
“Masih kerasa? Sakit banget ya?” tanya Yudha yang hanya dia jawab dengan gelengan.
“Aku udah gagal nepatin janji itu.” Ujarnya dengan berlinang air mata sambil menopang dahinya di atas tangan Yudha yang sedari tadi dia genggam.
“Aku ngerti kok.” Yudha menepuk pundak gadis itu pelan yang makin membuat Aksa memuncak dan langsung berlari keluar kelas sambil menendang meja begitu keras.
“Suami kamu cemburu.” Bisiknya di telinga Jea, lalu menyibak rambut gadis itu yang mulai berserakan menutupi wajah cantiknya.
“Hubungan kami tidak se-spesial itu.” Jawabnya singkat.
Sebuah pengumuman tiba-tiba saja keluar dari arah speaker yang di pasang di setiap sudut kelas. Semua kelas hari ini di batalkan kerena ada acara mendadak di kalangan para guru.
Sontak pengumuman itu mengundang sorak sorai dari para siswa yang masih berada di dalam kelas masing-masing. Begitupun dengan Yudha. ia langsung menarik tangan Jea dan membawanya ke luar gedung sekolah untuk menuju ke arah halte bus terdekat.
Mereka melakukan reuni setelah perpisahan yang cukup lama. Keduanya memang terbilang cukup dekat sejak kejadian itu. Namun karena perasaan tidak enak hati yang timbul di antara Aksa dan Jea setahun lalu, maka gadis itu pun memutuskan untuk menghentikan komunikasi di antara mereka.
Namun tetap tak ada yang berubah. Keduanya masih sehangat dahulu. Benih cinta yang sempat tumbuh pun seakan kembali bersinar meskipun tak ada yang mencoba untuk mengungkapkannya.
Mereka melakukan reuni ke salah satu panti asuhan yang sering mereka kunjungi. Tempat yang juga menjadi pelarian Yudha dalam setiap masalahnya. Mereka memiliki teman-teman dan saudara yang begitu menyayanginya disana. disana juga ada Adelio, yang menghabiskan sebagian besar waktunya sebagai sukarelawan.
Sejak Tn. Sanjaya membawa Jea keluar dari apartemennya, Adelio mendapat tunjangan lebih yang secara resmi telah dia gunakan untuk berdonasi di panti asuhan itu atas nama adiknya. dia juga bertahan hidup dari uang yang sama dan membaginya secara adil dengan anak-anak panti.
dia juga membuka usaha kafe kecil-kecilan yang ditangani langsung oleh Yudha dan berlokasi di dekat panti. Yudha benar-benar mengobati kegundahannya.
dia bertemu orang-orang yang begitu dia sayangi di satu tempat berkat Yudha. dia telah menggantikannya untuk menjaga dan merawat mereka. Dan lagi, Adelio tidak perlu lagi merasa kecapean jika berada disana. Karena ada begitu banyak orang yang menjaganya.
“terima kasih.” Ujar itu dengan sorot mata berbinar.
“Sakitnya sudah hilang?” tanya Yudha yang dijawabnya dengan anggukan.
Yudha menebaknya dengan benar. Rasa sakit yang dia maksud itu adalah karena rasa rindunya. Karena dia harus menghindari Yudha, secara tidak langsung maka dia juga harus mengorbankan waktunya bersama keluarga kecilnya di panti itu.
__ADS_1
“Abang?” teriaknya histeris dan berlari ke arah Adelio begitu melihat pemuda itu keluar dari bangunan panti dengan celemek yang melekat di tubuhnya.
“Princess abang.” Ujarnya sambil menerima pelukan hangat itu dan mengecup kening adiknya berulang.
“Abang mau ke mana? Kafe?” tanyanya sambil mendongakkan kepala untuk melihat wajah Lio. dia bahkan terlalu enggan untuk melepaskan pelukan itu dari tubuhnya.
“Kaki abang udah baikan kok. Bahkan abang udah bisa lari sekarang. Meskipun kadang masih suka pusing.” Gadis itu menatap lekat sang kakak tanpa mau untuk melepas pelukannya.
“Abangnya siapa sih?” tanya gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Udah dua tahun lo Je. Udah gak ada yang perlu di khawatirin lagi. Abang udah sembuh. Papa kamu nepatin janjinya. Pengobatan abang berjalan lancar. Dan abang bahagia di sini, bersama anak-anak, sambil ngurusin kafe. Ada Yudha juga.” Gadis itu mengangguk, dia menghapus air matanya dan mempererat pelukannya kepada sang kakak.
“Harusnya abang yang nanya sama kamu. Akeno gak apa-apain kamu kan? Dia nepatin janjinya kan?” tanya Lio cemas sambil melepaskan pelukan itu.
“Belum terjadi apa-apa. Kita gak lakuin hal yang aneh-aneh kok. Dia nepatin janjinya. Ini Cuma pernikahan kontrak. Gak ada yang spesial.” Ujar gadis itu meyakinkan.
Tanpa di sengaja kejadian itu ternyata di saksikan langsung oleh Aksa yang ternyata mengikuti Jea dari jauh.
Hari itu waktu seakan berjalan sangat lambat terutama bagi Aksa. dia mengelilingi taman depan kompleks rumahnya sambil terus melamun dan berharap bahwa pujaan hatinya akan tiba dan tersenyum ke arahnya.
Namun matahari begitu kejam kepadanya. Benda itu bahkan tak bergerak sedikit pun.
“Aksa.” Teriak gadis itu membuyarkan lamunannya setelah hampir sehari menunggu.
“Baru pulang?” tanyanya hambar begitu gadis itu sudah berdiri tepat di depannya.
Adegan di luar naskah. Haruskah dia memotong adegan saat ini?
“Kalian datang berdua?” ujarnya begitu melihat kedatangan gadis itu bersama Yudha.
“Ada yang ingin ku bahas sebelum pulang.” Ujar gadisnya dengan nada serius.
__ADS_1
“Apa?” Aksa melirik tajam ke arah Yudha yang langsung diangguki oleh yang bersangkutan.
“Aku tahu, mungkin akan terasa sangat tidak nyaman. Aku pamit. Tugasku hanya mengantarmu.” Lirihnya yang langsung diangguki oleh Jea.
“Hati-hati! Atau Diandra akan membunuhku.” Guyonnya sambil melambai ke arah Yudha, membuat langkah pemuda itu terasa makin berarti. Bibirnya di penuhi dengan senyuman, meskipun kakinya berat untuk melangkah dan meninggalkan gadis itu bersama pria lain.
“Aku pergi.” Ujar Yudha lagi sambil terus melirik ke belakang.
“Berjalanlah dengan benar! Atau kau akan tersandung.” Ujar gadis itu dengan senyumnya yang merekah.
“Kau tidak pernah tersenyum semanis itu kepadaku.” Sela Aksa yang langsung mengalihkan perhatian gadis itu.
“Aksa, aku tahu semua selama ini terasa tidak nyaman terlebih untukmu.”
“Ya?” Aksa tertegun, dia seakan menangkap gelagat aneh dari gadis itu.
Ini bukan adegan dari sebuah drama. Gadis itu tidak akan menyatakan perasaannya kali ini. Karena sorot matanya mengatakan sebaliknya.
“Kabulkan permintaanku untuk terakhir kali.” Ujarnya tanpa berbasa-basi.
“Apa?” jawab Aksa dengan suara bergetar.
“Bawa aku keluar dari rumah itu. Bersama Rayden dan juga Raga. Keadaan mereka sudah lebih baik. Dan perjanjian kita akan segera berakhir. Ulang tahunmu yang ke tujuh belas, tinggal sebentar lagi. Kau bisa mengabulkannya kan?” desak gadis itu yang membuat Aksa kehilangan semua kemampuannya untuk berkata-kata.
“Jea…”lirih pemuda itu serak. Namun gadis itu hanya menatapnya kosong penuh harap.
“Dua tahun ini, apakah artinya bagimu?” ujarnya sedikit terbata, seakan kalimat itu enggan keluar dari bibirnya.
“Aku bahagia, karena bisa mengetahui kebenaran tentang saudaraku. Dan ada di samping mereka pada masa sulit mereka. Semua berjalan sesuai keinginanku, aku sangat bahagia.” Ujar gadis itu dengan mata yang berbinar seakan-akan air matanya akan runtuh, meluap dari pelupuk matanya yang indah.
Mata yang tak pernah bisa membuat Aksa berkedip apalagi menoleh. “Aku tak ingin meninggalkanmu.” Lirih Aksa dengan nada suara yang begitu rendah.
__ADS_1