
Untuk pertama kalinya, Fathur bangun lebih dulu dari pada Nadya. Dan pagi kali ini Fathur benar-benar merasa sangat bahagia. Fathur rasa ini adalah pagi terindah yang pernah dia miliki.
Bagaimana tidak, pagi ini seorang bidadari dengan wajah cantik mempesona tertidur dengan nyenyak disamping Fathur dengan keadaan yang bisa dikatakan sungguh menggoda iman. Ya, katakan saja Fathur lebay, dan Fathur tidak akan peduli.
Ngomong-ngomong tentang kondisi Nadya saat ini, sebenarnya ingin sekali Fathur mengulang kegiatan mereka semalam. Karena jujur saja Fathur masih merasa 'kurang'. Hanya saja berhubung Fathur tidak ingin menjadi suami yang kejam, Fathur memutuskan untuk membatalkan niatnya itu.
Apalagi dilihat dari wajahnya sepertinya Nadya sudah sangat kelelahan. Dan mereka saja baru tidur saat menjelang dini hari.
Sementara itu, Fathur memilih untuk diam dan menatap wajah polos Nadya sembari menunggu istrinya itu membuka mata dengan sendirinya.
Tapi ...
Tok... tok... tok...
"Mas Fathur... Mbak Nadya... Udah bangun belum? Ditunggu Bude buat sarapan..."
Terdengar suara berisik dari ketukan pintu dan juga suara Nabila yang memanggil keduanya.
Mendengar itu seketika Fathur mendengus kesal. Untuk pertama kalinya Fathur merasa sangat kesal kepada Nabila. Padahal biasanya apapun yang adik sepupunya itu lakukan, Fathur tidak pernah sekalipun kesal apalagi sampai memarahi. Dan karena ulah Nabila ini, Nadya jadi terbangun.
Terlihat Nadya mulai membuka matanya, dan... ketukan pintu itu masih terdengar.
Tok... tok... tok...
"Mbak Nadya... Mbak Nad udah bangun belum? Kok nggak ada suaranya?"
Benar, Nabila masih saja mengetuk pintu dan memanggil-manggil karena belum ada jawaban baik dari Nadya ataupun Fathur.
Hingga akhirnya mau tidak mau Fathur menjawabnya agar Nabila segera pergi dari depan pintu kamarnya. Toh Nadya juga sudah bangun kan?
"Kamu sama Mama sarapan duluan aja Nab. Mas sama Mbak Nadya turun sebentar lagi." Jawab Fathur.
"Oo.. Oke." Terdengar jawaban dari Nabila.
Dan kini...
Nadya dan Fathur saling bertatapan... Fathur bisa melihat bagaimana rona merah terpancar diwajah Nadya. Sepertinya Nadya mengingat akan kejadian semalam.
"Selamat pagi istri Fathur..." Ujar Fathur yang kemudian memberikan sebuah kecupan pada bibir Nadya.
Mendapatkan sambutan pagi yang begitu manis, tentu saja membuat wajah Nadya semakin memerah.
"Selamat pagi, Mas." Jawab Nadya dengan malu-malu.
Jujur Nadya masih tidak menyangka kalau sekarang dia sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri Fathur secara lahir maupun batin. Penantian dan kesabaran Nadya terbayar sudah setelah 6 bulan lebih.
"Gimana? Semalem enak nggak?" Ujar Fathur kepada Nadya.
__ADS_1
Sungguh pertanyaan yang sangat unfaedah bukan? Bisa-bisanya Fathur bertanya seperti itu disaat mereka baru membuka mata. Nadya benar-benar tidak habis pikir.
"Mass..." Ucap Nadya yang kemudian refleks mencubit pinggang Fathur.
Bukannya kesakitan, reaksi Fathur justru sangatlah berbeda.
"Eehh... Apa nih colak-colek? Masih mau lagi?" Ujar Fathur seraya menarik turunkan kedua alisnya.
"Apa sih, Mass..." Nadya benar-benar terus dibuat salah tingkah oleh Fathur.
Fathur tertawa kecil melihat reaksi Nadya.
Tiba-tiba saja Fathur memeluk tubuhnya. Dan akhirnya membuat Nadya sadar kalau ternyata kondisi dirinya saat ini masih polos tanpa adanya pakaian yang membalut. Bahkan, kondisi dirinya dengan Fathur ternyata sama.
"Kamu bikin aku jadi pengen lagi, Nad..." Bisik Fathur di telinga Nadya.
Membuat Nadya langsung melebarkan matanya.
"Mass..." Lagi-lagi hanya pekikan kecil yang Nadya berikan sebagai jawaban.
Saat masih didalam pelukan Fathur, mata Nadya tetuju pada jam yang tertempel di dinding. Saat ini jam menunjukkan pukul setengah 8. Dan... ini adalah rekor Nadya bangun siang setelah dia menjadi seorang istri.
"Mass... Udah mau jam 8, aku harus masak buat sarapan." Ujar Nadya kepada Fathur.
"Hari ini masaknya libur dulu, lagian kan ada embak yang masak." Jawab Fathur santai.
Mendengar kata embak... Seketika Nadya ingat kalau saat ini dia sedang ada di rumah Mama Resti. Karena di rumah mereka tidak memiliki embak.
"Mas... Aku harus bangun sekarang." Nadya berusaha melepaskan diri dari pelukan Fathur.
"Nggak usah buru-buru, masih pagi sayang. Lagian hari ini weekend." Jawab Fathur santai.
"Tapi... Aku nggak enak sama Mama. Masa mantu bangunnya siang banget. Lepasin Mas..."
"Kenapa harus nggak enak sama Mama? Mama juga nggak bakal marah kalaupun kamu bangun siang. Mama pasti ngerti kalau semalam anak sama mantunya kecapean setelah kerja keras buat bikinin cucu. Jadi kamu santai aja." Dan ya, Fathur masih tetap santai.
Fathur dan Nadya turun bersama dengan kondisi rambut yang masih sama-sama basah. Kenapa masih basah? Karena hair dryer milik Fathur rusak. Sementara mau meminjam milik Nabila, ternyata gadis itu sudah pergi untuk bertemu dengan teman-temannya. Nadya sendiri tidak enak masuk ke kamar Nabila kalau tidak ada gadis itu disana.
Nadya dan Fathur sendiri turun ke bawah saat jam sudah menunjukkan pukul 9. Kenapa bisa selama ini sedangkan mereka sudah sama-sama bangun saat jam masih menunjukkan pukul setengah 8? Jawabannya karena Fathur memaksa Nadya untuk mandi bersama. Dan kalian pasti tau apa yang terjadi bukan? Tentu saja Nadya dan Fathur tidak hanya sekedar mandi.
__ADS_1
"Sarapan dulu, Nad." Ujar Mama Resti.
Nadya yang mendengar suara Mama Resti sedikit terkejut. Pasalnya Nadya tidak melihat keberadaan Mama Resti yang ternyata sedang membaca koran di ruang keluarga. Dari raut wajahnya sepertinya Mama Resti tau apa yang semalam terjadi diantara Fathur dan Nadya. Terlihat dari senyum tipis yang tersungging diwajah cantiknya.
"Iya, Ma." Jawab Nadya.
Fathur sendiri langsung mendudukkan dirinya di kursi makan. Fathur benar-benar terlihat sangat santai. Tidak seperti Nadya yang terlihat seperti sedang banyak pikiran karena saat ini masih menahan rasa malu.
Di meja makan tersaji berbagai macam lauk pauk.
"Mas mau aku buatin kopi?" Tanya Nadya kepada Fathur.
Nadya ingat kalau biasanya Fathur akan langsung minum kopi sebelum sarapan.
"Boleh, Yang." Jawab Fathur dengan senyum cerahnya.
Sejak keluar dari kamar, Fathur memang terus memperlihatkan senyumnya. Seolah ingin memberitahukan kepada seluruh dunia kalau saat ini Fathur sedang sangat bahagia.
Sementara Nadya sibuk membuatkan kopi untuk Fathur, laki-laki itu tidak sekalipun mengalihkan perhatiannya kearah lain kecuali kearah Nadya.
"Nadya-nya jangan dilihatin terus, nggak bakal ilang juga, Fath." Ujar Mama Resti.
Mama Resti ikut bergabung di ruang makan bukan dengan sengaja untuk mengganggu pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Mama Resti hanya mau mengambil minum saja.
__ADS_1
"Nggak papa, karena nggak ada yang lebih indah buat dilihat dari Nadya." Jawab Fathur.