
Tiga hari telah berlalu. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartement pribadi yang dibeli Yudha untuk hadiah pernikahan mereka.
Apartement itu terasa begitu dingin. Ada begitu banyak perabotan baru. Setiap sudut juga di tata dengan begitu sempurna. Bahkan lemari pakaian juga sudah terisi dengan sangat lengkap oleh berbagai macam pakaian dari berbagai mode dan style yang berbeda.
"Apa ini? Hanya ada pakaian perempuan. Bahkan dekorasinya pun dibuat begitu manis. Semuanya adalah perpaduan antara warna pink dan juga biru pastel. Apakah ia sering menyelundupkan wanita kemari?" tebak Jea begitu dia selesai memeriksa seluruh isi kamar utama.
Ia pun beralih ke kamar lainnya yang berada di sebelah kamar mandi dekat dapur. Kamar itu sepertinya tak kalah luas dari kamar utama. Dekorasinya penuh dengan nuansa hitam dan juga biru tua. Ada begitu banyak foto Yudha yang tertata rapi disana.
"Apa ini? Apakah ia merencanakan kamar terpisah?" gerutu gadis itu.
"Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa pernikahan ini akan dilakukan seperti semestinya. Lalu apa ini?"
Di ruang tengah ada pajangan foto pernikahan mereka yang dicetak begitu besar hingga hampir memenuhi dinding. Di setiap meja dan juga dinding di penuhi dengan foto kenangan mereka dimulai dari pertemuan pertama, kenangan semasa sekolah sampai potret kedekatan mereka bersama anak-anak panti dan juga Lio.
Ini benar rumahnya. Lebih tepatnya rumahnya dengan Yudha. Tidak ada orang lain yang tinggal disana. Kemungkinan besar hanya akan ada mereka berdua, mengingat semua dekorasi yang telah dirancang sesuai seleranya dan juga Yudha.
Tiiiit...
Jea mendengar ada suara orang yang masuk. Pintu itu dirancang dengan menggunakan kartu akses atau passcode. Sudah pasti jika yang datang adalah seseorang yang pernah memasukinya.
"Aku datang." Jea hanya terdiam dan bersikap seolah tak acuh. Ia sudah mengira jika itu adalah Yudha.
Namun pemuda itu bukannya acuh seperti dugaannya, ia malah terus melangkah mendekat dan memeluk Jea dari arah belakang.
"Maafkan aku. Ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan. Mereka memaksaku keluar kota dan menculikku setelah acara. Maaf." ujarnya merengek di telinga Jea hingga membuat gadis itu bisa merasakan deru nafasnya yang tak teratur.
"Apa ini? Kau mabuk?" tegur Jea sambil mendorong mundur tubuh Yudha hingga pelukannya terlepas.
Benar saja, pemuda itu tengah mabuk berat. Dan ada orang lain disana. Orang yang mengantar pria itu pulang dan tengah memaku di ambang pintu.
"Kau siapa?" tanya gadis itu ragu karena lampu di dekat pintu yang tak berfungsi dengan baik.
"Kau tidak bisa melihatku? Oh, sepertinya ini rusak. Aku akan memperbaikinya besok." ujar pemuda itu melangkah maju sambil memutar bohlam yang berada di atas kepalanya.
__ADS_1
"Bang Arsen?" tanya Jea yang mulai melihat wajah pemuda itu lantaran dirinya yang melangkah masuk dan mengikis jarak di antara keduanya.
"Abang akan bantu dia membersihkan diri. Kau tunggulah di sini dan bantu aku untuk menyiapkan sesuatu yang bisa meredakan mabuk." ujar Arsen memberikan perintah yang langsung diangguki oleh Jea.
Tanpa ragu dan seakan telah mengenal tempat itu dengan sangat baik, Arsen membawa Yudha masuk ke kamar pribadinya tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepada Jea.
Gadis itu tampak bingung dan langsung mengekori langkah pemuda itu dengan sudut matanya.
"Aku yang mendekorasinya sesuai arahan Yudha." ujar Arsen menjelaskan seolah mengerti apa yang akan gadis itu tanyakan kepadanya. Gadis itu mengangguk.
Arsen keluar dengan Yudha yang sudah tampak lebih segar dan juga pakaian yang baru. Ia sudah tidak meninggalkan bau alkohol dan wajahnya terlihat sedikit segar.
"Aku mengganti pakaiannya dan membantunya mencuci muka. Kau tidak akan mencium bau alkohol lagi. Aku tahu kau membencinya." jelas Arsen begitu matanya bersitatap dengan Jea yang baru saja masuk setelah membeli sesuatu.
"Aku membeli obat penghilang pengar." ia menyerahkan bungkusan plastik di tangannya kepada Arsen dan pemuda itu langsung menerimanya. Ia membukanya untuk diberikan kepada Yudha.
"Aku sempat memasak sop dan juga memanggang daging setelah sampai. Ayo kita makan bersama?" tawarnya kepada Arsen yang masih sangat disibukkan dengan tingkah absurd Yudha.
"Baiklah. Tetapi kita tunggu sebentar sampai dia benar-benar sadar." jawab Arsen yang melihat Yudha sudah cukup membaik.
Lebih tepatnya hanya untuk Arsen dan Jea. Karena Yudha bahkan tak merasa canggung sama sekali dan malah menunjukkan kemesraan dan juga sifat manjanya di depan Arsen.
"Aku mengurus anak buahku yang membuat masalah di luar kota. Awalnya aku menolak, tetapi dia benar-benar membuat kekacauan besar hingga aku harus turun tangan. Kau tidak marah bukan?" Yudha mulai melancarkan aksinya dengan menyuapi Jea setelah gadis itu menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Ia tak hanya menyiapkannya di meja makan. Ia bahkan juga membantu kedua pria itu untuk menyendok makanan itu ke piring mereka masing-masing.
Wajah Yudha terlihat begitu bersinar dengan perlakuan itu. Terlihat sangat bertolak belakang dengan ekspresinya ketika masuk yang terlihat begitu kusut dan tidak bisa di tebak.
"Karena sekarang sudah sangat larut dan jarak rumahmu dari sini juga cukup jauh, kenapa tidak menginap saja?" tawar Yudha kepada Arsen.
"Aku baik-baik saja. Aku rasa aku tidak ingin mengganggu kalian." tolaknya sopan.
"Bahaya bang, meskipun abang laki-laki. Tapi ini udah larut. Jea gak mau abang kenapa-napa." Jea memperlihatkan ekspresi tulusnya kepada Arsen.
__ADS_1
Hubungan mereka sejak awal memang sangat canggung. Wajar jika tak ada banyak basa basi di antara keduanya. Tetapi, di samping itu perasaan mereka berdua untuk satu sama lain memanglah sangat tulus, hingga siapa pun yang berada di dekatnya pasti akan ikut merasa hangat.
"Jea benar. Kau bisa tidur di kamarku, karena aku akan bersama Jea. Aku sudah keterlaluan dengan meninggalkannya di malam pernikahan kami begitu lama." jawab Yudha seakan tak merasa bersalah, hingga membuat gadis di sebelahnya tersedak.
Uhuk...uhuk...
Yudha dan Arsen menyodorkan minuman kepada Jea di saat yang bersamaan. Namun ia terpaksa menerima minuman dari Yudha karena gelas itu langsung di sodorkan ke mulutnya secara langsung oleh Yudha.
Dasar! Apa dia hendak membunuhku? batin gadis itu kesal melihat tindakan Yudha yang sedikit grasak grusuk hingga hampir melukainya.
"Bibirku bisa bengkak, atau gigiku akan patah jika dia menyodorkan gelasnya sekuat ini." gerutunya.
"Aku bisa tidur di sofa. Jangan memaksakan diri kalian jika merasa tidak nyaman." tolak Arsen yang seakan sadar dengan ekspresi tidak nyaman adiknya.
"Aku memintamu mendekornya terpisah agar aku bisa bekerja larut malam tanpa mengganggunya. Akan terasa tidak nyaman jika hanya membuat ruang kerja disana. Akan terasa sangat kosong dengan ruangan sebesar itu bukan? Karena itu aku mendekornya seperti sebuah kamar agar aku bisa merasa nyaman." jelas Yudha yang masih sibuk makan sambil terus menyuapi dirinya dan juga Jea dari piring yang sama.
"Aku tidak berencana menghancurkan pernikahan ini dengan langsung pisah ranjang dengannya." Yudha merangkul bahu Jea dan makin mengikis jarak di antara mereka. Jea menurut. Ia masih berpikir bahwa ini juga merupakan bagian dari rencana Yudha untuk membuat pernikahan mereka terasa nyata.
"Aku akan memenuhi janjiku untuk melindunginya dan membuatnya bahagia." ujar Yudha yang terdengar tulus.
Makan malam pun selesai. Sesuai rencana Arsen benar-benar tidur di kamar Yudha sementara pemuda itu berada di ruangan yang sama dengan Jeana.
Hanya Jea yang gugup. Karena Yudha dengan santainya masih bersikap biasa-biasa saja.
Pemuda itu mengunci semua jendela, menutupnya dengan gorden dan mematikan semua lampu di ruangan itu sebelum akhirnya ikut berbaring di samping gadis itu dan memeluknya.
Ia tidur dengan posisi menghadap Jea dan menjadikan lengannya sebagai bantal gadis itu. Jarak di antara mereka benar-benar terkikis dengan posisi super romantis itu. Deru napas mereka bertemu.
Semua adegan itu sontak membuat jantung Jea berdegup kencang seolah akan meledak. Tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa karena status Yudha yang saat ini sudah menjadi suami sahnya.
Ia terpaksa hanya diam dan menerima semua perlakuan manis itu dalam keadaan sangat gugup. Sedangkan Yudha, ia terlihat sangat tenang dan begitu menikmati sikap polos gadis itu. Mereka pun tertidur dengan sangat nyamannya hingga pagi menjelang.
Bahkan belum ada satu orang pun yang bangun ketika Arsen mencoba menerobos masuk untuk membangunkan mereka. Ia melihat adegan itu dengan mata kepalanya dan malah tersipu sendiri.
__ADS_1
"Oh, aku kira adegan ini tak akan pernah terjadi " ujar Arsen gugup dan kembali menutup pintu itu dengan kikuk.
Ia sudah menyiapkan sarapan, tetapi ia kembali mengurungkan niatnya untuk membangunkan kedua insan itu dan memilih untuk sarapan seorang diri.