Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 39 : Ketergantungan terhadap Yudha


__ADS_3

Gadis itu tertidur dengan begitu lelapnya. Deru nafasnya terdengar berat hingga membuat Yudha merasa begitu khawatir dan enggan untuk menutup matanya. Ia hanya menatapi gadis itu semalaman. Menatap wajahnya yang pucat dan tampak lesu. Berbeda dari biasanya, di mana ia selalu menunjukkan senyumnya meskipun hanya sebatas kepalsuan.


"Aku akan menjagamu mulai sekarang. Aku akan menebus semua waktu yang ku buang untuk menyakitimu dan menggantinya dengan kebahagiaan mulai sekarang." lirihnya sambil merapikan helaian rambut gadis itu yang berserakan menutupi wajah cantiknya.


Jeana memang sudah banyak mengubah Yudha. Ia benar-benar meluluhkan kekejaman hati Yudha. Awalnya ia hanya mengulur niat jahat Yudha untuk menyakitinya. Setahun, dua tahun, hingga kini bahkan ia belum melakukan apapun.


Setelahnya ia membuat Yudha bingung dengan menghadirkan pemuda itu sebagai orang ketiga diantaranya dan Aksa. Ia menjadikan dirinya sebagai pahlawan untuk semua masa kelam Yudha. Hingga mereka saling terbiasa untuk bersama dan saling mendukung rencana masing-masing.


Terakhir ia membuat Yudha ragu dan mulai berpikir tentang cinta. Dan kemarin ketika ia terluka, gadis itu benar-benar membuka mata Yudha bahwa semua yang terjadi di antara mereka adalah cinta. Dan itu bukan perasaan sepihak.


Apalagi saat ini, ketika Yudha menatapnya begitu dekat. Di mana gadis itu begitu bergantung padanya dan tidak memberinya celah untuk menjauh. Hatinya makin menghangat dan membuat Yudha makin ingin mempertahankannya.


Drrtttt....Drrrttttt...


Ponsel Yudha berdering. Ia berusaha mengangkatnya, tetapi posisi ponsel itu saat ini berada di atas nakas di belakang tubuhnya. Ia mengalami kesulitan untuk meraih ponselnya karena posisi Jea yang tengah berbantalkan lengannya.


Jika ia tak mengangkatnya, maka Jeana pasti akan terbangun karena bunyi getar ponselnya yang cukup keras. Yudha pun menarik tangannya dari kepala Jea secara perlahan. Ia memilih untuk bangun dan mengangkat telfonnya di tempat lain.


Telepon itu dari James, ia harus melaporkan perkembangan kasus tabrak lari Jeana yang direkayasa seolah kecelakaan. Polisi menutup kasusnya karena kondisi pengemudi yang berada di bawah kendali obat-obatan. Ia hanya dijatuhi hukuman ringan atas kelalaiannya.


Yudha tentunya tidak akan mempercayai berita itu begitu saja. Karena itu ia meminta James untuk menyelidikinya lebih lanjut.


"Bagaimana?"


"Kau benar. Kecelakaan ini di rekayasa. Alicya pelakunya." ujar James.

__ADS_1


"Gadis itu masih belum jera?" ujar Yudha geram, hingga tangannya tiba-tiba mengepal begitu keras dan membuatnya refleks untuk meninju tembok di depannya.


"Ada suatu hal yang belum sempat aku ceritakan kepadamu."ujar James serius.


"Ketika kau memintaku menjebak gadis itu tempo hari, aku mendapatinya kondisinya yang tidak lagi perawan. Ada pendarahan kecil disana dan aku bisa pastikan bahwa itu bukan karena ia masih belum tersentuh."


"Lantas apa?"


"Aku menyelidikinya di saat dia tertidur. Gadis itu tengah mengandung selama sembilan minggu. Dan perbuatanku malam itu, telah merenggut bayinya darinya. Aku bermain begitu kasar, karena kau memintanya sebagai perbuatan balas dendam. Tapi tanpa ku sangka aku malah merenggut sebuah nyawa dari dalam dirinya. Kemungkinan besar itu adalah penyebabnya." jelas James.


"Kau bisa membantuku menyelidiki siapa ayah dari anak itu?"


"Dari yang kudengar Itu adalah putra Aksa. Aku tidak tahu persis mengapa itu bisa terjadi. Entah ia menjebaknya atau justru mereka memang memiliki hubungan. Tetapi sampai detik kecelakaan itu, ia masih mengancam Aksa menggunakan anaknya."


"Baiklah. Kabari aku berita selanjutnya."


Butuh waktu hampir setengah jam baginya untuk menjernihkan pikirannya dan kembali masuk ke dalam kamar Jeana untuk mengecek keadaan gadis itu.


Ia menemuninya setelah pikirannya benar-benar tenang. Ia mencoba masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Yudha tidak mau mengganggu waktu istirahat Jea.


Namun siapa sangka, jika ketika kembali gadis itu tengah mengigau. Tubuhnya di penuhi dengan keringat dingin dan ia tak henti-hentinya bergumam seperti orang yang sedang ketakutan.


"Tolong, hentikan motornya. Hentikan motornya. Kumohon, hentikan motornya." lirih gadis itu berulang.


"Jea, bangunlah! Oh tidak, Ayla. Kumohon bangunlah! Aku di sini. Sadarlah, aku bersamamu sayang. Kumohon sadarlah." Yudha mengguncang-guncangkan tubuhnya, mencoba untuk membangunkan gadis itu. Ia bahkan turut meracau dan mengucapkan semua isi kepalanya tanpa berpikir panjang. Ia juga sempat salah menyebutkan nama gadis itu, entah ia mendengarnya atau tidak.

__ADS_1


"Ayla! Sadarlah!" bentaknya.


Gadis itu tersentak. Ia bangun dari tidurnya dan langsung menatap Yudha nanar. Gadis itu menggenggam erat lengan Yudha dan mencoba untuk bertumpu  kesana. Ia mengerahkan segala tenaganya untuk bangun.


"Kemarilah, aku bantu." ujar Yudha menopang tubuh gadis itu.


"Kak Yudha aku takut. Aku mimpi buruk." ia langsung menghambur ke dalam pelukan Yudha begitu pemuda itu menopang tubuhnya.


Ia memeluk tubuh suaminya begitu erat. Aylana terisak, tubuhnya makin menggigil dan ia tak hentinya meracau. Ia mengatakan bahwa dirinya ketakutan.


"Ada apa? Ceritakan padaku." Yudha melepaskan pelukannya dan berpindah ke sisi gadis itu sambil merangkulnya.


Mereka duduk berdampingan dengan Jea yang masih enggan melepaskan tangannya dari Yudha. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yudha dan terus mempererat itu hingga membuatnya sesak.


Yudha tahu persis bahwa itu bukanlah mimpi. Itu adalah bagian dari ingatan buruknya yang selalu menyiksanya. Gadis itu mengalami trauma yang begitu menyakitkan untuknya. Rasa sakit itulah yang memblokir semua kenangan buruk itu dan mencegahnya untuk mengingat segalanya.


Naluri bertahan hidupnya begitu tinggi, hingga tubuhnya secara alami meresponse itu dengan menghapus semua bagian hitam dalam memorinya. Ia tidak mengalami amnesia. Ia sendirilah yang menghapus ingatan itu dari dalam kepalanya.


Kejadian itu bahkan masih berlangsung hingga saat ini. Sudah satu tahun berlalu dan gadis itu masih begitu bergantung dengan kehadiran Yudha di sisinya. Ia tidak bisa tidur tanpa kehadiran Yudha. Hanya ketika ia berada di dalam pelukan Yudha, hatinya bisa merasa tenang.


Jea hanya bisa tertidur ketika Yudha ada di sampingnya dan memeluknya. Jika ia tidur tanpa Yudha atau ketika Yudha meninggalkannya, maka ia akan kembali mengulangi mimpi itu dan terhanyut di dalamnya.


Kondisinya akan menurun, suhu tubuhnya tinggi dan ia mengeluarkan keringat dingin. Terkadang jika itu terjadi berulang, maka ia tidak akan sadarkan diri selama beberapa hari.


Kenangan itu benar-benar mengusiknya. Belum ada cara untuk mengembalikannya ke kondisi normal. Yudha juga masih meneruskan penyelidikannya dan belum menemukan titik terang.

__ADS_1


Jalan satu-satunya saat ini adalah dengan Yudha selalu berada di sisinya. Yudha yang akan mengantar jemputnya ke mana pun dan Yudha juga yang mengurusi segala kebutuhannya. Hanya Yudha, bahkan Arumi dan Arsen pun tak bisa melakukan banyak hal selain menggantungkan harapan mereka terhadap Yudha.


__ADS_2