
"Dan Anda kira semua masa lalu saya bisa Anda tebus dengan menggunakan uang?" Jeana tiba-tiba saja buka suara dan menyerang Surya di saat yang tepat.
"Je...a...., ma...afkan Papa....." ujarnya terbata-bata.
"Papa tadinya bermaksud untuk memberimu kejutan dengan mengungkapkan ini. Ini hari ulang tahunmu dan juga Jason, Papa hanya ingin memberimu hadiah yang terbaik. Papa salah karena tidak mendiskusikannya terlebih dulu denganmu." ia mencoba meraih gadis itu namun ia menjauh.
"Apa selama dua puluh tahun ini Anda pernah memanggil diri Anda sebagai Ayah di depan saya?" Surya terdiam.
"Apa selama dua puluh tahun ini Anda pernah merayakan ulang tahun saya? Apa Anda pernah memperlakukan saya seperti putri Anda selama ini? Bahkan di pernikahan itu hanya Anda bersikap seperti tamu disana. Apa itu tugas dari seorang Ayah yang Anda maksud."
PLAK!!!!
Jason tiba-tiba naik ke atas pentas dan menampar Jeana di depan umum.
"Apa seperti itu cara bicaramu kepada Papa?" bentaknya.
"Kamu memang tumbuh menjadi anak iblis ini. Kamu di besarkan di kastil mewah itu selayaknya seorang pangeran. Tapi saya? Apakah ia pernah memikirkan saya? Bahkan menampakkan batang hidungnya di depan saya saja tidak." Jeana bicara se formal mungkin di hadapan Jason hingga membuatnya semakin naik pitam.
"Jea, ada apa denganmu?" bentaknya lagi, namun ditahan oleh Surya.
"Tolong biarkan kakakmu tenang dulu." cegatnya.
"Saya tahu permainan kalian. Semua sikap kamu di hadapan saya selama ini hanya sandiwara. Baiklah, kalau begitu mari kita bermain! Kita akan bersenang-senang di sini sekarang." Jeana mengangkat gaunnya hingga betis dan mengambil sebuah remote yang ia ikat di sana.
"Mencari ini? Heran kenapa ada di saya?" tanya Jeana memprovokasi.
"Apa-apaan ini? Kita harus pergi lebih dulu sebelum menghancurkannya." Jason tak sengaja membocorkan rencananya.
Remote pengendali itu adalah remote yang ia curi dari kantong Surya ketika ia memeluknya di awal acara. Jeana sudah mendengar semua rencana mereka dengan baik. Bom asap yang dilempar ke kamar mereka satu bulan yang lalu adalah perbuatan Jason.
Ia lengah tidak seperti biasanya. Sepertinya ada yang sedang menekannya. Jason memiliki emosi yang sangat tak stabil, ia akan kewalahan dan cenderung mengacaukan rencana ketika berada di bawah tekanan.
Hari itu, di samping menjatuhkan bom asap, ia juga menjatuhkan sebuah file penting yang ia simpan dalam sebuah flashdisk mini berbentuk kepik. Jeana tahu bahwa itu adalah mainan kesukaannya dan menyimpannya.
Tapi Yudha mendeteksi ada alat pelacak yang ditanam di sana. Ia memeriksanya dan ternyata itu adalah file penting yang berisi semua data Surya.
__ADS_1
File itu bahkan juga berisikan bukti dan file rekaman suara yang merupakan bukti kejahatan Surya. Jeana menganalisisnya dengan sangat baik. Ia benar-benar cerdas. Ia mampu memahami analisa rumit yag dituangkan Surya disana.
Kilas balik Malam Teror....
"Ini peta rangkaian bom.." ujarnya setelah berkutat begitu lama di ruang rahasia Yudha.
"Aula Konferensi Pers. Ini adalah lokasi perayaan anniversary ke seratus enam puluh tahun Goksel Kingdom. Akan ada jebakan disana." ujarnya.
Yudha mengirim berkas itu kepada James melalui surel. Dan benar, alanisa gadis itu sangat akurat, bahkan hampir delapan puluh persen.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Yudha setelah semua analisa mereka selesai.
"Sederhana. Orang yang rumit hanya bisa diselesaikan dengan trik sederhana." Yudha menatapnya penuh tanya.
"Aku akan mengikuti semua permainannya. Aku tahu kelemahan trik ini, tapi aku hanya bisa melakukannya dari jarak yang sangat dekat. Aku harus masuk ke dalam perangkapnya." ujar Jea dengan raut wajah penuh keyakinan.
Yudha mengangguk mengerti. Ia meminta James dan beberapa anak buahnya untuk memback up Jea dari dekat. Beberapa dari mereka bahkan sudah menemukan titik keberadaan perangkap itu dan sudah berhasil menyingkirkannya dengan baik.
"Kau harus sedikit lengah." instruksinya kepada Yudha.
"Jea, ada apa denganmu?" bentaknya lagi, namun ditahan oleh Surya.
"Tolong biarkan kakakmu tenang dulu." cegatnya.
"Aku lelah dengan semua permainan ini. Kalian pikir menjadi diriku itu mudah?" Jeana menepis kasar tangan Surya dan membalik pengeras suara yang sebelumnya ia gunakan.
Ada sebuah pistol disana. Jeana menembakkannya ke plafon aula dan membuat semua penonton heboh.
"Pistol apa yang digunakan untuk konferensi? Kalian ingin bermain perang-perangan disini?" gertaknya yang langsung diabadikan oleh kamera para papparazi.
"Kalian juga." ia menodongkan pistolnya ke arah media.
"Apa masih tidak penasaran dengan adanya senjata api disini? Apa liputan itu benar-benar penting sekarang?" gertaknya.
"Asal kalian tahu, orang yang di hadapan kalian ini bukanlah Sanjaya yang sebenarnya. Ia adalah penipu ulung. Dia seorang psikopat handal." Jeana mengarahkan pistol itu ke arah Surya namun Jason menepisnya hingga pistol itu meleset mengenai kakinya.
__ADS_1
"Jea!!" pekik Yudha di ruangan kontrol pribadinya. Ia tidak menyangka bahwa rencana yang disebutkan oleh Jea akan sekompleks ini. Ia tidak mengatakan apapun tentang rencananya. Ia masih belum tahu kemana sandiwara gadis itu akan berakhir.
"Kau bilang ia hanya mengalihkan perhatian hingga bom itu di singkirkan." ujarnya sambil menekan tombol kendali yang menghubungkannya langsung dengan James yang berada di lokasi kejadian.
"Gawat Yudha! Bom yang berada di atas panggung berdaya ledak tinggi dan tidak mudah untuk dijinakkan. Kami juga belum bisa menemukan lokasinya. Sepertinya mereka menyamarkan bentuknya."
"Apa? Cepat lakukan dengan baik. Aku tak ingin Jea sampai terluka." bentaknya geram.
Tanpa lagi berfikir panjang Yudha langsung berlari ke lokasi tanpa lagi memedulikan sandiwaranya tentang kelumpuhan.
"Ia adalah seorang professor peneliti yang meneliti struktur wajah manusia. Ia melakukan bedah plastik berulang untuk menciptakan bentuk wajah yang berbeda seratus persen murni merupakan ciptaannya. Ia mengadopsi kontur wajah dari seorang yang masih hidup dan menempelnya pada target operasi.
Ia membunuh satu orang untuk menciptakan perpaduan pada wajah lainnya. Operasinya begitu sempurna dan nyaris tanpa celah. Wajah yang tak akan pernah menua. Gabungan dari dua paras terbaik dan menjadikannya satu. Ia mencangkok wajahku dari Aylana yang asli dan membuatku hidup sebagai Aylana. Ia menjadikanku monster yang hidup dalam diri seorang tak bersalah.
Dan kalian tahu, Aylana yang asli sudah tewas karena pendarahan hebat akibat luka sobekan di bagian wajahnya. Ia benar tak kenal ampun terhadap objeknya. Ia berhasil mengadopsi, mengubah dan bahkan menghancurkan wajah seseorang. Ia iblis yang tak bertanggung jawab."
Omongan Jeana bukannya tidak masuk akal. Ia menyertakan bukti foto dan video operasi Surya yang ditampilkan begitu nyata di layar.
Baru saja semua orang di hebohkan dengan bukti-bukti yang dimilikinya, Jason langsung bangkit berdiri dan melemparkan sebuah bom yang ternyata ia sembunyikan dari balik jasnya.
"Jason!" pekik Surya berusaha mencegatnya. Namun bom itu tak meledak sama sekali. Itu adalah bom dengan remot pengendali untuk mengaktifkannya.
"Sial!" umpatnya.
Para kru media dan tamu undangan pun memilih untuk bergiliran pergi dan meninggalkan aula dengan bantuan James. Sementara Jeana masih terus memprovokasi keduanya selagi masih berada di sana.
"Kenapa, kau mencari ini?" ujarnya.
"Apa-apaan ini? Itu pendali utamanya, Kita harus pergi lebih dulu sebelum hancur disini." Jason tak sengaja membocorkannya, Jeana merekam itu semua dengan ponselnya dan mengirimkan itu kepada Yudha dan juga James dalam sekali tekan.
Duarrrr!!!!!
Pengendali itu terhubung dengan ponselnya. Ia menekannya ketika semua orang sudah keluar dari Aula bersama James dan anak buahnya yang membantu mereka.
Gedung itu akhirnya perlahan mulai rubuh dan mengubur mereka bertiga di dalamnya. Jeana, Jason dan Surya. Itulah rencana yang disembunyikan Jeana kepada Yudha, Untuk menghancurkan musuhnya, ia mengorbankan dirinya sendiri.
__ADS_1