
"Jangan membuatku salah paham." Aksa langsung mendorong tubuh Jea menjauh.
"Kenapa? Pipimu bahkan memerah." ledek gadis itu menggodanya.
Aksa yang merasa kehabisan alasan pun akhirnya mencoba mengalihkan kecanggungannya dengan menggelitik gadis itu dan berakhir dengan acara kejar-kejaran dari keduanya di sekeliling kamar.
"Ampun-ampun." gadis itu pun akhirnya menyerah dan mengajak Aksa duduk di sofa di sudut kamar.
Aksa yang sadar akan kelemahan gadis itu pun memilih untuk menutup pintu terlebih dahulu sebelum mengikutinya untuk duduk di kursi yang sama.
"Aku tahu kalau kakak punya janji sama orang tua kakak buat bahagiain aku. Aku cuma ingin Kak Aksa tau, kalau aku selama ini udah cukup bahagia kok." ujar gadis itu sambil menggenggam tangan Aksa hangat.
"Kalau gitu, kenapa harus ada yang berubah Je?"
Gadis itu menghela napas panjang dan tersenyum penuh makna ke arah Aksa.
"Gak akan ada yang berubah kok. Isi perjanjiannya tetap sama, cara kita ngejalaninnya pun sama, cuma kitanya aja yang ada di tempat berbeda."
Aksa menatap gadis itu penuh makna. Ia mencoba menerka hal apa yang tengah dipikirkan oleh gadis itu.
"Di sini sesak Kak. Aku cuma mau ngasih kebebasan buat Kak Raga dan juga Rayden. Keadaan mereka udah cukup baik semenjak kedatangan kita ke rumah ini. Aku cuma memanfaatkan keadaan yang ada dengan sebaik mungkin untuk pemulihan mereka." Aksa mengangguk setuju.
Ia tahu persis apa kehundahan gadis itu, karena selama ini ialah yang membantunya untuk menangani semua. Ia sadar betul dengan keadaan di luar nalar yang terjadi di rumah itu.
__ADS_1
Bagaimana mereka saling menatap satu sama lain, padahal berada di bawah atap yang sama. Bagaimana mereka saling menyapa satu sama lain, sekalipun mereka keluarga.
Penyakit mental yang dialami kedua kakaknya, dan bagaimana gadis itu menanganinya selama ini.
Ia bertemu dengan psikiater secara diam-diam dan memilih menangani kakak-kakaknya seorang diri.
Ia perlahan mengubah neraka itu menjadi sebuah rumah hunian yang layak. Tapi ia juga benar, bahwa itu mungkin saja tak bertahan lama. Mengubah paksa keadaan bahkan membaliknya hingga hampir seratus delapan puluh derajat, gadis itu telah bertindak terlalu jauh.
Jika dia berjalan makin jauh di jalan yang sama, bukan berarti bahwa dia tak akan terluka. Dan Aksa tahu betul itu.
"Ayo, kita pindah." Aksa menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Ia memberikannya tepukan di pundak, sebagai dukungan. Membuat hati gadis itu menghangat.
Proses pindahan pun berlangsung selama sekitar dua hari. Mereka memakai jasa pindah rumah dan menyerahkan segalanya kepada tim ahli.
Semua tampak bahagia, termasuk Raga dan juga Rayden tidak terlebih dengan Jea. Namun masih ada suatu hal yang mengganjal bagi Aksa.
Ada sebuah beban tak terlihat yang terasa sangat besar dan juga berat. Mereka harus mengurus keluarga mereka sendiri sekarang, termasuk biaya sehari-hari. Dan dia berpikir bahwa dirinya belum siap untuk itu.
Namun tanpa pemuda itu sadari, ternyata Jea sudah mempersiapkan semua hal lebih dari itu. Gadis itu telah memiliki pekerjaan begitupun dengan kedua kakaknya.
Jea selama ini ternyata diam-diam mengambil pekerjaan sebagai editor sebuah percetaan online. Di samping itu ia juga mengambil sampingan sebagai tutor belajar bagi anak-anak yang berada di bawah tingkatnya. Ia mengerjakannya dengan sangat natural hingga selama ini Aksa tak pernah mencurigainya.
Ia sering menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk melakukan bimbingan, terkadang dia juga melakukannya sepulang sekolah bahkan hingga malam dengan alasan bahwa dia tak pernah merasa nyaman berada di dalam kastil mewah itu terlalu lama.
__ADS_1
Sedangakan pekerjaannya sebagai editor ia lakukan dengan berkutat dengan laptopnya pada jam tidur Aksa, atau pada masa senggangnya.
Sedangkan Raga, ia memilih pekerjaan paruh waktu dengan beberapa dosen kampusnya. Ia juga bekerja shift malam di sebuah bar dekat kampus. Rayden juga melakukan hal sesuai kemampuannya. Ia menjadi pelatih basket dan guru paruh waktu untuk bimbingan sains bagi pelajar pemula.
Semua itu sudah mereka jalani selama dua tahun terakhir tanpa diketahui oleh siapa pun di Kediaman Goksel. Jea benar-benar sudah mengatur skenarionya dengan sangat rapi. Saat ini bahkan dia sudah mendaftarkan Aksa diam-diam untuk audisi Modeling, sesuai dengan bakatnya.
Ia benar-benar mengenal Aksa. Bahkan sebelum pemuda itu mengatakan kegundahannya, gadis itu telah bergerak beberapa langkah lebih maju. Dan ini semua tentunya dia lakukan di bawah bimbingan Adelio yang ternyata adalah dalang yang sebenarnya dari seni pertunjukkan ini.
Ia adalah pemegang kunci kelemahan dari setiap inchi yang berhubungan dengan Keluarga Goksel. Pemuda itu licik namun juga terlalu baik, karena ia memilih untuk memukul dengan terlalu pelan. Hingga tak ada rasa tamparan yang berarti. Ia adalah daftar paling depan dari orang-orang yang memegang kendali. Tetapi hanya Jea yang tahu tentang itu.
"Kenapa Abang bergerak sejauh itu?" tanya Jea mencoba mempertanyakan alasannya.
"Karena ada seseorang yang harus abang lindungi Jea. Dan kamu tahu, dia lebih penting dari hidup abang."
Gadis itu tahu persis bahwa bukan dia yang dimaksud Lio. Namun siapa orang itu memang masih menjadi misteri bagi dirinya meskipun sepenuh hatinya, ia sangat mempercayai Lio.
"Kalaupun nanti abang berkhianat dan memanfaatkanku sebagai pancingan, aku akan paham karena aku berhutang nyawa sama abang." gumam gadis itu lirih.
Ia bisa melihatnya dengan sangat jelas. Api dendam dan amarah yang membakar mata Lio. Itu tergambar jelas setiap kali nama Goksel terngiang di telinganya. Jea pun bahkan tidak bisa mengatakan bahwa ayahnya adalah orang yang baik. Terlebih setelah semua fakta yang dia dapatkan di kediaman Goksel.
Ia hanya perlu membalas budi kepada Lio. Dan perihal dirinya yang selalu sebatang kara, tak ada yang perlu di pertimbangkan bukan? Gadis itu benar-benar mengikat dirinya dalam api kemarahan seoran Adelio. Entah seberapa bodoh dirinya saat ini.
"Aku akan lakukan semua, asalkan abang bisa menjamin keselamatan Rayden dan memberikannya posisi yang pantas." ujar gadis itu bernegosiasi sebelum meninggalkan Kediaman Goksel.
__ADS_1
"Justru aku ingin menyelamatkan kalian, karena itu aku mengeluarkan kalian dari neraka itu. Sekarang ini akan menjadi pertarungan abang Je. Abang pernah janji sama seseorang untuk tidak melibatkan anak-anaknya dan abang sudah melanggar janji dengan menjadikanmu pemeran utamanya." lirih pemuda itu setengah berbisik membuat gadis dalam dekapannya itu bergidik ngeri.
Ini adalah sisi baru yang Adelio perlihatkan kepadanya setelah bertahun-tahun kebersamaan mereka. Mereka hanya berakhir dengan saling tatap dan menutup hari mereka di panti asuhan tempat Adelio tinggal. Dan itu terjadi ketika Yudha mendatanginya di hari pertama pertemuan mereka. Ini semua sudah direncanakan dengan matang. Entah ke mana arah tujuannya.