UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Menyusul Nadya


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan kurang lebih 1 jam yang terasa sangat panjang, akhirnya Fathur sampai juga di panti asuhan. Dimana saat ini Nadya berada.


Begitu memarkirkan mobilnya, setelah mengucapkan salam, Fathur langsung masuk kedalam. Fathur yang baru 2 kali ini datang kesini tentu saja bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Sampai akhirnya perhatian Fathur tertuju pada seorang remaja perempuan yang sedang menemani adik-adiknya bermain.


Fathur memutuskan untuk bertanya kepada remaja itu. Siapa tau dia tau dimana Nadya berada.


"Eehmm, dek. Om mau tanya, kamu tau Mbak Nadya dimana nggak?" Tanya Fathur kepada remaja yang tidak lain ternyata adalah Putri.


"Oo Mbak Nadya, Mbak Nadya ada di kamarnya Om. Tadi katanya capek mau istirahat." Jawab Putri.


Putri tau kalau laki-laki didepannya ini adalah suami dari Nadya. Tapi karena Putri tipe orang yang malu-malu dengan orang baru jadi Putri tidak bertanya apa-apa kepada Fathur.


Fathur menggaruk tengkuk belakangnya. Masalahnya Fathur tidak tau dimana kamar Nadya berada.


"Boleh minta tolong anterin Om ke kamar Mbak Nadya enggak? Soalnya Om belum tau dimana kamarnya." Ujar Fathur.


"Boleh, Om." Jawab Putri seraya beranjak dari karpet. Namun sebelum itu Putri memanggil adiknya yang usianya sedikit dibawahnya. "Fani, tolong jagain adek-adek ya. Mbak mau ke atas sebentar." Ujar Putri kepada gadis remaja yang dia panggil Fani.


"Iya, Mbak." Jawab Fani yang kemudian langsung menggantikan Putri untuk menjaga beberapa adiknya yang masih kecil.


"Mari, Om." Ujar Putri kepada Fathur.


Fathur menganggukkan kepalanya, kemudian dia melangkahkan kakinya mengikuti langkah Putri. Dan sampailah mereka disalah satu kamar yang letaknya paling ujung.


"Mbak Nadya ada di dalam Om. Kalau gitu Putri permisi dulu." Ujar Putri.


Fathur menganggukkan kepalanya.


"Makasih udah mau nganterin, Om ya Put." Fathur tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Putri.

__ADS_1


"Sama-sama, Om." Setelah mengatakan itu Putri langsung melangkahkan kakinya menjauh dari kamar itu meninggalkan Fathur yang masih berdiri di depan pintu.


Dengan perlahan Fathur membuka pintu kamar yang ada di depannya. Fathur sengaja melakukan hal ini karena khawatir kalau dia membuat suara nantinya akan membuat istirahat Nadya terganggu.


Dan begitu Fathur masuk, terlihat Nadya yang saat ini tengah meringkuk diatas ranjang tanpa selimut yang menutupi tubuhnya. Wajar sih, kamar ini tidak menggunakan AC, ditambah saat ini juga masih cukup siang. Jadi pasti akan sangat tidak nyaman jika tidur menggunakan selimut.


Sebelum menghampiri Nadya, terlebih dahulu Fathur mengunci kamar itu. Sekarang Fathur sangat lega saat melihat Nadya sudah ada didepannya. Tanpa menimbulkan suara gaduh, Fathur naik ke ranjang dan ikut bergabung dengan Nadya.


Dipeluknya tubuh Nadya, dan dihirupnya wangi tubuh dari istrinya itu. Uhhh... Memeluk Nadya memang selalu menjadi hal yang paling nyaman untu Fathur. Tidak pernah Fathur merasakan kenyamanan ini dari wanita lain selain Nadya. Sungguh, Fathur sama sekali tidak berbohong.


Baru juga Fathur akan ikut bergabung menyusul Nadya ke alam mimpi. Suara dering panggilan masuk ponsel miliknya mengganggu rencana Fathur.


Rony


Dengan kesal Fathur mengangkat panggilan dari sekretaris sekaligus sahabatnya itu.


"Apa sih, Lo ganggu banget tau nggak Ron." Ujar Fathur dengan nada kesal.


"Lo yang apaan... Gue udah bilang kalau lo udah sampai panti itu langsung kasih tau gue. Lo mau bikin gue jantungan karena tunggu kabar dari lo. Lo nggak tau gimana gue cemas kar..." Ucapan Rony terhenti karena jawaban Fathur.


"Iya maaf, gue salah. Ini gue udah sampai di panti dengan selamat. Gue juga udah ketemu sama Nadya juga." Jawab Fathur.


Tidak dipungkiri kalau Fathur juga merasa bersalah kepada Rony. Fathur benar-benar lupa tidak memberitahu Rony kalau dirinya sudah sampai di panti. Ya mau gimana lagi, Fathur terlalu bahagia saat berhasil menemukan Nadya.


"Ya udah kalau lo baik-baik aja. Gue tutup telefonnya." Ujar Rony. "Eitts, tapi sebelum itu, gue ingetin lagi. Omongin masalah Lo sama Nadya baik-baik. Pakai kepala dingin. Kalau Nadya marah, itu wajar. Yang perlu Lo lakuin ada pelan-pelan kasih penjelasan ke dia. Tapi jangan maksa." Tambah Rony.


Meski Rony tidak ada disini, tapi refleks Fathur menganggukkan kepalanya.


"Iya, gue paham." Jawab Fathur .

__ADS_1


Setelah itu sambungan telefon antar Fathur dan Rony terputus.


Tapi...


"Mas..."


Ternyata Nadya terbangun dari tidurnya. Sepertinya suara Fathur sudah membuat Nadya jadi terbangun dari tidurnya.


"Eehh, Nad. Kenapa bangun? Tidur lagi sayang. Kamu capek kan?" Tanya Fathur dengan lembut.


Nadya mengubah posisinya menjadi duduk.


"Mas Fathur kenapa kesini? Kan aku udah bilang sama Mas kalau jangan kesini." Ujar Nadya mengabaikan pertanyaan Fathur.


Fathur menghela nafas, sepertinya Nadya benar-benar marah kepadanya.


"Kamu jangan salah paham tentang aku dan Elisa, sayang. Aku bisa jelasin kok kenapa Elisa ngomong kaya gitu. Waktu aku pertama ketemu sama Elisa, sepertinya dia salah tangkap dengan maksud omongan aku. " Ujar Fathur. "Aku enggak pernah bilang sama dia kalau aku enggak bahagia menikah sama kamu. Karena aku sangat bahagia bisa menikah sama kamu, Nadya." Tambahnya lagi.


Namu Nadya mengabaikan pertanyaan itu dengan mengajukan pertanyaan lain.


"Sebenarnya Elisa itu siapa Mas Fathur? Kenapa dia seperti sangat ingin melihat Mas pisah sama aku, istri Mas." Tanya Nadya.


Fathur bimbang antara mengatakan dengan jujur dengan memberitahu Nadya kalau Elisa adalah mantan pacarnya atau tidak. Secara saat ini Nadya masih terlihat sangat marah kepadanya. Tapi... Kalau Fathur tidak jujur, nanti yang ada akan terjadi sebuah kesalahpahaman dilain waktu. Tidak, Fathur tidak mau itu terjadi.


"Elisa mantan pacar aku." Jawab Fathur yang akhirnya memilih untuk jujur. " Tapi Elisa udah mantan pacar aku lama, Nad. Sebelum aku menikah sama kamu, aku bahkan udah 2 tahun putus dan nggak berkomunikasi sama sekali sama dia." Tambahnya lagi.


Sementara Nadya, mengetahui kalau Elisa adalah mantan pacar Fathur membuat dirinya semakin badmood.


"Maaf Fathur pulang aja sana, aku beneran mau disini dulu sampai benar-benar tenang. Biarin aku sendiri disini sampai aku bisa berpikir dengan jernih. Hari ini isi kepala aku lagi sangat berantakan, jadi sekarang aku enggak bisa berpikir dengan jernih." Ujar Nadya dengan suara lirih.

__ADS_1


Tapi apa jawaban Fathur?


"Enggak, pokoknya aku enggak akan pergi kemana-mana. Kalau kamu mau disini, maka aku juga bakal ikut disini. Pokoknya kita harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya." Jawab Fathur dengan nada tegas.


__ADS_2