UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Tidak ingin jauh


__ADS_3

Sepanjang malam, yang Fathur lakukan adalah memeluk Nadya. Fathur seolah sangat takut kehilangan Nadya. Hingga dia tidak mau melepaskan Nadya walaupun hanya sebentar. Padahal, sejujurnya lengan Fathur sudah terasa kebas karena dia menjadikannya sebagai bantal untuk Nadya tidur semalaman.


Sementara Nadya bisa tertidur dengan nyenyak, Fathur justru malah tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Fathur terlalu takut kalau dia tidur maka diam-diam Nadya akan pergi meninggalkan dirinya.


Dan disaat Fathur sudah mulai bisa memejamkan matanya, nyatanya tidak lama kemudian adzan subuh mulai berkumandang.


"Eeghh..." Nadya mulai terbangun dari tidurnya. Namun Nadya masih belum membuka membuka matanya karena dia ingin menikmatinya tidurnya sebentar lagi sebelum akhirnya dia akan memulai aktivitas paginya.


Namun...


Degg...


Nadya mendadak teringat akan kejadian semalam. Hal ini membuat Nadya dengan cepat langsung membuka matanya. Dan dalam suasana kamar yang temaram saat ini, Nadya masih bisa melihat dengan jelas sebuah dada bidang tanpa atasan yang menutupi, berada tepat dihadapannya. Bahkan Nadya juga bisa merasakan sebuah lengan yang mendekap erat pinggangnya.


Fathur...


Ya, Nadya ingat kalau semalam terjadi keributan diantara dirinya dengan suaminya ini. Keributan yang membuat untuk pertama kalinya, Fathur mengatakan kalau laki-laki itu mencintai dirinya.


Sampai pada akhirnya Nadya berakhir dengan tidur di kamar Fathur, tidur berdua di ranjang yang sama.


Mengingat hal itu, wajah Nadya seketika terasa memanas karena sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan. Namun satu hal yang ingin Nadya tau, bolehkan sekarang Nadya merasa bahagia setelah mendapat pernyataan cinta dari suaminya ini?


Nadya dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menikmati perasaan bahagia ini Nadya. Kamu harus bangun sekarang, hari sudah semakin siang. Sementara kamu harus menyiapkan sarapan dan juga bersiap untuk mengajar." Ucap Nadya dalam hati. Nadya memperingati dirinya sendiri untuk tidak terlalu larut dalam euforia yang saat ini sedang dia rasakan.


Dengan perlahan Nadya mencoba untuk melepaskan belitan tangan Fathur pada pinggangnya. Nadya berusaha melakukannya sepelan mungkin agar Fathur tidak sampai terbangun. Karena sebenarnya, Nadya juga masih bingung bagaimana dirinya harus bersikap kepada Fathur nanti. Haruskah Nadya bersikap seolah semalam tidak terjadi apa-apa diantara mereka? Atau haruskah.... Aaa Nadya bingung harus bagaimana.


Sementara Nadya sibuk dengan pikirannya sembari mencoba untuk melepaskan lengan Fathur dari pinggangnya. Fathur justru mulai terbangun saat merasakan pergerakan dari Nadya yang membuat tidurnya menjadi terusik.


"Nad..." Suara parau Fathur ketika bangun tidur benar-benar membuat Nadya menjadi salah fokus. Bagaimana bisa hanya dengan mendengar suara bangun tidur Fathur, Nadya langsung terpesona. Gerakan Nadya untuk melepaskan tangan Fathur dari pinggangnya mendadak terhenti.

__ADS_1


Fathur yang tidak mendapatkan respon apapun dari Nadya langsung saja membuka matanya.


"Mau kemana?" Tanya Fathur tanpa melepaskan belitan tangannya pada pinggang Nadya.


"A-aa, emm,, Mau keluar." Jawab Nadya dengan terbata.


Fathur tersenyum tipis.


Cup...


Cup...


Cup...


Tanpa Nadya duga, Fathur justru memberikan 3 kecupan pada bibirnya.


"Jangan, disini aja. Masih pagi, Nadya." Ujar Fathur seraya menatap Nadya dengan tatapan lembut yang selama ini tidak pernah sekalipun Nadya lihat. Setelahnya, Fathur justru menyusupkan wajahnya dileher Nadya. "Aku masih ngantuk Nad." Fathur bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Nadya. Dan kini, hampir sebagian tubuh Nadya sudah tertindih oleh Fathur.


"A-aku harus nyiapin sarapan Mas. Kamu harus berangkat ke kantor dan aku juga harus berangkat ngajar." Ucap Nadya dengan suara lirih.


Fathur mengangkat wajahnya untuk menatap Nadya.


"Hari ini aku libur, dan kamu juga harus temenin aku libur." Ujar Fathur kepada Nadya.


Nadya dengan cepat menggelengkan kepalanya. Nadya ini adalah orang yang sangat profesional. Biar bagaimanapun Nadya tidak bisa mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaannya. Apalagi pekerjaan Nadya adalah seorang guru. Tugasnya adalah mengajar anak-anak dengan memberikan mereka ilmu pengetahuan. Jadi tidak bisa kalau Nadya mengambil libur seenaknya sendiri.


"Enggak bisa Mas, aku ini guru. Murid-murid butuh aku untuk mengajar mereka. Aku nggak bisa ambil libur seenaknya kalau bukan karena hal yang mendesak." Ujar Nadya dengan tegas.


Kali ini jiwa tegas Nadya sebagai seorang guru muncul. Dan Fathur yang melihat itu justru dibuat terpukau. Fathur tidak menyangka kalau Nadya bisa setegas ini.


"Jadi beneran nggak bisa libur?" Tanya Fathur memastikan.

__ADS_1


Nadya menggelengkan kepalanya.


Setelah berpikir sebentar, akhirnya Fathur memutuskan untuk menuruti keinginan Nadya. Fathur paham kalau saat ini bukan saatnya dia memaksa Nadya untuk menuruti ego-nya.


"Baiklah." Jawab Fathur pada akhirnya.


"Mas bisa lepasin aku?" Tanya Nadya sembari melirik kearah tangan dan kaki Fathur yang masih membelit tubuhnya.


Fathur tersenyum tipis, kemudian melepaskan Nadya dari belitan dirinya. Dan dengan cepat membuka selimut yang masih membungkus mereka.


"Mas..." Nadya berteriak sembari menutup matanya.


Sementara Fathur justru tertawa. Fathur sangat tau apa yang membuat Nadya berteriak seperti itu. Tentu saja karena tampilan Fathur yang saat ini terlihat tidak senonoh. Bagaimana tidak? Sepanjang malam Fathur hanya tidur menggunakan celana boxer yang dia gunakan hanya untuk menutupi aset pribadinya. Sementara Nadya? Nadya masih dengan pakaian lengkapnya. Jadi kalian jangan berpikir kalau semalam sudah terjadi sesuatu antara Fathur dan Nadya.


Yang semalam Fathur lakukan kepada Nadya hanya sebatas cium dan peluk saja. Hubungan mereka baru saja membaik, atau istilah katanya bahkan baru saja dimulai. Jadi sangat tidak mungkin kalau tadi malam Fathur meminta Nadya untuk memberikan haknya.


Walaupun sebenarnya niat awal Fathur memang itu. Fathur nyaris mengambil hak-nya kepada Nadya jika saja istrinya itu terus meminta cerai darinya. Semalam Fathur yang hampir kehilangan akal sehatnya setelah permintaan cerai Nadya ini, mendadak Fathur memiliki pikiran untuk menghamili Nadya agar istrinya ini tidak bisa lepas darinya.


Untung saja sebelum Fathur melakukan hal itu, akal sehatnya dengan cepat kembali. Hingga Fathur tidak sampai membuat Nadya semakin terluka karena kelakukan bejat yang nyaris saja dirinya lakukan.


"Apa sih Nad. Buka aja matanya nggak papa. Aku masih pakai celana kok." Ujar Fathur santai.


"Pakai celana tapi itu mini banget." Jawab Nadya masih dengan mata yang terpejam.


Lagi-lagi Fathur tertawa. Kenapa Nadya terlihat sangat menggemaskan dimatanya? Namanya boxer ya jelas mini kan?


"Ya emangnya kenapa? Mulai dari sekarang dibiasain Nad. Cepat atau lambat kamu pasti bakal liat yang lebih dari ini." Fathur masih saja menanggapi dengan santai.


Membuat Nadya langsung saja bergidik ngeri saat mendengarnya.


Sampai akhirnya, setelah dipaksa beberapa kali, barulah Nadya membuka matanya. Hanya saja Nadya langsung menghindar untuk melakukan kontak dengan Fathur. Dan begitu ada kesempatan, Nadya langsung menggunakannya untuk kabur dari kamar ini.

__ADS_1


__ADS_2