UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Nadya menghilang


__ADS_3

Setelah mengatakan hal itu, Fathur langsung beranjak dari kursinya meninggalkan Elisa dan Rony. Tujuan Fathur saat ini tentu saja menemui Nadya yang saat ini sedang di kamar mandi.


Kini tatapan Rony beralih kearah Elisa. Ada sedikit rasa kasihan saat Rony melihat wajah Elisa yang sepertinya sangat syok dan juga malu setelah mendengar ucapan Fathur. Karena biar bagaimana pun, dulu Rony dan Elisa juga berteman akrab. Jadi Rony merasa kasihan melihatnya.


"Makanya lo lain kali kalau mau ngomong sesuatu tuh dicari dulu kebenarannya El. Kalau kaya gini kan lo juga yang malu. Udah gitu, apa yang lo lakuin ini bisa aja nyebabin rumah tangga Fathur sama Nadya yang tadinya adem ayem jadi ada prahara." Ujar Rony kepada Elisa. "Dan satu lagi, jangan lah lo jadi pelakor, yang gue tau lo itu wanita terhormat loh. Jangan hanya karena keinginan lo buat balikan lagi sama Fathur, lo jadi wanita murahan. Beda cerita kalau Fathur belum ada pasangan, maka sah-sah aja kalau lo mau balikan lagi sama dia." Tambahnya lagi.


Elisa yang memang sudah merasakan perasaan malu, marah, dan sebagainya memutuskan untuk pergi dari sana setelah mendengar ucapan Rony. Jujur saja, Elisa merasa jantungnya seperti tertohok saat mendengar Rony mengingatkan dirinya untuk tidak jadi wanita murahan.


Dalam hati yang paling dalam Elisa membenarkan ucapan Rony. Tidak seharusnya dia merendahkan harga dirinya dan menjadi wanita murahan perebut suami orang. Elisa adalah wanita terhormat dan dari keluarga baik-baik. Harusnya dia berpikir sebelum melakukan hal memalukan itu. Untung saja apa yang Elisa lakukan segera terhenti sebelum dia melangkah lebih jauh dan benar-benar kehilangan kehormatannya sebagai seorang wanita.


Rony sendiri yang melihat Elisa pergi begitu saja hanya diam. Karena sejujurnya yang Rony khawatirkan saat ini adalah hubungan Fathur dan Nadya.


Rony merasa kalau apa yang tadi Fathur lakukan itu benar-benar bodoh. Bisa-bisanya disaat Nadya sudah pergi dia baru menjelaskan apa yang sebenarnya kepada Elisa. Kenapa tidak sejak Nadya masih duduk disini saja? Benar-benar Fathur ini.




Sementara itu, Fathur saat ini sedang berdiri didepan pintu kamar mandi wanita. Sudah beberapa perempuan yang keluar masuk, tapi Fathur tidak kunjung melihat Nadya keluar dari kamar mandi.



Karena sudah 15 menit Fathur berdiri seperti ini, jadi Fathur memutuskan untuk bertanya kepada perempuan yang baru saja keluar dari kamar mandi.



"Maaf Mbak, saya mau tanya. Di dalam ada cewek tingginya segini, rambut panjang sepunggung, pakai baju biru muda nggak?" Tanya Fathur.



Perempuan yang Fathur tanya itu menggelengkan kepalanya.


"Enggak Mas, di dalam nggak ada orang kok." Jawab perempuan itu.



Membuat Fathur yang mendengarnya refleks langsung membuka pintu kamar mandi dan masuk untuk memastikan sendiri apakah memang benar kamar mandi itu kosong atau tidak.



Dan ternyata benar, saat Fathur masuk dan membuka satu persatu pintu kamar mandi, tidak dia dapati siapapun disana. Kalau begini, lalu Nadya kemana? Kemana istrinya itu pergi? Rasa khawatirnya langsung menghinggapi hari Fathur. Dengan segera dia langsung keluar dari kamar mandi dan kembali ke mejanya untuk mengambil ponsel.



Terlihat Rony yang masih menyelesaikan makannya.


"Nadya nggak kesini, Ron?" Tanya Fathur kepada Nadya.



Rony menggeleng kepalanya.


"Enggak, bukannya Nadya ke kamar mandi?" Rony balik bertanya dengan wajah bingungnya.

__ADS_1



Fathur menggelengkan kepalanya.


"Enggak ada, Nadya nggak ada di kamar mandi. Gue udah cek kamar mandi satu-satu dan semua kosong." Jawab Fathur dengan wajah frustasinya.



Salahkan kamar mandi yang letaknya berada di dekat pintu keluar. Karena itu membuat Fathur jadi kecolongan dan tidak sadar Nadya ternyata sudah pergi meninggalkan restoran.



Jika Fathur sedang seperti ini, maka tugas Rony adalah tetap tenang. Karena biasanya Fathur akan kehilangan kontrol dirinya disaat laki-laki itu sedang marah ataupun cemas.



"Tenang dulu, coba hubungi HP Nadya." Ujar Rony kepada Fathur.



Fathur dengan segera melakukan ucapan Rony.



Tutt... Tutt... Tutt...



"Assalamualaikum..." Terdengar suara Nadya mengangkat panggilan dari Fathur.




"Wa'alaikumsalam... Nad, kamu dimana sayang? Aku cari kamu ke kamar mandi tapi kamu enggak ada. Kamu kemana? Kasih tau aku Nad." Ujar Fathur dengan lembut.



Rony tidak menyangka kalau Fathur bisa berbicara dengan nada selembut ini. Rony kita Fathur hanya bisa menggunakan nada bicara datar dan dingin saja.



"Ehhmm, maaf Mas, aku pulang duluan. Hari ini aku mau pulang ke panti, tapi... Mas tolong jangan kesini dulu ya." Terdengar suara lirih dari Nadya.



Deg... deg... deg...



Jantung Fathur seketika berdetak dengan cepat saat mendengar Nadya meminta dirinya untuk tidak mendatangi istrinya itu. Tidak bisa, jelas saja Fathur tidak bisa. Apapun itu, Fathur akan ke panti untuk menemui Nadya.


__ADS_1


Belum juga Fathur menjawab ucapan Nadya, sambungan telefon sudah diputus secara sepihak oleh Nadya.



"Gue mau ke panti, Nadya sekarang ada disana." Ujar Fathur kepada Rony.



Rony yang mendengar itu segera beranjak dari kursinya. Membuat Fathur mengerutkan dahinya.



"Mau kemana lo?" Tanya Fathur kepada Rony.



"Mau ikut lo lah, lo kalau lagi kaya gini bawa mobilnya suka kaya setan soalnya." Jawab Rony.



"Terus mobil punya lo mau lo tinggalin disini?" Ujar Fathur.



Mobil? Oo iya, Rony sampai lupa kalau dia kesini juga membawa mobil. Tapi, masalahnya kalau Rony tidak ikut dengan Fathur, bisa-bisa nyawa sahabatnya itu dalam bahaya.



"Udahlah, nggak papa. Nanti kalau lo udah sampai panti, gue bisa balik lagi kesini buat ambil mobil." Jawab Rony santai.



Fathur menggelengkan kepalanya.


"Lo tenang aja, gue bisa jaga diri kali. Lo disini aja, lanjutin makan siang lo, abisin tuh, masih banyak. Mubazir kalau nggak lo abisin." Ujar Fathur.



Rony masih menatap Fathur dengan ragu.



"Nanti kalau gue udah sampai panti, gue langsung kasih kabar ke lo buat kasih tau kalau gue selamet dan masih hidup." Ujar Fathur lagi.



"Tapi ingat, nggak usah lo bawa mobil kaya setan. Nyawa lo nggak banyak Fath, nyawa lo cuma satu. Itu kalau melayang, lo bakalan langsung deat." Ujar Rony.



Fathur menganggukkan kepalanya.


"Iya, gue paham. Gue juga nggak akan seceroboh itu. Gue masih mau hidup dan nikmati masa pernikahan gue sama Nadya. Jadi lo santai aja." Jawab Fathur. "Udahlah, Pokoknya lo santai aja, makan dengan tenang disini. Gue cabut dulu." Ujar Fathur yang kemudian langsung meninggalkan Rinya begitu saja.

__ADS_1



Setelah mendengar ucapan Fathur, kali ini Rony percaya. Benar, Nadya menjadi alasan Fathur untuk tetap waras dengan tidak menyia-nyiakan nyawanya.


__ADS_2