
"Kenapa lo? Nggak jadi makan?" Tanya Rony kepada Fathur.
Fathur sendiri hanya diam setelah beberapa menit yang lalu menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Dan sekarang, laki-laki itu hanya menatap nasi gorengnya dengan pandangan mengernyit.
"Enggak enak? Itu nasi goreng gue beli di restoran bintang 5 loh. Sesuai requestan lo juga, nasi, kecap, telur, sama sosis. Dan cuma kaya begitu aja harganya 70 ribu." Ujar Rony kepada Fathur.
Pasalnya wajah Fathur meskipun tanpa berbicara pun sudah menggambarkan kalau nasi goreng di depannya itu tidak enak.
"Lo cobain aja sendiri." Ujar Fathur sembari meletakkan sendoknya.
Rony tentu saja langsung mengambil satu sendok dan mencobanya. Masa iya nasi goreng restoran bintang 5 enggak enak. Kan aneh ya?
Dan ternyata...
"Enak kok Fath. Bumbunya tuh perfect malah. Asin, manis, sama pedesnya udah pas banget ini." Ucap Rony setelah dia mencicipi nasi goreng milik Fathur itu.
"Ya udah, Lo abisin aja." Jawab Fathur seraya meraih kopi miliknya.
Kalau kopi, menurut Fathur rasanya masih tetap enak. Tidak berbeda jauh dengan kopi buatan Nadya. Tapi nasi goreng ini? Ini sangat berbeda dengan nasi goreng buatan Nadya. Padahal Fathur ingin nasi goreng yang rasanya sama persis dengan nasi goreng buatan Nadya. Dan Fathur tentu saja tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya kepada Rony. Bisa-bisanya Rony akan mengejeknya untuk beberapa bulan ke depan.
Meminta Nadya untuk membuatkan dirinya Nasi Goreng? Itu lebih tidak mungkin lagi. Karena saat ini Nadya kan juga sedang bekerja.
"Beneran?" Tanya Rony.
Fathur hanya menganggukkan kepalanya.
"Lo nggak lagi sakit kan Fath? Biasanya kalau lo sampai bilang makanan nggak enak, berarti lo lagi sakit nih." Ujar Rony.
"Teori dari mana itu?"
"Teori dari gue lah. Inget, kita sahabatan udah lama banget. Masa hal kecil kaya gitu gue nggak tau. Gue udah hafal kalau lo sakit atau menjelang sakit itu gimana. Lo jadi pilih-pilih makanan tau nggak." Ujar Rony menjelaskan.
Benar, Fathur kalau sedang sakit memang menjadi sangat pemilih kalau soal makanan. Karena kalau sedang sehat, Fathur akan makan apapun selama rasanya tidak buruk dan bisa diterima oleh lidahnya.
Tapi, kali ini Fathur memang benar sedang tidak sakit. Fathur hanya ingin makan nasi goreng buatan Nadya, itu saja. Dan ternyata nasi goreng yang katanya beli di restoran bintang 5 ini justru tidak sesuai dengan ekspektasi Fathur. Jelas Fathur kecewa dong.
"Kali ini gue nggak sakit. Gue cuma tiba-tiba nggak nafsu makan itu nasi goreng." Jawab Fathur.
__ADS_1
"Kenapa? Enak kok."
"Ya nggak papa. Kalau enak dan Lo suka, ya tinggal makan aja. Nggak usah banyak tanya kaya cewek deh." Ujar Fathur ketus.
Fathur kadang heran kenapa Rony bisa secrewet ini. Padahal image Rony diluaran sana tidak berbeda jauh dengan Fathur. Sama-sama terkesan dingin dan tidak tersentuh. Ya walaupun kalau masalah itu jelas Fathur masih unggul. Karena sikap dingin dan tidak tersentuh Fathur ini entah sudah dilevel berapa.
"Lo hari ini kenapa deh? Tadi pagi aja senyum-senyum terus kaya orang mau gila. Sekarang sensi banget kaya cewek pms." Ujar Rony menggerutu.
Fathur sendiri hanya diam tidak menanggapi gerutuan Rony. Dia lebih memilih untuk mengambil rokok dan menyalakannya.
Dengan santai, Fathur berjalan menuju jendela dan berdiri disana. Walaupun Fathur seorang perokok, tapi Fathur tidak suka kalau ruangannya di dominasi oleh bau dan juga asap rokok.
"Terus Lo mau makan apa? Biar gue pesenin lagi nih." Ujar Rony.
Rony tentu saja sadar akan tugasnya sebagai seorang sekretaris. Selain harus membantu pekerjaan Fathur, Rony juga harus memastikan bosnya ini sehat. Karena kalau Fathur sampai sakit, Rony jugalah yang akan di rugikan bukan? Secara Rony harus menghandle pekerjaan Fathur yang seabrek itu. Apalagi kalau tiba-tiba dia harus mewakili Fathur untuk rapat. Rasanya... Aahh sudahlah. Intinya kalau Fathur sampai sakit maka Rony akan mengalami banyak kesulitan.
"Enggak usah, gue nggak laper." Jawab Fathur santai.
"Atau Lo mau makan punya gue aja? Cuma baru gue makan kulitnya doang kok." Ujar Rony kepada Fathur.
Rony sendiri memilih untuk membeli paket nasi dan ayam goreng krispy dari KFC.
Ya sudah kalau Fathur tidak mau. Perut Rony amat sangat cukup untuk menampung semua makanan yang ada. Untung saja tadi Rony tidak memesan paket yang double.
"Gue ada tugas buat Lo." Ujar Fathur tiba-tiba.
Fathur yang sudah menghabiskan 1 batang rokok berjalan menuju Rony dan duduk di sofa berhada dengan sekretarisnya itu.
"Tugas apa?" Tanya Rony.
"Ambilin motor Nadya di panti." Jawab Fathur.
"Motor Nadya? Oke. Tapi diambil nanti sore kan?"
Dan seper dugaan Fathur, Rony langsung mengiyakan perintahnya itu. Padahal biasanya Rony akan mendebatn terlebih dahulu.
"Tumben lo langsung mau? Biasanya lo banyak alasan banget buat nolak perintah gue."
__ADS_1
"Ya gimana ya, kalau ini soal Nadya, gue nggak bisa nolak Fath. Kan gue mau sekalian belajar jadi suami yang baik dan bisa diandalkan. Siapa tau habis jadi istri lo Nadya bakal jadi istri gue kan." Jawab Rony santai.
Fathur yang mendengar ucapan Rony tentu saja langsung merasa marah.
"Kalau tujuan Lo ngomong begitu buat manas-manasin gue, udah cukup. Karena gue udah panas." Ujar Fathur dengan suara datar.
Rony seketika langsung membulatkan matanya karena terkejut begitu dia mendengar ucapan Fathur.
"Eehh, gimana maksudtn? Lo panas karena apa yang gue bilang tadi? Berarti Lo sekarang udah cinta dong sama Nadya?"
Fathur hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Rony.
"Jawab, Lo sekarang udah cinta sama Nadya?" Rony tidak menyerah, dia akan tetap bertanya sampai Fathur menjawab pertanyaannya ini.
Fathur menghela nafas pelan.
"Gue nggak tau ini cinta atau bukan. Tapi yang jelas gue emosi setiap denger Lo ngomong mau gantiin posisi gue sebagai suami Nadya. Gue juga marah waktu gue tau kalau ternyata banyak laki-laki yang suka sama Nadya, bahkan laki-laki itu terang-terangan mau merebut Nadya dari gue." Jawab Fathur jujur.
"Wahhh... Wahhhh... Kalau ini sih udah fiks kalau lo cinta sama Nadya. Dan ya, hilang sudah kesempatan gue buat gantiin Lo jadi suami Nadya." Ujar Rony dengan menggebu.
Fathur sendiri lagi-lagi memilih untuk diam dan sibuk dengan isi pikirannya sendiri.
"Apakah benar gue udah cinta sama Nadya?"
"Lo sekarang nggak perlu khawatir Fath. Karena lo sekarang udah cinta sama Nadya, jadi gue bakalan nyerah. Gue nggak bakal terang-terangan lagi buat merebut Nadya dari lo. Diam-diam juga enggak kok." Tambah Rony.
"Masalahnya bukan lo orang yang gue maksud. Gue tau kalau lo dari awal emang cuma gertak gue doang." Jawab Fathur.
Rony mengerutkan dahinya.
"Kalau bukan gue terus siapa?" Tanya Rony kepada Fathur.
"Andi, adek sepupu lo." Jawab Fathur.
"Andi? Gue kira sekarang dia udah nggak ngejar Nadya lagi. Ternyata masih ya?"
"Masih. Asal lo tau aja, tadi pagi gue ketemu sama Andi dan .... " Fathur menceritakan mengenai kejadian tadi pagi antara dirinya dan Andi saat di depan gerbang sekolah tempat Nadya mengajar.
__ADS_1
"Ckckck... Ternyata adek sepupu gue tetep kekeh mau jadi pebinor. Emang sih dari dulu dia agak-agak brengs*k sih." Ujar Rony