Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 34 : Aku Halal untuknya?


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Yudha yang terbangun dari tidurnya lantaran tidak mendapati keberadaan Jea dalam dekapannya. Gadis itu tengah berdiri di balkon kamarnya sambil menatap kearah langit seolah sedang berdialog dengan bintang malam.


"Cuma gak bisa tidur." jawabnya dingin.


"Jangan kebiasaan deh, lupa sama pengalaman lama? Aku gak suka ya, kalau kamu berusaha mancing buaya dengan cara kayak gini " Yudha menarik tangannya sedikit kasar dan menutup pintu teras dengan membantingnya.


"Apaan sih? Tiba-tiba aja sewot." kesal gadis itu sambil menyentak tangannya.


"Lupa, dulu siapa yang mancing aku buat peduli sama kamu? Karena kamu pura-pura jadi cewek malang dan menangis sendirian di balkon. Makanya aku sering datang diam-diam ke kamar kamu." tudingnya dengan nada suara yang dibuat meninggi, khas seorang yang sedang kesal.


"Trus maksud kamu, aku lakuin itu buat godain kamu?" bentaknya tak terima.


"Bukan, tetapi aku yang terpikat sama kamu." menyadari sikapnya salah, Yudha langsung memilih mengalah dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Tatapan kamu sama bintang bikin aku cemburu. Kamu seakan mencurahkan segala keluh kesah kamu sama mereka, tetapi gak pernah terbuka sama siapa pun. Hatiku terluka, karena kamu menanggungnya sendirian." ujarnya.


"Kamu gak sentuh aku?" tanya Jea tiba-tiba hingga membuat Yudha melepaskan pelukannya.


"Aku bingung. Aku nyalahin diri aku sendiri. Kamu bilang mau aku nuntasin kewajiban aku sebagai istri, tetapi kamu bersikap seolah tak tertarik. Dan semua perhatian itu, aku cuma merasa seperti seorang adik kayak biasanya. Bukan istri kamu. Apa kamu nikahin aku cuma karena kasihan atau dendam?" Yudha terdiam. Ia memaku di tempatnya.


"Aku bukannya mau kamu macam-macam dan berfikiran kotor. Aku gak maksud mikir yang aneh-aneh apalagi karena pernikahan kita gak wajar, tapi.." lidahnya tercekat.


"Tapi apa?" tanya Yudha gugup.


"Mereka bilang, kalau laki-laki itu gampang tergoda. Apalagi kalau ada kesempatan bersama perempuan. Dulu dia juga bilang gitu, mau hargain aku dan gak nyentuh aku. Tetapi justru karena aku istrinya, kenapa dia malah nyentuh wanita lain? Dan itu di depanku. Sekarang kamu juga sama. Apa aku gak menarik?"

__ADS_1


Yudha menarik napas panjang dan berusaha menetralkan pikirannya sebelum menjawab.


"Kalau maksud kamu itu Aksa, dia justru ngehormatin kamu dengan nunggu kesempatan itu sampai hubungan kalian resmi. Dia jaga harga diri kamu Je." Jea tiba-tiba saja merasakan perasaan bersalah karena harus membahas lelaki lain di depan suaminya. Apalagi ekspresi Yudha tampak sedang tidak baik saat ini.


Apakah dia terluka? Karena pernyataanku. terkanya.


"Aku..." Yudha lagi menghembuskan napas panjang. Membuat pikiran Jea melalang buana memikirkan jawaban terburuk.


"Aku nunggu kamu nerima aku. Aku percaya waktu kamu bilang gak cemburuin Aksa. Tapi aku juga terluka waktu kamu bilang soal tanggung jawab sebagai istri."


"Maksudnya?" tanya gadis itu tak mengerti.


"Belum pernah ada gadis yang masuk dalam hidup aku. Dan aku gak suka manfaatin mereka cuma demi kepuasanku. Apalagi tentang sesuatu yang berhubungan dengan imbalan berupa uang ataupun tanggung jawab."


Yudha melangkah maju dan makin mengikis jaraknya dengan Jea. Ia bisa merasakan deru napas gadis itu yang terdengar sangat kencang saat ini.


"Aku tahu, kamu sedang ada di usia di mana status dan hubungan itu begitu penting. Pengakuan, tetapi semua hal tak seharusnya mengarah kesana. Kamu belum pernah jatuh cinta Je,..." gadis itu hendak menjawab namun Yudha kembali memotongnya.


"Belum sekalipun. Aku bisa pastikan itu. Kamu hanya memedulikan egomu dan berusaha memuaskan itu. Aku tahu egomu terluka karena pernyataan Alicya. Tapi percayalah seorang gadis yang bisa menjaga kehormatannya adalah yang terbaik dari semua gadis yang ada. Dan lelaki yang bisa begitu kokoh menjaga kehormatan gadisnya, itu adalah cinta yang sesungguhnya." Yudha membelai lembut kepala gadis itu dan membimbingnya berjalan menuju ke tempat tidur mereka.


"Jangan banyak pikiran. Apalagi buat hal yang gak perlu. S*x itu tak selalu tentang nafsu atau kewajibanmu sebagai istri. Meskipun kamu memang memiliki hak dan kewajiban atasnya. Itu adalah saat yang paling dalam untuk menerima seseorang."


"Cinta." Gadis itu terdiam dengan tatapan penuh tanya.


"Lakukan dengan cinta dan kamu akan tahu seberapa berartinya itu."

__ADS_1


Yudha membawa gadis itu kembali ke dalam pelukannya dan tidur dengan nyaman dengan berbantalkan lengannya. Ritual harian yang selalu mereka lakukan sejak menikah.


Bohong jika Yudha tidak terpancing. Mau bagaimana juga dia adalah lelaki normal. Dan Jea juga adalah seorang gadis yang sangat cantik. Tubuhnya juga sangat bagus dan berhasil mengganggu imannya.


Tetapi dia begitu mencintainya. Ia tidak mau jika gadis itu akan menyesalinya nanti karena melakukannya tanpa cinta.


Keterpaksaan adalah hal yang paling ia benci. Apalagi karena itu adalah hal yang merenggut kakaknya darinya. Paksaan dan kehormatan yang direnggut.


Andaikan dahulu ia melakukannya dengan seorang yang sangat ia cintai dan tanpa paksaan. Yudha yakin betul kakaknya pasti tidak akan pernah menyesalinya sekalipun itu adalah kesalahan. Dan itulah yang dia jaga dari Jea saat ini.


"Tunggu sampai kau mencintaiku. Barulah aku takkan pernah melepaskanmu seumur hidupku." bisiknya di telinga gadis itu sebelum mengajaknya untuk kembali tidur.


Sial! Kau bahkan bukan J*l**g\, mengapa meminta hal aneh seperti itu. Dasar Alicya sialan\, aku benar-benar terpancing olehnya. gerutu gadis itu membatin.


Gadis itu makin masuk dan menyuruk dalam pelukan Yudha. Ia membenamkan wajahnya di dada Yudha dan tertidur sambil mendengarkan alunan detak jantung Yudha yang terdengar merdu di telinganya.


"Kata orang, hubungan yang lebih akan membawamu makin dekat dengan cinta. Jika ingin ia mencintaimu, maka tidurlah dengannya. Aku tidur dengannya Kak. Tetapi aku takkan menyentuhnya sampai ia mencintaiku." dialognya sambil menatap ke arah foto kakaknya yang sengaja dipajang Jea di salah satu dinding kamar mereka.


"Aku ingin ia terikat denganku selamanya. Ini salah satu strategiku. Aku halal untuknya, dan dengan tidur sambil memeluknya dan menatap wajah manisnya seperti ini, akankah aku bisa membuatnya candu dan tak bisa jauh dariku. Setidaknya orang bilang bahwa terbiasa adalah awal dari cinta."


ia menyudahi dialognya dengan sang kakak dan meraih remote yang berada di belakang Jea dengan mempererat pelukannya. Ia mematikan semua lampu dan tidak melonggarkan pelukan itu.


Ia hanya menghirup aroma gadis itu dalam-dalam dan mencoba menerobos masuk ke dalam alam mimpinya.


Mimpi indah sayang. Aku ada di sini untuk berjaga-jaga jika ternyata mimpi buruklah yang akan mendatangimu. Aku akan menangkis mimpi itu darimu.

__ADS_1


Dan benar saja, karena Arsen menemukan mereka tidur dalam keadaan saling tersenyum satu sama lain.


"Aish sial! Bisakah kalian mengunci pintunya agar aku tidak terus tergoda untuk masuk dan akhirnya larut dalam perasaan iri." gerutunya.


__ADS_2