
Setelah 5 hari bekerja, akhirnya Nadya dan Fathur bertemu lagi dengan weekend. Seperti biasa, weekend akan menjadi waktu dimana Fathur akan memonopoli Nadya sepuasnya. Fathur akan menempeli Nadya dari malam sampai malam lagi.
Untuk weekend kali ini, Fathur memutuskan untuk tidak menginap. Hal ini karena Nabila masih saja merengek kepada Fathur untuk mengizinkan Nadya tidur di kamarnya.
Bukankah Fathur sungguh kekanak-kanakan? Memang iya, dan Fathur tidak peduli. Karena yang penting untuknya adalah Nadya tetap tidur bersama dengannya.
Dan di hari Sabtu yang sudah menunjukkan pukul 8 ini, Fathur belum melepaskan Nadya sama sekali. Fathur masih mendekap Nadya dengan erat diatas ranjang.
"Mas... Udah siang loh, aku laper." Ujar Nadya kepada Fathur.
Bukan apa-apa, selain sudah lapar, Nadya juga mulai merasa gerah karena Fathur terus memeluknya. Rasanya Nadya ingin segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya ini.
"Udah laper?" Tanya Fathur.
Nadya menganggukkan kepalanya dengan wajah memelasnya. Hal itu malah membuat Fathur menjadi gemas saat melihatnya.
"Mukanya jangan gitu dong. Aku yang tadinya udah mau lepasin kamu jadi berat rasanya. Pengen peluk kamu terus bawaannya." Ujar Fathur.
"Itu mah akal-akalan Mas Fathur aja. Cepetan lepasin, Mas. Aku udah laper banget ini."
Akhirnya mau tidak mau Fathur melepaskan Nadya dan membiarkan istrinya itu beranjak dari ranjang. Nadya sendiri langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Sementara Fathur masih berbaring diatas ranjang sembari tersenyum tidak jelas.
"Gila... Ternyata jatuh cinta itu rasanya gini ya?" Ujar Fathur bergumam kepada dirinya sendiri.
Seingat Fathur, selama dia menjalin hubungan dengan mantan-mantannya, tidak pernah Fathur merasakan bahagia sampai seperti ini. Entah dulu saat memiliki hubungan dengan mereka Fathur mencintai atau tidak, sekarang Fathur jadi sanksi kalau ternyata dulu dia justru tidak pernah mencintai mereka.
Terbukti dengan Fathur yang hampir tidak pernah chat lebih dulu selama menjalin hubungan dengan mereka. Fathur bahkan tidak masalah saat dulu harus menjalani LDR dengan salah satu mantanya sampai 7 bulan lamanya. Dan saat dulu Fathur ribut dengan mantan-mantannya, Fathur sama sekali tidak pernah meminta maaf atau membujuk mereka agar tidak marah lagi kepadanya.
Dan sekarang semuanya berubah saat Fathur mulai menerima Nadya sebagai istrinya. Hampir setiap hari yang chat lebih dulu untuk mengetahui kegiatan Nadya adalah Fathur. Untuk LDR, jangan kalian tanyakan. Berpisah kamar hanya semalam saja Fathur tidak sanggup. Dan kalau Nadya sudah mulai diam, Fathur akan langsung uring-uringan sendiri memikirkan apa kesalahan yang sudah dia buat. Padahal Nadya kan juga manusia, Nadya diam bukan berarti dia sedang marah karena Fathur membuat kesalahan. Nadya biasanya diam jika dia sudah mulai lelah dengan pekerjaannya. Tapi setelah rasa lelahnya hilang, Nadya akan kembali seperti biasanya.
"Mas kenapa senyum-senyum gitu?" Tanya Nadya kepada Fathur.
Nadya jelas heran saat melihat Fathur yang masih berbaring diatas ranjang sedang senyum-senyum sendiri. Fathur bahkan tidak sadar kalau Nadya sudah selesai dengan urusannya dikamar mandi.
"Lagi mikirin kamu, Nad." Jawab Fathur jujur.
Dengan segera Fathur beranjak dari ranjang dan berjalan menghampiri Nadya.
"Mikirin aku? Emang aku kenapa?" Tanya Nadya dengan wajah bingung. Maksud Nadya, untuk apa Fathur memikirkan dirinya disaat dia saja ada disini.
"Kamu enggak kenapa-napa. Aku cuma pengen mikirin kamu aja." Jawab Fathur santai.
Nadya menggelengkan kepalanya, masih heran dengan jawaban Fathur.
__ADS_1
"Mau aku masakin apa buat sarapan?" Tanya Nadya kepada Fathur.
"Apa aja, aku suka semua masakan kamu, Nad." Jawab Fathur.
"Ya udah kalau gitu ak..."
Ucapan Nadya terhenti karena tiba-tiba saja Fathur membungkam bibir Nadya dengan bibirnya.
"Aku tuh selalu nggak tahan setiap lihat bibir kamu, Nad." Ujar Fathur begitu dia melepaskan tautan bibirnya dari bibir Nadya.
Seperti biasa wajah Nadya memerah.
"Mas Fathur tuh selalu aja ambil kesempatan dalam kesempitan." Ujar Nadya malu-malu.
"Harus dong, kalau ada kesempatan walaupun sempit, harus dimanfaatkan dengan baik." Jawab Fathur dengan penuh percaya diri.
"Udah ahh, aku mau masak dulu." Nadya dengan segera keluar dari kamarnya meninggalkan Fathur yang saat ini tersenyum dengan lebar.
Untuk sarapan kali ini Nadya memutuskan untuk memasak ayam goreng, capcay kuah, dan goreng tempe. Dan seperti biasa, Nadya masak cukup banyak. Karena nanti Nadya akan memberikan sebagian untuk Mama Resti.
Fathur memang belum mandi, tapi dia memiliki kebiasaan menyemprot parfum meskipun belum mandi.
"Kok udah mau mateng aja sih, cepet banget..." Ujar Fathur kepada Nadya.
"Iya, kan cuma tinggal masak capcay-nya. Yang lain cuma tinggal di goreng aja karena udah aku bumbuin sebelumnya." Jawab Nadya.
Fathur menganggukkan kepalanya paham. Tapi...
__ADS_1
"Ada sambel nggak sih, Nad?" Tanya Fathur tiba-tiba.
Nadya mengerutkan dahinya.
"Sambel? Tumben cari sambel. Aku nggak bikin sambel, Mas." Jawab Nadya.
"Enggak tau tiba-tiba pengen makan pakai sambel terasi yang pedes bangettt..." Ujar Fathur.
"Sambel terasi? Bukannya Mas Fathur nggak suka sambel terasi? Mas juga nggak suka makanan yang pedes banget loh." Ujar Nadya.
Seingat Nadya, kalaupun Fathur makan sambel ya biasanya hanya sambel tomat dan sambel bawang, itupun yang rasanya tidak terlalu pedas dan malah cenderung manis. Tapi, sekarang Fathur pengen makan sambel terasi pedas?
"Bisa bikin sambel terasi nggak Nad? Kalau bisa, aku mau dong dibikinin." Ujar Fathur dengan wajah penuh harap.
Tidak tau kenapa saat melihat ayam goreng diatas meja, Fathur langsung berpikiran kalau ayam goreng pasti akan sangat cocok jika makan dengan sambal terasi yang sangat pedas. Padahal kalau dipikir-pikir Fathur sangat tidak menyukai sambel terasi.
"Ya bisa sih, Mas Fathur beneran mau aku buatin sambel terasi?" Tanya Nadya memastikan.
"Iya, mau banget. Tolong buatin ya, Nad. Nanti habis ini semua piring dan alat-alat kotor aku yang cuci." Jawab Fathur dengan semangat.
Nadya hanya tersenyum. Dengan segera Nadya menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sambal terasi. Untung saja Nadya memiliki terasi. Dan kalau dipikir-pikir lagi, sebelumnya Nadya tidak pernah beli terasi. Tapi kenapa saat belanja bulanan kemarin Nadya bisa ambil terasi ya? Aahh sudahlah tidak usah dipikirkan.
Hal pertama yang Nadya lakukan adalah menggoreng terasinya terlebih dahulu. Dan itu langsung mendapatkan respon dari Fathur.
__ADS_1
"Ya ampun, baunya enak banget, Nad. Nggak sabar rasanya pengen makan pakai sambel terasi." Ujar Fathur.