Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 35 : Sikap Malu Jeana yang Manis


__ADS_3

Suasana keesokan paginya terasa begitu canggung antara Yudha dan juga Jeana. Terlebih setelah dialog aneh mereka semalam.


Jeana bangun lebih pagi dan mulai berkutat di dapur untuk menyiapkan menu sarapan mereka. Pikirannya melayang, tetapi tangannya tetap sigap dan ia masih bisa fokus. Gadis itu terlalu terbiasa jika pikirannya terbagi.


Semalam, alasannya menanyakan perihal hak dan statusnya adalah karena Arsen. Pernikahannya sebelumnya ia lakukan demi masuk ke kediaman Goksel dan mencari tahu semua informasi tentang Arsen dan ibunya.


Diluar dugaannya, ternyata Arsen lah yang maju lebih jauh. Ia adalah Kepala Tim Marketing Goksel Entertainment, yang artinya ia begitu dekat dengan sang ayah.


Jeana belum mengenal sang ayah sepenuhnya. Berada di dalam kastil Goksel hanya memberi tahunya informasi tentang betapa iblisnya seorang Clara. Tetapi dengan situasi dan posisinya, ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Sekarang, kakaknya dalam bahaya. Ia baru saja menjauhkan Rayden dari ayahnya. Tetapi ibunya dan Arsen begitu dekat dengan sang ayah. Ia butuh kekuatan untuk melindungi mereka. Dan itu adalah Keluarga Wirabraja dan juga kekuatan tersembunyi Yudha.


Ia harus menjerat pemuda itu. Perasaannya kepada Yudha belum tergambar dengan jelas. Ia belum tahu pasti, perasaan apa itu. Jadi dia mencoba untuk memanfaatkannya terlebih dahulu.


Ia butuh sesuatu yang akan mengikat Yudha. Dan jika itu dalam sebuah pernikahan, maka jawabannya adalah anak.


Ia tahu, bahwa pernikahan ini pada dasarnya adalah bagian dari sebuah perjanjian. Toh, dia juga tak berencana untuk menceraikannya. Ia masih ingin mempertahankan pernikahan ini sebisanya.


Ia hanya menikah sekali, dan apa salahnya jika sepasang suami istri saling memanfaatkan kelebihan masing-masing.


Sx itu seharusnya bukan karena nafsu Je. Aku justru benci sama lelaki yang memanfaatkan wanita demi kepuasan naluriahnya. Aku mau melakukannya atas dasar cinta.*


Sial! Umpatnya.


Ia tidak mengira jika jawaban yang akan keluar dari bibir Yudha akan begitu serius. Ia kira karena selama ini ia bergelut dalam dunia hitam dan menjual para gadis, mungkin saja hal itu sudah biasa baginya.


Gadis itu benar-benar merasa malu dengan tindakannya sendiri. Meskipun itu bukanlah hal yang salah, karena Yudha adalah suami sahnya. Tetapi tetap saja, mendengar jawaban bijak dari Yudha hanya membuatnya menjatuhkan harga dirinya sendiri sebagai seorang wanita.


Ia berkali-kali memukul dahinya sendiri saat ia sedang memasak. Arsen mengamatinya dari jauh dan mulai menyadari bahwa tingkah gadis itu aneh.

__ADS_1


“Hei, berhentilah melakukannya atau kau akan melubangi kepalamu sendiri.” Arsen menahan tangan gadis itu dan mematikan kompor di depannya yang telah mengeluarkan begitu banyak asap.


“Bukankah itu sudah mendidih dari tadi, kau ingin membuat kuahnya mengering?” tegurnya.


“Maaf.” Jea pun sadar bahwa tingkahnya memangnya sangat aneh. Ia berlalu meninggalkan Arsen di dapur dan menuju ke kamarnya bersama Yudha.


Ia melihat pemuda itu masih tertidur sangat pulas. Ia pasti begadang semalaman karena harus menemaninya. Kondisinya begitu buruk, ia demam dan juga meracau tidak jelas.


Ia bahkan menyadari kapan Jea terbangun dan turun dari tempat tidur. Tetapi ia tetap tak meresponse, tidak seperti biasanya. Suasananya jadi berubah makin canggung bagi gadis itu.


Gadis itu hanya beralih ke arah jendela dan membuka setiap tirainya agar cahaya matahari bisa masuk. Ia juga membuka lemari dan mengeluarkan beberapa helai pakaian Yudha.


“Bangunlah Kak. Aku sudah menyiapkan air untukmu mandi. Kita harus ke kampus hari ini, aku juga sudah menyiapkan sarapan. Kami akan menunggumu di meja makan.” Ujar gadis itu tanpa menoleh. ia masih merasa begitu canggung.


“Kemarilah!” Yudha menarik tangannya hingga gadis itu duduk di atas tempat tidur di sampingnya.


Yudha memeluknya dari belakang dan mengecup pipi gadis itu. “Morning Kiss. Aku akan membiasakannya mulai sekarang.” Ujar pemuda itu hingga membuat wajah istrinya memerah.


“Aku tahu kau masih memikirkan perihal semalam. Biarkan semuanya berjalan dengan perlahan. Cinta yang tumbuh perlahan, juga akan pergi dengan perlahan. Aku tidak ingin menghabiskannya sekarang. Aku ingin ini berlangsung sangat lama, hingga aku tak punya daya untuk melepasmu.” Bisiknya di telinga gadis itu.


“Udah ah Kak. Bangun, mandi terus sarapan. Aku laper, gak mau nunggu lama.” Gadis itu salah tingkah dan langsung melompat dari pelukan Yudha dan berlari keluar dari kamarnya dengan sedikit membanting pintu.


“Dia sangat menggemaskan.” Gelak Yudha.


Seperti titah Jeana, Yudha benar-benar menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat. Ia menuju meja makan di mana gadis itu dan Arsen tengah menunggunya.


“Kalian mulai kuliah hari ini?” tanya Arsen yang merasa tidak terbiasa dengan kehadiran mereka berdua di meja makan pagi-pagi.


“Aku mulai kelas hari ini. Kak Yudha juga ada janji sama dosen pembimbingnya hari ini. Kak Yudha kan ambil kelas privat buat management aja Bang. Dia gak akan sesibuk aku, tetapi tetap harus absen dari pagi.” Gadis itu meracau dengan mulutnya yang terisi penuh oleh makanan.

__ADS_1


“Kamu gak ambilin aku makanan kayak biasanya Je?” tanya Yudha yang membuat gadis itu tersedak, dan menyemburkan semua isi yang ada di mulutnya.


“Minum dahulu!” Arsen menyodorkan gelas berisi air putih itu ke hadapan Jea, sementara Yudha mengambilkannya tissue untuk menyeka mulutnya yang dipenuhi dengan makanan.


“Makannya keluar semua tuh. Jorok ih!” ledek Yudha.


“Lagian, orang lagi makan juga.” Umpatnya kesal.


Ia pun berdiri dan mengambilkan Yudha makanan secara terpisah dari meja dapur. Ia meletakkannya di atas meja tamu bersama segelas air, dan juga kopi untuk Arsen.


“Makannya di sini aja. Biar aku beresin ini dahulu.” Ujarnya dengan raut wajah agak kesal.


“Kamu malu, cuma karena kamu habis nyemburin makanan Je?” tanya Yudha dengan raut wajah mengejek.


“Sama aku, kamu malu Je.” Tanya Yudha lagi memastikan.


“Buruan sini!” rengek gadis itu yang akhirnya dituruti oleh Yudha dan juga Arsen.


Untung saja, Arsen sudah terlebih dahulu menyelesaikan makannya. Jadi dia hanya harus menyiapkan segelas kopi yang baru untuk sang kakak. Bibirnya maju sejauh yang dia bisa ketika dia mulai membersihkan kekacauan di atas meja dan meletakkan semuanya di bak cuci piring.


“Dia itu masih cewek Yud, wajar lah kalau jaga image. Model lagi.” Jelas Arsen ketika melihat Yudha yang masih menatap kelucuan gadis itu dari jarak jauh.


“Makan! Ntar keburu dingin lho!” perintah Arsen yang langsung diangguki oleh Yudha.


“Ngomong-omong, gue gak pernah tahu kalau dia semanis itu.” Ujar Yudha yang mulai menyuap makanannya sambil tersenyum gemas.


“Karena itu bang Lio bisa luluh sama dia. Kalau sampai sifat aslinya Bang Lio keluar, bukan Cuma dimanfaatin. tapi udah dibunuh tuh anak.” Racau Arsen tak biasanya.


“Gue juga jarang lihat lo senyum kayak gitu bang.” Tanya Yudha lagi. Pada dasarnya Arsen dan Yudha memang telah bersahaba cukup lama karena orang tuanya. Jadi untuk dialog seperti ini, mereka tidak akan berfikir terlalu panjang untuk mengutarakannya.

__ADS_1


“Entahlah, mungkin karena Jea.”


Mereka berdua tertawa bersamaan. Sedangkan yang dibicarakan malah makin bersemu hingga tampak seperti tomat masak.


__ADS_2