
"Kak, sebenarnya aku bohong." gadis itu masih asyik bermain dengan rambut Yudha ketika dia tiba-tiba menghentikan tangannya dan menatap tajam ke arah bayangan Yudha di cermin.
"Maksud kamu?" tanya Yudha tak mengerti.
"Aku gak ada interview apapun hari ini. Semua schedule aku dibatalin. Huh..." gadis itu menghembuskan napas kasar. Ada air mata yang sedang berusaha keras ia tahan.
"Je, sini." Yudha menepuk pahanya, ia memberi sinyal agar gadis itu duduk disana.
Entah karena pikirannya yanga sedang kacau. Atau memang karena dia benar-benar menerima status pernikahan mereka, gadis itu menurut. ia bahkan masih memegang Hair dryer dalam keadaan menyala.
"Sini, matiin dahulu." Yudha meraih alat itu dan meletakkannya di atas meja.
"Aku tahu. Aku tahu ini semua pasti berat, tapi kamu sekarang gak sendirian. Kita hadapi bersama-bersama ya?" Yudha mencoba menenangkannya dan meraih kepala gadis itu bersandar di pundaknya.
Mereka kini tengah berada di posisi yang tak biasa. Berpelukan dengan Yudha yang memangku tubuhnya. Itu bukanlah posisi yang nyaman jika kamu tidak benar-benar merasa nyaman dengan orang itu.
Kilas balik di malam sebelum pernikahan..
Yudha nekat membawa Jea pergi secara diam-diam keluar dari kediaman Wirabraja. Ia membawanya ke sebuah restoran yang berada di lantai atas sebuah hotel bintang lima. Suasana malam itu terasa sangat sepi.
Restoran itu sudah di booking, tidak ada orang lain disana. Yang ada hanya dekorasi ruangan super romantis yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Wah, cantiknya. Tempat apa ini Kak?" tanya Jea begitu antusias.
"Kamu memanggilku Kakak?" gadis itu mengangguk.
"Karena kamu bukan lagi abangku. Dan usia kita juga beda jauh. Lebih baik kan dibanding harus manggil Yudha aja atau panggil suamiku atau Mas, pasti geli. Iya gak?" ujar gadis itu menyengir.
"Je, " pemuda itu menyudutkannya di salah satu dinding kaca yang menghadap ke arah pemandangan ibu kota.
__ADS_1
Restoran itu terletak di lantai ke dua puluh dua. Pemandangannya benar-benar cantik. Tetapi jika di sudutkan dengan tubuh membelakangi pemandangan itu bukankah ada perasaan yang sedikit tak biasa.
Aku akan mati jika dia mendorongku sedikit lebih keras. batin gadis itu gugup, namun dia berusaha menyembunyikannya.
"Kenapa menikah dengan orang yang kehadirannya membuatmu terancam?" tanya Yudha mencoba mengintimidasi.
"Karena kau yang memintanya." jawab Jea sekenanya.
"Hanya itu saja?" Yudha tampak tidak puas dengan jawaban gadis itu dan makin mendesaknya mundur hingga tubuh mereka nyaris tanpa jarak.
"Kau tidak memiliki seseorang di sisimu, begitupun aku. Aku yakin bahwa kau tidak akan melamar gadis dalam waktu dekat dan aku juga percaya bahwa pernikahan itu seharusnya hanya sekali. Jadi kurasa ini memang pilihan yang tepat. Setidaknya kau tidak akan pernah menceraikanku karena terlalu asyik bermain denganku."
Gadis itu masih bisa menantang mata Yudha meskipun dengan jawabannya yang sembrono. Ini memanglah kelebihannya yang utama. Tak pernah merasa terintimidasi, meskipun sudah di ambang kematian.
"Siapa bilang aku tidak akan melamar gadis dalam waktu dekat?" jawab Yudha hingga membuat Jea tersedak kalimat nya sendiri.
"Apa-apaan ini? Kalau begitu mengapa mengajakku menikah?" ia mendorong tubuh Yudha dan menetralkan amarahnya yang tak wajar.
"Kau tahu sendiri bahwa itu pernikahan settingan. Bahkan tidak terjadi apa-apa di antara kami yang berhubungan dengan suami istri." ujarnya membela diri. Namun Yudha hanya tersenyum sinis.
"Kalau begitu kenapa juga harus menikahiku?" Jea merasa kesal dan mendorong kasar tubuh Yudha hingga berhenti menghalangi jalannya.
"Kenapa juga mengajakku kemari." gerutunya sambil mengambil langkah besar untuk pergi dari sana dan meninggalkan Yudha. Namun Yudha mencegatnya. Yudha menahan lengan gadis itu dan membalikkan tubuhnya ke posisi semula.
"Aku... aku sudah memikirkan semuanya." Yudha tiba-tiba saja berkata serius dan berlutut di hadapan gadis itu.
"Aku tidak pernah melamarmu dengan benar." dia mengeluarkan sebuah kotak berisikan cincin berlian yang membuat Jea bungkam dan kehabisan kata-kata.
"Kita berdua berbeda. Kita hidup dalam dunia yang penuh dendam dan mencoba berbaur dengan orang-orang biasa. Semakin keras ku berfikir, memang orang gila sepertiku hanya bisa diatasi oleh orang sepertimu. Kau tahu seorang gila untuk orang gila lainnya." mereka berdua terkekeh.
__ADS_1
"Tapi percayalah, aku tak pernah keberatan dengan statusmu pada masa lalu. Apa yang terjadi denganmu pada masa lalu, aku tidak akan mempedulikannya. Asal kau mau terus berada di sampingku dan itu cukup. Hanya kau yang bisa mengatasi kegilaanku selama ini."
"Apa maksudnya itu?" tanya Jea sedikit bingung dengan arah pembicaraan Yudha.
"Aku tak pernah bertahan selama itu dalam menjebak mangsa. Paling lama satu bulan. Dan kau membuatku bertahan di sisimu selama bertahun-tahun tanpa melakukan apapun. Kau juga yang mengajarkanku bagaimana caranya menangis dan dan bagaimana rasanya mencintai. Ku rasa, tak perlu ada yang dipertimbangkan lagi. Maukah kau menjadi satu-satunya orang yang akan mendampingiku di sisa waktuku?"
Gadis itu terpaku. ia butuh waktu untuk menetralkan pikirannya. tetapi Yudha membuyarkan lamunannya dengan memasukkan cincin itu ke jari manisnya tanpa persetujuan gadis itu.
"Apa ini? Aku belum menyetujuinya." gadis itu membelalakkan matanya tetapi jarinya sama sekali tak menolak dan malah mendorong cincin itu makin masuk.
"Hahah..." Yudha terkekeh.
"tetapi jarimu tak menolakku sama sekali." gadis itu tersipu.
"Tapi kenapa aku? Kau tidak bermaksud membunuhku setelah akad bukan?" ledek gadis itu sambil memain-mainkan cincin manis yang baru saja bertengger dijarinya.
"Mungkin, karena aku sudah menunggu waktu itu begitu lama." Yudha berpindah tempat ke samping gadis itu. Mereka berdua duduk di pinggiran jendela itu sambil memandang ke arah luar di mana pemandangan kota terlihat begitu indah.
"Tidak seru." ujar Yudha tiba-tiba.
"Ya?" Jea tersentak, seakan menggambarkan bahwa sedang tak menanti jawaban apapun.
"Awalnya aku menganggapnya tak seru. Jika aku membunuhmu, tak ada yang tersakiti dan itu tidak seru. Jiwa psiko ku seakan meronta dan menolak hal klise seperti itu." jelasnya lagi.
"Tapi makin banyak waktu yang kita habiskan, aku baru tahu apa itu artinya rasa sayang. Aku mulai tergerak untuk melindungimu. Dan beberapa hari yang lalu, aku mendengar dialogmu dengan Arsen. Kau ingin menikah hanya sekali dalam hidupmu. Dan kau akan menanggung semua risiko itu bersamaku. Jujur hatiku menghangat."
Yudha menyelesaikan kalimatnya dengan sangat lancar, seolah itu sudah terskenario dalam benaknya. Ia benar-benar tulus kali ini.
"Aku tulus mengatakannya." ujar Yudha sambil menggenggam tangan dengan hangat.
__ADS_1
Tetapi dialog mereka hanya berlalu sampai di situ. Karena pada saat malam pernikahan, Jea kembali mengumpati dirinya dan mengatakan bahwa semua itu bohong.
"Dasar berengsek! Setelah semua perkataan manismu itu, sekarang kau malah meninggalkanku di malam pernikahan kita. Lihat saja kau Yudha, akan kuhabisi kau dengan tanganku sendiri." ujar gadis itu geram dan menghancurkan kamar pengantinnya sendiri.