
“Abang..” lirih Jea ketika dia terbangun keesokan paginya.
Tangannya terasa kebas, ada seseorang yang menghimpit lengannya. Orang itu tampak begitu pulas, dengan arah pandangan yang tertuju kepadanya. Ia menggunakan lengannya sendiri untuk tidur. Tetapi karena orang itu menggenggam tangannya, Jea merasa tangannya ikut merasa kebas. Dan tubuhnya juga masih terasa lemas, hingga dia tidak memiliki kekuatan untuk meski untuk sekadar menarik tangannya sendiri.
“Abang..” lirihnya lagi. Dan kali ini, dia sukses membuat pemuda itu terbangun.
“Kau sudah sadar?” ujar Yudha yang yang masih berusaha keras untuk membuka matanya.
Ia merasa sangat letih, semalaman dia menunggui gadis itu dengan terus berusaha terjaga. dia takut jika gadis itu mungkin akan membutuhkan sesuatu ketika dia tersadar nanti.
“Tangan abang di infus? Abang kenapa?” ujar Jea yang sama sekali tidak tahu bahwa keadaan Yudha juga sempat memburuk sama sepertinya.
“Oh ya, kau..” Yudha langsung menghentikan kalimatnya begitu teringat dengan kejadian kemarin di mana Jea jatuh pingsan sebelum kebocoran gas itu terjadi.
“Abang gak apa-apa. Ini Cuma kebetulan ada di sini.” Yudha langsung menghentikan kalimatnya begitu melihat selang infus itu ternyata sudah terlepas dari tangannya.
Sepertinya ada yang melepasnya semalam, ketika aku tertidur. Batinnya.
Ia pun mendorong tiang infus itu menjauh. Ia juga melihat bahwa masker yang semalam terpasang di wajah Jea juga sudah terbuka. Entah memang ada yang melepasnya, atau gadis itu sendiri yang melepasnya ketika sadar. tetapi berhubung kondisinya yang sedang tidak baik, dia pasti tidak akan mempertanyakan yang aneh-aneh bukan? dialognya seorang diri.
“Bang, kepala Jea sakit.” Ujar gadis itu memegangi kepalanya sambil mencoba untuk bangun.
“Kalau sakit, yaudah tidur aja! kenapa harus bangun segala.” Yudha membalasnya sewot, dengan segala macam ekspresi kesal di wajahnya. Namun di samping itu, tangannya justru malah meresponse secara berbeda. Tangannya justru malah bergerak untuk menekan tombol pertolongan darurat yang ada di samping nakas pasien.
“Itu karena kamu bertindak bodoh dan melukai diri kamu sendiri. Kelihatannya aja nyeremin dan sok keren ala psiko-psiko di dalam drama. Tapi pada kenyataannya kamu malah lebih lemah dari kelihatannya. Masa iya langsung pingsan cuma dalam beberapa menit?” ejeknya sambil merapikan selimut gadis itu sembari menunggu dokter datang.
“Hai, Jea apa kabarnya hari ini?” tanya Tuan Sandia yang langsung turun tangan sendiri untuk mengecek kondisi Jea.
__ADS_1
“Pusing tuh katanya. Lagi pula kenapa Papa yang datang? Kata Mama kalian para dokter cuma bekerja sesuai keahlian masing-masing. Papa kan dokter bedah, kenapa gak suruh dokter umum aja yang kesini, atau malah dokter saraf aja sekalian biar ngecek nih cewek waras apa enggak.” Yudha berjalan kembali ke arah sofa dan langsung melompat ke atasnya seakan itu adalah ranjang paling empuk yang tengah dia rindukan.
“Dasar anak sotoy! Jangan berlaga memakai topeng, kalau pada kenyataannya topeng itu sama sekali tidak muat di kepala kamu.” Sindir Tuan Sandia ketika melihat tindakan absurd Yudha.
“Ngomong apa sih?”
“Kamu itu sok cuek, padahal semalaman juga kamu yang nangis-nangis minta si cantik ini di tolong. Pakai suruh Papa operasi dia segala. Kamu tahu tidak, otak kamu tuh yang harusnya di operasi.”
Pernyataan tidak langsung dari Dokter Sandia itu secara tidak langsung sudah menampar ego Yudha dan menjatuhkannya di hadapan Jea. Namun melihat gadis itu malah menanggapinya dengan tersenyum, hatinya malah berubah menjadi hangat.
“Dia yang harus di operasi otak, biar waras dan gak ambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah.” Jawabnya ketus dan langsung memejamkan mata untuk menebus semua perasaan kantuk yang dia tahan semalaman.
****
Yudha baru bangun di saat menjelang sore. dia melihat ke sekelilingnya dan tidak mendapati keberadaan gadis itu dimanapun. Posisi tubuhnya yang sebelumnya tidur sembarangan, kini sudah menjadi lebih baik.
“Abang udah bangun? Udah hampir malam, makan dulu, yuk? ” sapa sesosok gadis manis yang baru saja muncul dari balik pintu dengan sebuah troli dorong berisi penuh makanan di tangannya.
Yudha berubah sewot ketika melihat di tangan gadis itu masih tertancap infus yang hampir saja kosong. Ia langsung merebut paksa troli itu dari tangannya dan menarik gadis itu untuk duduk kembali di tempat tidurnya.
“Diam di sini!” titahnya.
Ia pun berlari keluar untuk mencari seorang perawat yang sedang berkeliaran di sekitar sana dan langsung menarik paksa salah satu dari mereka untuk masuk. “Suster, itu.” Ujarnya gagap.
Dia hanya menunjuk ke arah botol infusan yang sudah hampir kosong, tanpa mengatakan apapun. Untung saja, suster itu mengerti maksudnya dengan baik.
Sementara sang suster melepaskan selang infusan itu dari tangan Jea, Yudha tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Sepertinya ada masalah serius yang sedang dia tangani. Gadis itu menatapnya dengan raut wajah sedikit khawatir.
__ADS_1
“Apa ada masalah?” tanya gadis itu begitu matanya beradu tatap dengan si pemuda tampan berwajah gusar di depannya.
“Oh, nggak. Aku…” jawabnya gugup.
Ia pun langsung menyimpan ponsel tersebut di dalam sakunya dan mengikuti Jea untuk duduk di sampingnya. Di tempat tidur yang sama. Jea terlihat kikuk dengan posisi mereka yang sedekat itu, begitupun Yudha.
Suster yang berada di depan mereka hanya bisa tersenyum gemas melihat tingah keduanya dan langsung menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
“Kalau begitu saya permisi dulu.” Ujar si suster pamit meninggalkan mereka.
“Apa dia baik-baik saja. Infusnya tidak perlu di tambah? Bagaimana dengan lukanya? dia masih tampak begitu pucat, apa tidak apa-apa jika dipulangkan sekarang?” ujar Yudha yang memberondong suster itu dengan begitu banyak pertanyaan.
“Kondisinya sudah jauh lebih baik. Menurut Dokter Sandia, ada baiknya jika dia saja yang meneruskan perawatan Nona di rumah. Besok pagi, akan ada anggota Tuan yang akan menjemput Tuan dan Nona Muda untuk kembali ke rumah. Kalau begitu saya permisi.” Suster itu mengangguk sopan.
Sepertinya dia tahu persis, bahwa Yudha adalah putra tunggal pewaris Wirabraja yang sedang hangat menjadi buah bibir di rumah sakit itu. dia menunjukkan rasa hormatnya dengan sedikit membungkuk ke arah Yudha dan memberi salam saat keluar.
“Apa benar baik-baik saja?” Yudha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa kikuk sendiri setelah beberapa waktu yang lalu gadis itu menghilang dari pandangannya.
“Kau ke mana saja?” tanyanya saat menyadari gadis itu menatapinya sejak tadi.
“Aku lapar, aku bermaksud untuk pergi ke kantin rumah sakit. tetapi seseorang dari ruangan ayahmu mencegatku dan memberikanku troli ini. Sepertinya mereka mengawasi kita. Karena mereka tiba-tiba saja datang ketika aku baru keluar dari ruangan ini.” Jawab gadis itu polos, yang langsung di angguki oleh Yudha.
Sebenarnya, bukan Tuan Sandia. tetapi pemuda itulah yang meminta beberapa pengawal untuk mengawasi Jea selagi dia tertidur. Jujur di dalam lubuk hatinya, dia masih merasa sangat takut karena insiden yang menimpa gadis itu sebelumnya.
Ia pasti tengah merasa bingung saat ini. Terlebih karena semua orang yang menyakitinya adalah orang-orang yang begitu dia percayai sebelumnya.
“Ayo, kita makan. Aku juga sudah merasa sangat lapar.” Yudha menarik troli makanan itu mendekat dan kembali ke posisinya sebelumnya. Ia duduk di hadapan Jea di atas tempat tidur yang sama. Tidak bisa di bayangkan betapa kerasnya detak jantung mereka berdua saat ini.
__ADS_1