
"Aku bohong kak. Gak ada schedule apapun hari ini. Semua schedule aku dibatalin karena rumor itu."
Yudha hanya memancingnya. Ia mengajak gadis itu untuk duduk di pangkuannya dan diluar dugaan ia menurut. Ia bahkan menceritakan keluh kesahnya kepada Yudha dan memeluknya.
Ada yang tak biasa. Jantung pemuda itu berdetak begitu cepat seakan ingin keluar dari sarangnya. Apa aku baik-baik saja? batin Yudha.
Logikanya mengatakan untuk mendorong tubuh gadis itu menjauh, tetapi hati dan tubuhnya berkata lain. Tangannya justru malah tergerak naik dan membalas pelukan gadis itu. Ia menepuk-nepuk pundak gadis itu perlahan, berharap jika itu akan sedikit memberinya dorongan.
Aku akan mengakhiri semuanya Je. Penderitaan ini, tidak boleh terjadi lagi. tekadnya.
Mereka melanjutkan adegan romantis itu dengan sarapan bersama dalam keheningan. Mereka seakan larut dalam pikirannya masing-masing.
Jea larut dalam angannya seputar karier yang ia rintis dan rencananya untuk sang ayah. Sedangkan Yudha, ia masih sibuk mencerna perilaku manis gadis itu kepadanya.
Pagi ini selama Yudha bersiap dan pergi mandi. Jea telah mengurus begitu banyak keperluannya. Ia bukan hanya menyiapkan air mandi, mencuci pakaiannya, dan juga menyiapkan sarapan. Ia bahkan juga melayani Yudha di meja makan.
Ia menyendokkan nasi beserta lauk pauk ke piring Yudha. Ia juga menuangkan minuman ke gelasnya. Bahkan ketika Yudha melamun dan tak sengaja menumpahkan kuah sop panas ke tangannya pun Jea yang tampak lebih simpati.
"Awh.." ia lupa, karena saking asyik menatapi wajah gadis itu. Ia menuangkan hampir seluruh isi mangkuk sop ke piringnya. Padahal Jea telah memberinya lebih dari cukup.
"Ya ampun Kak. Kamu mau ambil kuahnya. Kenapa gak bilang? Biar aku bantu " Jea menarik tangan Yudha menjauh dan memintanya berpindah ke kursi sebelahnya.
Ia mengelap bekas tumpahan sop di meja Yudha dan mengganti piringnya dengan piring baru. Ia juga mengambil sebaskom air es untuk mendinginkan tangan Yudha dan mengolesinya dengan salep.
Ini kali pertama Yudha merasakan kehangatan seperti itu. Ia pergi dari rumahnya pada usia yang masih sangat muda. Ia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Tangan kamu kayaknya melepuh Kak. Mau aku suapin aja?" tawar Jea dengan ekspresi wajah yang menunjukkan kekhawatiran.
Yudha menggeleng. Ia merasa salah tingkah dengan sikap manis Jea terhadapnya.
Jika itu dia yang dulu, mungkin ia akan memaki gadis itu dan menolak sikap manisnya. Namun ia yang kini begitu berbeda. Ia seakan kehilangan jati dirinya sejak bertemu dengan gadis itu. Ia berubah menjadi seorang yang lebih lembut dan memiliki perasaan sejak mulai mengenal gadis itu. Mereka berdua akhirnya melanjutkan adegan makan bersama itu dengan situasi yang sangat canggung.
Siang harinya Jea memutuskan untuk menonton drama kesukaannya di televisi ruang tamu. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang tiada henti sejak pagi. Ia tampak lelah dan langsung melempar tubuhnya di kursi empuk itu sambil meraih remote tv.
Sedangkan Yudha, ia hanya menghabiskan waktu di kamar pribadinya bersama setumpuk pekerjaan yang ia putuskan untuk handle dari rumah. Ia belum keluar sejak kejadian canggung di meja makan tadi pagi.
Sebelumnya mereka sarapan disaat hampir siang. Wajar saja memang jika belum ada yang merasa lapar padahal waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Yudha masih begitu asyik dengan telfonnya dan juga berkas di tangannya ketika ia mengintip di balik celah pintu dan mendapati gadis itu tengah tertidur dengan kepala yang tersandar di sofa ruang tamu.
Ia menghampiri Jea bermaksud untuk menyelimuti tubuh gadis itu, namun timing di antara mereka selalu saja tidak tepat. Jea sepertinya terusik dan malah meraih Yudha makin dekat.
Yudha merasa detak jantungnya kembali tidak normal. Tetapi gadis manis itu bisa-bisanya tetap terlihat sangat tenang dan makin nyenyak.
Awalnya ia berpikir bahwa Jea menganggapnya sebagai seseorang. Mungkin saja Aksa, karena itu mungkin jadi kebiasaan rutin mereka selama pernikahan. Tetapi begitu mendengar gadis itu mengigau, pipinya bersemu merah.
Kak Yudha, izinin aku untuk jadi yang terakhir dalam hidup kamu. Jangan pergi Kak! lirihnya dengan mata masih terpejam sempurna.
Yudha pun memutar kembali otaknya dan mengenang masa-masa sebelum pernikahan mereka. Waktu di saat Jea datang dan meminta Arsen untuk menjadi wali nikahnya.
Ia ingat bahwa saat itu Jeana mengatakannya dengan mantap. Ia ingin menjadikannya sebagai satu-satunya lelaki yang hadir dalam hidupnya. Ia bahkan tak lagi mengenang masa-masanya bersama Aksa. Yudha merasakan hatinya benar-benar bahagia dan ia pun membalas pelukan hangat gadis itu dengan mendekapnya.
__ADS_1
Ia melepaskan gandengan tangan Jea dengan perlahan dan memindahkannya ke belakang tubuh Jea. Ia mengalungkan tangannya di bahu Jea dan makin membenamkan gadis itu ke dalam pelukannya.
Ia mengecup kening gadis itu cukup lama, sebelum tangan yang satunya berpindah ke depan tubuh gadis itu dan mulai memeluknya cukup erat.
Yudha ikut terlelap bersama dengan gadis itu sampai malam menjelang. Mereka tampak begitu pulas, hingga bahkan kehadiran Arsen pun tak membuat keduanya tersadar.
"Jika terus seperti ini, bahkan kalian tidak akan menyadari jika ada maling yang masuk." geleng Arsen gemas.
***
Pukul Tujuh Malam, Yudha dan Jeana baru terbangun karena wangi masakan Arsen yang menyeruak di seisi rumah.
Ia memang adalah kakak terbaik yang selalu paham situasi dan kondisi. Ia juga begitu menghargai privasi adik-adiknya dan memilih untuk tidak ikut campur.
Arsen benar-benar memberikan mereka quality time, sementara ia bersiap diri dengan tugas rumah termasuk memasak. Ia adalah koki terbaik yang masakannya tak akan pernah bisa ditolak terutama jika perut sedang lapar.
"Uhuk...Uhuk..." Jea tiba-tiba batuk dan membuat Yudha tersentak bangun dari tidurnya. Ia memeriksa kondisi gadis itu yang ternyata tengah demam.
Tubuhnya menggigil dan ia berkeringat dingin. Ia juga mengigau. Ada ketakutan yang terkubur dalam dirinya yang ia tahan.
"Jangan pergi..Jangan pergi..." lirihnya.
Semakin keras mereka membangunkannya. Maka semakin keras pula igauan gadis itu terdengar. Yudha mengguncang-guncang tubuhnya berulang kali dan makin keras hingga akhirnya gadis itu terbangun, ia melompat masuk ke dalam pelukan Yudha.
Pelukannya makin mengerat dan tubuhnya makin bergetar. "Maafkan aku" lirihnya lagi. "Kumohon jangan pergi."
__ADS_1
Arsen menangis. Alasan gadis itu terguncang adalah lantaran video email yang ia terima dari Raga. Itu adalah rekaman di saat Arsen pergi meninggalkan Kastil Goksel.
Ternyata ia tertidur karena lelah menangis sehabis menonton video itu. Ponselnya terjatuh karena itulah Yudha tidak menyadarinya. Arsenlah yang menemukan ponsel itu dan menontonnya di saat gadis itu sedang terisak.