
“Halo Kak Yudha. Aku udah coba cari Jeana kemana-mana, tapi gak ada yang tahu dia dimana.” Diandra bergegas menelfon Yudha ketika ia sudah mendapatkan posisi yang aman di depan ruangan pribadi Jeana.
“Tapi Kak, Ruangan Jeana kekunci dari dalam. Aku udah gedor-gedor gak ada yang buka. Aku pikir gak ada orang di dalam, tapi Anehnya aku bisa dengar jelas dering ponsel Jeana dari dalam sana.” Ujarnya gusar.
Kebetulan sekali, Yudha juga sedang berada di dalam gedung yang sama. Ia baru saja tiba disana untuk mencari keberadaan sang istrinya
bersama Aini dan juga Arsen.
Mereka sudah menyisir semua tempat dari gedung empat lantai itu namun tak kunjung menemukan petunjuk.
Mereka memang sengaja melewati ruangan pribadi Jeana karena menurut Aini, ia sudah menguncinya sejak kemarin. Tidak ada yang memiliki kunci ruangan itu selain dirinya. Jadi tidak mungkin Jea berada disana.
Tapi petunjuk dari Diandra mengatakan bahwa gadis itu berada disana. Mereka bertiga langsung bergegas menuju ruangan gadis itu yang berada di lantai atas.
Mereka menemukan Diandra yang nampak panik dengan beberapa staf keamanan yang tengah mencoba untuk membobol pintu itu.
“Kak Yudha. Aku udah telfonin berkali-kali dan benar, suaranya dari dalam. Tapi dia gak nyahut sama sekali.”
Diandra berhasil melakukan perannya dan membuat ketiga orang itu panik. Untung saja, hanya dalam hitungan detik setelah itu, para petugas itu berhasil untuk membuka pintu secara paksa.
Diandra terus menerus mendial nomor Jeana dan menyusuri arah suara yang berasal dari kamar mandi.
“Kamu udah periksa Kamar Mandinya sebelum ngunci pintu?” tanya Arsen yang langsung digelengi oleh Aini.
“Aylana bilang mau pulang duluan, dan aku gak lihat dia pergi. Aku habis dari luar, buat ambil semua barang di ruang sebelah. Aku emang gak sempat cek toiletnya.” Ujar gadis itu merasa bersalah.
Diandra tersenyum licik. Untung saja ia meletakkan kamera tersembunyi di depan ruangan itu untuk terus mengawasi pergerakan gadis bodoh itu.
Ia jadi tahu persis bagaimana kebiasaannya dan seberapa lalainya ia soal keamanan Jeana. Ia merencanakannya dengan sempurna sebelum memberikan skenario itu kepada Jea.
Ia juga sudah menguhubungi anak buahnya untuk merekayasa rekaman cctv dan menghapus keberadaan Jeana yang keluar masuk ruangan itu sejak kemarin. Ia jugalah yang menduplikasi kunci utama agar memudahkan gadis itu untuk melancarkan rencananya.
“Ya ampun, kamu itu kenapa bisa seteledor itu sih?” bentak Arsen yang langsung meninggalkannya untuk mengekor Yudha menuju kamar mandi.
__ADS_1
Pintu kamar mandi itu juga terkunci. Tapi nada dering ponsel Jeana masih terdengar dan begitu nyaring dari arah luar. Karena itu adalah area penuh privasi, maka Yudha memutuskan untuk membobolnya sendiri dengan keterampilan yang ia punya.
Pekerjaannya terlihat sangat cepat dan begitu rapih. Ia berhasil membuka pintu hanya dalam hitungan menit. Berbeda dari para staff
keamanan yang membutuhkan waktu hampir satu jam.
“Jea!” pekiknya ketika menemukan gadis itu jatuh pingsan di dekat pintu kamar mandi. Ia jatuh dengan posisi kaki yang tersangkut di dekat keset kamar mandi.
Benar saja, mereka semua sepakat bahwa gadis itu tak sengaja terpeleset saat hendak keluar dari kamar mandi. Ada pendarahan kecil di sekitar kakinya.
Beberapa dari mereka mengira bahwa gadis itu tengah mengalami menstruasi. Namun tidak dengan Diandra. Ia yakin persis bahwa periode
gadis itu tidak berlangsung hari ini.
Ia menduga sesuatu dan berfikir telah melakukan kesalahan. Ia mengecek kondisi Jea dan benar saja, ia tidak sadarkan diri. Keraguannya memuncak, ia tidak mungkin pingsan jika hanya terjatuh seperti itu.
Diandra pun berubah agresif dan meminta Yudha untuk segera membawanya ke rumah sakit.
****
Sesampainya di rumah sakit, Yudha langsung memutuskan untuk membawanya ke ruangan pribadi sang ibu. Ia tidak pernah tenang jika orang lain yang menangani istrinya.
“Kau keterlaluan Yud.” Ujar sang ibu terlihat panik. “Ia baru saja kehilangan bayinya.”
Yudha terhuyung. Ia kehilangan tenaganya dan jatuh lemas di hadapan sang ibu. Kondisi Jeana kritis, ia tengah mengandung selama lima minggu dan langsung kehilangan bayinya dalam kondisi tak terduga.
Tidak ada yang mengetahui perihal kehamilannya termasuk Jeana sendiri. Bahkan Diandra pun sampai kehilangan kata-kata dan menerima amukan Rana begitu gadis itu sampai di rumah sakit yang sama.
“Apa kau sudah gila! Kau sengaja mencelakainya? “bentak Rana yang langsung menariknya ke suatu tempat yang sangat sepi.
“Aku tidak tahu jika ia mengandung. Ia hanya memintaku menyusun rencana. Ia memintaku menjegalnya agar ia terjatuh secara alami di kamar mandi itu. Aku tidak tahu tentang hal lain.” Bantah gadis itu membuatnya semakin frustasi.
“Astaga Jeana, sampai kapan kau akan membahayakan dirimu sendiri untuk rencanamu.” Umpatnya.
__ADS_1
“Jadi bagaimana?” tanya Diandra yang juga sudah kehabisa akal.
“Mungkin dia juga tidak menyangkanya. Hubungannya dengan Yudha memang membaik. Tapi siapa sangka jika ia akan mengandung secepat ini. Ini semua memang diluar dugaan.” Sanggah Rana mencoba menenangkan diri.
“Sekarang, tugasmu jaga jangan sampai rencana kita ketahuan. Urusan Jeana, aku yakin ia akan bisa menerimanya. Ia selalu berfikiran jernih di banding kita semua.”
Jeana tidak sadarkan diri selama tiga hari. Selama itu pula Yudha terus menemaninya tanpa henti.
Ia terus memandangi wajah istrinya yang terlihat letih. Ia merasa bersalah karena sudah bersikap lengah dalam beberapa waktu terakhir.
Ia baru memahaminya. Perubahan sikap gadis itu terjadi karena hormon kehamilannya. Dan bodohnya ia malah menyerah dengan gadis itu.
Entah apa yang akan ia sampaikan setelah gadis itu sadar nanti. Ia benar-benar merasa gagal dalam menjaga istrinya itu.
"Kak Yudha tanganku keram." lirih gadis itu ketika bangun.
Ia merasakan keram pada pergelangan tangannya karena posisi tangan Yudha terus-terusan menggenggamnya selama beberapa hari terakhir.
"Aku kenapa Kak?" Jea mencoba untuk bangun, namun Yudha mencegahnya.
"Kamu hamil Je." jawab Yudha yang membuat gadis itu membeku.
"Tapi kita baru saja kehilangannya. Aku lalai Je, aku minta maaf." isak Yudha terdengar putus asa.
Jeana masih belum menunjukkan ekspresi apapun. Ia hanya terdiam dan membeku di tempatnya.
Sebenarnya ia sudah mengetahuinya, bahwa dirinya tengah mengandung. Tapi ia tidak bisa mengambil resiko ketika menjalankan semua rencananya. Ia tidak boleh memiliki kelemahan, sekalipun itu adalah darah dagingnya sendiri.
Ia terpaksa mengusir pergi nyawa yang bahkan belum tumbuh itu. Ia terpaksa memisahkannya dari dalam dirinya. Itu semua ia lakukan demi keputusan terbaik.
Tapi atas dasar apapun, tetap saja ia adalah seorang wanita. Ia memiliki naluri seorang ibu dan hatinya sakit untuk itu.
Ia menangis tanpa suara di sekitar Yudha. Ia tahu betapa sakitnya itu untuk suaminya. Tapi ia juga harus meneruskan sandiwaranya.
__ADS_1