UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Fathur Kepo!


__ADS_3

"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Fathur kepada Nadya.


Saat ini Fathur dan Nadya ada didalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah tempat Nadya mengajar.


"Hari ini pulang jam 4, soalnya aku ada jadwal ngajar les kelas 12, Mas." Jawab Nadya.


Fathur menganggukkan kepalanya. Sementara Nadya memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi setelah menjawab pertanyaan Fathur.


Dan ya, setelah itu selama perjalanan yang terjadi hanya keheningan. Tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali. Baik Fathur maupun Nadya fokus dengan jalanan di depan.


"Mas aku turun di depan aja nggak papa. Jadi nanti biar Mas Fathur nggak perlu repot parkir mobilnya." Ujar Nadya kepada Fathur. Karena memang sebentar lagi mereka akan sampai di SMA Mandiri Bangsa.


"Nggak papa, sekalian masuk aja. Lagian cuma parkir doang, sama sekali nggak repot." Jawab Fathur santai.


"Ooo, ya udah kalau gitu." Ujar Nadya kalem.


Nadya sendiri memilih untuk tidak membantah ucapan Fathur. Kalau Fathur tidak merasa kerepotan ya sudah tidak apa-apa. Toh Nadya minta diturunkan di depan gerbang agar memudahkan Fathur.


Akhirnya Nadya dan Fathur pun sampai. Karena jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang, jadi sudah ada banyak murid-murid yang berangkat. Lihat saja, sudah banyak sepeda motor para murid yang sudah terparkir rapi diparkiran.


"Makasih ya Mas karena udah mau repot-repot nganterin aku ke sekolah." Ujar Nadya kepada Fathur.


Fathur hanya menganggukkan kepalanya.


Nadya sudah melepaskan seatbeltnya, dia bahkan sudah bersiap untuk turun. Namun ucapan Fathur membuat Nadya menghentikan tangannya yang baru saja akan membuka pintu mobil.


"Kamu lupa pesan Bunda Sina?" Ujar Fathur.


Nadya langsung saja mengerutkan dahinya. Maksud Fathur apa ya?


"Pesan yang mana Mas?" Tanya Nadya dengan raut ekspresi bingung. Karena pesan yang Bunda Sina sampaikan kepada Nadya itu banyak. Dan juga mencangkup banyak hal. Jadi, pesan yang mana maksud Fathur?


Bukannya menjawab pertanyaan Nadya, Fathur justru malah diam. Dan...


"Nggak papa, bukan pesan apa-apa. Sudah sana kamu masuk." Ujar Fathur.


Meski penasaran, Nadya memilih untuk tidak bertanya. Sepertinya Nadya memang sudah benar-benar menjaga jarak dengan Fathur. Setelah beberapa kali kejadian dimana Fathur membentaknya, Nadya takut dirinya tanpa sengaja berbuat salah dan berakhir mendapatkan bentakan lagi.


Nadya menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu aku pamit Mas. Mas Fathur hati-hati dijalan." Setelah itu Nadya langsung turun dari mobil Fathur.


Fathur pun juga begitu, dia langsung menjalankan mobilnya keluar dari area sekolahan.

__ADS_1


Nadya hanya menatap mobil Fathur yang sudah berjalan pergi.


"Ciee... ciee... dianterin suami nih."


Nadya dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja sudah ada disampingnya. Orang itu adalah Septi. Saat melihat mobil masuk ke halaman sekolah, Septi memang sedang ada di parkiran karena dia juga memang baru sampai. Septi tidak mengira kalau orang yang akan turun dari mobil adalah sahabatnya, Nadya.


Semakin terkejut karena Nadya diantarkan oleh suaminya. Pasalnya meskipun Nadya sudah menikah selama beberapa bulan, Nadya tidak pernah berangkat diantar atau pulang dijemput Fathur. Nadya selalu berangkat dan pulang naik sepeda motornya sendiri m


"Motor aku ada di panti makanya Mas Fathur yang antar aku ke sekolah, Sep." Ujar Nadya kepada Septi.


"Oo gitu... Berarti kalau motor kamu nggak di panti, suami kamu nggak mau antar kamu, Nad." Tanya Septi.


Septi sendiri terkadang merasa ada yang aneh dengan rumah tangga Nadya dan Fathur. Entah apa yang aneh, hanya saja Septi merasa berbeda saja. Meskipun hubungan Nadya dan Fathur adalah suami istri, tapi selama ini dimata Septi keduanya tidak terlihat seperti itu. Bahkan ini kali pertama Septi melihat Nadya dan Fathur berdua bersama-sama. Ya itu sih menurut Septi, karena bisa saja kalau di rumah Fathur adalah tipe suami yang romantis kan? Jadi kita sebagai orang yang tidak tau apa-apa tidak boleh su'udzon.


"Enggak gitu Sep. Bukan Mas Fathur nggak mau antar aku, cuma ya aku aja yang nggak mau ngrepotin dia. Mas Fathur kan udah sibuk banget sama pekerjaannya di kantor, masa iya aku harus tambah ngrepotin dia dengan minta antar jemput. Lagian kan aku juga bisa bawa motor, ya mending mandiri dong." Nadya menimpali ucapan Septi dengan santai.


Meskipun apa yang dikatakan Nadya tidak sepenuhnya benar, Nadya juga tidak sepenuhnya bohong juga kan? Nadya hanya berusaha agar tidak menciptakan image buruk seorang Fathur dimata orang lain. Karena biar bagaimanapun Fathur adalah suaminya. Walaupun nyatanya apa yang Septi katakan itu memang benar adanya. Fathur tidak akan mungkin mau mengantarkan Nadya ke sekolah kalau saja sepeda motor Nadya tidak ditinggal di panti kan?




Sementara itu di mobil Fathur menggelengkan kepalanya merutuki mulutnya yang bekerja terlalu cepat dibandingkan dengan otaknya.




Saat Fathur mulai fokus mengendarai mobilnya, Fathur melihat sebuah ponsel dengan case warna biru muda tergeletak diatas kursi yang ada disampingnya. Ponsel yang langsung bisa Fathur ketahui siapa pemiliknya. Benar, siapa lagi kalau bukan Nadya.



Dengan segera Fathur menepikan mobilnya dan kemudian berhenti. Fathur meraih ponsel itu.



"Kalau gue buka, gue lancang nggak sih?" Ujar Fathur sembari menatap ponsel itu. Entah kenapa Fathur mendadak kepo ingin melihat isi ponsel Nadya. Padahal biasanya Fathur paling tidak peduli dengan apapun jika itu menyangkut privasi orang lain. Karena Fathur sendiri tipe orang yang tidak ingin privasinya diganggu orang lain. Bahkan dengan mantan pacar-pacarnya saja Fathur tidak pernah kepo dengan isi ponsel mereka. Namun entah kali ini justru berbeda.



Apakah Fathur bisa membuka ponsel Nadya? Tentu saja bisa, karena saat Nadya sakit beberapa waktu yang lalu, wanita itu memberitahu Fathur password ponselnya. Dan semoga saja Nadya tidak mengganti passwordnya.


__ADS_1


"Nggak papa kan ya? Lagian Nadya juga istri gue. Paling cuma liat-liat doang nggak bakal jadi masalah." Ujar Fathur.



Dan akhirnya rasa kepo Fathur mengalahkan prinsip yang laki-laki itu pegang. Tanpa bisa ditahan, Fathur mulai menekan password ponsel Nadya. Dan... ya, ponsel Nadya berhasil Fathur buka.



Hal yang pertama Fathur buka adalah aplikasi galeri. Dimana di dalamnya terdapat foto-foto yang Nadya simpan.



Banyak sekali foto di galeri Nadya. Tapi kebanyakan foto-foto itu adalah foto bersama. Seperti saat acara sekolah, acara panti, bahkan foto-foto saat Nadya masih kuliah. Dan jangan lupa juga, foto pernikahan dirinya dan Nadya yang bahkan tidak Fathur miliki satupun di galeri ponselnya juga tersimpan di galeri ponsel Nadya.



Tanpa sadar senyum tersungging dibibir Fathur. Entah kenapa, Fathur merasa dirinya difoto itu sangat serasi bersanding dengan Nadya.



"Ternyata cocok juga." Gumam Fathur tanpa sadar.



Hingga akhirnya Fathur sampai pada foto-foto Nadya bersama dengan guru-guru lain yang sepertinya juga mengajar di sekolah yang sama dengan Nadya. Satu hal yang bisa langsung Fathur sadari, yaitu posisi Andi didalam foto-foto itu selalu dekat dengan Nadya. Entah itu disamping Nadya, dibelakang, bahkan dalam posisi berjongkok pun didepan Nadya. Pokoknya posisi Andi selalu dekat dengan Nadya.



"Modus banget jadi laki." Ujar Fathur ketus.


.


.


.


*Kira-kira pesan Bunda Sina mana yang Fathur maksud coba*?



*Jangan lupa kritik dan sarannya 😍*


__ADS_1


***Terima kasih 😘🥰***


__ADS_2