UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Fathur bertanya


__ADS_3

Setengah jam sudah lamanya Fathur duduk di meja makan dengan segelas air es. Hingga akhirnya kini pikiran kotor Fathur sedikit demi sedikit mulai menghilang. Fathur sudah tidak lagi memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Nadya.


Ini sudah berlalu lebih dari 30 menit, Fathur pikir Nadya akan turun begitu wanita itu tidak mendapati dirinya di kamar. Tapi kenapa sampai sekarang Fathur tidak melihat tanda-tanda kalau Nadya akan turun menghampiri dirinya? Apakah Nadya belum selesai mandi juga? Tapi kenapa Nadya lama sekali mandinya?


Dengan segera Fathur beranjak dari kursi dan berjalan naik ke lantai 2 hendak menuju kamar Nadya. Fathur ingin tau apakah Nadya sudah selesai mandi atau belum.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Fathur membuka pintu kamar Nadya. Hanya saja karena Fathur membukanya dengan suara pelan, Nadya yang saat ini sedang fokus dengan tumpukan kertas yang ada didepannya tidak sadar kalau Fathur datang ke kamarnya.


Sementara Nadya tetap fokus dengan apa yang dia lakukan, Fathur justru dibuat salah fokus dengan penampilan Nadya. Dengan kaca mata bulat dan rambut yang dicepol asal keatas, Nadya benar-benar terlihat sangat menawan dimata Fathur. Apalagi Nadya hanya menggunakan kaos overzise dan celana pendek yang tidak mencapai lutut, itu justru terlihat seksi dimata Fathur.


Aneh bukan? Padahal pakaian yang Nadya pakai sangatlah sopan untuk kategori di rumah saja. Tapi sudah sangat bisa untuk membuat seorang Fathur terpesona. Bagaimana nanti kalau Nadya menggunakan baju yang lebih dari ini? Apakah Fathur masih bisa menahan diri? Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, ini bukan masalah baju yang Nadya pakai. Justru masalahnya ada pada Fathur sendiri. Karena Fathur terlalu berpikiran mesum kepada Nadya. Benar bukan?


Tanpa mengeluarkan suara berjalan masuk Fathur lalu berdiri dibelakang Nadya. Dan kemudian langsung memeluk tubuh Nadya. Hingga dapat Fathur rasakan bagaimana tubuh Nadya yang seketika menegang karena apa yang dia lakukan.


Nadya? Jelas saja wanita itu sangat terkejut dengan apa yang Fathur lakukan. Karena memang Nadya sendiri tidak menyadari saat Fathur masuk ke kamarnya. Saking terkejutnya bahkan tangannya langsung berhenti bergerak hingga membuat kertas yang dia pegang terjatuh ke atas meja.


"Lagi ngapain sih? Kayanya serius banget sampai-sampai aku masuk aja kamu nggak tau." Ucap Fathur dengan lembut.


Nadya tersen tipis.


"Aku lagi ngoreksi ulangan anak-anak, Mas. Makanya nggak denger pas Mas Fathur masuk, soalnya emang lagi fokus." Jawab Nadya.


"Jadi, aku ganggu kamu nih?" Tanya Fathur dengan nada merajuk.


Saat mendengar jawaban dari Nadya bahwa istrinya itu sedang fokus, membuat Fathur merasa tersindir sendiri karena dia sudah mengganggu konsentrasi Nadya.


Nadya justru tertawa kecil mendengar nada merajuk yang Fathur tunjukkan kepadanya.


"Agak ganggu sih sebenarnya, soalnya aku belum selesai dengan pekerjaan aku. Tapi kalau Mas Fathur mau duduk tenang di kasur, Mas nggak jadi ganggu kok." Ujar Nadya.


Saat berbicara seperti itu Nadya justru terlihat seperti seorang guru PAUD yang sedang menasehatinya siswanya.


Tanpa di duga, Fathur langsung menurut begitu mendengar ucapan Nadya.


"Ya sudah, sementara kamu selesaiin pekerjaan kamu, aku bakal duduk dengan manis disana." Ujar Fathur seraya menunjuk ranjang milik Nadya.


Dan akhirnya Nadya bisa mengoreksi hasil ulangan para siswanya dengan tenang. Pasalnya Fathur benar-benar menepati janji untuk tidak mengganggu dirinya selama Nadya harus fokus dengan pekerjaan.



Sampai akhirnya 2 jam berlalu dengan begitu cepat. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dan Nadya sudah menyelesaikan pekerjaannya mengoreksi ulangan para siswanya.



"Udah selesai?" Tanya Fathur yang membuat Nadya sedikit terkejut dibuatnya.


__ADS_1


Nadya hampir lupa kalau ada Fathur juga di kamarnya.



"Iya, udah selesai Mas." Jawab Nadya.



"Ya udah sini duduk samping aku." Ujar Fathur sembari menepuk sisi ranjang kosong yang ada disampingnya.



Selama Nadya sibuk dengan pekerjaannya, Fathur juga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengerjakan beberapa pekerjaannya juga.



"Aku?" Tanya Nadya sembari menunjuk dirinya sendiri.



Jawaban Nadya membuat Fathur hampir saja tersulut emosi.


"Iya Ibu Nadya istrinya Bapak Fathur." Jawab Fathur penuh dengan penekanan.




Membuat Fathur seketika langsung menghela nafas.


"Kesini Nadya, samping aku." Ujar Fathur.



"Disini aja, Mas." Jawab Nadya lirih.



Karena sudah tidak sabar melihat Nadya yang seperti menghindari dirinya, dengan cepat Fathur langsung beranjak dan memeluk tubuh Nadya. Membuat Nadya tentu saja sangat terkejut.



"Kamu kenapa ngehindarin aku sih? Emangnya hari ini aku buat salah apa sama kamu?" Tanya Fathur kepada Nadya yang saat ini berada dalam dekapannya.



"Ak-aku nggak ngehindarin Mas kok. Aku cuma..." Nadya terdiam karena dia sendiri bingung dengan apa yang akan dia katakan.

__ADS_1



"Cuma apa? Cuma nggak nyaman kalau dekat-dekat sama aku? Kalau gitu mulai sekarang harus dibiasain. Kamu harus terbiasa buat berdekatan sama aku." Ujar Fathur.



"I-iya Mas." Jawab Nadya.



"Masih marah sama aku? Aku tau aku udah buat kesalahan besar ke kamu. Tapi aku juga udah minta maaf kan? Sekarang aku juga sedang berusaha buat menebus semua kesalahan-kesalahan aku. Tapi aku juga but..."



Ucapan Fathur seketika langsung berhenti saat Nadya tiba-tiba saja membalas pelukannya.



"Bukan, bukan karena itu Mas. Aku cuma ngerasa gugup setiap dekat sama kamu. Makanya aku jadi bingung." Bisik Nadya.



Mendengar ucapan Nadya, Fathur langsung tersenyum. Fathur bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada Nadya.



"Aku nggak nyangka kalau ternyata aku punya istri semanis kamu, Nad." Bisik Fathur di telinga Nadya.



Kini Fathur tiduran diatas ranjang dengan paha Nadya yang menjadi bantalnya. Sementara Nadya, tangannya dengan lembut mengusap rambut Fathur yang mulai terlihat panjang.


Setelah kejadian tadi, Fathur berhasil membuat Nadya menjadi lebih nyaman saat berdekatan dengan dirinya.


"Nad..." Ujar Fathur memanggil Nadya.


"Hemm.. Kenapa Mas?" Jawab Nadya dengan lembut.


"Ada sesuatu yang pengen aku tanyakan ke kamu." Ujar Fathur.


Benar, Fathur memiliki beberapa hal yang sebenarnya sudah sangat ingin dia tanyakan kepada Nadya. Sesuatu yang akhir-akhir ini membuat Fathur sangat penasaran. Dan menurut Fathur, sekarang ini adalah waktu yang tepat.


"Kenapa tadi kamu mau bayar barang belanjaan pakai kartu ATM kamu?" Tanya Fathur kepada Nadya.


"Karena itu tadi kan barang belanjaan aku, Mas." Jawab Nadya.


"Bukan, bukan itu maksudnya. Maksud aku, kenapa kamu nggak pakai kartu ATM yang selama ini aku kasih?

__ADS_1


Mendapat pertanyaan itu, Nadya terdiam. Haruskah Nadya jujur mengenai alasan kenapa selama ini dia tidak pernah memakai kartu ATM yang Fathur berikan kepadanya?


__ADS_2