UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
It's a boy


__ADS_3

Sejak selesai sholat subuh, mendadak Nadya merasakan sebuah kontraksi yang lain dari biasanya. Hal itu membuat Nadya langsung memberitahukannya kepada Fathur. Dan ya, akhirnya di jam yang masih menunjukkan pukul setengah 7 ini Nadya sudah berada di rumah sakit ditemani oleh Fathur, Mama Resti dan juga Nabila.


Sesampainya di rumah sakit, ternyata Nadya masih dalam pembukaan 3. Itu artinya Nadya masih harus menunggu 7 pembukaan lagi. Sejauh ini kontraksi yang Nadya rasakan juga tidak yang bagaimana, rasanya belum terlalu sakit. Jadi Nadya masih bisa makan dan mengobrol sepert biasa. Berhubung nanti Nadya akan melakukan lahiran secara normal, Nadya harus sarapam terlebih dahulu. Karena biar bagaimana pun melahirkan bukan suatu hal yang mudah dan pastinya sangat menguras emosi.


Berbeda dengan Nadya, Mama Resti, dan juga Nabila yang tampak santai. Fathur tampak gelisah menunggu momen-momen dimana Nadya akan berjuang untuk melahirkan anak mereka. Jujur saja, Fathur takut sesuatu yang buruk terjadi kepada Nadya. Sungguh, Fathur tidak ingin Nadya sampai pergi meninggalkan dirinya.


Meskipun saat ini Nadya masih tampak terlihat baik-baik saja, tapi Fathur bisa melihat bagaimana wajah Nadya tampak pucat. Itu artinya sebenarnya saat ini Nadya sedang menahan rasa sakit. Hanya saja Nadya memilih untuk diam dan menahannya sendiri karena tidak ingin membuat Fathur ataupun yang lainnya merasa khawatir. Fathur paham sekali bagaimana Nadya, dia adalah tipe orang suka menyembunyikan rasa sakitnya karena tidak ingin membuat orang-orang terdekatnya menjadi khawatir.


“Sakit ya?” Tanya Fathur kepada Nadya.


Setelah sarapan tadi, Nadya tampak hanya terdiam dengan posisi berbaring.


Nadya yang mendengar pertanyaan Fathur memperlihatkan senyum tipisnya.


“Sedikit.” Jawab Nadya.


Sedikit? Tentu saja tidak. Arti sedikit yang Nadya katakan ini sudah pasti tidak sesuai dengan jawabannya.


Fathur mengusap dengan lembut perut Nadya. Berharap sentuhan yang dia lakukan ini bisa membuat Nadya menjadi lebih rileks. Tapi pada kenyataannya tentu saja tidak seperti itu, karena semakin bertambahnya pembukaan yang terjadi rasa sakit akibat kontraksi yang Nadya rasakan tentu saja akan semakin bertambah.


Hingga pada pembukaan ke 8, Nadya sudah mulai merintih kesakitan karena kontraksi yang dia rasakan. Hal ini membuat Fathur merasa sangat cemas. Belum proses melahirkan saja Nadya sudah tampak sangat pucat dan tidak berdaya.


“Caesar aja ya? Biar kamu enggak usah nahan sakit kelamaan kaya gini.” Ujar Fathur kepada Nadya.

__ADS_1


Mama Resti dan Nabila juga tidak bisa melakukan apa-apa selain mencoba untuk membuat Nadya agar tetap rileks. Soal mau normal ataupun caesar, semua terserah kepada Nadya. Tapi sejauh ini Nadya masih tetap ingin melahirkan secara normal. Dan Dokter Karina juga sudah mengatakan kalau Nadya sangat bisa untuk melahirkan secara normal. Jadi belum ada alasan khusus yang mengharuskan Nadya untuk melahirkan secara caesar.


Menit demi menit berlalu menjadi jam demi jam, di jam yang menunjukkan pukul setengah 9 ini akhirnya pembukaan Nadya sudah lengkap 10. Itu artinya baby sudah siap untuk dilahirkan. Di ruang bersalin ini, Fathur selalu setia berada di samping Nadya. Sementara Mama Resti dan Nabila menunggu di luar.


“Siap-siap ya Mbak Nadya… Kalau kontraksinya datang, langsung mengejan.” Ujar Dokter Karina memberikan intruksi.


Dengan keringat yang sudah mengucur di wajahnya, Nadya menganggukkan kepalanya. Fathur, dia terus menggenggam tangan Nadya berharap bisa menyalurkan sedikit kekuatan.


“Eugghhhh….”


Nadya mulai mengejan dan memulai perjuangannya melahirkan bayinya. Karena rasa sakit yang Nadya rasakan, dia sampai tidak bisa mengontrol jari-jarinya untuk tidak melukai tangan Fathur. Terlebih kuku Nadya saat ini agak sedikit panjang karena terakhir memotongnya sudah 3 hari yang lalu.


“Huhhh….”


“Iya, istirahat sebentar Mbak Nadya. Tarik nafas terus hembuskan pelan-pelan.” Ujar Dokter Karina.


“Semangat sayang, aku yakin kamu pasti bisa.” Ujar Fathur.


Mendengar ucapan Fathur, Nadya memperlihatkan senyum tipisnya. Ya, mendadak semangat dalam diri Nadya kembali muncul setelah tadi dia merasa sangat lemas dan hampir saja menyerah memilih untuk caesar.


Setelah beristirahat sebentar, Nadya memulai perjuangannya lagi.


“Eughhh… Eugghh…..”

__ADS_1


“Ayo Mbak Nadya, kepalanya sudah terlihat. Semangat sebentar lagi baby segera lahir.” Ujar Dokter Karina.


Fathur kembali mencium punggung tangan Nadya.


“Semangat sayang, sebentar lagi.” Ujar Fathur.


Mendapat semangat dari Dokter Karina dan juga Fathur, serta mengetahui fakta kalau bayinya sebentar lagi akan lahir, Nadya semakin bersemangat.


“Eughhh…. Eughhh… Eeeughhhhhh….”


Dan setelah perjuangan yang terasa panjang….


Owekkk… owekkk… oweekkkk


Tangisan keras seorang bayi terdenger menggema di ruangan persalinan. Nadya yang mendengar itu langsung bernafas lega. Perjuangannya berakhir dengan sangat memuaskan. Hingga tanpa bisa ditahan air matanya langsung menetes begitu saja. Begitu juga dengan Fathur yang langsung menangis.


“Selamat Mbak Nadya dan Pak Fathur, baby-nya laki-laki.” Ujar Dokter Karina.


“Terima kasih sayang, terima kasih…” Hanya ucapan terima kasih yang bisa Fathur ucapkan kepada Nadya. Fathur tidak tau harus mengatakan apalagi.


Sebelum baby dibawa suster untuk dibersihkan, Dokter Karina memberikan kesempatan Nadya dan Fathur untuk melihat serta memeluk bayi mereka terlebih dahulu.


Perasaan haru langsung Nadya dan Fathur rasakan saat melihat bayi yang baru beberapa menit dilahirkan ini berada di dekapannya.

__ADS_1


“Ganteng banget, mirip Mas Fathur.” Ujar Nadya.


Fathur tersenyum, rasanya sangat bahagia karena anaknya sudah lahir. Lebih bahagia lagi karena baik Nadya maupun anak mereka dalam keadaan sehat dan juga selamat.


__ADS_2