
Ia menurunkan gaun itu makin jauh, hingga terlepas dan menampakkan tubuh putih mulus gadis itu yang tanpa celah. Ia juga tak mengenakan b*a sama sekali. Mungkin suster itu sengaja melakukannya agar ia bisa tidur dengan nyaman.
Yudha tak lagi bisa menahannya, apalagi karena gadis itu sama sekali tak melawan. Ia hanya menerima semua perlakuan Yudha dan turut larut di dalamnya.
Yudha benar-benar larut dalam permainannya hingga Jea bahkan tidak lagi menyadari entah sejak kapan tubuh mereka berdua mulai benar-benar polos. Ia bahkan tersipu malu ketika melihat kondisi mereka berdua saat ini.
Yudha yang melihat ekspresi wanitanya itu pun ikut tersenyum puas dan merasa gemas. Yudha menarik selimut sampai ke batas bahunya untuk menutupi tubuh mereka berdua. Ia tahu persis jika Jea merasa sangat malu saat ini.
Ia sudah berpuasa sangat lama sejak pernikahan mereka. Adalah sebuah kebohongan jika ia merasa baik-baik saja ketika setiap malam dirinya harus tidur sambil mendekap gadis itu. Ia adalah laki-laki normal, apalagi istrinya itu sering bersikap manja terhadapnya.
Sampai kemarin ia hanya berani mengecup bibir gadis itu, meski hanya sekilas. Ia menunggu saat di mana gadis itu mengatakan cintanya dengan segenap hati. Dan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam. Dan hari ini peluang itu muncul, mereka saling mengungkapkan isi hati mereka masing-masing melalui air mata.
Kata orang, kalimat yang keluar dari bibir bersamaan dengan air mata itu adalah kalimat yang berasal dari hati. Karena itulah ia begitu yakin untuk melakukannya. Dan ini adalah saat di mana ia benar-benar memiliki gadis itu seutuhnya. Ia takkan pernah kehilangannya lagi, apalagi melepasnya.
Ia sampai ke bagian inti gadis itu. Dan benar dugaannya selama ini. Ia benar-benar suci dan belum tersentuh.
Ia adalah laki-laki pertama bagi istrinya. Hatinya menghangat. Meskipun selama ini ia mempercayainya. Akan tetapi, tetap saja dengan membuktikannya sendiri membuatnya hatinya merasa lebih puas.
Gadis itu meneteskan air mata karena rasa sakit yang teramat perih yang ia rasakan. Namun ia tak mengeluh sama sekali dan hanya menerimanya. Hatinya benar-benar mengikhlaskan dan bahkan sangat menginginkan sentuhan itu.
Yudha adalah suaminya dan satu-satunya cinta dalam hidupnya. Ini adalah hal yang selama ini ia idam-idamkan. Ia hanya akan melakukannya bersama Yudha, lelaki yang sah dan juga halal baginya.
Ia hanya bisa merintih tanpa ada perlawanan sedikit pun. Yudha terus memimpin permainannya. Ia juga menciptakan begitu banyak jejak di area yang tak terlihat.
Mau bagaimana pun istrinya adalah seorang model, ia tetap tak ingin menyulitkannya.
__ADS_1
Itu pertama kali baginya, Yudha tampak begitu kesulitan untuk menembus pertahanan gadis itu. Ada darah segar yang mengalir begitu ia mulai sedikit memaksa untuk masuk.
Ia menghentikan permainannya sebentar dan menatap wajah gadis itu yang sedang meringis menahan sakit. Ada rasa sakit sekaligus nikmat yang bercampur aduk dan mendatangkan sensasi baru baginya.
"Apakah terlalu sakit?" Ia menatapnya cukup lama. Ia menunggu reaksi dari wanitanya. Namun gadis itu malah mengangguk dan memberinya izin untuk kembali melanjutkan permainan.
Ia bermain dengan sangat lembut hingga mereka benar-benar saling bertukar hasrat masing-masing. Yudha sudah bermain cukup lama sebelum memulai permainan intinya. Ia tidak ingin menyulitkan wanitanya dan membuatnya kelelahan. Karena itulah ia memilih untuk hanya bermain satu ronde saja kali ini.
Ini adalah pengalaman pertamanya. Ia tak ingin menyulitkan gadis itu. Yudha merebahkan tubuhnya di samping tubuh gadis itu setelah mencapai sekali pelepasan. Ia tertidur sambil memeluk gadis itu dan kali ini dengan posisi yang berbeda.
Ialah yang membenamkan kepalanya di dada gadis itu berbeda dengan sebelumnya di mana gadis itu yang melakukannya.
"Sekarang gantian." lirihnya sambil tersenyum malu.
Ia kembali merapikan selimut yang mereka pakai setelah sebelumnya terlihat cukup berantakan. Gadis itu sudah tertidur lebih dahulu karena kelelahan.
"Have a nice dream sayang." Ia mengecup kening gadis itu sebelum ikut tertidur dan masuk ke alam mimpi bersamanya.
****
Keesokan paginya, Jeana tampak bangun lebih dulu. Ia merasa sangat malu dengan posisi tidurnya saat ini dan juga wajah Yudha yang berada di atasnya. Ia berada di area sensitifnya dan itu membuatnya sedikit tak nyaman.
Ia pun memindahkan kepala Yudha perlahan dan beranjak turun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia memungut satu per satu pakaiannya yang berserakan dan menutupinya ke sembarang arah di tubuh polosnya. Pipinya makin bersemu dan terasa begitu panas.
__ADS_1
Ia membersihkan dirinya dan keluar dengan menggunakan kemeja putih kebesaran dan juga celana training yang membuatnya terkesan biasa dan tidak menggoda. Rambut basahnya masih ia gerai dan meneteskan beberapa titik air kemanapun ia melangkah.
Ia duduk di kursi teras dengan menaikkan kedua kakinya. Ia duduk meringkuk sambil memeluk kakinya dengan sangat erat. Ia menangis terisak tanpa suara disana.
Ia memutar ulang kejadian semalam di kepalanya. Yudha dalam keadaan mabuk. Bisa saja ia melakukannya karena tidak sengaja atau karena mengiranya sebagai gadis lain. Entah mengapa hatinya terasa sakit.
****
Yudha baru terbangun kala cahaya matahari yang tanpa rasa kasihan masuk dan menusuk ke balik matanya. Ia meraba tempat di sampingnya dan tak menemukan keberadaan Jea disana.
Ia pun menyibak selimut dan beringsut duduk untuk menuju ke kamar mandi. Ia melihat jejak pergulatannya disana. Ada tanda yang sangat menarik perhatiannya. Sebuah jejak yang menandakan bahwa ialah pria pertama bagi Jea.
Hatinya benar-benar merasa bahagia. Ia sama sekali tidak menyesal karena sudah menggodanya terlebih dahulu semalam.
Ia pun melepas sepray dan juga selimut itu sambil membawanya menuju ke kamar mandi. Ia menggantikan tugas istrinya untuk sekadar membawa itu masuk ke dalam mesin cuci.
Ia bahkan melakukannya sambil berkhayal. Ia membayangkan betapa merahnya wajah gadis itu, andaikan ia yang melakukannya sendiri. Pasti ia akan terlihat seperti tomat masak. Ia tergelak sendiri dan langsung melanjutkan tugasnya untuk membersihkan diri.
Yudha menyelesaikan tugasnya dengan sangat cepat. Mandi dalam waktu lebih singkat dari biasanya. entah kenapa ia merasa sangat rindu kepada istrinya. Padahal belum satu jam mereka berpisah.
Ia sudah terburu-buru ingin melihat wajah wanitanya lagi. Wanita baik dengan hati malaikat yang Tuhan kirim untuk iblis sepertinya.
Andai saja ia bisa memutar waktu, ia pasti akan melakukan hal yang lebih baik lagi untuk memastikan dirinya pantas bersanding dengan sang istri. Tetapi sayang, nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya perlu merubahnya pada masa mendatang.
Berbeda dari biasanya, kali ini ialah yang menyiapkan pakaiannya sendiri. Ia mengambil sembarang kaus dan mengenakannya. Mungkin istrinya masih malu karena kejadian semalam, jadi dia memakluminya.
__ADS_1
Menurutnya, saat ini ia hanya perlu turun dan sarapan bersama dengan sang istri. Wajahnya begitu berseri. Ia pun berlalu menuju ke lantai bawah.