Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 37 : Kondisi Jeana


__ADS_3

"Dasar berengsek!!" Bukkk!!!


Yudha langsung melayangkan pukulannya begitu melihat Aksa dengan baju yang berlumuran darah di depan ruangan darurat tempat Jea berada.


"Kalau lo gak bisa bahagiain dia gak apa-apa. Tapi jangan bikin dia celaka!" emosinya memuncak dengan tangan yang tanpa henti memukuli Aksa.


"Yudha stop!" untung saja Arsen, Rayden dan Lio datang tepat waktu untuk melerai mereka.


"Maafin gue bang. Maaf." Aksa berlutut di depan Lio dan Arsen sambil bercucuran air mata.


"Lo pernah janji sama gue buat jagain Jea. Gue kecewa sama lo Sa!" Tatap Lio kecewa.


Setidaknya meskipun dia dipenuhi dengan dendam, dia masihlah seorang kakak yang peduli pada Jea. Terlebih setelah dia tahu bahwa Jea adalah putri kandung kakaknya, dan dia tidak bersalah.


Perdebatan mereka berhenti sejenak dengan tatapan penuh kebencian yang saling mereka layangkan satu sama lain. Arsen membawa Yudha untuk duduk di kursi tunggu sementara Lio yang menjaga Aksa membawanya sedikit menjauh.


Di tengah keheningan mereka ada seorang perawat yang muncul. Jeana telah di pindahkan ke ruang operasi satu jam yang lalu. Nyonya Wirabraja sendiri yang turun tangan bersama tim ahli. Karena itu mereka tidak membutuhkan formulir persetujuan.


"Kenapa tidak ada yang memberitahukan?" tanya Lio emosi.


"Nyonya Wirabraja sendiri yang menanganinya langsung. Beliau juga menunjukkan formulir adopsi atas nama Aylana Goksel yang beliau tanda tangani sendiri." ujar suster itu.


Memang benar bahwa Aylana tercatat dalam nama keluarga Wirabraja, tetapi wali pemohonnya tetap mengatasnamakan Nyonya Arumi. Nyonya Arumi diakui ke publik sebagai adik dari Nyonya Wirabraja sendiri. Karena itulah beliau juga memiliki hak penuh atas kondisi Aylana saat ini.


"Ma, gimana kondisi Jea?" Yudha mendobrak pintu ruangan pribadi ibunya dan langsung menyerangnya dengan ribuan pertanyaan.


"Ma, aku suaminya gimana aku bisa gak tau apa-apa tentang dia." gertak Yudha dengan mata memerah.


"Arumi sendiri yang menanganinya. Dia selama ini diam-diam belajar ilmu kedokteran dan berhasil melakukan operasi besar itu sendirian."

__ADS_1


"Apa?" mata Yudha makin terasa panas, dan diam-diam ada air mata yang menyelinap keluar tanpa seizinnya.


"Dia dokter terbaik yang pernah kutemui. Dia benar-benar tenang bahkan saat menangani putrinya yang dalam kondisi kritis. Ada pendarahan di dalam kepalanya. Dan dia juga mengalami patah tulang rusuk. Luka luarnya tidak seberapa. tetapi kondisinya di ambang kematian.


Menurutmu, apakah mungkin jika aku masih menghabiskan waktu untuk menunggu surat persetujuan. Untung saja Arumi cepat tanggap. Ia sedang berada bersama Mama saat itu. Ia langsung mengambil alih ruang operasi sebagai dokter bedah utama.


Lisensinya di akui bahkan oleh Komunitas Dokter Internasional. Kamu tidak perlu merasa khawatir." ia menepuk pundak putranya dan meraih pemuda itu ke dalam pelukannya.


"Jangan khawatir! Ia gadis yang baik. Tuhan akan melindunginya." Yudha terisak dalam pelukan sang ibu. Ini adalah kali pertamanya menangis setelah saat ia kehilangan kakaknya.


Sudah puluhan tahun, dan air mata yang selama ini dia tahan membuncah dan berdesakan untuk keluar.


Satu bulan berlalu dan belum ada perkembangan sama sekali dengan gadis itu. Kondisinya koma, ia meresponse semua sentuhan dan juga meneteskan air mata setiap kali Yudha berbicara dengannya.


Tetapi matanya tetap tidak terbuka. Menurut Nyonya Arumi, alam bawah sadarnya menolak untuk bangun sekeras apapun Ia mencoba. Sepertinya ada yang sedang ia hindari. Sesuatu menekannya untuk menghindar.


"Kumohon bangun sayang. Kau tahu aku tak pernah memohon kepada siapa pun. Jadi tolonglah sekali ini saja turuti permintaanku." isaknya sambil terus menggenggam jemari gadis itu.


"Makanlah Nak. Kau juga harus bertahan demi Jeana." Ny. Arumi membelai lembut kepala Yudha yang sedang tertunduk, bertumpu di lengan Jeana. Isakannya makin deras. Ny Arumi pun menarik pemuda itu kedalam pelukannya.


"Kau tahu, hatiku bahkan lebih sakit. Setelah sekian tahun aku kehilangannya dan sekarang bahkan aku sendiri tidak bisa melakukan apapun untuk melindunginya." ujarnya turut menangis bersama Yudha.


"Tidak Ma, Anda sudah berusaha keras untuk menyelamatkannya. Ibuku mengatakannya, jika bukan karena Anda yang melakukannya maka operasi itu akan sangat berbahaya." Yudha melepaskan pelukannya dan menatap ibu mertuanya hangat.


"Ayo kita berjuang bersama demi Jea." Ny. Arumi mengangguk.


Tanpa mereka sadari di tengah moment hangat mereka, mata Jeana perlahan mengerjap dan mulai terbuka. "Awh..." lirihnya yang langsung merebut semua perhatian kepadanya.


"Kamu sadar sayang?" tanya Yudha dengan wajah yang berseri.

__ADS_1


"Kalian siapa?" lirihnya. Yudha menatap ke arah Arumi penuh tanya.


Arumi pun memeriksa kondisi Jeana dengan saksama. Ia memeriksanya cukup lama, ia juga mengajukan beberapa pertanyaan ringan, hingga akhirnya ia memberikan vonis terhadap kondisi gadis itu.


"Ia kehilangan ingatannya. Ini adalah reaksi yang umum setelah dilakukannya operasi otak. Kita akan membantunya mendapatkan ingatannya kembali, tetapi secara perlahan." Ny Arumi menepuk pundak Yudha dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan.


"Sayang...?" Yudha membawa gadis itu ke dalam pelukannya dan mulai terisak. Ia membenamkan wajahnya di lekuk leher gadis itu dan menumpah ruahkan seluruh air matanya disana.


"Kau siapa?" tanyanya yang membuat isakan Yudha makin keras.


"Aku suamimu." jawabnya setelah melepas pelukan itu.


"Suami? Aku sudah menikah?" ujarnya polos.


"Jangan menangis." gadis itu mengangkat dagu Yudha yang tertunduk dan mengarahkan tatapan pemuda itu ke arahnya. Ia menghapus air mata Yudha.


"Aku menyayangimu." Yudha menangkup tangan gadis itu di wajahnya.


"Iya.." Jeana mengangguk mantap dan kembali memeluk Yudha. Kali ini lebih hangat dan terasa begitu erat. Mereka larut dalam posisi itu cukup lama. Mereka saling menghirup aroma masing-masing satu sama lain.


"Maafkan aku karena tak mengingatmu." Yudha menggeleng.


"Gak apa-apa, asal kamu sadar dan bisa sembuh dan ceria seperti semula. Kak Yudha gak keberatan." Yudha melepaskan pelukannya. Ia menangkup kedua pipi gadis itu dan mengecupnya bergantian.


"Jadi aku manggil kamu kakak? Apa kita saling mencintai?" tanya gadis itu polos, namun berhasil membuat hati Yudha jadi tersayat.


"Sangat, aku sangat mencintaimu." ia kembali meneteskan air matanya.


Jawaban itu berasal dari lubuk hatinya. Tetapi mengingat semua kenyataannya pada masa lalu, di mana dia selalu menyakiti gadis itu membuat hatinya terasa perih.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku mau kamu menceritakan semua hal tentangku pada masa lalu." Yudha mengangguk. Mereka berdua kembali berpelukan dan saling melepas rindu yang selama ini keduanya tahan.


Jeana, meskipun kepalanya tak mengingat apapun. Tetapi tubuhnya seakan mengarahkannya untuk mempercayai pemuda itu. Hatinya juga mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Yang dia bisa lakukan saat ini hanyalah mengikuti nalurinya untuk terus bersama pemuda itu.


__ADS_2