
Tau kalau Nadya ngambek karena dirinya tidak tau mengenai benda mirip dengan termometer ini, akhirnya Fathur memilih untuk bertanya kepada google untuk mencari tau mengenai benda ditangannya ini.
Dan kalian tau kalimat apa yang digunakan Fathur untuk mencaritahu benda ini? Yaitu...
"Benda kecil persegi panjang yang memiliki 2 garis merah di tengah adalah?"
(ceritanya emang ketemu lah ya 🤣)
Karena google sangat pintar, akhirnya Fathur bisa mendapatkan jawaban yang dimaksud. Dan seketika Fathur langsung melemparkan ponselnya. Berlari keluar kamar untuk menemui Nadya dikamar sebelah.
Begitu Fathur membuka pintu kamar, terlihat Nadya tengah duduk diatas ranjang sembari memainkan ponselnya. Jangan lupakan juga wajah cemberut Nadya yang membuat Fathur menjadi gemas. Jujur Fathur sangat bersyukur karena Nadya tidak sampai menangis. Jantung Fathur sudah berdetak sangat cepat saat memikirkan kalau Nadya akan menangis karena dirinya.
"Sayang..." Fathur memanggil Nadya dengan lembut.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Nadya memilih untuk meletakkan ponselnya dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Yap, Nadya mengabaikan Fathur.
Melihat itu, senyum dibibir Fathur langsung mengembang. Tanpa mengatakan apa-apa, Fathur langsing ikut berbaring bersama Nadya. Tangannya refleks mengusap dengan lembut perut Nadya yang baru Fathur sadari kalau ternyata sudah terasa sedikit menggembung. Karena Fathur tau betul bagaimana perut Nadya selama ini selalu datar tanpa lemak.
"Maaf... Aku nggak tau kalau itu testpack. Maaf ya sayang..." Ucap Fathur dengan lembut.
Nadya tetap diam tidak menanggapi ucapan Fathur.
"Nggak boleh gitu sama suami. Kan suami udah minta maaf, udah mengakui kesalahan juga." Bisik Fathur lagi.
Sementara itu tangan Fathur sama sekali tidak berhenti mengusap perut Nadya.
"Taulah... Aku bete sama Mas Fathur." Jawab Nadya pada akhirnya.
"Kan aku udah minta maaf, sayang. Ingat loh, ini di perut udah ada baby-nya. Nggak boleh ngambek-ngambek begitu." Ujar Fathur.
Kali ini Fathur melancarkan aksinya dengan menciumi leher Nadya. Dan tentu saja itu membuat Nadya kegelian hingga pada akhirnya memutuskan untuk menyerah.
"Geli Mas..." Ujar Nadya seraya tertawa kecil.
Sebenarnya Nadya tidak benar-benar marah. Nadya hanya speechless saat melihat bagaimana reaksi Fathur saat melihat testpack yang dia berikan. Nadya benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Fathur tidak tau bentuk testpack. Padahal kalau dipikir-pikir dengan usia Fathur yang sudah cukup matang sangat aneh kalau laki-laki itu tidak mengetahui seperti apa itu testpack. Tapi ternyata Fathur benar-benar tidak mengetahui. Kan Nadya jadi bingung dia harus kesal, sedih, atau tertawa. Karena perasaan Nadya tadi benar-benar campur aduk sekali.
"Akhirnya, nggak marah lagi." Ujar Fathur dengan senyum cerahnya.
Nadya juga ikut tersenyum.
"Selamat ya, sebentar lagi Mas bakalan jadi Papa." Ujar Nadya.
"Nggak mau panggil Papa, maunya panggil Daddy aja." Jawab Fathur masih dengan senyum yang terpasang pada bibirnya.
Nadya tertawa kecil.
__ADS_1
"Mas kaya bule aja maunya dipanggil Daddy." Ujar Nadya dengan nada mengejek.
"Ya nggak papa, bagus kan? Nanti kamu dipanggilnya Mommy..." Jawab Fathur.
Nadya menggeleng kepalanya.
"Nggak mau ah, maunya Mama aja, biar kaya yang lain." Ujar Nadya. "Walaupun sebenarnya aku pengen dipanggil Ibu, tapi kalau dipikir-pikir masa anak aku panggilnya sama kaya murid-murid aku. Jadi ya udah, biar gampang Mama aja." Tambahnya Nadya dengan senyum yang masih tersungging dibibir manisnya. Bibir yang selama ini selalu menjadi sebuah candu untuk Fathur.
Tiba-tiba...
Cup...
Fathur mencium bibir Nadya.
"Apapun itu, yang penting kamu bahagia." Jawab Fathur seraya tersenyum manis.
Kini Fathur mengubah posisinya hingga wajahnya berhadapan dengan perut Nadya. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Fathur langsung menaikkan atasan yang Nadya pakai. Hingga kini perut polos Nadya dapat Fathur lihat. Seperti yang Fathur rasakan tadi, dengan mata pun Fathur sudah bisa melihat bagaimana perut Nadya memang sudah membuncit.
"Kayanya baby di dalem perut udah besar ya Nad? Nih lihat, perut kamu udah mulai kelihatan buncit, gemes banget." Ujar Fathur.
Nadya sendiri hanya tersenyum seraya mengusap dengan lembut rambut Fathur.
"Udah diperiksa ke dokter kandungan belum?" Tanya Fathur.
"Belum, aku juga baru tau kalau baby udah tumbuh baru kemarin pagi. Jadi belum sempet aku periksain ke dokter." Jawab Nadya.
Fathur tersenyum.
"Nakal banget baru kasih tau aku sekarang... Kenapa nggak kemarin pagi sekalian?"
"Kalau aku kasih tau kemarin, yang ada aku nggak bisa kasih Mas surprise dong." Jawab Nadya.
"Besok kita periksa ya..." Ujar Fathur.
Fathur memberikan banyak ciuman pada perut Nadya.
"Haii anak Daddy... Selamat datang di perut Mama. Sehat-sehat didalam ya." Fathur mengajak baby didalam perut Nadya berbicara. "Daddy rasanya nggak sabar pengen cepet-cepet ketemu sama kamu. Kalau udah lahir, nanti kita main sama-sama. Kamu minta maaf, pasti bakal Daddy berikan buat kamu." Tambah Fathur.
"Nggak boleh semua dikasih dong, Mas. Kita nggak boleh terlalu memanjakan anak. Biar besarnya baby bisa mandiri." Ujar Nadya.
"Nggak papa sayang. Kalau anak kita mau, dan aku mampu kasih, kenapa enggak kan?" Jawab Fathur santai.
Nadya hanya menggelengkan kepalanya. Sudahlah, Nadya tidak ingin berdebat. Karena lagipula anaknya juga belum lahir. Masalah itu biar mereka diskusikan lagi nanti.
__ADS_1
Pagi ini Nadya sudah rapi dengan seragam gurunya, dan sekarang dia sedang sarapan bersama Fathur.
"Nanti pulang jam 2 kan kaya biasa?" Tanya Fathur kepada Nadya.
Nadya menganggukkan kepalanya.
"Iya, kenapa emangnya Mas?"
"Aku cuma pastiin aja. Nanti pulang kamu ngajar kita mampir ke rumah sakit dulu buat check keadaan baby. Kamu bilang kan belum periksa." Jawab Fathur.
"Hari ini banget ya Mas?" Tanya Nadya .
"Iya dong, lebih cepat lebih baik. Biar kita tau gimana keadaan baby." Jawab Fathur.
Nadya sendiri hanya menganggukkan kepalanya. Karena menurut Nadya apa yang Fathur katakan itu memang benar. Ada baiknya baby segera diperiksakan. Jadi mereka tau bagaimana keadaannya.
Setiap ada lampu merah dan mobil berhenti, Fathur pasti akan langsung mengusap perut Nadya. Entah kenapa, Fathur merasa dia sangat menyukai hal ini. Sepertinya mengusap perut Nadya akan menjadi favorit Fathur.
"Kok baby belum gerak-gerak ya, Nad. Aku pengen deh ngerasain gerakan baby." Ujar Fathur kepada Nadya.
Hal ini membuat Nadya tertawa kecil. Sebenarnya Fathur memang tidak tau atau sedang berpura-pura tidak tau sih? Sudah jelas-jelas perut Nadya saja masih sangat kecil. Otomatis baby juga masih kecil kan? Bahkan mungkin masih berbentuk gumpalan darah.
"Ya kan masih kecil Mas. Baby belum berbentuk seperti bayi, jadi belum bisa gerak-gerak." Ujar Nadya menjelaskan.
"Terus mulai bisa geraknya kapan?" Tanya Fathur.
Sepertinya Fathur benar-benar tidak tau apapun tentang kehamilan dan janin.
"Mungkin sekitar 6 atau 7 bulan. Aku juga belum tau secara pasti sih." Jawab Nadya.
Fathur hanya menganggukkan kepalanya paham. Sampai akhirnya mereka sampai di sekolah. Dan sebelum Nadya benar-benar turun dari mobil, Fathur memberikan banyak nasehat. Seperti jangan terlalu kecapean dan lain sebagainnya.
__ADS_1