Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 52 : Kesedihan Jeana


__ADS_3

"Aku kenapa Kak?" Jea mencoba untuk bangun, namun Yudha mencegahnya.


“Gak apa-apa. Istirahat dahulu ya?”


“Kalau gak apa-apa, kenapa kamu nangis?” Jeana mendesaknya untuk memberi jawaban. Tangis Yudha pun pecah.


"Kamu hamil Je." jawab Yudha yang membuat gadis itu membeku.


"Tapi kita baru saja kehilangannya. Aku lalai Je, aku minta maaf." isak Yudha terdengar putus asa.


Jeana masih belum menunjukkan ekspresi apapun. Ia hanya terdiam dan membeku di tempatnya. Ia benar-benar kewalahan untuk menafsirkan perasaannya.


Baru kemarin ia begitu yakin untuk tak melahirkan bayi itu. Tetapi kini, ia sudah dihantui perasaan bersalah yang teramat besar, karena kepergian darah dagingnya.


Ia bahkan masih belum bernyawa. Tetapi jika ia memutuskan untuk membawanya ke dunia yang begitu kejam ini. Maka ia akan lebih mengkhawatirkan kondisi anak itu nanti.


Tiga hari berlalu. Gadis itu masih berada di dalam pengawasan ketat para tim dokter rumah sakit. Menurut mereka, kondisinya memburuk karena tekanan mental yang ia alami.


Yudha mengira itu karena kepergian anaknya. Namun bagi Jeana itu semua terjadi karena dilemanya dan juga perasaan bersalah yang tertanam dalam dirinya.


“Kamu tahu kamu hamil dek?” tanya Rana pada suatu malam di mana ia diminta Yudha untuk menjaga Jeana. Gadis itu mengangguk.


“Terus kenapa? Kenapa pakai cara se esktrim itu. Kamu tahu, kalau usia kandungan segitu itu sangat rentan. Kenapa harus menyusun rencana seberat ini?”


“Aku gak punya pilihan Kak. Ia akan lebih menderita jika aku melahirkannya Sekarang. Aku tidak mau ia jadi kelemahanku dan menghancurkan semua rencana yang sudah aku susun begitu matang bertahun-tahun ini.”


“Dan sekarang kamu menyesal?” tanya Rana yang membuat gadis itu bungkam.


“Aku pasti akan menebus semua kesalahanku nanti. Tapi aku tidak bisa mengambil risiko itu sekarang. Aku tidak boleh memiliki kelemahan apapun saat menghadapi Surya Kak.”

__ADS_1


Rana sudah kehabisan semua kata untuk meyakinkan gadis itu. Ia hanya memeluk erat Jeana dan membuat gadis itu terisak begitu kuat di dalam pelukannya.


Yudha menyaksikan itu semua. Ia melihat istrinya menangis untuk pertama kalinya sejak tiga hari terakhir. Ia memang tidak mendengar semua percakapan mereka. Tetapi tetap saja, melihat istrinya menangis ketika tidak bersamanya. Hatinya sakit.


Gadis itu, ia menyembunyikan semua air matanya di depannya. Ia takut membagi luka itu karena tak ingin menyakitinya begitu jauh.


Yudha membawanya pulang saat menjelang malam. Yudha memutuskan untuk membawanya kembali ke kediaman mereka ketimbang ke pulau pribadi ayahnya. Menurut Yudha ia pasti akan sangat membutuhkan keluarga dan juga saudaranya saat ini. Ia tidak ingin gadis itu menyendiri dan menelan semua lukanya sendiri.


“Je, istirahat yuk?” gadis itu tengah menatap langit-langit malam dengan tatapan matanya yang masih kosong.


Telfonnya tiba-tiba berdering. Ada pesan masuk dari Diandra untuknya.


Aku sudah memberikan Jason penawarnya. Ia sudah lebih tenang sekarang. Ujarnya.


Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar. ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


“Je?” tegur Yudha lagi.


“Istirahat yuk? Udah malam. Di luar dingin.” Yudha menghampirinya dan menarik tubuh istrinya untuk masuk.


Ia mengunci pintu balkon terlebih dahulu sebelum kembali membawa istrinya untuk masuk. Ia mendudukkan gadis itu di atas tempat tidur mereka dan mulai bersimpuh di hadapannya.


“Maafin aku, kalau aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu.” Ia menggenggam tangan Jeana hangat.


Tangis gadis itu pecah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Ia tahu bahwa sebenarnya ini adalah salahnya bukan salah suaminya. Tetapi ia tak bisa mengatakan semua kebenarannya kepada Yudha saat ini. Ia begitu takut dengan semua kebenarannya. Itu akan sangat melukai Yudha nantinya.


“Kak Yudha, peluk.” Gadis itu memanyunkan bibirnya sambil mengangkat kedua tangannya ke arah Yudha. Setetes demi setetes air mata pun mulai lolos keluar dari pelupuk matanya.


“Je.” Yudha tergelak melihat sikap gadis itu yang terlihat sangat manis di matanya. Ia tak lagi menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menyambut tangan istrinya yang selalu dianggapnya mungil itu.

__ADS_1


Mereka berpelukan dengan sangat erat. Yudha mengangkat tubuh gadis itu ke atas pangkuannya tanpa sedetik pun melepas pelukan mereka. Gadis itu masih terus menangis dan membuat Pundak Yudha basah oleh air matanya yang menggenang.


“Hei, jangan lama-lama nangisnya. Nanti kepalanya sakit lho.” Ujarnya menggoda sang istri. Namun kalimatnya itu justru malah membuat isakan gadis itu makin keras.


Yudha menepuk-nepuk Pundak gadis itu mencoba menenangkannya. Dan benar saja, saking tenangnya, ia malah tertidur dalam posisi itu. Ia tampak seperti seorang anak kecil yang tertidur setelah menangis di pelukan ibunya.


Yudha memindahkan tubuh Jea ke atas tempat tidur dan menyelimutinya dengan benar. Seperti biasa, ia memakai lengannya sebagai bantal agar gadis itu bisa merasakan hangat dan juga kenyamanan darinya.


Ia tertidur sangat lelap bak seorang bayi yang lelah setelah bermain. Suara nafasnya terdengar lebih halus dari sebelumnya. Ia benar-benar sudah tenang saat ini.


Yudha mendekapnya lebih dekat dan lebih erat. Ia menghirup aroma gadis itu dalam-dalam. Sudah sangat lama sejak ia menghabiskan malamnya dengan istri kecilnya itu.


Ia sudah terlalu lama merajuk dan pergi. Dan bodohnya ia malah membiarkannya begitu saja.


Ia tahu persis seperti apa keras kepalanya Jea. Ia tidak ingin mengusiknya hanya agar mereka makin jauh. Ia harus memberinya ruang. Karena jika tidak, maka gadis itu akan pergi sangat jauh darinya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang pernah di buat Aksa hingga ia kehilangan gadis mungilnya itu.


Dan bagi Jeana, ia pun berpikir sama. Andaikan Yudha bersikap keras dan mendesaknya dari awal. Mungkin jalan terakhirnya adalah pergi. Dan suaminya itu tak akan pernah mengetahui apapun tentang kehamilannya.


Meskipun mungkin sekarang pun mereka telah kehilangannya. Buah cinta mereka, dan itu semua karena keegoisannya.


****


Jeana memulai kembali semua aktivitasnya bersamaan dengan semua ucapan belasungkawa dari para penggemarnya atas berita kehilangannya.


Mereka mengecam asisten pribadinya yang tak lain adalah Aini. Mau tak mau, ia memang harus menjadikan gadis itu sebagai tumbal. Akan terlalu beresiko bagi gadis itu untuk selalu berada di sampingnya.


Cintanya dengan Arsen sesungguhnya tak pernah berbalas. Arsen hanya memanfaatkan perasaannya untuk menjaga sang adik. Sekarang ia telah gagal, dan itu artinya waktu misinya telah berakhir.


Ia harus pergi dari sisi gadis itu. Diandra yang akan menggantikannya. Dan ini adalah pilihan terbaik yang pernah ada.

__ADS_1


“Maafin saya, tetapi saya benar-benar kecewa. Saya gak bisa biarkan kamu menjaga Jeana lagi. Dia harta paling berharga dalam hidup saya Ai.” Tolak Arsen tanpa lagi berbasa-basi.


Ia justru berharap gadis itu sakit hati dan tak lagi mengharapkannya. Itu lebih baik, karena ia selalu menganggap dirinya bukanlah orang baik.


__ADS_2