
"Kau begitu membenci pernikahan ini?" lirih Aksa dalam tidurnya.
dia berhasil membuat Jea terbangun dan merebut perhatian gadis itu kepadanya.
"Kau baru saja mengiyakannya, tetapi apa-apaan ini?" gadis itu bangun dengan enggan dan beralih ke sudut kamar lain, yaitu tempat tidur Aksa.
"Bangunlah!" ujarnya menggoyang-goyangkan tubuh Aksa dan memaksa pemuda itu untuk bangun.
"Kau mengigau. Bangunlah, aku akan ambilkan air minum untukmu. Kau demam, lebih baik jika kau juga meminum obatmu." ujar gadis itu kesal sambil berlalu ke sebuah meja di sudut ruangan yang dia gunakan untuk menyimpan air dan juga kotak obat.
"Berhenti memanjakanku, jika kau memang ingin aku pergi." lirihnya dengan tangan terulur untuk menolak air dan obat dari tangan Jea.
"Apa aku mengatakan soal perpisahan? Dasar bodoh!" ujar gadis itu kembali memaksakan air dan obat itu tetap masuk ke dalam mulut Aksa. Dan anehnya dia menurut, tanpa perlawanan.
"Apa-apaan ini? Kau bahkan menurut. Tenagamu benar-benar habis? Tunggu sebentar, aku akan mengambil air kompresan untukmu."
Gadis itu berlalu ke arah kamar mandi dan membiarkan pemuda itu mematung menatapnya dari arah belakang. dia hanya berlalu dan menghilang selama beberapa menit, tetapi kerinduan itu seakan sudah menumpuk dan terpancar jelas di mata Aksa.
"Kau tahu persis, kita tidak akan bisa memutuskannya sampai kita berdua benar-benar dewasa. Masih ada sekitar tiga tahun, sampai usiaku tujuh belas tahun. Jadi, bertahanlah sampai saat itu. Dan bersabarlah menghadapiku, akupun akan melakukan hal yang sama." celoteh gadis itu sambil membantunya istirahat.
"Kau membenciku? Kau ingin menyudahi ini semua?" Aksa mencegat tangan itu, tangan yang tergerak untuk meletakkan selembar handuk basah di keningnya. Tangan yang sebelumnya tak pernah dia tolak keberadaannya.
"Kau benar-benar bodoh rupanya. Aku hanya memintamu membawaku pergi bersama kakak-kakakku. Apa aku memintamu untuk meninggalkanku?" jawab gadis itu santai sambil terus melakukan pekerjaannya merawat Aksa.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Kau akan berulang tahun beberapa hari lagi. Kau pernah bilang, bahwa orang tuamu akan memberikanmu hadiah berupa apartment." pemuda itu mengangguk.
"Ayo pindah kesana? Bersama kedua kakakku. Karena aku tak bisa meninggalkan mereka. Aku begitu muak dengan wajah palsu di rumah ini." seru gadis itu dengan wajah yang berbinar. Membuat hati Aksa menghangat.
"Baiklah." Aksa mengangguk.
dia pun akhirnya tertidur dengan sangat nyenyak, ketika Jea menariknya dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan gadis itu.
dia seperti seorang ibu yang Aksa rindukan selama dua tahun ini. Cinta pertamanya yang dia tinggalkan demi bersama cinta lainnya yang akan dia perjuangkan selama hidupnya.
Mereka pun tertidur dengan posisi itu hingga pagi menjelang. Demam Aksa pun turun dalam semalam. tetapi dia harus menghadapi konsekuensi bahwa gadis itu akan mengamuk di pagi hari karena kakinya yang keram lantaran harus menahan tubuh Aksa semalaman.
tetapi anehnya, mereka bahagia. Mereka saling tertawa. Dan mengusir keraguan itu satu sama lain. Seperti hanya ada mereka satu sama lain di hidup masing-masing.
"terima kasih." lirihnya begitu bangun.
"Hari ini libur, jangan ganggu aku! Aku lelah." ujarnya ketus, namun berhasil memancing senyum bahagia di wajah Aksa.
******
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Hari Ulang Tahun Aksa yang ke tujuh belas tahun. Sesuai janji mereka, Aksa hanya meminta pesta ulang tahun sederhana di rumah bersama keluarga. Sekaligus dia juga meminta persetujuan untuk tinggal di rumah sendiri sama seperti yang diinginkan Jea.
Sesuai dugaan Keluarga Akeno sama sekali tidak keberatan dan langsung menyetujui permohonan Aksa. Namun berbeda dengan Clara, karena dia keberatan dengan permintaan Aksa untuk membawa Raga dan juga Rayden bersama mereka.
"Jika ingin tinggal sendiri mengapa harus membawa kakak-kakakmu bersama kalian Jea? Jika begitu, bukankah lebih baik jika kalian tetap tinggal bersama di sini." ujar Clara gelagapan.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja, mungkin Jea masih merasa sedikit canggung dengan Aksa. Lagi pula selama ini kita kan memaksa mereka berpisah dalam satu kamar. Sudah sewajarnya jika sekarang mereka ingin privasi mereka sendiri." jawab Tuan Goksel santai.
"tetapi Pa, di rumah ini pun kita juga bisa memberikan privasi mereka dengan baik bukan?" cegat Clara tak ingin rencananya gagal.
"Kau tau sendiri Jea dan Rayden sudah sangat lengket dan tidak bisa di pisahkan. Sedangkan bagi Raga, bukankah kampusnya lebih dekat dengan apartement Aksa? Toh, selama ini kau juga menyekolahkannya di asrama. Jadi apa salahnya jika kini dia tinggal terpisah darimu." jawab Tn Goksel seolah tak ingin di bantah.
"Kita akan sering berkunjung kemari kok, Ma." jawab Aksa sopan hingga membuat Clara kehilangan kata-katanya.
Pada dasarnya Clara memang menyekolahkan Raga di sekolah asrama sejak awal. dia baru pulang ke rumah di hari yang sama bersamaan dengan kedatangan Jea ke rumah itu. Yaitu di hari penerimaannya sebagai mahasiswa baru di salah satu kampus bergengsi di pusat kota.
Tempat yang cukup jauh memang dari kediaman Goksel. Tidak heran jika selama ini dia cukup kewalahan dan kekurangan waktu istirahat.
Alasan ini juga yang sebenarnya dimanfaatkan oleh Jea untuk membawanya keluar. Pemuda itu begitu polos, dia tak pernah berada di kastel itu dalam waktu yang lama. Hal yang selama ini membuatnya terlepas dari pengaruh Clara.
Jea tidak bisa diam, dan membiarkan Raga jauh darinya. Karena itu berarti, dia akan mempersingkat jarak pemuda itu dengan kematian atau minimal kebencian. Clara adalah orang yang andal memberikan pengaruh. Meskipun putra semata wayangnya itu tak pernah memihaknya. Namun dia berhasil menanamkan pemikiran buruk dan juga dendam dalam diri pemuda itu.
Melepaskannya kepada Clara ,berarti sama dengan melemparkan seekor ayam ke kandang singa. dia hanya akan menjadi santapan.
Sedangkan Rayden. Semenjak kehadiran Jea dan Aksa di rumah itu. dia sudah jauh lebih baik. Bahkan lebih dari itu, dia benar-benar hidup sebagai manusia normal seolah tak pernah terjadi apa-apa. dia bahkan juga bersekolah di tempat yang sama dengan Jea.
Mereka bukan hanya sepasang anak kembar. Mereka juga memiliki kegeniusan yang sama. Tak heran jika Rayden dengan mudahnya bisa mengejar ketertinggalannya yang cukup jauh.
Setelah kedatangan Jea ke rumah itu, dia mulai mengontrol setiap obat dan makanan yang di konsumsi Rayden. dia juga membantunya belajar dan berkomunikasi dengan khalayak ramai.
dia juga yang menemani Rayden danĀ membantunya agar lulus dalam program kesetaraan sd dan SMP. Setelah mengikuti ujian itu, mereka pun memutuskan untuk bersama-sama mendaftar di sekolah yang sama. Hidup sebagai manusia normal dengan prestasi yang gemilang.
__ADS_1
Mereka berdua bahkan juga tercatat sebagai penerima nilai tertinggi di sekolah dan unggul dalam kepopuleran. Namun bedanya, Jea terlalu dingin hingga sulit untuk di dekati. Sedangkan Rayden, dia bahkan terkenal dengan ke playboyannya di sekolah mereka. Hingga terkadang Jea mengalami kesulitan untuk menangani fans kakaknya.