
Satu hari berlalu. Dua puluh empat jam, Yudha menemani istrinya dan menerima semua kebencian yang Jeana tunjukkan kepadanya. Jea tak sepenuhnya membencinya. Ia hanya begitu takut dengan dendam yang selama ini menghantuinya.
Dua puluh tahun. Sudah cukup baginya untuk menerima semua kebencian akibat perbuatan Surya. Kesabarannya telah habis. Emosinya tidak lagi bersisa. Ia memilih untuk mengalah dan memendam semuanya dalam keheningan selama dua tahun terakhir.
Benat kata Sanjaya, putrinya adalah seorang yang kuat. Ia tidak mengalami trauma karena akibat ledakan itu. Ia hanya shock dan kembali kepada jati dirinya tak lama setelah Surya memutuskan untuk menjadikannya putri yang sesungguhnya.
Gadis itu hanya takut. Ia takut jika Sanjaya yang sudah begitu menyayanginya akan berubah membencinya jika ia sadar. Ia memanfaatkan kelemahannya demi mendapatkan kasih sayang Surya.
Tapi kini semua berbeda. Ada perubahan yang sudah lama tak ia pikirkan. 'Yudha'. Lelaki itu kembali. Ia kembali tepat setelah ia berhasil mengikhlaskannya dan berhenti memandangi fotonya di setiap kesehariannya.
Malam telah menjelang di hari kedua pertemuan mereka. Ia kembali berada diantara lelaki yang mengaku sangat menyayanginya. 'Sanjaya sang ayah tiri dan juga Yudha yang masih berstatus sebagai suami sahnya.'
"Maafkan aku Kak. Aku tak sanggup lagi untuk menerima semua kebencianmu." lirihnya sambil membelai wajah suaminya yang nampak begitu lesu.
Ia sudah mendengar berita tentang depresinya Yudha setelah kehilangannya. Ia bersyukur karena sekarang sudah membaik. Tapi tubuhnya begitu kurus dan wajahnya nampak sangat lesu.
Mata yang cekung dengan lingkar hitam di sekitar mata yang semakin menggelap. Ada bekas luka di hampir setiap inchi tubuhnya.
"Kondisinya lebih buruk di banding kondisi Jason dan Raga dulu." simpulnya.
Jujur di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa bersalah karena ia yang menyebabkan kondisi itu terhadap suaminya. Namun di sisi lain, di sisi kemanusiaannya yang masih tersisa. Ia takut dan masih sangat merasa bersalah.
"Aku yang menyebabkan kepergian kakaknya. Kakaknya mengorbankan diri untuk kakakku dan ayahkulah pelaku utamanya. Seumur hidupnya hanya ia habiskan untuk membalas dendam dan aku adalah objek utama dari dendam itu." gumamnya.
Hatinya masih terlalu sakit untuk mengenang semua penderitaan Yudha. Ia begitu takut jika nanti lelaki itu mengembalikan semua nalurinya, maka benci itu akan mengalahkan semua perasaan cinta Yudha kepadanya.
__ADS_1
"Aku begitu takut menghadapinya. Aku takut menyaksikan kebenciannya. Aku takut, meskipun aku berhak mendapatkan semua rasa benci itu." Jea menarik tangannya kembali.
Ia bermaksud untuk membalikkan badannya dan menghadap ke langit-langit kamar yang hampir roboh. Namun tangan itu meraihnya. Tangan itu mendekapnya dalam tidur lelapnya.
"Jangan pergi lagi, kumohon." gigau Yudha dalam tidurnya.
Jea tak bisa menyingkirkan tangan itu. Tangan yang amat dirindukannya, tapi juga membuatnya sesak karena memeluknya terlalu erat.
"Apa aku pantas mendapatkan cinta ini?". gadis itu bersusah payah untuk menetralkan perasaannya dan kembali tertidur.
Ia hanya berharap bahwa mentari akan cepat naik dan ia bisa melepaskan dekapan itu.
"Belum saatnya. Aku masih belum siap untuk bertarung." Jea menutup matanya secara paksa, dan Yudha tersenyum karena hal itu.
Yudha bahkan mengintip dari balik kelopak matanya yang nakal. Gadis itu menatapnya dengan penuh cinta. Sama seperti malam-malam sebelumnya yang pernah mereka habiskan bersama.
Yudha semakin bertekad untuk meluluhkan gadis itu. Ia hanya perlu menunggu hari esok dan kembali merebut perhatiannya. Ia hanya perlu menunggu malam menjelang untuk dapat mendekapnya. Itulah yang berkeliling di dalam benaknya kini, hingga tangannya semakin nakal dan mendekap gadis itu. Bahkan sekalipun ada Sanjaya di sampingnya.
****
"Pernahkah kau menyesal telah menikahiku?" tanya Diandra kepada seorang lelaki yang tengah tertidur di sampingnya. Lelaki itu menggeleng lemah dan berbalik menghadapnya.
"Kau hanya menatap langit-langit sebelum tidur dan langsung masuk ke alam mimpimu setelah beberapa menit. Apa aku sama sekali tak memberimu pengaruh? Apa aku sama sekali tak menggoda sebagai seorang wanita?" desaknya yang membuat Aksa menghembuskan nafasnya kasar.
"Sebenarnya apa yang sedang berusaha kau sampaikan? Kau tahu, kau terdengar seperti seorang j*l**g ketika mengatakannya." ujar Aksa yang terdengar cukup kasar di telinganya.
__ADS_1
"Kau menikahiku hanya demi status Akeno di balik namamu. Apa aku salah? Apa aku salah jika aku mengatakan bahwa menikah hanya dengan status itu, dan bukan dirimu?" Diandra bangun dari posisinya dan duduk menghadap Aksa yang menatapnya dengan mata yang sudah mulai memerah.
"Apa yang kau maksudkan tadi, aku mengerti apa maksudmu. Tapi bolehkah aku melakukan itu?" tanyanya sendu sambil merubah posisi untuk duduk di samping Diandra.
"Apa maksudmu?" tanya Diandra tak mengerti.
"Bukankah pertanyaan itu seharusnya aku yang mengatakannya?" serangnya balik masih dengan nada suara yang terdengar sayu.
"Kau tahu, kau menikahiku hanya demi status Akeno yang akan muncul di balik namamu. Aku pun merasa tertekan karena itu. Aku suamimu dan harus menghadapimu seperti ini setiap hari. Dengan kau yang begitu cantik dan begitu memanjakanku."
"Kau mengurus setiap kebutuhanku dan menjalankan kewajibanmu sebagai istri. Jujur aku pun merasa terbebani karena itu. Aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya, tapi status Akeno kembali mengingatkanku kalau hubungan ini palsu. Aku bahkan tak berani untuk menatapmu karena status yang tak terjangkau itu." isak Aksa yang sudah mulai meneteskan satu per satu air matanya.
"Kau, selama ini...?" tanya Diandra dengan suara bergetar. Aksa mengangguk mantap.
"Aku tahu kau masih berfikiran bahwa hatiku masih dimiliki oleh Jeana. Tapi sampai kapanpun gadis itu takkan pernah pergi, karena ia adalah adikku. Dan aku tahu itu."
Aku akan mengikhlaskannya untuk siapapu asalkan ia berjanji akan bahagia. Tapi gadis itu telah tiada sekarang." Isakan Aksa terdengar semakin keras.
"Andaikan ia ada disini saat ini, aku justru akan meminta izinnya untuk menaruh namamu di salah satu tempat di hatiku. Andaikan aku bisa, kalian memiliki tempat berbeda yang sama-sama harus aku perjuangkan. Namun aku tak berdaya." Diandra menggenggam tangan Aksa hangat.
"Yudha telah mengatakannya ketika mereka sadar bahwa mereka saling mencintai. Yudha meminta restunya langsung dariku. Ia akan menjaganya dan membahagiakannya. Tapi ia pergi, dan membuat kami tak bisa menepati janji itu."
"Kau tahu, ia sudah mengetahuinya sejak lama. Ia tahu, dan karena itu aku tak pernah menyentuhnya selama pernikahan palsu itu. Ia memposisikan dirinya dengan baik dan berusaha untuk tak melukai egoku. Kau tahu Di, Jeana pasti akan sangat bahagia jika tahu aku telah menemukan cintaku dan aku saat ini tengah bersamanya."
Tangis Aksa terdengar semakin keras. Diandra menarik pemuda itu ke dalam pelukannya. Hatinya terasa sangat sakit karena telah salah paham terhadap suaminya. Ia bahkan telah bersikap egois dengan memisahkan lelaki itu dengan adiknya.
__ADS_1