UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Sepeda motor vs Mobil


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Anak-anak juga sudah masuk ke kamar masing-masing karena memang sudah waktunya untuk mereka tidur. Jadi, Nadya dan Fathur memutuskan berpamitan untuk pulang kepada Bunda Sina.


"Nggak nginep aja?" Tanya Bunda Sina.


Bunda Sina masih merasa rindu dengan Nadya. Jadi Bunda Sina ingin setidaknya Nadya sehari saja menginap disini.


"Nadya besok masih harus ngajar Bunda, Mas Fathur juga harus kerja. Nanti lain kali Nadya nginep disini kalau dapet libur panjang. 2 bulan lagi kan udah libur semester, nanti Nadya pasti nginep disini." Ujar Nadya memberikan penjelasan. Nadya juga sebenarnya ingin sekali menginap di panti. Hanya saja besok dia masih harus mengajar. Kesibukannya benar-benar tidak memungkinkan untuk Nadya menginap.


Bunda Sina menganggukkan kepalanya paham.


"Kalau gitu kalian hati-hati ya dijalan. Kabarin Bunda kalau udah sampai rumah." Ujar Bunda Sina.


Nadya menganggukkan kepalanya.


"Iya Bunda. Ya udah, kalau gitu Bunda masuk ya. Angin malem nggak baik loh buat kesehatan Bunda." Ujar Nadya dengan lembut.


Awalnya Bunda Sina menolak karena ingin mengantarkan Nadya dan Fathur sampai gerbang depan. Tapi Nadya terus membujuk Bunda Sina untuk masuk. Sampai akhirnya Bunda Sina pun mau masuk ke rumah.


Nadya dan Fathur berjalan beriringan menuju parkiran. Tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya.


Fathur masuk kedalam mobil begitu saja. Namun tidak lama kemudian Fathur langsung keluar sembari membanting pintu mobilnya dengan cukup keras.


Fathur memutari mobilnya sampai akhirnya dia sudah berdiri disamping Nadya yang saat ini sedang menggunakan helm.nya.


"Kenapa naik motor?" Ujar Fathur dengan nada suara cukup keras. Membuat Nadya seketika langsung terlonjak ditempatnya karena terkejut.


"Kenapa Mas?" Tanya Nadya dengan wajah bingungnya.


"Masih tanya kenapa? Kamu nggak denger tadi saya bilang apa? Kenapa naik motor?" Ujar Fathur masih dengan nada suara yang tidak santai.


Bukannya paham dengan maksud Fathur, justru Nadya malah semakin bingung dibuatnya.


"Ya karena aku bawa motor Mas. Jadi aku naik motor." Jawab Nadya lirih.


Benar bukan? Nadya datang kesini naik sepeda motornya. Dan tentu saja pulang pun harus naik sepeda motornya juga kan? Kalau Nadya pulang naik taksi, gimana Nadya besok berangkat ke sekolah coba? Naik taksi lagi? Sayang uangnya dong kalau gitu. Ongkos taksi dari sini ke rumah saja sudah cukup untuk mengisi tangki motornya dengan full bensin. Apalagi kalau besok Nadya naik taksi juga ke sekolah, yang ada pengeluarannya semakin banyak. Bulan ini saja pengeluaran Nadya sudah cukup banyak karena sebagian gajinya kemarin sudah dia gunakan untuk belanja bulanan dan juga tadi untuk membeli donat yang harganya lumayan untuk kantong seorang Nadya.


Fathur menghela nafas mendengar jawaban Nadya.


"Naik mobil." Ujar Fathur datar.


"Naik taksi mahal Mas. Ak..."


"Saya bilang naik mobil Nadya, bukan naik taksi. Kamu pulang sama saya naik mobil ini." Ujar Fathur memotong ucapan Nadya.


Nadya terdiam mendengar ucapan Fathur. Sepertinya Nadya masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pasalnya Nadya tadi benar-benar terkejut saat Fathur berkata dengan suara keras dan sampai membuatnya kaget.


Kembali Fathur menghela nafas saat melihat Nadya yang hanya diam tanpa merespon apa-apa.


"Ayo naik." Ujar Fathur setelah membuka pintu mobil sisi penumpang.


Membuat Nadya langsung tersadar dengan apa yang terjadi.


"Tapi aku bawa motor Mas." Jawab Nadya.

__ADS_1


"Masalah motor gampang, sekarang kamu masuk dulu." Ujar Fathur mencoba untuk bersabar menghadapi Nadya. Padahal Nadya sendiri tidak melakukan apa-apa.


"Besok aku masih harus ngajar Mas. Kalau motornya ditinggal disini besok aku gimana? Aku naik motor aja ya Mas. Aku bakal ikutin mobil Mas Fathur dari belakang kok." Ujar Nadya berusaha melakukan negosiasi dengan Fathur.


"Nggak, kamu pulang naik mobil saya. Masalah motor kamu ini, nanti biar saya suruh orang yang ambil. Dan saya pastiin besok pagi sebelum kamu berangkat ke sekolah, motor kamu ini sudah ada di rumah. Jadi, sekarang masuk mobil Nadya. Jangan membuang-buang waktu untuk masalah tidak penting seperti ini." Ujar Fathur dengan wajah datar.


Bagi Fathur sepeda motor Nadya mungkin tidak penting. Tapi bagi Nadya? Sepeda motornya sangat penting. Bagaimana perjuangan Nadya saat mencicil motor ini dengan gaji bulanannya dulu saat bekerja paruh waktu saat kuliah tentu saja tidak bisa Nadya lupakan.


Tapi pada akhirnya mau tidak mau Nadya memilih untuk mengikuti apa kata Fathur. Nadya tidak ingin membuat Fathur marah kepadanya.


"Kunci motornya." Ujar Fathur mengulurkan telapak tangannya kepada Nadya. Nadya pun langsung memberikannya kepada Fathur.


Setelah mendapatkan kunci Nadya, Fathur langsung menutup pintu mobil. Fathur memutar lagi dan masuk ke mobil duduk dibalik kursi kemudi.


Dengan segera Fathur menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. Namun sesampainya di gerbang, Fathur menghentikan mobilnya lalu keluar.


Dari dalam mobil, Nadya mendengar apa yang Fathur katakan kepada satpam panti yang sedang berjaga.


"Pak saya mau minta tolong, nanti kalau ada laki-laki yang namanya Rony datang kesini buat ambil motor, ini kuncinya tolong kasih ke dia ya Pak." Ujar Fathur kepada satpam bername tag Jono itu.


Fathur yang pada dasarnya memang masih dongkol dengan Rony akhirnya memutuskan untuk memberikan laki-laki itu sedikit pelajaran. Benar, Fathur akan meminta Rony untuk datang kesini mengambilkan sepeda motor Nadya. Fathur hanya ingin tau, apakah Rony benar-benar ada rasa kepada Nadya atau selama ini hanya sekedar menggertaknya saja. Kalau nanti Rony mau jauh-jauh datang kesini mengambil sepeda motor Nadya, itu berarti Rony memang ada rasa dengan Nadya.


"Baik Pak." Jawab Pak Jono.


Tidak lupa Fathur juga menyelipkan uang ke tangan Pak Jono sebagai imbalan karena mau dititipi kunci olehnya. Entah berapa banyak uang yang Fathur berikan, Nadya tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Awalnya Pak Jono terlihat menolak pemberian Fathur. Tapi setelah dipaksa, akhirnya Pak Jono mau menerimanya.





"Kalau iya kenapa emang?" Ujar Fathur balik bertanya. Seperti biasa, Fathur hanya memasang wajah datarnya saja.



"Aku nggak enak sama Mas Rony, pasti bakal ngrepotin banget. Apalagi ini udah malem, Mas Rony juga pasti lagi istirahat. Eemm, mendingan motornya biar di panti aja dulu nggak papa Mas. Besok aku ke sekolah biar naik taksi atau ngga angkot, terus pulang ngajar aku kesini lagi buat ambil motor." Ujar Nadya kepada Fathur.



Nadya benar-benar tidak ingin merepotkan Rony. Nadya tau betul kalau malam hari seperti ini adalah waktunya untuk pekerja seperti mereka beristirahat. Jadi Nadya tidak ingin mengganggu waktu istirahat Rony.



Fathur yang mendengar ucapan Nadya entah kenapa langsung merasa dongkol bukan main. Fathur tidak suka kalau Nadya seperti memiliki perhatian kepada Rony.


"Sejak kapan kamu perhatian sama Rony? Lagi pula ini sudah jadi tugas Rony sebagai sekretaris. Dia harus tetap siaga 24 jam untuk berjaga-jaga kalau saya membutuhkan bantuannya." Jawab Fathur ketus.



Nadya diam, dia tidak tau harus menjawab apa ucapan Fathur itu.

__ADS_1



"Kenapa diam? Kamu suka sama Rony? Jadi nggak suka kalau saya suruh-suruh dia?"



Nadya untuk kesekian kalinya dibuat terkejut.


"Astaghfirullah, enggak Mas. Aku paham betul status aku yang sudah jadi istri orang. Aku nggak mungkin menyukai laki-laki lain." Jawab Nadya.



"Jadi kamu sukanya sama saya?"



Nadya panik sendiri dengan pertanyaan yang Fathur ajukan.


"Maksud Mas?" Tanya Nadya pura-pura tidak mengerti.



"Kamu bilang kamu paham dengan status kamu yang sudah menjadi seorang istri dan tidak mungkin menyukai laki-laki lain. Dan disini saya adalah suami kamu. Jadi kamu suka sama saya?" Ujar Fathur mengulang pertanyaannya.



"Eehmm, aku... Iy..."



"Udahlah nggak usah dijawab. Nggak penting juga. Itu cuma pertanyaan random yang tiba-tiba muncul di kepala saya." Ujar Fathur memotong ucapan Nadya.



Nadya seketika langsung mengatupkan bibirnya.


"Padahal aku mau jawab kalau aku emang suka Mas Fathur." Ujar Nadya dalam hati.


.


.


.


*Ternyata gengsinya Mas Fathur masih gede sekali ya😂*



*Jangan lupa kritik dan sarannya 😍*



***Terima Kasih 🥰😘***

__ADS_1


__ADS_2