Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 12 : Adelio Adelyn


__ADS_3

Nama aslinya adalah Aaron Ryan Harrison. Ia adalah adik satu-satunya dari Nyonya Angela Bianca Harrison pemilik Harrison Grup yang di akuisisi oleh Goksel dua puluh tahun yang lalu. Identitasnya selama ini disamarkan oleh sang kakak demi melindunginya dari musuh besar keluarga yaitu Sanjaya Goksel.


Yang Tuan Goksel ketahui adalah bahwa Arumi merupakan putri tunggal sekaligus pewaris Harrison yang terlahir cantik dan juga cerdas. Ia bak jelmaan seorang dewi. 'Sempurna' begitulah hal yang tepat untuk menggambarkan keelokan visualnya.


Ia adalah jaminan yang dipasang Tuan Goksel sebelum memainkan permainan kotor untuk menjatuhkan bisnis keluarga Harrison dan membantai habis semua anggota keluarga.


Bukan hanya itu, dia bahkan juga menjadikan Nyonya Angela sebagai istrinya dan mendudukkannya di atas takhta sebagai seorang permaisuri.


Pada awalnya kelembutan hati dan juga kasih sayang Nyonya Angela kepadanya telah sukses membuatnya jatuh cinta dan mulai mengikis kepribadian iblis di dalam dirinya. Namun karena kehadiran Clara yang menambahkan racun sekaligus duri dalam rumah tangga mereka, kepercayaan itu pun pudar. Ia bahkan membuang semua anak-anaknya dan menjadikan mereka serpihan debu yang terombang-ambing di jalanan.


Keberadaan Lio di sekitarnya juga bukanlah sebuah kebetulan. Alasan mengapa Nyonya Angela begitu mudahnya meninggalkan kediaman iblis itu adalah keberhasilan Lio untuk menyusup sebagai musuh dalam selimut. Ia membahayakan dirinya beberapa kali, demi menjadikannya orang kepercayaan Tuan Sanjaya. Ia bahkan juga melakukan hal yang sama pada Jea.


Semua kasih sayang yang dia tunjukkan selama ini adalah palsu. Ia belum mengetahui keberadaan kakaknya saat ini. Dan dia juga tidak mengetahui perihal keberadaan si kembar Jeana dan Rayden. Ia hanya mengira bahwa mereka adalah bagian dari darah daging iblis yang harus di sucikan.


Ia bertekad untuk tak melibatkan anak-anak. Sekalipun alasannya memanfaatkan Jea adalah karena Sanjaya begitu menyayanginya. Namun jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia hanya ingin membersihkan darah iblis yang mengalir dalam tubuh gadis itu.


"Kau begitu menyayanginya Bang. Lantas mengapa kau menjauhkannya dari jangkauanmu?" tanya Lio begitu pria itu menyerahkan darah dagingnya kepada Lio.

__ADS_1


"Dia nyawaku yang tersisa. Aku tak bisa mengambil risiko untuk menjadikannya korban dari keserakahanku selama ini. Kau tahu, dari semua anak-anakku ialah yang paling mengingatkanku kepada ibunya. Wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Mereka begitu mirip. Hatiku menjadi lemah saat bersamanya. Dan itu tidak boleh terjadi." ujarnya berlinang air mata begitu menyerahkan putri satu-satunya yang juga serpihan dari nyawanya itu.


Ia tahu betapa liciknya Clara. Ia juga tahu ia telah menyakiti Angela. Karena itu ia ingin menjaga Jea sebaik-baiknya sebagai pengganti Angela .tetapi dengan mempertahankan gadis itu di sisinya, maka itu berarti dia akan mengantarkan gadis itu dalam bahaya, Karena itulah ia memberikannya kepada Lio yang saat itu begitu ia percayai.


Jea adalah penggambaran jelas dari rupa Angela di balik lukisan. Wajahnya bahkan terlihat lebih bersinar dan rupawan dari sang ibunda. Ia jauh lebih cantik dari dewi tercantik yang pernah lahir di muka bumi ini. tetapi Adelio sama sekali belum menyadarinya. Tugasnya hanya menjauhkan keturunan iblis itu dan menjauhkannya dari api. Ia membantunya tumbuh menjadi gadis baik, cerdas dan juga penyayang.


"Gadis ini nanti yang akan memberikan hukuman terberat bagi ayahnya." ujar Lio tersenyum penuh makna.


Meskipun ada dendam, tetapi juga muncul perasaan sayang begitu dia menggenggam tangan gadis mungil yang tersenyum bak seseorang itu kepadanya. Raut wajahnya menggambarkan senyum seseorang. Kehangatannya, tawanya, tetapi sayang karena dia telah dibutakan oleh dendam. Ia hanya membesarkan malakat itu sebagai sebuah senjata bagi musuhnya.


"Nikahkan dia! Keluarga Akeno adalah keluarga terbaik yang bisa melindunginya. Aku tak bisa mengambil risiko dia dalam bahaya."


Dengan semua rencana matang itu pulalah, Adelio menancapkan duri lebih cepat pada kelopak bunga yang rapuh itu. Ia yang mengirim Yudha untuk menghancurkan rencana itu lebih awal. Masa remaja yang labil adalah waktu yang tepat untuk menyudahi pernikahan sempurna itu.


Semakin sedikit yang melindungi gadis itu maka makin baik. Karena dengan itu, maka Sanjaya akan terpancing untuk turun tangan dengan sendirinya. Pernikahan itu adalah sebuah kesempatan yang terbaik pikirnya. Ia bisa menghancurkan iblis itu dengan dua batu sekaligus.


Ia akan dengan mudah menyingkirnya di bawah harga dirinya yang  terkoyak. Seorang ayah yang gagal melindungi istri dan anaknya. Ia telah melepas putra sulungnya pergi beserta istri tercintanya. Dan sekarang dia juga harus merasakan kehilangan putri kesayangannya di bawah perlindungannya sendiri.

__ADS_1


Seorang ayah yang gagal sebagai hukuman menjadi suami yang gagal. Ide yang sempurna namun sayang karena dia tak tahu bahwa dia juga melibatkan darah dagingnya sendiri. Ia tak pernah membuka mata tentang kemiripan gadis itu dan kakaknya. Ia adalah darah daging kakaknya. Orang yang sedang dia perjuangkan. Ia benar-benar bertindak diluar nalar.


"Jea, kafe lagi ramai. Abang minta Yudha buat bantuin kamu pindahan ya?" pancing Lio di depan Aksa yang langsung membuat wajah pemuda itu memerah.


"Kan ada aku bang." cegah Aksa.


"Tapi abang cuma tenang kalau Yudha yang jagain Jeana. Abang tahu kamu itu suaminya. Tapi kamu juga harus ingat kalau abang sendiri yang jadi saksi kontrak pernikahan kalian. Sekarang bagaimana bisa saya percayain adik saya ke kamu." gertaknya.


Mereka bertiga saat ini tengah berkumpul di kafe Lio untuk membahas soal kepindahan sekaligus meminta izin Lio untuk itu. Hal ini sudah menjadi tradisi karena bagi Jea, Lio adalah satu-satunya wali yang dia punya.


"Jea gak keberatan kok. Bang Yudha sama Kak Aksa kan bisa kerja sama nanti Iya kan Kak?" Jea menggenggam erat tangan Aksa dan mengelusnya lembut. Ia seakan memberi kode kepada pemuda itu untuk bersabar dan bisa mempercayainya.


Ia hanya tersenyum ke arah Aksa sambil sesekali mencuri pandang ke arah Lio sebagai pertanda bahwa mereka sudah saling terikat satu sama lain. Ia hanya ingin Lio juga melibatkan Aksa. Namun tetaplah tidak mudah untuk mengubah keyakinan kakaknya itu.


Ia seakan tengah berdiri di antara dua jurang di mana dia harus memilih harus terjatuh di sisi mana. Karena setelah dia jatuh maka tak ada jalan untuk kembali.


"Abang cuma khawatir." ujarnya menenangkan Aksa begitu mereka tengah berada di dalam taksi dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Kamu tahu, abang belum bisa nerima pernikahan ini. Papa juga belum bisa nerima aku. Kita masih harus berjuang lebih keras lagi Aksa." lirihnya yang hanya dipandang kosong oleh tatapan mata Aksa.


__ADS_2