Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 24 : Sikap Manis Yudha


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian...


Pernikahan itu akhirnya benar-benar terjadi. Pernikahan super megah antara Icy Aylana Goksel dan Yudha Sandia Wirabraja.


Mereka tampak sangat bahagia di depan kamera. Melakukan sebuah pernikahan kontrak dengan imbalan bantuan atas rencana masing-masing. Apakah itu masuk akal?


Tidak ada raut wajah keterpaksaan di antara keduanya. Mereka benar-benar menghabiskan satu hari itu dengan penuh senyuman bahagia di wajah mereka.


Bahkan Nyonya Arumi sendiri datang secara terang-terangan bersama Arsen putra sulungnya untuk menjadi wali sah dari pernikahan itu. Mereka sudah mengetahui kebenarannya. Dan kini mereka sudah kembali tinggal bersama dengan Adelio dan juga Rayden berkat Jeana.


Sedangkan Raga, dia memilih hidup sendiri dengan uang hasil kerja kerasnya ketimbang harus kembali masuk ke dalam Kastil Neraka Goksel Kingdom.


Kilas Balik Satu Bulan Lalu..


Setelah Jeana keluar dari Rumah Sakit


"Jea.." Arsen mendatangi gadis itu di hari dia keluar dari rumah sakit.


"Aku tahu semuanya. Aku dan ibu sudah mengetahuinya, sejak awal." ujar pemuda itu membuka kecanggungan di antara keduanya.


Mereka berdua kini tengah duduk di lantai atap rumah sakit dengan penuh kecanggungan.


"Bang Lio yang memberitahuku. Dia menyesal dengan apa yang menimpamu." sambung Arsen lagi.


"Aku tidak bisa mempercayai siapa pun. Aku hanya tahu bahwa kau adalah kakak tertua, Bang Raga yang memberitahuku. Semoga apa yang aku tengah perjuangkan adalah benar." ujar gadis itu terlihat dewasa.


"Kau berbeda dengan apa yang aku perhatikan selama ini. Apakah aku salah mengenalimu? Atau kau memang orang berbeda, dan berpura-pura telah melakukan operasi." ujarnya mencoba menggoda sang adik manis yang sebenarnya sangat dia rindukan.


"Kau ingin aku memelukmu?" tebak gadis itu dengan benar.

__ADS_1


Arsen hanya mematung. Lidahnya tiba-tiba kelu setelah sebelumnya dia terdengar begitu cerewet di hadapan gadis itu.


"Itu.. bolehkah?" Arsen menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Asalkan kau mau menjadi waliku saat pernikahan nanti. Aku tahu, seorang wanita memerlukan wali sahnya di pernikahan mereka. Dan kali ini aku sungguh berharap bahwa ini adalah pernikahan sungguhan. Karena itu, aku butuh wali dan aku sangat membenci ayah kandungku. Hanya tinggal kau, atau aku akan meminta Rayden melakukannya." ujar gadis itu seakan tengah bernegosiasi.


"Aku akan memelukmu setelah itu. Setelah kau melakukan tugasmu sebagai kakak sekaligus wali untukku." gadis itu meninggalkannya mematung. Perkataannya cukup lugas dan jelas, tetapi seakan begitu sulit untuk dicerna oleh pemuda itu.


Jeana berlari ke lantai dasar untuk menemui Yudha yang menunggunya di basement rumah sakit. Namun langkahnya tiba-tiba gontai dan terhenti tepat di tangga terakhir, di mana tempat itu nampak begitu sepi.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya seolah kehilangan daya. Tubuhnya terhempas dan tangannya sedikit tergores karena tangga yang masih dalam proses perbaikan hingga masih berteksture kasar khas semen yang baru dipoles.


"Awh..." rintihnya kesal.


Ia menangis. Air matanya turun sejadi-jadinya. Lukanya bahkan takkan pernah sesakit itu sampai-sampai dia harus menangis sehisteris seperti itu. Ia seakan memompa keluar semua air mata yang dia punya.


"Aish...aku kira kau benar-benar seorang psikopat yang nyaris tak memiliki emosi. Ternyata kau bisa menangis juga?" seorang pemuda tiba-tiba muncul dan meraih gadis itu kedalam rangkulannya.


Ia membenamkan wajah gadis itu di dadanya. Ia juga memakai penyuara telinga dan berusaha menutup matanya ketika tengah memeluk Jeana.


"Abang tidak melihat atau mendengar apapun. Jadi menangislah sepuasmu." ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu.


Pemuda itu adalah Yudha. Ia telah mengikuti gadis itu sejak dari atap. Ia paham betul apa yang gadis ini rasakan saat ini. Ini adalah kali pertamanya ia melihat gadis itu menangis setelah jati dirinya terbongkar. Selama ini ia hanya melihat topeng gadis itu, ia tidak pernah tahu apakah air mata yang selama ini dilihatnya adalah asli atau justru hanya sandiwara.


Terlebih lagi, ketika ia mendengar dialog antara gadis itu dan juga Arsen di rooftop.


Asalkan kau mau menjadi waliku saat pernikahan nanti. Aku tahu, seorang wanita memerlukan wali sahnya di pernikahan mereka. Dan kali ini aku sungguh berharap bahwa ini adalah pernikahan sungguhan. Karena itu, aku butuh wali dan aku sangat membenci ayah kandungku. Hanya tinggal kau, atau aku akan meminta Rayden melakukannya.


Entah mengapa hatinya menghangat. Gadis itu ingin menikahinya secara sungguhan. Ia bahkan tak memikirkan risiko apapun yang akan ia hadapi.

__ADS_1


Bagi seorang gadis biasa yang tahu akan kebenaran dirinya pasti akan sulit untuk memutuskan sebuah pernikahan. Bahkan meskipun itu hanya sebuah kontrak, tetap saja beresiko bukan? Itu sama dengan mereka melemparkan diri ke dalam kandang singa.


Tetapi gadis ini menerima risiko itu bahkan dia menenggelamkan dirinya lebih dalam.


Memang benar bahwa mereka sudah terbiasa bersama, dan gadis itu juga sudah cukup gila. Tapi tetap saja, dengan ia memilih untuk masuk ke dalam kehidupannya terlebih setelah Yudha membongkar semua kegilaannya. Apakah itu masuk akal?


Yudha membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Bahkan sampai ia terlihat begitu letih dan seolah kehilangan tenaga.


Ia mengangkat tubuh Jea dan membopongnya masuk ke dalam mobil. Kondisinya belum sepenuhnya pulih, ia masih sangat lemah. Bukan hal yang bagus jika ia tetap menangis selama ini.


Gadis itu tampak sangat tenang, meskipun ia tengah berada dalam dekapan Yudha. Ia bahkan menerima semua perlakuan manis itu dengan ikut melingkarkan tangannya di pinggang Yudha. Ia tidak menolaknya sama sekali.


Yudha membawanya masuk ke dalam mobil dan mendudukkan gadis itu di jok kursi penumpang. Tetapi anehnya, Jea masih enggan melepas pelukan itu. Ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya, apalagi saat ini di dalam mobil ada seorang sopir dan juga seorang pengawal yang ditugaskan untuk menjaga mereka.


Apalagi yang bisa dilakukan. Yudha akhirnya terpaksa menurut dan ikut masuk bersama gadis itu. Ia ikut duduk di samping Jea, dan membiarkan gadis itu makin membenamkan dirinya dalam pelukan Yudha.


Ia bahkan bisa mendengar deru napas gadis itu yang terdengar tidak teratur, karena posisi mereka yang nyaris tidak berjarak.


Ia persis seperti anak kecil yang tengah merajuk saat ini. Jeana terlihat seperti orang yang sedang ketakutan. Ia takut jika Yudha akan meninggalkannya sendiri andaikan dirinya melepas pelukan itu.


Drama itu bahkan terus berlanjut sampai mereka kembali ke kediaman Wirabraja. Gadis itu sampai tertidur di dalam pelukan Yudha karena saking lelahnya ia menangis. Namun tetap saja, pelukannya tak kunjung juga merenggang.


Pelukan itu masih sama kuatnya hingga akhirnya Yudha terpaksa harus menggendongnya masuk ke dalam rumah bahkan sampai ke kamar gadis itu. Ia juga terpaksa ikut berbaring di atas ranjang yang sama untuk bisa menemaninya tidur. Ia masih tidak merasa tega untuk membangunkan gadis yang sedang rapuh itu.


Nyonya dan Tuan Wirabraja bahkan sampai memotret hingga merekam video untuk mengabadikan moment manis tersebut.


Ini pertama kalinya bagi mereka menyaksikan secara langsung betapa manisnya anak itu. Putra mereka yang keras dan kejam ternyata bisa luluh karena seorang wanita.


Ia bukan hanya menggendongnya keluar dari mobil, tetapi juga sampai masuk ke dalam kamar. Padahal kamar gadis itu berada di lantai atas dan terletak di paling ujung lorong. Pekerjaan yang melelahkan, tetapi seperti tak ada ekspresi kesal di wajahnya sama sekali. Berbeda dari biasanya. Ini memang adalah sebuah moment yang sangat langka.

__ADS_1


__ADS_2