
“Apa yang akan terjadi jika kita pindah ke rumah baru nantinya?” tanya Aksa yang tengah sibuk membantu Jea untuk mengemasi barang mereka.
“Apa yang kau takutkan? Tidak akan ada yang berubah. Kita hanya akan lebih bebas mengatur kehidupan kita sendiri.” Jawab gadis itu santai.
“Oh ya, Arka. Seperti yang kau bilang. Apartement pribadimu itu ada dua lantai bukan?” tanya gadis itu tiba-tiba dengan wajah berseri.
“Iya, mengapa?”
“Nanti kita akan punya kamar sendiri-sendiri kan? Aku akan mengatur kamar utama untukmu. Lalu aku akan mengisi kamar disebelahnya. Jadi jika ada yang datang kita tidak akan kesulitan."
"Akan ada jalan rahasia untuk menghubungkan kedua kamar. Kamar Kak Raga dan Rayden akan berada di lantai atas yang langsung terhubung ke teras atas. Kita bisa mengadakan Barbeque Party disana. Itu akan menjadi keluarga yang sangat sempurna.” Ujar gadis itu panjang lebar dengan mata yang berbinar.
“Tapi mereka meminta kita mandiri jika pindah ke rumah sendiri.” Sela Aksa mengundang reaksi gadis itu.
“Tidak masalah. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku akan mencari pekerjaan. Aku yakin kalau Rayden dan Kak Raga juga akan melakukan hal yang sama. Kita akan kuat selagi kita bersama, karena kita keluarga.”
“Jea..” panggil Aksa lagi.
“Ya, kenapa?”
“Boleh aku menanyakan sesuatu?” gadis itu mengangguk.
“Kau menganggapku sebagai keluarga atau sebagai seorang suami?”
“Keluarga.” Jawab gadis itu mantap.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Karena keluarga itu tidak memiliki batas. Kau tahu keluarga itu adalah tempat kita pulang dan berhenti ketika kita lelah.”
Jea memutar tubuhnya menghadap Aksa. Ia menatap pemuda itu lekat-lekat, lalu meraih tangan Aksa dan menggenggamnya hangat.
“Kau mungkin saja berubah pikiran dan menyudahi pernikahan ini ketika waktunya, begitupun denganku. Akan ada yang namanya mantan kekasih, mantan suami dan mantan istri. Apalagi saat ini kita tak mengerti apapun perihal cinta dan juga hubungan."
"Tetapi sebagai keluarga, sekalipun nanti bukan kita yang menjadi pemeran utamanya. tetapi kau dan aku selamanya tak akan pernah bisa terpisahkan. Karena kita adalah keluarga.”
Perkataan gadis itu bukan hanya membuat hati Aksa hangat, tetapi juga sakit. Sesaat sebelum pernikahan, dia pernah larut dalam pikirannya sendiri selama hampir tujuh puluh dua jam lamanya. Ia berpikir keras. Pada masa lalu, orang tuanya juga melakukan kesalahan yang sama, yaitu menikah di usia muda. Usia yang sama dengannya.
Mereka juga sempat gagal. Ayahnya pergi meninggalkan sang ibu ketika dia masih di dalam kandungan. tetapi itu semua terjadi karena kesalahan yang beruntun. dia pun juga buah dari kesalahan yang sama. Kebutaan yang tercipta dari hasrat seorang remaja yang berusia empat belas tahun. Hingga akhirnya ia pun hadir di antara hubungan tanpa ikatan pernikahan yang sah.
Ibunya menderita kala itu. Tuntutan dari tetua, dan beban mental yang dia tanggung di usia muda. Usia mereka yang hanya terpaut kurang lebih satu tahun. Beberapa tahun lebih matang di banding usia Jea kini, tetapi dengan pemikiran yang masih jauh di bawah daya pikir seorang Jeana Nashara.
‘Gadis ini begitu muda, tetapi pemikirannya sangat matang. dia begitu lihai dalam mempertimbangan akibat baik dan buruk dalam setiap keputusan yang dia ambil.’ Begitulah yang dipikirkan Aksa terhadap Jea.
Tetapi bagaimana dengan janjinya? Bagaimana dengan orang tuanya?
Pada dasarnya Tuan Akeno bukanlah ayah kandung Aksa. Tetapi hanya Aksa, ibunya, dan keluarga sang ibulah yang mengetahuinya. dia mengambil keputusan berat dengan menikahi gadis belia yang hampir bisa dianggap sebagai putrinya.
Perbedaan usia yang hampir empat belas tahun. Usianya yang dua kali lipat usia istrinya. Namun sayang, karena adik kandungnyalah yang membuat kesalahan itu. Ia merugikan hidup gadis lain dan kemudian menebus kesalahan itu dengan mengakhiri hidupnya sendiri.
‘Tidak boleh lebih banyak yang dirugikan’ pikirnya.
Karena itu ia memilih mengambil risiko untuk mendapat malu di dalam keluarga. Ia menerima konsekuensi untuk menikahi gadis belia itu dan merawat anaknya seperti anak kandungnya sendiri.
Namun entah memang niat baik itu selalu berbuah manis, semenjak kehadiran Aksa di tengah-tengah keluarga mereka. Usaha Keluarga Akeno berkembang pesat. Di tambah lagi, ia adalah satu-satunya anak laki-laki di dalam keluarga.
__ADS_1
Bahkan bagi Tuan Akeno sendiri, Aksa adalah putranya satu-satunya. Ia memilih untuk tidak menikahi gadis lain dan memiliki anak lain. Hanya ada Aksa dalam hidupnya, dan anak itu juga adalah nyawanya. Bagi Tuan Akeno, Aksa adalah pengganti yang Tuhan kirim untuk menggantikan sosok Almarhum adiknya.
“Maafkan Papa, karena Papa tidak bisa mengungkap semuanya.” Ujarnya penuh rasa bersalah ketika mengungkap rahasia itu di depan Aksa.
“Aksa tidak keberatan Pa, justru Aksa berterimakasih karena Papa sudah mau menerima Aksa dengan baik.” Ujarnya memaklumi.
“Tapi, orang tua ibumu mengetahui semua asal-usulmu dengan baik. Dan mereka meminta ibumu untuk menikahkanmu saat ini. Mereka sudah menemukan gadis baik yang akan membantumu untuk memulai hidupmu yang baru. Mereka tidak ingin kesalahan yang pernah terjadi di antara kami akan terulang kembali kepadamu.”
Setidaknya begitulah alasannya kenapa akhirnya sebuah pinangan datang kepada Kediaman Goksel. Ayah dari Nyonya Akeno sendiri tak lain adalah kerabat baik Clara. Ia membujuk keponakannya itu dengan embel-embel nama Akeno yang mengikuti Aksa.
“Ini adalah kesempatan baik. Penyatuan dua keluarga besar, ini akan menjadi moment terbesar sepanjang sejarah.”
Terlalu banyak hal yang terjadi. Terlalu banyak bahan pertimbangan juga yang melintas di kepala Aksa. Terlebih permintaan gadis itu tadi. Semua berkelebat bak benang kusut di dalam kepalanya. Dan satu hal yang lebih membuatnya dilema, yaitu perasaan cinta yang dengan kurang ajar muncul dan hadir di dalam hatinya untuk Jea.
“Kak Aksa kenapa?” Jea membuyarkan lamunan Aksa.
Pemuda itu saat ini tengah berdiri di balkon kamar mereka sambil membiarkan pintu teras tetap terbuka. Hal itu selalu mengusik Jea. Gadis itu sangat gampang terkena flu, dan Ia sangat membencinya.
Tapi apapun yang terkait dengan Aksa, Ia selalu melakukannya dengan hati-hati. Ia tak menegurnya, hanya memilih untuk menemaninya dan ikut larut bersamanya di bawah pemandangan angin malam.
“Kenapa kamu di sini? Nanti kalau flu gimana?” ujar Aksa khawatir sambil melepaskan jaketnya dan melampirkan itu dii pundak Jea.
“Pakai yang benar, biar gak terlalu dingin.” tegasnya.
Ia tengah membenarkan posisi jaket itu di tubuh Jea dan membantu gadis itu untuk memakainya. Namun tangan gadis itu begitu nakal, ia malah meraih tangan Aksa begitu dekat, begitu erat hingga akhirnya dia memosisikan dirinya dalam dekapan Aksa.
“Kayak gini lebih hangat.” Ujarnya tersenyum. Gadis itu sukses membuat jantung pemuda itu hampir melompat keluar.
__ADS_1
Astaga Jeana, Apa yang kau lakukan? gerutu Aksa yang tak lagi mampu mengendalikan perasaannya.