
Pulang dari Mall, Fathur dan Nadya sampai rumah saat jam menunjukkan pukul 7 malam. Kalau Fathur langsung naik ke kamarnya untuk bersih-bersih, maka berbeda dengan Nadya. Begitu sampai rumah, Nadya langsung membereskan barang-barang belanjaannya dan menyusunnya di tempat seharusnya.
Awalnya Fathur sudah mengutarakan niatnya untuk membantu Nadya, hanya saja Nadya melarangnya. Dan jadilah saat ini Nadya seorang diri di dapur bersama dengan barang-barang belanjaannya.
Karena memang Nadya sudah terbiasa melakukan hal ini, jelas tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk Nadya menyelesaikan. Kurang dari 30 menit, Nadya sudah selesai menyusun semua barang pada tempatnya.
Dengan segera Nadya naik ke lantai 2 untuk menuju kamarnya. Nadya harus segera mandi, karena semakin malam pasti akan semakin dingin. Sementara Nadya sendiri hampir tidak pernah mandi menggunakan air hangat, karena memang sejak dulu Nadya lebih suka mandi menggunakan air dingin biasa.
Baru saja Nadya hendak membuka pintu kamarnya, tiba-tiba saja pintu kamar Fathur terbuka, menampilkan laki-laki itu dengan penampilan kaos dan celana rumahan selutut. Oo iya, jangan lupakan juga rambut Fathur yang saat ini masih terlihat setengah basah.
"Loh baru selesai, Nad?" Tanya Fathur kepada Nadya.
"Iya Mas, ini aku baru mau mandi. Kenapa? Mas Fathur butuh sesuatu?" Ujar Nadya balik bertanya.
Fathur menggelengkan kepalanya.
"Enggak, aku nggak butuh apa-apa kok." Jawab Fathur.
"Ya udah, kalau gitu aku masuk dulu Mas, mau mandi soalnya."
Setelah mengatakan itu Nadya membuka pintu kamarnya dan langsung masuk. Tapi, baru saja Nadya akan menutup pintu kamarnya lagi, Fathur menghalanginya.
"Kenapa Mas?" Tanya Nadya dengan wajah bingung.
"Enggak kenapa-napa, aku mau masuk ke kamar kamu aja." Jawab Fathur santai.
Nadya mengerutkan dahinya mendengar ucapan Fathur.
"Mau ngapain? Aku kan mau mandi?
"Ya nggak ngapa-ngapain. Aku cuma mau duduk di kamar kamu aja. Kalau kamu mau mandi ya silahkan, emangnya aku nggak boleh masuk ke kamar kamu?" Seperti biasa, jiwa tukang ngegas Fathur memang tidak bisa sepenuhnya hilang. Terbukti sekarang Fathur masih saja sering berbicara ngegas kepada Nadya kalau keinginannya tidak dituruti.
"Bukan Mas, maksud aku bukan gitu. Ya Mas Fathur boleh-boleh aja kalau mau disini. Tapi... Apa nggak nanti aja tunggu aku selesai mandi?" Tanya Nadya dengan lembut. Nadya berusaha sebaik mungkin agar tidak menyulut emosi Fathur.
__ADS_1
"Kan kamu mandinya juga dikamar mandi, Nadya. Aku nggak bakal ikut masuk juga, walaupun sebenarnya aku boleh-boleh aja kalau mau ikut. Aku cuma duduk doang, nggak ngapa-ngapain." Jawab Fathur. Saat ini nada suara Fathur sudah mulai merendah.
Apa? Boleh ikut katanya? Yang benar saja.
Nadya menghela nafas. Sebenarnya masalahnya bukan itu, masalah adalah Nadya setiap selesai mandi terbiasa memakai baju di dalam kamar. Jadi kalau ada Fathur di kamarnya, otomatis Nadya harus membawa baju gantinya ke kamar mandi kan? Kan ribet.
Tapi... Daripada Fathur nanti marah kalau dilarang, ya sudah... Nadya akan mengizinkan Fathur untuk masuk dan duduk di kamarnya seperti yang laki-laki itu tadi katakan.
"Ya udah, masuk aja Mas." Jawab Nadya menyerah pada akhirnya.
Dan seperti biasa tanpa Nadya ketahui, lagi-lagi sebuah senyum kemenangan tersungging dibibir Fathur. Tentu saja Fathur merasa menang karena pada akhirnya Nadya mengizinkan dirinya untuk masuk ke kamar istrinya itu. Walaupun sebenarnya tidak ada larangan bagi Fathur untuk bisa masuk ke kamar Nadya. Tapi selagi hubungan dirinya dan Nadya belum benar-benar baik, Fathur akan menjaga batasan. Apalagi sekarang Fathur tau bagaimana Nadya selama ini ternyata terluka karena ucapannya. Jadi untuk saat ini fokus Fathur adalah untuk memperbaiki hubungan mereka. Fathur ingin memulainya lagi dari awal dimana Nadya sudah tidak lagi ingat dengan ucapan-ucapan jahat yang pernah dia lontarkan kepada gadis itu.
Sementara Nadya mondar-mandir mengambil antara handuk dan pakaian gantinya, Fathur duduk dengan santai diatas ranjang sembari mengamati gerak-gerik Nadya.
"Padahal ganti disini juga nggak papa, Nad. Dari pada ribet bawa ganti ke kamar mandi. Nanti kalau kamu ganti baju, aku bakal tutup mata kok." Ujar Fathur sembari tersenyum penuh arti.
Mendengar ucapan Fathur itu tentu saja wajah Nadya langsung memerah.
"Nggak papa. Aku ganti di kamar mandi sekalian aja. Nggak ribet kok, Mas." Jawab Nadya seraya memberikan senyum terpaksanya.
"Ya terserah kamu sih, Nad." Lagi-lagi senyum menyebalkan itu Fathur perlihatkan kepada Nadya.
Membuat Nadya langsung saja buru-buru masuk ke kamar mandi.
Begitu Nadya masuk ke kamar mandi, Fathur tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak tertawa. Wajah bingung bercampur takut saat Nadya melihat senyumnya benar-benar terlihat sangat menggemaskan dimana Fathur. Bisa-bisanya Nadya berekspresi seperti itu kepada suaminya sendiri. Seolah Fathur adalah seorang predator yang sedang mengincar mangsanya. Padahal... Ya padahal memang iya sih. Ingin rasanya Fathur memangsa Nadya saat itu juga.
Sementara Nadya sedang mandi, Fathur sendiri fokus memainkan ponselnya sembari duduk diatas ranjang Nadya. Tapi... rasa fokus Fathur tidak bertahan dengan lama. Karena saat mendengar gemericik air dari kamar mandi, pikiran-pikiran kotor yang datangnya entah dari mana tiba-tiba muncul dikepala Fathur.
Bayangan Nadya dibawah pancuran shower dalam keadaan...
Fathur dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya. Tidak lupa memberikan sedikit pukulan pada kepala agar otaknya bisa kembali berpikir dengan jernih. Tapi, meski sudah memukulnya beberapa kali, tetap saja otak Fathur masih kotor. Fathur masih membayangkan hal yang tidak-tidak tentang Nadya.
"Nggak bisa, kalau begini terus yang ada begitu Nadya keluar dari kamar mandi bisa-bisa dia langsung gue terkam ke atas ranjang." Ujar Fathur sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tidak ingin otaknya semakin kotor, Fathur memutuskan untuk keluar dari kamar Nadya. Sepertinya Fathur perlu sesuatu yang dingin untuk menyegarkan otaknya.
Nadya pikir begitu dia keluar dari kamar mandi, dia akan mendapati Fathur sedang duduk diatas ranjang sembari memainkan ponsel. Tapi ternyata yang Nadya dapati hanya kamarnya yang dalam keadaan sepi dan kosong.
"Mas Fathur kemana? Apa aku mandinya kelamaan ya makanya Mas Fathur bosen nungguinnya." Ujar Nadya bergumam kepada dirinya sendiri.
Tidak ingin berpikir terlalu jauh, Nadya memutuskan untuk duduk di meja riasnya untuk menyisir rambut.
Malam ini sepertinya Nadya akan sibuk dan mungkin saja akan lembur juga. Karena seperti yang sudah Nadya katakan tadi pagi, hari ini Nadya baru saja memberikan ulangan kepada beberapa kelas Xll. Jadi, malam ini Nadya akan gunakan waktunya untuk mengoreksi hasil ulangan para siswanya.
.
.
.
*Pokoknya jangan lupa buat kritik dan sarannya π*
*Karena jujur aja, baca-baca komen temen-temen itu buat aku semangat dan selalu punya ide buat bisa terus lanjutin setiap cerita yang aku buatπ*
__ADS_1
***Terima Kasih ππ₯°***