UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Berbangga diri


__ADS_3

Pagi ini Fathur menjadi pusat perhatian para karyawannya. Bagaimana tidak? Sejak masuk ke kantor, senyum terus tersungging diwajah Fathur. Ditambah, terdengar juga kalau Fathur samar-samar bersenandung kecil. Bukankah ini sangat aneh? Pasalnya selama ini ekspresi wajah Fathur tidak pernah berganti. Kalaupun berganti, itu hanya diantara 2 ekspresi saja, yaitu ekspresi datar atau kalau tidak ya ekspresi dingin.


"Lo kenapa pagi-pagi udah senyam-senyum begini, kesambet?" Dan seperti biasa di kantor tentu saja hanya Rony yang berani menegur Fathur seperti ini.


"Enggaklah, nggak bakal gue kesambet. Mana berani setan masuk ke gue." Jawab Fathur santai.


Rony tertawa kecil.


"Oo iya, lupa gue. Setan nggak bakal ada yang berani masuk ke badan lo. Secara lo kan rajanya setan." Ujar Rony santai.


Kan, lihat kan? Betapa kurang ajarnya Rony ini. Untung saja Rony sahabat baik Fathur. Kalau tidak, mungkin sudah sejak awal Fathur memecat laki-laki itu dengan alasan tidak karyawan yang tidak memiliki sopan santun.


Fathur yang sedang dalam mood yang bagus hanya mengangkat bahunya santai.


"Pergi sana lo, kerja. Jangan gangguin gue dan bikin mood gue malah jadi buruk. Masalahnya hari gue mood gue lagi bagus-bagusnya ini." Ujar Fathur kepada Rony.


Rony hanya memutar bola matanya.


"Ini juga saya lagi kerja Pak Fathur. Tolong berkasnya ditandangani karena sebentar lagi akan saya kirimkan lagi." Ujar Rony kembali profesional.


Setelah Fathur membaca dan menandatangani berkas dari Rony, barulah Rony keluar dari ruangan Fathur.


Dan sepeninggalnya Rony, Fathur kembali tersenyum.


"Mana bisa kalian bersaing sama gue. Jelas nggak bisa, karena tanpa gue bersaing pun gue udah menang. Dan Nadya dari awal emang punya gue." Ujar Fathur bergumam.


Sejak dalam perjalan tadi, Fathur benar-benar merasa bangga kepada dirinya. Cukup aneh memang, pasalnya selama ini Fathur tidak pernah sama sekali membanggakan diri sendiri seperti ini. Bahkan saat Fathur beberapa kali memenangkan tender besar pun dia juga tetap cool dan santai.


Apakah ini tandanya sekarang Fathur sudah mulai mencintai Nadya? Kita tunggu saja kapan Fathur akan sadar dan nanti mengutarakan perasaannya itu.



Sementara itu, apa yang pagi tadi Fathur lakukan di sekolah tempat Nadya mengajar ini benar-benar menciptakan sebuah kehebohan. Dan karena itu, sejak tadi pagi entah sudah berapa kali orang-orang menggoda Nadya, baik itu sesama guru maupun murid.



Nadya sendiri sih sebenarnya senang karena untuk pertama kalinya dia mendapatkan pelukan sekaligus ciuman di dahi dari Fathur. Hanya saja tetap Nadya merasa malu karena kejadian itu dilihat dan diketahui oleh banyak orang. Karena pada dasarnya Nadya sendiri bukan tipe orang yang suka menjadi pusat perhatian.



"Nad, jadi tadi awalnya gimana sih? Aku kepo tau. Ceritain dong Nad."


__ADS_1


Saat ini kebetulan sekali Nadya dan Septi sedang sama-sama memiliki jam kosong. Dan kebetulan sekali juga, kantor guru pun hanya sedang ada mereka berdua. Tentu saja Septi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menanyakan secara langsung kepada Nadya mengenai apa yang terjadi tadi pagi antara Nadya dan Fathur.



"Ya gitu, Sep." Jawab Nadya dengan wajah memerah.



Pertanyaan Septi ini membuat Nadya kembali mengingat bagaimana Fathur tadi memeluk dan mencium dahinya.



"Gitu gimana maksudnya? Ceritain Nadya, aku tuh masih kepo kalau belum kamu yang cerita sendiri." Ujar Septi gemas.



"Ya kaya yang orang-orang bilang Sep. Masa aku harus ceritain ulang sih." Nadya masih menolak untuk bercerita.



"Harus dong, aku nggak bisa kalau kamu belum cerita Nad. Masa aku harus menahan rasa kepo ini selamanya." Ujar Septi lebay.



Nadya justru tertawa.



"Nad..." Septi terus saja merengek meminta Nadya untuk menceritakan mengenai kejadian tadi. Hingga akhirnya Nadya menyerah dan memilih untuk menceritakannya.



"Jadi gini, tadi kan aku berangkat naik mobil Mas Fathur. Nah, aku tuh nggak tau kalau ternyata HP aku ketinggalan di mobil dia. Sampai akhirnya waktu aku lagi ngajar, Noval masuk kelas dan bilang kalau ada orang yang cariin aku. Nah waktu aku keluar, ternyata orang itu Mas Fathur. Dan seperti yang kamu tau, Mas Fathur datang buat anterin HP aku, karena dia tau kalau HP ini pasti penting banget buat aku..." Ujar Nadya.



"Terus-terus, itu yang peluk sama cium dahi apa? Kalian mau pamer kemesraan ya?" Ujar Septi menuduh.



Nadya lagi-lagi tertawa karena mendengar tuduhan Septi. Apa kata Septi tadi? Pamer kemesraan? Boro-boro mau pamer kemesraan. Selama menikah saja Nadya dan Fathur tidak pernah sekalipun melakukan adegan bermesraan meskipun bukan untuk pamer. Karena jangankan bermesraan, untuk ngobrol berdua dalam jangka waktu lama saja Nadya dan Fathur tidak pernah melakukan itu. Dan lagi, Nadya juga terkejut dengan apa yang Fathur lakukan tadi pagi itu. Nadya sama sekali tidak menduga apalagi merencanakan untuk melakukan adegan bermesraan seperti yang Septi tuduhkan itu.


__ADS_1


"Enggaklah Sep, aku masih punya malu. Ya kali aku pamer kaya begituan ditempat umum. Aku aja nggak tau Sep." Jawab Nadya.



"Ya kan siapa yang tau." Ujar Septi. " Terus-terus gimana? Ciumannya kapan?" Tanya Septi lagi.



"Ya nggak gimana-gimana. Abis kasih HPnya ke aku, Mas Fathur langsung pergi, tapi tiba-tiba aja dia balik lagi dan malah peluk sama cium dahi aku." Jawab Nadya.



"Iiihhh... Kok suami kamu sweet banget sih, Nad. Aku kan jadi pengen cepet-cepet nikah."



Cerita Nadya ini justru membuat Septi ingin segera menikah dan berharap dia akan memiliki suami yang juga sweet seperti bagaimana Fathur kepada Nadya.



Septi tidak tau saja bagaimana sikap Fathur kepada Nadya selama ini. Kalau Septi tau, mungkin dia akan menarik ucapannya yang mengatakan ingin memiliki suami seperti Fathur.



Fathur si kanebo kering dengan gengsi selangitnya. Bersyukur saja Nadya mencintainya, karena kalau tidak, mungkin Nadya sudah menyerah sejak lama.



"Mau makan siang apa Bos?" Tanya Rony kepada Fathur.


Sebentar lagi akan masuk jam makan siang, dan seperti biasa Rony akan datang ke ruangan Fathur untuk menanyakan makan siang apa yang bos nya itu inginkan.


"Nasi goreng." Jawab Fathur.


Sebentar-sebentar.... Rony langsung saja mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban Fathur.


"Yakin lo? Sejak kapan buat makan siang lo makan nasi goreng? Nasi goreng nggak cocok kali kalau buat makan siang." Ujar Rony kepada Fathur.


Karena ini adalah kali pertama Fathur meminta nasi goreng untuk makan siang. Bukankah Rony benar, nasi goreng tidak cocok untuk makan siang kan?


"Masalahnya dimana? Mau cocok atau enggak ya suka-suka gue lah. Sekarang gue pengen makan siang pake nasi goreng. Lo tinggal pesen aja. Sama jangan lupa kopi gue juga." Ujar Fathur datar.


"Ya udah kalau gitu, fiks nasi goreng ya? Kalau iya gue pesen sekarang nih."

__ADS_1


Fathur menganggukkan kepalanya.


"Nasi gorengnya pake telur, sosis, sama kecap aja. Pedesnya sedeng." Ujar Fathur.


__ADS_2