UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)

UNWANTED WEDDING (Perjodohan Dengan Nadya)
Membawa Nadya ke kantor


__ADS_3

"Lo sama Nadya semalem kemana? Kok gue ke rumah lo nggak ada orang?"


Rony yang baru saja masuk ke ruangan Fathur langsung memberondong laki-laki itu dengan banyak pertanyaan.


"Di rumah." Jawab Fathur dengan santai.


Suasana hati Fathur yang sedang baik membuat dirinya tidak jadi memarahi Rony.


Memang apa salah Rony sampai harus dimarahi oleh seorang Fathur? Jelas kesalahan Rony adalah karena laki-laki itu sudah mengantarkan sepeda motor Nadya diwaktu yang tidak tepat. Membuat Nadya nyaris berangkat menggunakan sepeda motor itu. Untung saja Fathur pintar, jadi dia bisa mencari cara agar bisa membuat Nadya tetap berangkat bersama dengan dirinya.


"Di rumah? Tapi pas gue kesana sepi bener. Bahkan gue udah ngetuk pintu dan pencet bel berkali-kali tapi baik lo atau Nadya nggak ada yang keluar tuh." Rony tidak puas dengan jawaban yang Fathur berikan.


Menurut Rony aneh saja. Kalau Fathur dan Nadya ada di rumah, tapi kenapa tidak ada yang membukakan pintu untuk dirinya? Padahal saat Rony datang untuk mengantarkan sepeda motor milik Nadya, jam masih belum terlalu malam, karena saat Rony sampai disana masih jam setengah 9.


"Sengaja nggak gue bukain pintu. Soalnya gue males ketemu sama lo." Jawab Fathur berbohong.


Padahal Fathur sengaja tidak membukakan pintu rumahnya untuk Rony karena saat itu Nadya sedang tertidur nyenyak di lengannya. Jelas Fathur tidak akan membuat tidur Nadya terganggu hanya untuk membukakan Rony pintu bukan?


"Ckckck... Emang orang yang nggak tau terima kasih ya kaya lo ini. Udah gue capek-capek ambilin tu motor. Eehh... begitu sampai tuan rumah boro-boro bukain pintu buat bilang terima kasih." Rony yang mendapat jawaban tidak mengenakan dari Fathur tentu saja menjadi agak sedikit emosi.


Bukannya Rony perhitungan atau bagaimana. Tapi kan...


"Mau gue transfer berapa?" Ujar Fathur yang membuat emosi Rony langsung mereda begitu saja.


"Beneran nih?" Meskipun Rony juga kaya, tapi kekayaan Fathur jelas jauh diatas dirinya. Oleh karena itu Rony tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Fathur berikan kepadanya.


"Kalau nggak mau ya udah." Ujar Fathur santai


"Eehh... Gue nggak bilang kalau nggak mau loh. Ini gue baru mau jawab. Kalau... 5 juta aja nggak papa, lumayan buat jatah ngopi gue selama 3 bulan, Fath." Jawab Rony dengan senyum lebar di bibirnya.


"Oke..."


Fathur rasa Rony cukup tau diri dengan permintaannya. Padahal kalau Fathur sudah menawarkan seperti itu, harusnya Rony bisa meminta lebih banyak. Tapi, ya sudah, kalau Rony maunya cuma 5 juta saja.


"Lo emang bos paling baik di dunia deh, Fath." Ujar Rony begitu uang transferan dari Fathur masuk ke rekeningnya.


"Gue tau... Udah, pergi sana lo. Gue sibuk." Secara terang-terangan Fathur meminta Rony untuk keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Oke Pak Bos, kalau ada perlu lagi bisa langsung hubungi saya." Ujar Rony sok formal.


Fathur sendiri hanya menggelengkan kepalanya, Fathur sudah tidak heran lagi dengan tingkah sahabat yang juga merangkap sebagai sekretarisnya itu.


Walaupun terkadang Rony memang matre, tapi Fathur sama sekali tidak mempermasalahkannya. Bagi Fathur, hal itu wajar-wajar saja. Karena selama ini Rony selalu loyal kepada dirinya. Rony selalu bisa Fathur andalkan kapanpun dia membutuhkan bantuan laki-laki itu.



"Nanti mulai jam setengah 2 jadwal gue tolong dikosongin 1 jam, Ron." Ujar Fathur kepada Rony.



Saat ini Fathur dan Rony sedang menikmati makan siang mereka di ruang kerja Fathur.



"Mau kemana emangnya?" Tanya Rony kepo.



"Mau pergi bentar." Jawab Fathur datar.




"Oke, nanti gue kosongin."



Begitu jam menunjukkan pukul setengah 2, Fathur langsung saja merapikan semua barang-barangnya.


"Gue pergi dulu, Ron." Ujar Fathur saat dia melewati ruangan Rony.


"Oke, jangan lupa balik tepat waktu." Ujar Rony mengingatkan.


Bukan apa-apa, ternyata setelah ini Fathur masih memiliki jadwal rapat. Jadi Fathur memang harus sampai kantor lagi tepat waktu.

__ADS_1


Kurang lebih 30 menit perjalanan, Fathur sampai ke SMA Mandiri Bangsa. Terlihat suasana sekolah cukup ramai karena sepertinya jam pelajaran memang sudah selesai. Mata Fathur sendiri langsung menyusur untuk memastikan kalau Nadya belum keluar dari sekolah. Setelah memastikan tidak ada, barulah Fathur memasukkan mobilnya ke area halaman sekolah. Dan itu bertepatan dengan Nadya yang baru saja keluar dari ruang guru bersama dengan seorang guru perempuan yang Fathur ketahui bernama Septi.


Melihat Nadya, Fathur segera keluar dari mobil.


"Mas Fathur." Nadya yang tadinya akan pulang bersama dengan Septi sekali lagi dibuat terkejut dengan keberadaan Fathur di area sekolah.


"Suami kamu jemput tuh, Nad." Ujar Septi seraya menyenggol lengan Nadya. "Kalau gitu aku duluan ya, Nad. Takut aku tuh kalau ngobrol sama suami kamu, keliatan galak soalnya." Tanpa menunggu jawaban Nadya, Septi langsung pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Sementara Septi langsung menuju parkiran, Nadya berjalan menghampiri Fathur.


"Mas jemput aku?" Tanya Nadya begitu dia sampai di depan Fathur.


"Ya kalau bukan jemput kamu, aku mau jemput siapa lagi, Nad? Istri aku kan kamu." Jawab Fathur santai.


Walaupun sebenarnya Fathur gemas dengan pertanyaan Nadya. Kenapa juga Nadya masih bertanya? Padahal jawabannya sudah jelas.


"Padahal nggak perlu loh Mas. Mas Fathur pasti sibuk banget kan di kantor? Aku bisa pulang sama Septi atau nggak naik angkot." Nadya merasa tidak enak karena Fathur mau repot-repot menjemput dirinya.


"Jadi kamu nggak suka kalau aku jemput?" Tanya Fathur dengan suara datar. Membuat Nadya seketika menjadi panik sendiri.


"Enggak, bukan gitu. Aku suka kok di jemput Mas Fathur. Aku cuma khawatir ngrepotin aja." Jawab Nadya.


Fathur tersenyum.


"Buat kamu, nggak ada yang namanya ngrepotin, Nad. Kamu ini istri aku, jadi kamu nggak perlu merasa begitu." Ucap Fathur dengan nada lembut. "Ya udah ayo masuk, panas banget soalnya." Fathur menggandeng tangan Nadya, kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.


Nadya sendiri memilih untuk menurut. Karena memang tidak ada lagi yang bisa Nadya lakukan selain menurut kan?


"Kamu ikut aku ke kantor ya, Nad." Ujar Fathur kepada Nadya.


Nadya tentu saja terkejut. Karena ini akan menjadi kali pertama dirinya datang ke kantor Fathur. Dan entah kenapa Nadya mendadak merasa takut akan sesuatu.


"Kamu kenapa? Nggak suka ya kalau aku ajak ke kantor?" Perubahan raut wajah pada Nadya tentu saja terlihat jelas dimata Fathur.


"Suka, suka kok Mas." Jawab Nadya.


"Terus kenapa diem aja?"

__ADS_1


"Eehmm, aku cuma khawatir sama penilaian karyawan Mas Fathur."


__ADS_2