
Tangis Aksa terdengar semakin keras. Diandra menarik pemuda itu ke dalam pelukannya. Hatinya terasa sangat sakit karena telah salah paham terhadap suaminya. Ia bahkan telah bersikap egois dengan memisahkan lelaki itu dengan adiknya.
Diandra mendekap tubuh Aksa cukup lama hingga ia tak menyadari bahwa dirinya pun mulai tertidur. Tidur dalam kondisi duduk bersandar di sandaran tempat tidur, dan Aksa yang tengah berada dalam dekapannya.
Setelah puas menangis dalam dekapan sang istri, Aksa pun menarik gadis itu turun dan mendekapnya erat. Ia membenarkan posisi Diandra dan larut dalam mimpi indah bersama istrinya.
Malam itu dengan diterangi oleh sinar cahaya bulan purnama, untuk pertama kalinya Diandra terlelap dalam pelukan Aksa sebagai suaminya.
****
"Jea tak benar-benar melupakanku Pa. Aku yakin ia bisa mengingatku. Aku yakin itu." Yudha nampak begitu bersemangat ketika ia bangun di pagi hari.
Ia meminta Sanjaya untuk bicara empat mata ketika Jeana tengah berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Apa yang membuatmu begitu yakin Nak?" tanya Sanjaya penasaran.
"Dia menatapku dan membelai wajahku sewaktu aku tidur semalam. Aku mendengarnya dengan jelas. Ia mengatakan bahwa ia takut aku akan membencinya. Ia masih mengingat masa lalu kami. Ia ingat semua dendamku."
"Apa kau bahagia hanya karena ia mengingat dendamnya Nak?" Sanjaya merasakan ada yang aneh dari pernyataan Yudha.
"Aku bahagia dengan kenyataan ia mengingat semuanya Pa. Ia mengingatku dan artinya ia ingat semua kenangan kami. Semua hubungan diantara kami memang berlandaskan oleh dendam, tapi ada banyak sandiwara kebahagiaan yang terselip di dalamnya. Itu artinya ia pasti mengingat masa-masa indah ketika bersamaku kan Pa?" Yudha meraih tangan Sanjaya dan mendekapnya.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Sanjaya yang tengah menatap sang menantu penuh makna.
"Aku akan berusaha untuk memenangkan hatinya Pa. Aku tak peduli jika akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan membutuhkan usaha sekeras apapun. Aku akan memulainya sedari awal."
Diam-diam Jeana mendengarkan dialog diantara mereka. Ia memang tak mendengar saat Yudha mengatakan bahwa ia telah mengetahui penyamarannya. Namun ia mendengarkan dengan jelas bahwa Yudha akan memperjuangkannya.
Jea tak memberikan reaksi apapun. Ia bahkan tak memikirkan apapun. Hatinya sudah merasa cukup dengan apa yang selama ini ia dapatkan dan tak lagi mengharapkan sesuatu yang lebih.
"Aku hanya ingin semuanya mengalir begitu saja bagai air Kak. Jangan pernah memaksakan apapun." lirihnya.
__ADS_1
****
Kediaman Akeno....
Aksa terbangun dengan posisi Diandra yang masih tertidur sangat lelap dan berbantalkan lengannya.
Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangannya. Ia menyibak helaian rambut Diandra yang berserakan menutupi wajahnya.
"Kau tahu, ini kali pertamaku tidur satu ranjang denganmu sejak pernikahan kita. Ini juga kali pertamaku tidur seranjang dengan wanita. Kau lebih berharga dari apa yang pernah kau pikirkan Di." lirihnya.
Selama pernikahannya dengan Diandra, Aksa selalu memiliki tempat tidurnya sendiri di sofa yang berada di dekat jendela kamar Diandra. Atau terkadang ia pindah ke kamarnya sendiri saat semua orang telah tertidur.
Namun semalam, untuk pertama kalinya gadis itu mengeluarkan suaranya setelah dua tahun pernikahan mereka.
Flashback On
"Kau tidak mau tidur disini?" Diandra menepuk tempat di sebelahnya yang selalu terasa dingin lantaran tak pernah memiliki penghuni.
Ia menatap Diandra cukup lama. Mereka saling bersitatap dan membeku untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya Diandra mengangguk mantap dan Aksa pun menurutinya.
"Kau takut?" tanya Aksa mencoba berbasa-basi.
Ia berbaring di samping Diandra sambil membelakangi tubuh gadis itu.
"Kenapa harus takut?"
"Biasanya Jeana selalu takut setiap kali hujan dan petir seperti ini." ujarnya menjelaskan gambaran suasana di luar rumah.
"Pernahkah kau menyesal telah menikahiku?" tanya Diandra kepada Aksa yang langsung digelenginya lemah. Ia berbalik menghadap Diandra.
"Kau hanya menatap langit-langit sebelum tidur dan langsung masuk ke alam mimpimu setelah beberapa menit. Apa aku sama sekali tak memberimu pengaruh? Apa aku sama sekali tak menggoda sebagai seorang wanita?" desaknya yang membuat Aksa menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sedang berusaha kau sampaikan? Kau tahu, kau terdengar seperti seorang j*l**g ketika mengatakannya." ujar Aksa yang terdengar cukup kasar di telinganya.
"Kau menikahiku hanya demi status Akeno di balik namamu. Apa aku salah? Apa aku salah jika aku mengatakan bahwa menikah hanya dengan status itu, dan bukan dirimu?" Diandra bangun dari posisinya dan duduk menghadap Aksa yang menatapnya dengan mata yang sudah mulai memerah.
"Apa yang kau maksudkan tadi, aku mengerti apa maksudmu. Tapi bolehkah aku melakukan itu?" tanyanya sendu sambil merubah posisi untuk duduk di samping Diandra.
"Apa maksudmu?" tanya Diandra tak mengerti.
"Bukankah pertanyaan itu seharusnya aku yang mengatakannya?" serangnya balik masih dengan nada suara yang terdengar sayu.
"Kau tahu, kau menikahiku hanya demi status Akeno yang akan muncul di balik namamu. Aku pun merasa tertekan karena itu. Aku suamimu dan harus menghadapimu seperti ini setiap hari. Dengan kau yang begitu cantik dan begitu memanjakanku."
"Kau mengurus setiap kebutuhanku dan menjalankan kewajibanmu sebagai istri. Jujur aku pun merasa terbebani karena itu. Aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya, tapi status Akeno kembali mengingatkanku kalau hubungan ini palsu. Aku bahkan tak berani untuk menatapmu karena status yang tak terjangkau itu." isak Aksa yang sudah mulai meneteskan satu per satu air matanya.
"Kau, selama ini...?" tanya Diandra dengan suara bergetar. Aksa mengangguk mantap.
"Aku tahu kau masih berfikiran bahwa hatiku masih dimiliki oleh Jeana. Tapi sampai kapanpun gadis itu takkan pernah pergi, karena ia adalah adikku. Dan aku tahu itu."
Aku akan mengikhlaskannya untuk siapapu asalkan ia berjanji akan bahagia. Tapi gadis itu telah tiada sekarang." Isakan Aksa terdengar semakin keras.
"Andaikan ia ada disini saat ini, aku justru akan meminta izinnya untuk menaruh namamu di salah satu tempat di hatiku. Andaikan aku bisa, kalian memiliki tempat berbeda yang sama-sama harus aku perjuangkan. Namun aku tak berdaya." Diandra menggenggam tangan Aksa hangat.
"Yudha telah mengatakannya ketika mereka sadar bahwa mereka saling mencintai. Yudha meminta restunya langsung dariku. Ia akan menjaganya dan membahagiakannya. Tapi ia pergi, dan membuat kami tak bisa menepati janji itu."
"Kau tahu, ia sudah mengetahuinya sejak lama. Ia tahu, dan karena itu aku tak pernah menyentuhnya selama pernikahan palsu itu. Ia memposisikan dirinya dengan baik dan berusaha untuk tak melukai egoku. Kau tahu Di, Jeana pasti akan sangat bahagia jika tahu aku telah menemukan cintaku dan aku saat ini tengah bersamanya."
Flashback Off
Untuk sesaat Aksa benar-benar telah berfikiran waras dan memikirkan cara untuk membangun rumah tangga yang indah bersama Diandra.
Namun mengingat semua takdir yang mengikat mereka selama ini, ia kembali dihantui oleh keraguan.
__ADS_1
Tapi semalam, gadis itu baru saja memulainya. Selain mengutarakan apa yang ia rasakan, Diandra juga telah memberinya celah untuk masuk lebih dalam ke dalam hatinya. Dan Aksa sangat bersyukur tentang itu