
"Yudha, Jeana buka pintunya!" gertak Angela dari arah luar.
Pintu benar-benar terkunci rapat. Yudha menguncinya saat Jeana masuk. Arsen dan Ryan pun memutuskan untuk merusak pintu dengan menggergajinya dari arah luar. Mereka memotong tepat di lubang pintu. Mereka tak bisa mendobraknya karena takut ada seseorang yang berada di balik pintu.
Kamar itu memang memiliki balkon, tapi Yudha mendesainnya agar tak bisa diakses dari luar. Kamar mereka berada di lantai tiga. Dan itu adalah satu-satunya balkon di rumah besar itu. Tak ada jalan masuk selai merusak pintu.
Semua orang benar-benar takut karena kondisi Yudha yang sedang lemah dan juga emosi Jeana yang sedang tidak stabil.
Butuh waktu sekitar lima belas menit agar pintu itu terbuka. Dan benar saja, Jeana pingsan tepat di belakang pintu. Ada kepulan asap yang membuat semua orang kesulitan bernafas. Arsen berinisiatif untuk menghidupkan kipas angin dan juga ac disana. Ia membuka pintu balkon lebar-lebar.
Yudha tengah tersandar di salah satu nakas di kamar mereka. Di kepalanya ada darah segar yang masih mengalir. Jeana juga tak sadarkan diri dengan nampan yang berada tak jauh darinya. Pecahan piring dan juga tumpahan makanan bertebaran di sekitar sana.
"Siapa yang melakukan ini?" ujar Ryan geram.
Hanya Jason yang tak berada di rumah.
***
"Jeana, bangun Je." lirih Ryan di telinga gadis itu.
Sejak kedekatannya dengan Rana, hatinya berubah menjadi lebih hangat. Dan ia pun kembali kepada sisi ketika ia masih menjadi Adelio. Apalagi kini kakaknya bersamanya, ia memiliki support yang sangat kuat untuk lebih maju.
Ia kini mengelola kafe yang sudah memiliki cabang hampir di setiap kota. Ia cukup sibuk, tapi selalu memiliki waktu untuk membantu Jeana mengurus Yudha di rumah.
Namun sebaliknya Jasonlah yang mengalami perubahan yang sangat significant. Ia lebih jarang di rumah. Sejak awal ia memang memlilih untuk tak melanjutkan study masternya berbeda dengan Jeana. Ia juga tak memiliki pekerjaan dan sering keluar hingga larut malam.
Bahkan selama tiga hari dalam seminggu ia tak pernah pulang dan menginap di tempat lain, entah itu dimana. Hanya ada Arsen dan juga Ryan disana. Ny Angela, seperti biasanya hanya pulang untuk memeriksa kondisi Yudha.
"Jeana bangun sayang." timpa Angela sambil mengusap wajah gadis itu yang dipenuhi keringat dingin.
__ADS_1
"Ma, tinggalin aku sendiri." lirihnya ketika sadar.
"Apa yang terjadi sayang. Kalian kenapa bisa seperti ini?" tanya Angela khawatir. Ia membantu Jeana untuk duduk dan membenarkan posisi bantal di belakang kepalanya agar ia cukup nyaman.
"Mama sama abang, Jea mohon tinggalin Jeana sendirian disini sama Kak Yudha." ujarnya meninggi dengan air mata yang perlahan jatuh seolah telah lama ia tahan.
Mereka pun menurut. Mereka meninggalkan kedua pasangan itu dan memberikan mereka waktu. Jeana menarik tangan Yudha untuk bangun dan menatapnya tajam. Yudha pun membuka matanya dan mengangkat tubuh Jeana ke kursi roda.
"Ikut aku! Aku akan jelaskan semuanya." ujarnya, Jeana terpaksa menurut.
Yudha membawa Jeana ke arah kamar mandi. Yudha sengaja membawanya ke ruangan itu, karena posisi pintu yang sudah di rusak. Ia tidak mau mengambil resiko rencananya terbongkar, sama seperti pagi ini.
Mereka masuk ke ruangan ganti yang berada di samping kamar mandi. Ada pintu rahasia disana. Itu adalah ruang kendali rahasia milik Yudha. Ia mengurus perusahaan dan markas gelapnya dari sana.
"Bukan Diandra Je, tapi Rayden." Yudha menghentikan kursi roda itu dan memutarnya menghadap ke arah meja komputernya yang ia buat sepanjang ruangan. Tempat itu mengarah langsung ke menara kontrol.
"Aku tahu semua. Dia sengaja menyingkirkan Alicya, karena Raga membocorkan rencananya. Alicya adalah kelemahan Raga, karena itu ia menyakitimu. Tapi Raga dan Diandra adalah boneka yang dimainkan Rayden. Mereka tak boleh disingkirkan apalagi membuat kesalahan." jelasnya membuat Jeana terdiam.
"Kamu salah sasaran Je. Ayahmu mengendalikannya sejak awal. Itulah alasan kenapa hanya Rayden yang harus tinggal. Ia butuh kamu untuk menjadi ratu bonekanya. Kamu cerdas, ia merencanakan mu untuk memimpin perusahaan.
Sedangkan Rayden, jiwanya bebas, ia sangat buas. Surya butuh seorang yang tak memiliki welas asih sebagai pendukung utamanya. Kamu memulainya dari titik yang salah Jeana."
"Jadi Kak Yudha tahu aku anaknya Surya?" tanya Jeana gemetar.
"Kak Yudha tahu aku adalah anak dan juga adik dari orang-orang yang menyingkirkan kakakmu. Terus kenapa Kak Yudha malah menjagaku? Apa kakak mau menjadikanku alat untuk balas dendam?" nada suaranya meninggi dan terdengar sangat bergetar seolah ia tengah menahan tangisnya untuk keluar.
"Aku mencintaimu Je. Aku tahu kamu adalah senjata paling ampuh untuk menyakiti Surya. Tapi aku sudah mengikuti mu sejak awal. Aku tahu kamu berbeda, kamu bukan bagian dari mereka. Menjadi darah daging seorang penjahat tak akan menjadikanmu sebagai penjahat juga Jeana.
Bang Ryan yang memberikanmu cinta dan mengubah mu menjadi seorang gadis berhati malaikat sama seperti ibumu.
__ADS_1
Sedangkan Diandra, Ibunya adalah seorang yang baik, dia menjaga putrinya dengan baik. Surya membiarkan ibunya untuk membesarkan Diandra. Ia hanya mengendalikan para putranya Je. Ia lengah dengan kedua putrinya.
Aku bisa pastikan kalau kalian berdua berbeda. Kalian bukanlah iblis seperti Surya. Jadi, kumohon bantu aku. Cukup dengan bertahan di sisiku dan izinkan aku melindungi mu."
Jea tersentak. Tubuhnya semakin gemetar, ia seakan kehilangan semua tenaganya untuk kuat. Selama ini ia telah bersandiwara terlalu jauh.
Ia paham bagaimana perasaan Diandra saat ini. Betapa menyakitkannya menjadi dia selama ini.
Seorang baik yang berpura-pura menjadi orang jahat, itu adalah hukuman terberat yang ia jalani selama hidupnya. Ia benar-benar kehilangan akal.
Semua rencana yang disusunnya selama ini, ternyata hanya menjadi bumbu pelengkap dari permainan Yudha. Seorang yang amat dicintainya.
"Aku menyakitimu. Aku menyakiti mereka. Aku membohongi semua." ujarnya histeris.
Ia menutup kedua telinganya dan menolak semua yang dikatakan Yudha. Ia hanya menangis dan menangis hingga kehabisan tenaga.
Yudha tahu itu. Ia paham persis bahwa gadis itu begitu lemah. Ia hanya selalu berpura-pura kuat. Menjadi lebih dewasa dibanding usianya, itu adalah hal paling berat yang mungkin ia tanggung.
Gadis itu merasa malu. Ia benar-benar seperti seorang bocah yang ditipu dengan menggunakan mainan. Ia selama ini hanya bermain perang-perangan dengan senjata mainan. Ia tak pernah tahu dengan kekuatan yang dimilikinya.
"Je, tenanglah! Aku hanya ingin melindungi mu dari iblis itu, kumohon percayalah." bujuk Yudha, namun gadis itu terus menutupi kedua telinganya.
"Semua boneka yang kamu mainkan sejak kamu kecil itu adalah pemberian Mamaku Je. Semua boneka yang selalu kamu jaga sebagai pengganti Bang Lio, itu adalah hal kecil yang dilakukan Mamaku untuk menebus kesalahannya."
Jea menatapnya nanar. Ia memang selalu menyukai boneka. Adelio selalu memberikannya satu boneka manis setiap tahun bahkan sampai saat ini.
Kediaman Wirabraja juga dipenuhi dengan boneka, tapi mereka beralasan bahwa itu adalah milik mendiang Kakaknya Yudha. Boneka itu berisi alat penyadap dan Jea tahu itu. Karena itulah ia selalu bersandiwara selama hidupnya.
Ia diawasi. Hanya itu yang tahu. Ia tak tahu bahwa sebenarnya orang itu begitu dekat.
__ADS_1