
"Saya juga haus." Ucap Fathur saat mengambil botol ditangan Nadya. Bahkan wajah Fathur terlihat santai seolah apa yang laki-laki itu lakukan bukanlah apa-apa.
"Mas..." Ucap Nadya dengan suara lirih.
Nadya benar-benar merasa terkejut dengan apa yang Fathur lakukan ini. Memang, untuk pasangan suami istri pada umumnya, minum satu botol bersama adalah hal yang biasa. Tapi ini? Nadya dan Fathur saja tidak seperti layaknya pasangan suami istri diluar sana. Rumah tangga antara Nadya dan Fathur agak berbeda dengan yang lain. Dan minum satu botol bersama tentu saja menjadi satu hal yang sangat mengejutkan untuk Nadya.
Pasalnya, ya kita semua tau sendiri bagaimana bencinya Fathur kepada Nadya selama ini. Sebelumnya Fathur bahkan menghindari Nadya seolah wanita itu adalah virus yang harus dihindari. Jangankan untuk berdekatan, ngobrol santai saja tidak pernah. Dan sekarang tiba-tiba saja Fathur mau minum dibotol yang sebelumnya sudah Nadya minum terlebih dahulu.
Jadi, tidak salah kan kalau Nadya terkejut? Bukan sesuatu hal yang lebay kan?
"Apa?" Jawab Fathur santai.
"Mas nggak jijik minum bekas aku? Padahal ini masih ada yang baru kok minumnya." Ujar Nadya masih dengan suara lirih. Tangannya menunjuk kantung kresek yang didalamnya masih terdapat satu botol air mineral dalam keadaan segel.
"Kenapa harus jijik? Memangnya bekas bibir kamu ada bakteri atau virus yang bisa menyebabkan saya sakit atau mati? Lagian cuma bekas bibir nempel doang. Nggak usah lebay deh." Jawab Fathur masih tetap santai.
"Ya bukan itu maksudnya Mas, cuma kan airnya masih ada yang baru." Ucap Nadya.
"Ya emang kenapa kalau saya minum yang ini? Toh minuman yang barusan kamu minum itu saya yang beli. Jadi terserah saya dong, suka-suka saya mau minum yang mana." Ujar Fathur mulai tidak santai.
Kalau dipikir-pikir apa yang Fathur katakan ini memang benar kan? Air mineral ini Fathur yang membelinya, jadi terserah dia juga mau minum yang mana.
"Iya juga sih." Jawab Nadya mengalah. Nadya tidak ingin membuat Fathur marah kepadanya hanya karena perkara air mineral. Apalagi sekarang nada bicara Fathur sudah mulai meninggi.
"Debat sama kamu bikin saya laper tau nggak." Ujar Fathur kepada Nadya.
"Ya udah, nanti di rumah aku masakin. Mas Fathur mau aku masakin apa?" Tanya Nadya dengan lembut.
"Enggak usah, kita makan di luar aja." Jawab Fathur.
"Aku ikut Mas?" Pertanyaan terlalu polos Nadya ini membuat Fathur benar-benar terpancing emosinya. Bukan emosi yang bagaimana, Fathur hanya merasa gemas saja rasanya dengan kepolosan Nadya.
"Ya menurut kamu aja gimana? Kan tadi saya bilangnya kita, itu berarti saya sama kamu, Nadya."
"Aku cuma mau mastiin aja Mas." Jawab Nadya sembari tersenyum tipis.
Fathur sendiri mengajak Nadya jalan-jalan di Mall dulu. Fathur bilang ada sesuatu yang harus dia beli. Tapi saat Nadya bertanya kira-kira barang apa yang ingin Fathur beli, Fathur justru dengan santai menjawab kalau dirinya lupa.
"Diingat-ingat dulu Mas, kita udah di Mall loh." Ujar Nadya kepada Fathur.
"Sudah coba saya ingat-ingat, tapi saya tetap lupa mau beli apa." Jawab Fathur tanpa beban. "Atau kamu ada sesuatu yang mau dibeli?" Tanya Fathur saat menoleh kearah Nadya.
__ADS_1
"Aku? Aku nggak ada yang mau dibeli Mas." Jawab Nadya.
"Baju atau make up mungkin?"
Nadya menggelengkan kepalanya.
"Enggak Mas."
"Ya sudah, kalau gitu kita liat-liat aja dulu. Siapa tau nanti saya ingat apa yang mau di beli." Ujar Fathur.
Nadya sendiri hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan disamping Fathur mengikuti kemana kaki suaminya ini akan melangkah.
Saat melewati toko buku, Nadya menghentikan langkahnya. Nadya baru ingat kalau dia butuh membeli sebuah buku sastra untuk membantu dirinya dalam mengajar mata pelajarannya.
"Mas, aku mau mampir ke toko buku sebentar ya, ada beberapa buku yang harus aku beli soalnya." Ujar Nadya kepada Fathur. "Mas Fathur kalau..."
Selama Nadya menyusuri rak-rak mencari buku yang dibutuhkan, Fathur mengekorinya dari belakang.
Dan Fathur dibuat salah fokus dengan bentuk tubuh Nadya. Nadya memang memiliki tubuh tidak terlalu tinggi, bahkan cenderung mungil. Namun proposi tubuhnya terlihat sangat pas untuk Nadya.
Selama ini Fathur juga tidak pernah memperhatikan apapun tentang Nadya apalagi mengenai bentuk tubuh. Dan Fathur baru menyadari kalau ternyata Nadya terlihat seksi dimatanya. Blouse yang dimasukan dan dipadukan dengan rok span selutut membuat lekuk tubuh Nadya terlihat sangat membentuk.
"Kamu kalau ngajar bajunya emang selalu seperti ini?" Tanya Fathur tiba-tiba.
Nadya yang awalnya sedang fokus mencari kemudian langsung menoleh kearah Fathur.
__ADS_1
"Enggak, biasanya ada seragam. Tapi kalau hari Kamis kaya gini emang guru boleh pakai baju bebas. Yang penting sopan aja. Kenapa emangnya Mas?" Jawab Nadya.
"Nggak papa, agak nggak cocok aja kamu pakai baju itu." Ujar Fathur.
Benarkah Nadya tidak cocok dengan pakaiannya saat ini? Tentu saja sangat cocok. Fathur itu bohong saat mengatakan kalau Nadya tidak cocok dengan pakaiannya. Alasannya? Karena Nadya terlihat seksi dengan rok spannya. Fathur tidak suka kalau Nadya berpenampilan seperti itu saat mengajar. Hanya saja Fathur tidak bisa mengatakan alasannya itu secara gamblang. Fathur tidak ingin Nadya berpikir kalau dirinya mulai posesif.
Jadi Fathur mengakui sendiri kalau dia mulai posesif terhadap Nadya? Dengan berat hati, Fathur tidak bisa membantahnya.
"Tapi Septi bilang style kaya gini cocok buat aku, Mas. Katanya bikin aku jadi kelihatan lebih tinggi." Ujar Nadya. "Guru-guru yang lain juga bilang begitu." Tambahnya lagi.
"Siapa guru-guru lainnya yang bilang kamu cocok pakai baju itu? Termasuk Andi?" Tanya Fathur dengan tidak santainya.
Nadya mengerutkan dahinya. Kenapa Fathur jadi membawa-bawa Andi dalam pembicaraan ini?
"Pak Andi nggak pernah bilang gitu. Yang bilang cuma guru-guru perempuan aja." Jawab Nadya.
Karena memang pada dasarnya guru-guru perempuan saling memperhatikan pakaian mereka satu sama lain. Mereka juga saling memberi masukan kalau misal style salah satu dari mereka terlihat tidak cocok atau bagaimana. Sementara guru-guru laki-lakinya, mereka sama sekali tidak pernah komentar ataupun membicarakan style yang dipakai oleh sesama guru, baik itu style laki-laki ataupun perempuan. Memang biasanya laki-laki lebih cuek soal penampilan bukan?
"Ooo..." Jawab Fathur datar.
Hanya O? Jadi maksud Fathur berkata seperti itu apa? Nadya benar-benar tidak paham.
"Tapi emang beneran style kaya gini nggak cocok di aku ya Mas?" Tanya Nadya. Tentu saja Nadya jadi kepikiran dengan ucapan Fathur.
Fathur menatap Nadya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Enggak cocok, kamu bakalan lebih cocok kalau pakai celana panjang." Jawab Fathur santai.
__ADS_1