UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Daun kemangi


__ADS_3

Nadya menatap Fathur yang saat ini sedang makan dengan tatapan takjub. Bagaimana tidak, saat ini Fathur sudah menambah nasi dan ayam 3 kali. Jangan lupa juga dengan sambel terasi requestannya tadi.


"Minum dulu, Mas. Itu Mas Fathur udah keringatan banget." Ujar Nadya.


Nadya bahkan belum menghabiskan makanan dipiringnya karena sejak tadi terlalu fokus menatap Fathur. Tapi Fathur.... Benar-benar Nadya dibuat takjub saat melihatnya. 3 piring loh, biasanya makan Fathur memang banyak, tapi tidak pernah tambah sampai 3 piring.


"Enak banget tau, Nad. Besok bikin sambel terasi lagi ya. Eehhmm, sama tambah daun kemangi dan timun juga. Pasti bakalan lebih enak." Ujar Fathur.


"Daun kemangi? Aku baru tau kalau Mas Fathur suka daun kemangi." Ujar Nadya.


Kalau masalah daun kemangi, Nadya tidak pernah melihat Fathur makan itu. Jadi Nadya tidak tau apakah Fathur suka atau tidak. Dan ternyata Fathur suka daun kemangi? Waow sekali bukan?


"Biasanya enggak, tapi mulai sekarang aku suka daun kemangi." Jawab Fathur.


Ooo, ternyata Nadya salah. Karena nyatanya Fathur tidak suka daun kemangi. Tapi mendadak Fathur mau daun kemangi? Seperti Fathur tiba-tiba juga pengen sambel terasi? Sebenarnya ada apa dengan Fathur saat ini? Nadya jadi bingung sendiri.


Tapi meski begitu Nadya mengiyakan permintaan Fathur.


"Iya, besok kalau ke pasar aku cariin daun kemangi." Jawab Nadya.



Selesai menghabiskan 3 piring nasi dengan 4 potong ayam goreng juga sambel terasi, kini Fathur terduduk di sofa dengan keadaan kekenyangan.



"Nad, piringnya biar nanti aku yang cuci aja." Ujar Fathur kepada Nadya.



Nadya tersenyum.


"Enggak papa Mas, ini cuma sedikit kok..Mas Fathur duduk aja." Jawab Nadya.



Yap, karena saking kekenyangannya Fathur sampai tidak bisa beranjak dari sofa. Untuk berdiri pun rasanya sulit.



Selesai mencuci piring, Nadya berjalan menghampiri Fathur dan duduk disamping suaminya itu.



Tangan Nadya dengan lembut mengusap perut Fathur.


"Mas Fathur abis makan banyak tapi ini perutnya kok nggak mlendung sih." Ujar Nadya.



Fathur sendiri hanya tertawa.


"Kan baru sekali aku makan sebanyak ini. Jadi belum ada efeknya diperut aku. Tapi, sepertinya mulai sekarang aku harus mulai rajin nge-gym lagi biar perut kotak ini nggak hilang." Jawab Fathur.

__ADS_1



"Emang kenapa kalau perut kotaknya ilang? Takut nggak bisa tebar pesona sama cewek-cewek ya?" Tanya Nadya dengan iseng.



Fathur melebarkan matanya mendengar tuduhan yang Nadya layangkan kepada dirinya.


"Kok cewek-cewek sih. Salah... Bukan ke mereka, tapi ke kamu. Kalau kotak-kotak diperut aku ini ilang, yang ada aku nggak bisa tebar pesona sama kamu. Selama ini tuh aku cuma pamerin ke kamu doang loh, Nad." Jawab Fathur.



Kini Nadya yang tertawa.


"Buat apa tebar pesona ke aku? Perut Mas Fathur udah nggak kotak lagi pun aku tetap suka kok. Senyaman-nya Mas Fathur aja." Jawab Nadya dengan lembut.



Mendengar jawaban Nadya, Fathur langsung mencium kening dahi istrinya itu.


"Percaya kok." Jawab Fathur. "Masalahnya aku nggak mau tersaingi sama badan guru olahraga di sekolah kamu itu." Tambahnya lagi.



"Guru olahraga? Maksudnya Pak Andi? Kenapa jadi takut kalah saing sama Pak Andi?" Tanya Nadya bingung.




Memang Fathur ini ada-ada saja.



Lagi-lagi Nadya hanya merespon ucapan Fathur dengan tawanya.



Bosan hanya berdiam diri di rumah, akhirnya Fathur memutuskan untuk pergi keluar. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah Mall. Karena yang namanya tinggal di kota seperti ini, kemana lagi mereka bisa menghabiskan waktu? Fathur dan Nadya sama-sama tidak tau tempat-tempat yang cocok untuk mereka bisa berkencan menghabiskan waktu weekend mereka.


"Cari daun kemangi yuk, Nad. Siapa tau disini ada." Ujar Fathur kepada Nadya.


Ternyata Fathur masih ingat soal daun kemangi. Itu berarti Fathur memang benar-benar sangat menginginkannya.


"Boleh." Jawab Nadya.


Kini tujuan Fathur dan Nadya adalah swalayan. Untuk mencari daun kemangi dan juga belanja mingguan sekalian. Karena kebetulan beberapa stok bahan makanan yang ada di rumah sudah habis.


"Itu bukannya Mas Rony ya, Mas?" Ujar Nadya sembari menunjuk seorang laki-laki yang saat ini juga sedang mendorong troli.


Fathur menoleh kearah Nadya menunjuk, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Iya, itu Rony." Jawab Fathur santai.

__ADS_1


"Mas Fathur nggak mau nyapa dulu?" Tanya Nadya.


Dan kalian tau apa respon Fathur?


"Buat apa? Nggak penting." Jawab Fathur.


Benar-benar Fathur ini. Bisa-bisanya menyapa sekretaris-nya sendiri dibilang tidak penting.


Tapi setelah itu...


"Oyy, Fath..."


Fathur tidak memiliki rencana untuk menyapa Rony. Tapi ternyata sebelum Nadya dan Fathur akan beranjak ke sisi yang berbeda Rony lebih dulu melihat keberadaan mereka. Membuat Fathur mau tidak mau menoleh kearah laki-laki itu.


"Apaan..." Ujar Fathur jutek.


Rony sendiri hanya tertawa.


"Lo ketemu gue kok rasanya kaya nggak suka banget sih. Ngapa lo?" Ujar Rony.


"Emang gue nggak suka ketemu sama lo." Jawab Fathur santai.


Sementara itu Nadya tersenyum melihat interaksi antara Fathur dan Rony. Mereka itu bos dan sekretaris, ditambah juga bersahabat. Tapi Nadya heran kalau setiap ketemu pasti ada aja yang mereka ributkan.


"Ya udah kalau nggak suka." Jawab Rony. "Haii Nad.. Apa kabar kamu, udah lama nggak main ke kantor." Kini perhatian Rony beralih kepada Nadya.


Membuat Fathur yang melihat itu semakin menatap Rony tidak suka. Dan seperti biasa Rony mengabaikan tatapan tidak suka Fathur.


"Aku baik, Mas." Jawab Nadya."Iya ini jarang main ke Kantor, soalnya kerjaan di sekolah lagi banyak. Jadi ya gitu..." Tambahnya lagi.


Tanpa mengatakan apa-apa, Fathur langsung menggandeng tangan Nadya dan berjalan meninggalkan Rony. Membuat Nadya menatap Rony dengan pandangan tidak enak hati. Tapi terlihat kalau Rony santai saja.


Rony yang tidak kehilangan akal, memutuskan untuk mengikuti pasangan suami istri itu.


"Nggak usah ngikutin gue deh, Ron." Ujar Fathur kepada Rony.


"Siapa yang ngikutin? Orang gue juga mau kesini." Jawab Rony santai


"Bohong banget lo. Jelas-jelas lo ngikutin gue sama Nadya." Ujar Fathur.


Rony tertawa kecil. Kemudian dengan cepat mengubah ekpresinya.


"Ya masa lo tega biarin gue belanja sendirian. Gue cuma butuh temen Fath, gue juga nggak bakal ngrecokin lo sama Nadya kok." Jawab Rony dengan nada memelas.


Fathur menghela nafas.


"Makanya cepetan nikah, biar kalau belanja begini ada yang nemenin." Ujar Fathur.


Rony yang mendengar ucapan Fathur seketika berdecak.


"Gaya lo, kalau bukan Tante Resti jodohin lo sama Nadya aja pasti sekarang lo juga jomblo." Jawab Rony.


"Ya lo tinggal minta sama emak lo buat dijodohin dong." Ujar Fathur dengan sombongnya.

__ADS_1


__ADS_2