Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 59 : Penyusup


__ADS_3

"Karena aku lihat orang itu di balik pintu balkon. Aku berniat mengalihkannya, tapi malah berbalik memancingnya. Tadi itu adalah asap yang berisi racun yang sama, dengan yang kamu dapatkan di rumah sakit."


Yudha tak merasakan apapun. Ia sempat menarik bantal untuk menutupi wajahnya. Ia bertahan dan hanya berpura-pura pingsan karena lukanya. Ia tak menghirup gas itu, tapi Jea...


"Coba gerakkan kaki kamu Je!" ujarnya kalut. "Cepat!" gadis itu menggeleng.


"Lemas kak." rengeknya.


"Jadi tadi kamu bukan pingsan, tapi tenagamu menghilang? Racunnya bereaksi secepat itu Je?" gadis itu mengangguk.


Yudha ingat persis, bahwa gadis itu pingsan saat pertama kali. Ryan yang mengangkat tubuhnya ke tempat tidur dan dirinyalah yang membawanya ke ruang control.


Dan posisinya saat ini, adalah posisi terakhir yang diatur oleh Ryan untuknya. Ryan lah yang meletakkan tubuh gadis itu bersandar padanya, ia ingin adiknya merasa hangat. Karena itulah, ia meminta Yudha untuk memeluknya sebelum menyelimuti gadis itu.


"Lalu, ada apa denganku? Kenapa bahkan analisa dokter bisa mengatakan seperti itu? Cedera karena kecelakaan? Patah tulang, lumpuh? Diagnosa apa itu?" tanya Yudha begitu serius.


"Obat itu menyerang fungsi saraf, dengan kondisimu yang pasca kecelakaan sudah tentu diagnosisnya akan seperti itu. Kebetulan kau juga mengalami benturan di kepala dan mengalami patah tulang belakang.


Tapi bukankah aneh, jika kau tidak merasakan sakit apapun? Padahal patah tulang tentunya akan terasa sangat sakit? Karena itulah diagnosanya mengarah pada kelumpuhan akibat benturan saraf motorik, bukankah itu terletak di bagian belakang kepala." jelas Jeana secara mendetail.


"Apa obat itu tak terdeteksi dalam darah?" Jeana menggeleng.


"Ia masuk dalam golongan penghilang rasa sakit. Biasa digunakan untuk mengendalikan rasa sakit selama operasi. Tapi digunakan dalam dosis yang berbeda."


"Sudah sejauh mana kau menyelidiki ini Je?" Yudha menatapnya curiga.


"Aku pernah menyelinap masuk ke dalam laboratorium ayah ketika masih di Goksel. Aksa juga tahu tentang ini. Ia yang mengajariku tentang dasar-dasar ilmu kedokteran. Ia mempelajarinya dari buku jurnal kedokteran milik alm. ayah kandungnya."


Yudha meruntut semua kejadian yang terjadi padanya dan juga Jeana selama ini. Dan benar, Surya tak pernah mengincar Aksa sama sekali. Bahkan keluarganya juga tak pernah ikut campur dalam urusan pernikahan mereka. Mereka terlalu cuek.


Hidup Aksa memang tidak mudah, tapi ia tak pernah terlibat dalam rencana Surya apapun yang terjadi.


Tok..Tok..Tok...


"Permisi Non, ada tamu." ujar salah seorang pembantu rumah tangga di depan kamar mereka.

__ADS_1


"Siapa Bik?"


"Namanya teh Mas Aksa Non. Temannya si eneng waktu di Tipi." ujar Bik Sumi dengan dialeg khasnya.


"Suruh masuk bik. Pintunya gak di kunci." teriak Yudha menyela.


"Baik den."


Aksa pun masuk setelah beberapa menit. Ia membutuhkan waktu untuk berjalan dari ruang tamu untuk menuju ke kamar mereka di lantai atas.


Yudha mengetuk pintu itu sambil menunggu aab-aba untuk masuk. Namun apa yang ia temukan ketika masuk, posisi mereka berdua yang masih tak nyaman jika dilihat oleh seorang yang asing.


"Apa kalian memintaku masuk untuk melihat semua adegan ini?" ujarnya kesal.


"Apa kau tak bisa melihatnya? Jeana bahkan tak bisa menggerakkan kakinya." jawab Yudha asal yang langsung di tegur Jea dengan memukul kakinya.


"Kenapa Je? Apa menurutmu ia akan percaya dengan semua klarifikasi mu, bahwa kau adalah Aylana."


"Kau tidak bisa menggerakkannya? Sebentar, kau masih menyimpan permen yang selalu kuberikan?" tanya Aksa.


"Aku menyimpannya." ujar Yudha yang langsung bergerak cepat dan membuka laci rahasia di balik nakasnya.


"Jea tak pernah menerimanya, tapi aku selalu menyimpan ini. Aku merasa aneh, karena mereka semua mengonsumsinya." Jea melihat ke arah Yudha heran.


"Makanlah! Dua butir, dan kau akan bisa merasakan kakimu." jelas Aksa.


"Apa-apaan ini?"


Tanpa lagi menunggu persetujuan langsung menyuapi gadis itu dengan dua butir permen yang dimaksud Aksa. Dan benar saja, obat itu langsung bereaksi padanya.


"Bagaimana bisa?"


"Orang tuaku adalah satu-satunya orang yang menyelidiki permainan Surya. Mal Praktik medis. Ia melakukan uji coba kepada objek secara acak. Karena itulah mereka mempersempit kemungkinan adanya korban dengan menyiapkan beberapa senjata pencegahan. Salah satunya adalah obat ini.


Bukankah kau juga mendapatkan penawarnya dari Diandra?" Jea mengangguk.

__ADS_1


"Aku yang memberinya obat-obatan itu. Akeno hanyalah kedok untuk memancingnya mencari objek baru. Dan benar, ayah kandungku adalah salah satu korbannya. Karena itu kami bergerak secara sembunyi-sembunyi."


"Pernikahan kita? Semua tentang kita, apa itu semua juga hanyalah kepalsuan?" tanya Jeana dengan raut wajah yang tak lagi bisa digambarkan.


"Maafkan aku Je. Tapi aku bisa pastikan bahwa perasaanku kepadamu itu nyata."


Jeana masih belum bisa menggerakkan tubuhnya. Penawarnya belum bekerja dengan baik. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di pelukan Yudha. Yudha menahan tubuhnya disana.


Mereka bertiga terdiam untuk beberapa waktu. Aksa yang sadar bahwa dirinya telah salah pun akhirnya memilih untuk pamit dan tak lagi melanjutkan perbincangan mereka.


Hatinya sebenarnya tak kalah hancur. Ia telah memperjuangkan gadis itu selama ini. Tapi tak pernah ada hasil. Bahkan ketika ia berusaha menyembunyikan identitasnya beberapa kali, ia juga tak goyah.


Ia masih berfikir bahwa ialah yang paling mengerti kondisi gadis itu. Ia masih berfikir bahwa perhatian dan kasih sayang diantar mereka selama ini adalah nyata


Tapi begitu menyaksikan semuanya di depan mata. Bagaimana cara gadis itu menatap Yudha. Bagaimana ia bergantung padanya. Hatinya hancur. Semua yang ia pertahankan selama ini ternyata hanyalah pikiran positifnya saja. Tak lebih.


******


Narasi Jeana


Apa yang akan terjadi kalau aku yang mengakhiri semuanya? Akankah ini berakhir baik?


Segala yang terjadi selama ini seolah berpusat padaku. Semua yang terlibat denganku selalu menjadi korban.


Apakah aku salah? Karena terlahir dari seorang psikopat seperti Surya.


Orang yang mencari kebahagiaan dengan melenyapkan nyawa orang lain.


Ia begitu angkuh dan juga sombong. Menganggap semua yang ia terima adalah hak yang tak perlu ia perjuangkan. Ia benar-benar buas dan tak punya welas asih


Namun satu hal yang tak pernah aku terima. Haruskah ia menurunkan itu semua kepada dua saudara laki-lakiku? Haruskah ia membelenggu saudara perempuanku?


Bahkan meskipun aku tak merasakan apapun dan tak menerima apapun. Ia selalu menghancurkan orang-orang di sekitarku.


Aku hanya ingin mengeluh kepada Tuhan sekali ini saja. Kenapa kau melahirkanku dari orang seperti dia?

__ADS_1


__ADS_2