
Saat tadi Nadya berpamitan untuk ke kamar mandi, nyatanya Nadya memilih untuk lebih baik dia pergi. Nadya merasa tidak sanggup untuk tetap disana. Nadya memang tidak tau siapa wanita bernama Elisa itu. Tapi jujur saja, kata-katanya membuat perasaan Nadya menjadi tidak karuan. Nadya jadi mengingat bagaimana beratnya dia menjalani rumah tangganya dengan Fathur diawal pernikahan.
Ditambah yang membuat Nadya semakin overthinking adalah Elisa mengetahui akan kondisi rumah tangganya. Dimana Fathur awalnya memang tidak menerima perjodohan mereka dan juga tidak bahagia dengan pernikahan ini.
Nadya pikir hubungan Fathur dengan wanita bernama Elisa itu pasti cukup dekat. Karena kalau mereka tidak dekat, tidak mungkin kan Fathur menceritakan masalah rumah tangga mereka kepada Elisa.
Dan ya, saat dimana Fathur dan yang lainnya tidak melihat dirinya membuat Nadya memiliki kesempatan untuk pergi dari restoran itu. Rasanya sangat bersyukur karena posisi kamar mandi berada di dekat pintu keluar. Ditambah, sejak tadi Nadya tidak melepaskan tas selempang yang dia gunakan. Membuat Nadya semakin mudah untuk pergi dari sana karena semua barang-barang miliknya masih ada didalam tas, termasuk ponsel dan dompet.
Begitu keluar, yang Nadya langsung lakukan adalah mencari taksi. Kemana Nadya akan pergi? Ke panti asuhan. Karena Nadya tidak memiliki tempat tujuan lain disaat sekarang ini dirinya sedang tidak ingin pulang ke rumah.
Lagi pula suasana panti akan membuat Nadya menjadi tenang. Dengan bermain bersama anak-anak, mungkin saja Nadya akan bisa melupakan masalah ini dan bisa berpikir dengan jernih kembali.
Lalu kenapa Nadya tidak memilih untuk pergi ke tempat Septi? Secara Septi adalah sahabatnya. Jawabannya karena Nadya tidak ingin Septi ataupun orang lain mengetahui masalah rumah tangganya. Septi memang sahabat Nadya, tapi tetap saja, tidak semua masalah bisa kita ceritakan kepada sahabat bukan?
Sepanjang perjalanan rasanya Nadya ingin sekali menangis. Tapi tidak bisa, Nadya tidak bisa menunjukkan kesedihan yang dia rasakan kepada orang asing. Biar bagaimanapun supir taksi yang Nadya tumpangi orang asing bukan? Jadi sebisa mungkin Nadya menahan diri untuk tidak memperlihatkan kesedihannya apalagi sampai menangis.
Ditengah perjalanan, ponsel milik Nadya yang ada di tas berdering tanda ada telefon masuk. Dan saat Nadya mengambil ponselnya,
Mas Fathur
Yap, yang menelfon Nadya adalah Fathur. Hal ini membuat Nadya seketika menghela nafas. Rasanya Nadya tidak ingin mengangkat panggilan telfon ini. Tapi mengingat Fathur adalah suaminya, Nadya memilih untuk mengangkatnya. Nadya takut kalau dia tidak mengangkat panggilan telfon dari Fathur dia akan menjadi istri durhaka. Nadya tidak mau seperti itu.
"Assalamualaikum..." Ucap Nadya dengan suara lirih.
"Wa'alaikumsalam... Nad, kamu dimana sayang? Aku cari kamu ke kamar mandi tapi kamu enggak ada. Kamu kemana? Kasih tau aku Nad." Ujar Fathur dengan lembut. Dari suaranya, Nadya bisa menangkap ada sebuah kelegaan yang luar biasa.
Nadya tau kalau saat ini pasti Fathur sedang khawatir karena dia pergi tanpa izin terlebih dahulu. Rasa bersalah tiba-tiba langsung menyusup dan hati Nadya.
"Ehhmm, maaf Mas, aku pulang duluan. Hari ini aku mau pulanb ke panti, tapi.Mas tolong jangan kesini dulu ya." Terdengar suara lirih dari Nadya.
Setelahnya, tanpa menunggu jawaban dari Fathur, Nadya mematikan sambungan telefon mereka.
Nadya yang awalnya berniat untuk tidak memberitahu keberadaan dirinya kepada Fathur, akhirnya memilih untuk memberitahukan kemana tujuannya akan pergi. Hal ini Nadya lakukan agar Fathur tidak mengkhawatirkan dirinya. Setidaknya dengan Fathur mengetahui dimana Nadya berada, itu berarti Fathur tau bahwa Nadya akan baik-baik saja. Dan semoga saja Fathur menuruti apa kata Nadya dengan tidak menyusulnya ke panti. Karena sejujurnya Nadya sedang tidak ingin bertemu dengan Fathur.
Setelah perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya Nadya sampai di Panti Asuhan Sinar Bunda. Terlihat banyak anak-anak yang sedang bermain. Setelah menyapa beberapa anak-anak, Nadya memutuskan untuk langsung masuk ke rumah.
Begitu masuk, Nadya bertemu dengan Putri yang saat ini sedang merapikan mainan adik-adiknya. Nadya menghampiri Putri dan duduk disamping remaja itu.
__ADS_1
"Mbak Nadya, kapan datang? Kok aku enggak dengar suara motor Mbak?" Tanya Putri yang sedikit terkejut saat melihat Nadya yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya.
"Ini baru aja sampai, Put." Jawab Nadya. "Mbak emang nggak bawa motor, tadi kesini naik taksi." Tambahnya lagi.
Putri menganggukkan kepalanya paham.
"Oo iya, Bunda Sina kemana Put? Kayanya ruangannya kosong." Tanya Nadya.
Dari tempat Nadya dan Putri duduk saat ini, mereka bisa melihat ke ruangan Bunda Sina. Ruangan yang biasanya digunakan untuk menerima tamu penting. Seperti orang yang ingin mengadopsi atau donatur. Sengaja ruangan Bunda Sina dipasang dengan banyak kaca agar saat sedang didalam, Bunda Sina dan pengurus lain yang ada sedang didalam juga bisa sekalian mengawasi anak-anak. Karena dengan banyaknya anak disini, apalagi rata-rata usianya masih kecil, maka pertengkaran kecil biasanya sering terjadi. Entah itu karena berebut mainan atau sebagainya.
"Iya Mbak, Bunda Sina tadi keluar sama Bunda Titi. Putri enggak tau pastinya mereka pergi kemana." Jawab Putri.
Kini gantian Nadya yang menganggukkan kepalanya.
Apakah disini Nadya masih memiliki kamar? Jawabannya masih. Sudah pernah dikatakan kalau Nadya adalah anak kesayangan Bunda Sina, jadi meskipun Nadya sudah tidak lagi menetap di panti, tapi Nadya masih memiliki kamar pribadi. Tapi sekarang kamar itu lebih sering digunakan oleh Putri dan 2 anak lainnya.
"Mbak Nadya udah makan belum? Kalau belum makan dulu aja. Abis itu baru istirahat." Ujar Putri kepada Nadya.
Sebagai kakak tertua di panti ini, Putri terbiasa memberikan perhatian kepada adik-adiknya yang lain. Juga memastikan mereka sudah makan dan lain sebagainya.
Makan? Sebenarnya tadi Nadya sudah makan, tapi hanya baru beberapa suap saja sebelum akhirnya nafsu makannya mendadak hilang setelah kedatangan Elisa.
Mengingat Elisa, mood Nadya menjadi buruk lagi. Padahal sebelumnya sudah lebih baik karena tadi Nadya sudah lupa akan Elisa.
__ADS_1
"Udah, Mbak udah makan kok." Jawab Nadya.
Setelahnya Nadya langsung naik menuju lantai 2 dimana kamarnya berada. Kamar Nadya terlihat rapi karena setiap hari kamar ini selalu di bersihkan. Apalagi Putri tidur disini, jadi rasanya kamar ini tetap nyaman.
Begitu merebahkan tubuhnya, tidak membutuhkan waktu lama, Nadya langsung terlelap begitu saja. Sepertinya Nadya benar-benar lelah.
.
.
.
***INFORMASI***
Kisah Rendra sudah aku up di F\*\*\*\* ya. Judulnya '***Say Love Me, Rendra***!' π
*Alur* '***Say Love Me***, ***Rendra***!' *bakal lebih cepat dari* '***Mengejar Cinta Duda Baru***' *karena sehari bisa 2-3 kali up π₯³*
*Maaf banget karena aku nggak bisa up disini. Karena ada banyak pertimbangan sampai akhirnya aku memutuskan buat up disana.π*
*Jangan lupa mampir juga di karya lain aku yang disana ya. Cari aja nama pena* ***Anggifff****π*
Kalau mau ada yang ditanyain, bisa langsung komen aja ya, pasti aku akan balesπ
*Jangan lupa kritik dan sarannya π*
__ADS_1
***Terima Kasih ππ₯°***