengah malam seperti ini. Jam setengah 12 sudah bisa dikatakan tengah malam kan?


Kebiasaan Fathur lapar di tengah malam sepertinya sedang kambuh.


"Bisa nggak sih lapernya besok pagi aja?" Ujar Fathur kepada dirinya sendiri.


Namun yang ada perut Fathur justru semakin berbunyi. Dan sebenarnya bisa saja Fathur langsung turun ke dapur untuk membuat mie instan. Tapi perut tidak tau dirinya ini seolah menolak ide Fathur untuk diisi mie instan. Bagaimana tidak? Hanya dengan membayangkan mie instan langsung membuat perutnya mendadak terasa tidak enak.


Fathur tidak ingin makan mie instan untuk mengisi perutnya. Fathur ingin makan nasi goreng seperti tadi pagi. Nasi goreng buatan Nadya pastinya.


"Semakin hari lo semakin aneh-aneh aja Fath. Biasanya lo juga doyan mie instan. Ini kenapa malah jadi pemilih begini soal makanan. Apalagi pengennya masakan Nadya! Lo bukan perempuan hamil yang bisa ngidam Fathurrr." Fathur merasa sebal dengan dirinya sendiri.


Fathur langsung saja merebahkan dirinya diatas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Namun tentu saja tidak bertahan lama, karena 10 menit kemudian Fathur kembali beranjak dari ranjang. Menyalakan lampu yang tadi sempat dia matikan dan juga memakai kaos yang tadi sempat dia lepas.


"Enggak ada cara lain, gue tetep harus minta tolong Nadya buat masakin." Ujar Fathur kepada dirinya sendiri.


Sebelum keluar dari kamarnya, Fathur sempat menepuk perutnya dengan cukup keras.


"Emang dasar perut nggak tau diri." Omel Fathur.


Dan kini Fathur sudah berdiri didepan pintu kamar Nadya. Fathur ragu, haruskah dia meminta tolong kepada Nadya untuk memasakkan? Jujur saja Fathur merasa tidak enak hati. Fathur masih punya malu, selama ini dia bahkan tidak pernah menyentuh sedikitpun masakan Nadya. Tapi yang terjadi sekarang apa? Sepertinya Fathur sedang mendapatkan sebuah karma.


Dan pada akhir rasa malu dan tidak enak hati yang Fathur rasakan kalah dengan rasa inginnya makan masakan Nadya. Karena setelahnya, Fathur langsung mengetuk pintu kamar Nadya.

__ADS_1


Flashback off


"Mas Fathur mau makan apa?" Tanya Nadya seperti biasa menggunakan suara lembutnya.


"Kamu kalau ngajar disekolah juga gini Nad?" Bukannya menjawab pertanyaan Nadya, Fathur justru bertanya mengenai sesuatu yang tidak Nadya pahami.


"Maksud Mas Fathur?" Tanya Nadya dengan wajah bingung.


"Kamu kalau ngajar suaranya kaya gini? Kalau ngobrol sama orang juga iya?"


Meski masih tidak paham dengan maksud pertanyaan Fathur, tapi Nadya menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas. Mau suara kaya gimana lagi? Suara aku kan emang begini." Jawab Nadya. "Kenapa emangnya? Mas Fathur terganggu ya sama suara aku?"


"Saya pengen makan nasi goreng yang kaya tadi pagi Nad." Pertanyaannya apa, Fathur malah jawab apa. Nadya benar-benar tidak paham dengan Fathur saat ini. Tapi meskipun begitu, tanpa banyak bertanya Nadya langsung menganggukkan kepalanya. Nadya segera beranjak untuk menyiapkan bahan-bahan yang dia butuhkan untuk membuat nasi goreng.


"Bukan terganggu Nad, suara kamu entah kenapa malah bikin aku nyaman."


Tentu saja itu hanya Fathur ucapkan didalam hatinya saja. Fathur masih cukup waras untuk tidak mengatakannya secara langsung kepada Nadya. Mau jadi apa dirinya nanti kalau Nadya mendengar ucapannya. Fathur tidak bisa membayangkannya.


"Ini bukan cinta, ini karena gue udah mulai terbuka dan mulai menerima takdir gue buat hidup bareng Nadya. Jadi secara tidak langsung dan dengan perlahan, Nadya udah bikin gue nyaman disamping dia." Didalam hati Fathur masih menyangkal kalau dia sudah mulai mencintai Nadya.


Menurut Fathur, ini karena dia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Nadya disekitarnya.


"Mau pedes atau enggak Mas?" Tanya Nadya yang membuat lamunan Fathur buyar.


"Sedang aja Nad, saya nggak bisa makan terlalu pedes." Jawab Fathur.


"Topingnya mau sama persis kaya tadi pagi? Atau mau aku tambahanin nuget? Ini soalnya ada nuget juga." Ujar Nadya.

__ADS_1


"Samain aja kaya tadi pagi."


__ADS_2