
Gadis itu terus merutuk dan menangis selama malam pengantinnya. Matanya bengkak, wajahnya sembap. Ia melempar semua barang-barang yang ada di kamar itu dan membuatnya seperti kapal pecah.
Jika ini drama, maka akan ada yang datang dan menenangkannya. Mereka yang akan membersihkan kekacauan itu setelah memeluknya dan menangis bersamanya.
Tetapi ini berbeda, gadis itu hanya menangis sendiri dan menyesal setelah bangun dari tidurnya keesokan hari.
Ia menghabiskan tenaga dan waktunya selama di kamar hotel itu dengan membersihkan kekacauan yang ia buat.
"Ish.. mengapa aku mengacaukannya jika pada akhirnya aku juga yang harus membersihkannya sendiri."
Ia bahkan membenci tindakan kekanak-kanakannya. tetapi emosi sesaat, memanglah buruk. Ia benar-benar telah menjadikannya begitu dramatis untuk beberapa waktu.
Tiga hari pun berlalu dengan semua kenangan pahitnya dari impian masa kecil yang hanya menjadi dongeng semata.
Pernikahan Impian? Kebahagiaan? Apa itu benar-benar ada di dalam hidupnya? Bukankah Tuhan begitu kejam ketika menuliskan garis takdirnya? Harusnya ia tak pernah memikirkan hal itu ketika memilih untuk menikahi Yudha.
Tujuh Puluh Dua Jam. Waktu untuk menjadi seorang ratu sudah berakhir. Biarlah orang-orang berhalu ria dan berpikir bahwa ia tengah berada pada masa bahagianya. Menikmati malam pernikahan bak di negeri dongeng.
Ia harus pulang. Kemanakah ia harus pergi? Ia tak bisa pulang kembali ke kediaman Wirabraja. Sedangkan apartemennya sebelumnya adalah hak milik Yudha.
Ia tak bisa pulang ke kediaman Goksel. Ia belum mengumumkan kebenarannya secara resmi. Bahwa ia adalah Jeana Goksel. Pulang ke rumah Adelio juga tak mungkin. Apalagi setelah kejadian nahas kemarin.
Tidak ada pilihan lain, jika ia menyewa hotel pun hanya akan menjadi sorotan. Ia harus pulang ke apartement Yudha. Toh lelaki itu jugalah yang memberinya kode akses apartment pribadi miliknya.
"Mau bagaimana lagi, aku harus kesana. Lagi pula, bukannya tidak mungkin bukan jika ia memang mempersiapkan apartment itu untukku. Dasar bodoh! Siapa juga yang ingin tinggal bersamanya." ia menepuk dahinya sendiri hingga akhirnya juga ikut mengeluh karena melakukannya terlalu keras.
"Awh!! Sial." umpatnya.
Jeana pun akhirnya menelfon perusahaan taksi tepercaya dan membookingnya secara online menggunakan identitas pribadi. Ia harus sangat berhati-hati. Hanya dengan menggunakan jasa professional, maka ia akan bisa meminimalisir risiko informasi rahasianya terbongkar ke publik.
__ADS_1
Satu setengah jam perjalanan, Ia mulai merasa bosan tetapi apartment pribadi Yudha berada di pinggiran kota. Sedangkan hotelnya berada di wilayah yang berlawanan hingga membutuhkan waktu yang cukup lama.
Ia juga mematikan ponselnya untuk berjaga-jaga kalau saja ada yang mengganggunya dengan mempertanyakan bulan madunya yang buruk.
Setengah jam lagi, ia sampai di apartment Yudha dan menemukan keadaan apartement itu yang begitu bersih dan penuh dengan dekorasi khas pasangan. Ada foto pernikahan juga yang terpajang di mana-mana.
"Yudha sialan! mengapa kau mendekorasi rumahku seperti ini? Apa kau ingin aku berharap lebih, setelah kau meninggalkanku di malam pernikahan kita? Dasar Pria berengsek!" umpatnya.
Gadis itu bahkan tak membongkar barangnya sama sekali. Ia hanya meletakkan koper ke dalam kamarnya dan kembali ke ruang tamu untuk menonton acara televisi kesukaannya.
"Lagian tidak ada barang yang akan dibongkar. Semua barang sudah tersedia di sini. Ia memang pintar menyiapkan ruang tahanan yang bagus hingga aku bahkan tak ingin keluar dari sini." umpet gadis itu sambil menaikkan kakinya ke atas kursi dan duduk sambil menekuknya disana.
ia memeluki kakinya sendiri dan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang sedikit ia regangkan. Ia menangis tersedu-sedu disana.
Siara televisi saat itu adalah acara komedi Mr. Bean yang sangat di sukainya. Ia tak mungkin menangis karena menonton acara itu bukan?
Gadis itu sebenarnya menangis karena alasan lain. Ia teringat akan tudingan Alicya di acara pernikahannya. Gadis itu ada benarnya. Ia tak berguna, dirinya hanyalah sampah yang dipungut oleh seseorang.
Ini adalah pernikahan idamannya. Menikah sekali seumur hidup bagaimana ia bisa tak memikirkannya? Bagaimana bisa ia begitu bodoh dan membuat perjanjian itu untuk sisa hidupnya?
Jea pun melangkah ke arah meja dapur yang berada di dekat pintu masuk. Ia mengambil segelas air dingin untuk menjernihkan pikirannya.
Memang benar, ini rumahku. Bahkan dia mendekornya dengan warna kesukaan kami. Kami? Huh... Gadis itu mendesah. Apa kata kami memang sepenuhnya menggambarkan bahwa mereka kini hidup berdua.
Tiiit ...
Ada orang yang masuk. Gadis itu masih tak bergeming. Pintu apartmentnya diberi akses kunci pintar. Hanya seseorang dengan kartu akses atau yang mengetahui passcodenya saja yang bisa masuk.
"Diakah? Atau aku harus menghadapi takdir lain lagi? Seperti bertemu dengan wanitanya mungkin." gadis itu hanya bisa berkomentar di dalam hati.
__ADS_1
Ia hanya diam sampai berat tubuh seseorang tiba-tiba muncul dan menimpanya dari belakang. Ada orang yang tiba-tiba memeluknya. Namun gadis itu hanya diam, ia masih menerka apa yang akan terjadi. Karena ini juga bisa berarti jebakan.
"Maafkan aku. Ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan. Aku sudah mengatakannya kepada mereka, tetapi mereka malah menculikku dan membuatku melewatkan malam indah bersamamu." pelukannya mengerat.
Jeana bisa memastikan bahwa dari nada suaranya bahwa orang tersebut tengah mabuk. Bau alkoholnya pun bahkan begitu kentara dan memekakkan hidung.
"Kau mabuk?" tanyanya sinis. Pemuda itu adalah Yudha. Dan alasan Jea tak bergeming adalah karena pelukan itu terasa begitu hangat untuk dilepaskan.
Bukk!! Ada seseorang yang terjatuh di depan pintu. Ia tersandung saat mencegah pintu itu untuk kembali menutup. "Awh.." pekiknya saat mendapati tangannya tergores oleh handle pintu.
"Siapa kau?" Jea mendorong tubuh Yudha untuk menjauh. Ia menengok ke arah pintu, namun keadaan saat itu begitu gelap hingga ia tidak bisa melihat dengan jelas.
Apakah ia membawa wanita lain kesini? ujarnya membatin.
"Kau tidak bisa melihatku? Oh, sepertinya ini rusak. Aku akan memperbaikinya besok." pemuda itu memutar bohlam yang ada di dekat pintu masuk dan tidak berhasil. Tidak ada cahaya sama sekali.
Apakah ia seorang pria? Apa Yudha gay? pikirannya mulai melayang kemana-mana.
Tamu misterius itu pun akhirnya melangkah makin masuk dan menunjukkan wajahnya dengan jelas kepada Jeana.
"Bang Arsen?" tanya gadis itu heran.
"Dia mabuk, karena itu aku mengantarnya. Kau tunggulah sebentar! Aku akan membantunya membersihkan diri. Mungkin air akan membuatnya sedikit sadar." ujar Arsen yang meraih tubuh Yudha yang sudah duduk tersandar di lantai di belakang tubuh Jea.
"Oh ya Je, bisa kau bantu aku untuk membelikan obat pereda pengar? Kau tidak suka bau alkohol bukan? Kita harus membuatnya sadar secepatnya. Agar kau bisa merasa nyaman." ujar Arsen sambil berlalu dan membopong tubuh Yudha ke dalam kamar pribadinya.
"Apa ini? Dia mabuk? Apa dia juga menyangka aku adalah gadis lain?" tebak gadis itu asal.
Jeana pun memilih menuruti perkataan Arsen dan berlari menuju apotek untuk membeli obat yang Arsen maksud. Ia harus menanyakannya sendiri kepada Yudha. Dan dia harus sadar saat menjawab itu.
__ADS_1
"Lihat saja jika kau menjawabnya asal. Akan kupastikan bahwa ini adalah malam terakhirmu menghirup udara segar." umpatnya sambil meninggalkan rumah.