Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 13 : Kecemburuan Jeana


__ADS_3

Tiga tahun kemudian….


“Aku udah capek Kak. Kalau kamu emang mau deket sama Alicya ya gak apa-apa. Jangan pakai alasan pemotretan terus. Aku Cuma mau kamu jujur sama aku. Lagi pula kita juga gak terikat sama hubungan apapun kan? Umurku juga udah legal, satu bulan lagi dan kita bisa batalin pernikahan ini.”


Hari itu Selasa, 17 Desember 2020. Waktu di mana semua kesabaran yang selama ini Jea tahan mulai memuncak. Jea melakukan kesalahan. dia memperluas jaringan kepeduliannya terhadap Aksa menjadi cinta. Gadis itu sudah mulai mencintai pemuda itu, dan awalnya ia berpikir bahwa pemuda itu pun sama. Tapi ia lagi-lagi salah.


Semua prasangka baiknya berlawanan dengan kenyataan yang ia hadapi. Ia bahkan perlahan lupa dengan tujuannya yang sebenarnya. Ia merasakan bahwa hatinya telah jatuh, dan itu kepada seorang yang berstatus sebagai suaminya sendiri.


Pada dasarnya gadis itu tak melakukan kesalahan. Tetapi kejamnya takdir yang menjadikannya sebagai kesalahan. Pekerjaan yang ia carikan untuk Aksa sebagai seorang model, ternyata lebih mendekatkannya kepada sosok Alicya. Model wanita ternama yang sedang naik daun.


Siapa sangka, jika ia adalah putri dari seorang CEO majalah model terkenal. Ia mendaki di jenjang karirnya dengan cara yang tak biasa. Ia seolah terbang begitu saja dan berada di puncak. Seperti tak pernah ada jejak lewat mana dia pernah mendaki.


Alicya dipertemukan dengan Aksa dalam berbagai proyek yang tak ada hentinya. Seolah semua itu juga permainan. Berbagai scene mesra sampai eksotis telah mereka lakukan secara berpasangan. Sekarang dimanapun mereka berada, hanya akan ada perbincangan seputar betapa cocok dan serasinya mereka. Dan komentar itu berlalu tanpa ada rasa tanggung jawab ataupun rasa bersalah. Seperti mungkinkah ada orang yang tersakiti di baliknya.


“Tenang dahulu sayang. Aku bisa jelasin! Itu semua bagian dari skenario.” Tegas Aksa.


“Bahkan adegan super erotis dengan pakaian terbuka musim lalu juga kamu bilang bagian dari skenario. Kamu gak baca script emang sebelum tanda tangan?” bentak gadis itu dengan berlinang air mata.


“Itu semua editan sayang. Aku pakai kaus warna kulit, bahkan aku bawa pulang bajunya karena gak sempat ganti. Kamu bisa gak sih percaya sedikit aja samaku? Aku ini suami kamu.”


“Justru karena kamu suami aku dan aku lihat foto kamu sama cewek lain pelukan, mesraan dan bahkan CIUMAN,” dia tercekat dengan kalimatnya sendiri setelah dengan sengaja menekankan kata ciuman di depan Aksa saat ini. Air matanya tumpah ruah, dan dia tidak lagi bisa melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


“Sayang dengerin aku du..” Kalimat Aksa terhenti begitu Jea mengangkat tangannya seolah mengisyaratkan dia untuk diam.


“Jangan panggil aku sayang, kalau sikap kamu justru nunjukkin sebaliknya!” ia membentak Aksa lagi dan berlari masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.


Aksa gusar. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dan menyapu beberapa barang di meja makan hingga berserakan di lantai. Benar, mereka memulai pertengkaran itu di tengah rumah. Dan itu artinya ada dua pasang mata dan dua pasang telinga yang kini tengah menjadi saksi seberapa hebat pertengkaran mereka dari lantai atas.


“Apa kita biarin aja Bang?” lirih Rayden takut jikalau Aksa mendengarnya.


“Gak usah ikut campur! Mereka udah nikah, biar mereka yang selesain. Lagi pula kecemburuan tadi, itu justru tanda kalau udah ada percikan cinta di antara mereka. Lihat aja nanti ke mana takdir akan membawa mereka.” Ujar Raga seakan acuh dan berlalu memasuki kamarnya.


Sementara Rayden, ia masih mematung dan memikirkan cara bagaimana ia harus menghadapi saudari kembarnya itu besok. Karena mereka berada di rumah yang sama dan kampus yang sama. Bukan berarti dia tidak akan menjadi pelampiasan amarah sang adik.


“Aku harus bagaimana?” ujarnya tak kalah gusar.


***


“Apa yang kau fikirkan?” Lio menanyai gadis itu dengan sungguh-sungguh.


“Aku menginginkan hal yang tak seharusnya aku bayangkan.” Jawabnya gundah.


Ia memandang langit yang tampak begitu indah dengan taburan bintang yang berkerlap-kerlip. Tentunya ini bukanlah dunia nyata. Gadis itu bermimpi. Mimpi yang begitu membingungkan hingga mengingatkannya kepada kenyataan yang kini tengah ia hadapi.

__ADS_1


Ia terbangun keesokan paginya dengan mata sembap. Untungnya kemarin adalah hari terakhir masuk kampus sebelum musim liburan. Itu tandanya ia tidak perlu datang ke kampus hari ini.


Setidaknya ia bisa terhindar dari berbagai pertanyaan tentang keadaannya dan mengapa matanya begitu sembap. Tubuhnya juga demam, matanya tidak bisa sepenuhnya terbuka. Ia bahkan kehilangan tenaganya untuk bangkit.


Lantai yang tengah ia duduki kini terasa begitu dingin, tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri. Jea menengok sekilas ke sebuah jam kecil yang berada di atas nakas. Pukul 09.00 pagi. Itu artinya sudah tidak ada orang di rumah. Tapi tubuhnya begitu lemas tak berdaya. Ia butuh seseorang untuk membantunya saat ini.


“Kau baik-baik saja?” seseorang tiba-tiba muncul ketika ia terhuyung jatuh saat mencoba untuk memaksakan dirinya berdiri. Seorang itulah yang dengan sigap menahan lengannya dan menahan tubuhnya.


“Bang Yudha? Kok bisa?” ujar gadis itu terkejut ketika melihat pemuda itu ternyata adalah Yudha. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seakan berpikir bahwa ini hanyalah angannya semata.


“Ini beneran aku kok, Yudha.” Jawabnya sambil membantu gadis itu untuk berbaring dengan benar di atas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya yang tengah menggigil.


“Kamu sendirian di rumah, Aku nelfonin kamu dari semalam, tapi kamu gak angkat. Kita semua khawatir, terutama Rayden. Dia gak bisa pulang, ada pekerjaan penting hari ini. Bang Raga ada interview pekerjaan hari ini, dan Aksa ada schedule sejak tadi subuh.


Karena itu aku maksain diri buat datang dan bela-belain buat manjat lewat jendela. Kamu tahu kan seberbahaya apa itu? Ini lantai tujuh, meskipun kamar aku ada di sebelah tetapi meniti lewat jendela itu bukan pilihan yang bagus. Kalau jatuh bisa mati tau.” Ujarnya kesal sambil mengecek suhu gadis itu.


“Panas kamu setinggi ini Je? Ya ampun, sebentar aku ambilin kamu makanan, obat sama kompresan.” Yudha berlalu menuju dapur meninggalkan Jea yang masih dipenuhi dengan tanda tanya.


Dari awal memang Yudha yang selalu peduli kepadanya. Bahkan ia sampai bela-bela untuk membeli unit apartement di samping unit milik Jea. Hal nekat seperti hari ini juga bukan pertama kalinya ia lakukan. Ia bahkan sampai menyiapkan peralatan keamanan untuk membantunya melancarkan aksi nekatnya itu.


Ia tahu persis bahwa gadis itu selalu mengunci diri di dalam kamar, namun tak pernah mengunci pintu balkon dan juga jendela kamar. Ia sangat menyukai bintang dan juga angin segar, berbeda dengan sebelumnya. Ia selalu membiarkan pintunya terbuka semenjak Aksa sering tak berada di rumah. Tak heran memang jika ia sampai semenggigil ini.

__ADS_1


Gadis itu duduk semalaman di atas lantai yang dingin sambil menatap bintang dengan pintu terbuka. Kamarnya juga berada di tempat yang cukup tinggi. Suhunya pasti sangat dingin, di tambah lagi dengan kondisi mentalnya yang sedang rapuh, itu pasti akan menimbulkan tekanan yang berkali-kali lipat dan akan mengganggu kesehatannya. Untung ada Yudha yang sudah seperti payung yang dibutuhkan sebelum hujan.


__ADS_2