
Terlalu sibuk menatap Nadya yang sedang memasak, membuat Fathur tidak sadar kalau nasi goreng requestannya sudah matang. Dan kini setelah sepiring nasi goreng tersaji dihadapan Fathur, Nadya mendudukkan dirinya di kursi menemani Fathur makan.
"Kamu nggak makan juga Nad?" Tanya Fathur yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh wanita itu.
"Kenapa?" Dan entah sejak kapan Fathur menjadi cerewet seperti ini. Biasanya Fathur bahkan tidak pernah bertanya mengenai apapun kepada Nadya.
"Aku kan tadi udah makan Mas." Jawab Nadya kalem.
"Kapan?"
Dan ini membuat Nadya semakin heran. Apakah ini benar-benar Fathur Renaldi Sudiro? Kenapa mendadak banyak tanya seperti ini?
"Tadi waktu di panti. Kan Mas Fathur yang bawain ayam bakar." Jawab Nadya singkat.
"Kamu kenapa? Marah sama saya karena tengah malem begini minta buat dimasakin?" Entah kenapa Fathur merasa ada yang berbeda dengan Nadya. Sejak tadi Nadya hanya menjawab singkat pertanyaannya. Tidak seperti biasanya yang banyak berbicara.
Nadya mengerutkan dahinya. Kenapa Fathur bertanya seperti itu dan mengira dirinya marah?
"Ha? Aku nggak marah kok. Apalagi marah karena Mas Fathur minta buat dimasakin. Aku sama sekali nggak marah Mas. Aku malah suka bisa masakin Mas Fathur." Jawab Nadya. Jujur Nadya merasa heran kenapa Fathur sampai memiliki pikiran kalau Nadya sedang marah. Apalagi marah karena Fathur memintanya untuk memasak. Yang benar saja.
"Terus kenapa dari tadi kamu selalu jawab dengan singkat pertanyaan saya?" Tanya Fathur lagi. Sepertinya yang terlihat sedang marah bukan Nadya, justru Fathur yang terlihat sedang marah.
"Ya ampun Mas, aku jawab singkat bukan karena aku marah Mas. Aku pikir malah kalau aku jawab panjang-panjang Mas Fathur bakal ngrasa nggak nyaman. Selama ini kan Mas Fathur nggak suka diajak bicara kalau lagi makan." Jawab Nadya menjelaskan.
Mendengar jawaban Nadya, seketika Fathur merasa terkejut sendiri. Apa yang Nadya katakan adalah benar. Selama ini Fathur tidak suka makan sambil diajak bicara. Dan Fathur juga sadar kalau dari tadi justru dirinya lah yang banyak berbicara. Entah kenapa, mendadak Fathur tidak suka melihat Nadya yang hanya diam atau menjawab dengan singkat setiap pertanyaannya. Karena saat Nadya melakukan hal itu Fathur merasa kalau dia sedang diabaikan.
Sebenarnya apa yang saat ini sedang terjadi dengan Fathur? Kenapa Fathur merasa dirinya sedang sangat aneh.
"Lupakan." Ujar Fathur kembali dengan mode datarnya.
__ADS_1
Nadya tentu saja langsung menurut. Nadya tidak bertanya apapun kepada Fathur, Nadya kembali diam.
Dan lagi-lagi diamnya Nadya ini membuat Fathur tidak suka. Fathur ingin setidaknya Nadya bercerita meskipun nantinya dia tidak menanggapi cerita wanita itu. Yang Fathur inginkan hanya mendengar suara Nadya. Aneh? Ya, Fathur sendiri mengakui kalau saat ini dirinya sedang sangat aneh.
Beberapa menit kemudian Fathur sudah menghabiskan sepiring nasi goreng buatan Nadya. Harusnya saat ini dia sudah bisa langsung naik ke kamar. Karena biar bagaimanapun saat ini sudah sangat larut. Tapi Fathur justru ingin ngobrol dengan Nadya.
"Kamu tau kalau Andi adalah adik sepupu Rony, Nad?" Entah atas dasar apa tiba-tiba Fathur memilih topik ini untuk mengobrol dengan Nadya.
"Andi? Maksudnya Pak Andi yang ngajar di sekolah yang sama kaya aku?" Tanya Nadya memastikan.
Fathur menganggukkan kepalanya.
"Iya, dia itu adik sepupu Rony." Jawab Fathur.
"Adik sepupunya Mas Rony? Aku malah sama sekali nggak tau Mas." Ujar Nadya.
"Kata Rony, Andi suka sama kamu." Ujar Fathur. Entah karena apa juga Fathur mengatakan hal ini.
"Oo iya?" Hanya itu respon yang Nadya berikan. Karena tentu saja Nadya tidak mungkin mengatakan dengan lantang kepada Fathur kalau selama ini dia sudah tau bahwa Andi menyukai dirinya. Bagaimana bisa tidak tau kalau Andi sendiri mengatakan perasaan kepada Nadya secara terang-terangan.
"Kok respon kamu begitu? Kamu tau kalau Andi punya perasaan sama kamu?" Tanya Fathur dengan nada tidak suka.
Awalnya Nadya ingin berbohong dengan mengatakan kalau dia tidak tau mengenai perasaan Andi itu. Hanya saja pada akhirnya Nadya memilih untuk jujur.
"Iya, aku udah tau Mas. Pak Andi memang udah bilang kalau dia suka sama aku." Jawab Nadya."Tapi aku berani sumpah kalau aku sama Pak Andi nggak ada hubungan apa-apa selain sebagai profesional kerja aja kok." Ujar Nadya menjelaskan. Nadya tidak ingin nantinya Fathur justru salah paham.
"Kapan Andi bilang kalau dia suka sama kamu?" Tanya Fathur masih dengan rasa keponya. Fathur sendiri tidak tau kenapa dia merasa perlu mengetahui kapan tepatnya Andi menyatakan perasaannya kepada Nadya.
"Eehmm... Mungkin sekitar 2 bulan yang lalu." Jawab Nadya jujur.
__ADS_1
"2 bulan yang lalu? Berarti waktu kamu sudah nikah sama saya?" Tanya Fathur dengan raut wajah terkejut.
Nadya menganggukkan kepalanya.
"Iya." Jawab Nadya dengan suara lirih. Entah kenapa wajah Fathur terlihat menakutkan. Nadya merasa kalau saat ini Fathur sedang menahan amarahnya yang bisa saja akan meledak kapan saja.
Fathur sendiri tidak melanjutkan pertanyaannya. Entah kenapa mendadak Fathur merasa sangat marah.
"Terima kasih buat nasi gorengnya. Saya mau langsung ke kamar." Ujar Fathur yang kemudian langsung meninggalkan Nadya yang masih terdiam di kursinya dalam kebingungan.
Tentu saja Nadya bingung. Nadya merasa kalau saat ini Fathur sedang aneh. Fathur seperti seorang suami yang sedang cemburu karena istrinya disukai oleh laki-laki lain. Tapi, Fathur tidak mungkin cemburu kan? Fathur sudah berkali-kali mengatakan kepada Nadya kalau dia tidak akan pernah menganggap dirinya sebagai istrinya. Jadi tentu Fathur tidak akan mungkin menyukai Nadya.
Marah? Benar, saat ini Fathur merasa marah setelah mengetahui fakta bahwa ternyata Andi menyatakan perasaannya kepada Nadya disaat dia dan Nadya sudah menikah.
Fathur sendiri memilih untuk menahan rasa marahnya dari hadapan Nadya. Karena kalau Nadya sampai tau kalau Fathur marah karena hal ini, pasti Nadya akan berpikir macam-macam tentangnya. Dan kemungkinan Nadya akan berpikir kalau saat ini Fathur sedang cemburu. Padahal kan tidak seperti itu kenyataan. Fathur hanya merasa marah, bukan cemburu.
"Bisa-bisanya disaat dia udah tau kalau Nadya punya suami tapi masih aja nyatain perasaannya ke Nadya. Mungkinkah dia laki-laki nggak punya otak?" Ujar Fathur.
Dalam hatinya, saat ini Fathur sedang memaki-maki Andi. Fathur merasa apa yang Andi lakukan itu benar-benar kelewatan. Karena dengan Andi menyatakan perasaannya kepada Nadya disaat perempuan itu sudah menikah, itu berarti Andi sedang berusaha untuk merebut istri orang kan? Dan menurut Fathur merebut pasangan orang lain itu adalah hal menjijikkan.
__ADS_1
Tunggu-tunggu... Tapi kenapa Fathur jadi semarah ini ya? Mendadak Fathur tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dan kenapa Fathur jadi sensitif seperti ini?