Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 16 : Kilas Balik Kejadian Dua Tahun Lalu


__ADS_3

Jea baru saja keluar dari rumah sakit setelah di rawat karena menderita penyakit Tifus dan Mal nutrisi selama kurang lebih satu minggu. Sedangkan tiga minggu sebelumnya, Ia habiskan dengan mengelilingi bumi demi mencari secercah informasi dari petunjuk yang ia dapatkan.


“Aku pergi mencari ibu dan kakak sulungku kemarin. Aku mendapat sedikit petunjuk dan menelusurinya. Aku menghabiskan begitu banyak waktu hingga lupa waktu makan dan juga istirahat.” Jelasnya ketika melihat wajah Yudha yang tampak gusar ketika menemuinya di Rumah Sakit.


“Itu hanyalah alasanmu untuk menyembunyikan rasa sakitmu akibat Yudha.” Jawabnya ketus dan langsung menghempaskan bokongnya di atas kursi pengunjung yang berada di samping tempat tidur Jea.


“Aku juga menemukanmu serapuh ini tiga minggu yang lalu. Kau lupa?” Yudha menghembuskan napas kasar.


“Bang, Jea serius. Ada petunjuk. Jea hampir nemuin Mama.”ujarnya bersungguh-sungguh.


“Kamu bisa tetap istirahat dan juga makan Je. Kamu pikir abang gak suruh orang untuk jagain kamu dari jauh?”


“Pasti. Karena kamu adalah Bang Yudha. Tapi, Jea benci ada di kenangan malam itu Bang. Jea benci terlihat bodoh dan merendahkan diri di hadapan Aksa.” Lirihnya.


“Kalau emang benci jangan di bahas! Sekarang kamu istirahat. Abang yang akan jagain kamu di sini semalaman.


Begitulah posesifnya seorang Yudha hingga dia benar-benar menepati janjinya dan berada di samping gadis itu selama tujuh kali dua puluh empat jam. Ia berada disana sampai gadis itu benar-benar di izinkan untuk keluar dari Rumah Sakit.


Tapi karena akibat dari kekeras kepalaannya dan juga hatinya yang diciptakan Tuhan dengan begitu lembut. Ia pun pergi dan mengecoh Yudha di hari ulang tahunnya. Ia kabur dari Rumah Sakit ketika Yudha tengah meninggalkannya untuk membersihkan diri di kamar mandi.


Gadis itu kabur dengan pakaian lengkap khas pasien rumah sakit dan berakhir di depan sebuah restoran yang diberitahukan Aksa sebagai lokasi pesta ulang tahunnya.

__ADS_1


Ia mematikan ponselnya selama satu bulan terakhir. Namun ia tergerak untuk kembali mengecek ponsel itu di hari ulang tahunnya. Pesan Aksalah yang pertama kali masuk.


Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas hampir tengah malam. Ia sudah terlambat selama dua jam dari waktu yang ditentukan Aksa untuk Candle Light Dinner mereka. Tapi apa yang ia temukan disana?


Ia menemukan Aksa tengah mencium gadis lain. Ia begitu bergairah dan bahkan ia memeluknya dengan begitu posesif. Jika itu yang dinamakan sebagai hasrat seorang pria, maka apa artinya ia selama ini?


Apa hanya karena ia selalu mengenakan pakaian sopan dan tidak pernah berias, maka Aksa tak pernah bersikap seagresif itu kepadanya.


Pikirannya melunak untuk sesaat. Ia mengalahkan sebagian besar egonya dan berpikir lurus. Aksa yang ia kenal tidak seperti itu. Ia pun memberanikan diri untuk mendekat dan menegurnya kalau saja dia mabuk dan tidak sengaja memanfaatkan wanita lain.


Tetapi Yudha benar-benar datang di saat yang tepat. Ia menahan tangan gadis itu dan membawanya untuk mengamati kondisi itu dari jauh.


Aksa pergi, sambil menggandeng mesra gadis itu dan membawanya ke sebuah bar yang ada di seberang restoran. Jea mendatangi meja itu, meja di mana dia menemukan Aksa sebelumnya. Hanya ada secangkir kopi dan segelas oranye juice disana. Tidak ada minuman apapun yang akan menyebabkan mabuk.


Hatinya benar-benar terkoyak. Apalagi ketika pintu itu tak sengaja terbuka dan ia mengintip suasana di dalamnya. Aksa tengah tertidur dengan kemeja yang berantakan dan penuh dengan bekas kecupan. Sedangkan gadis itu, roknya tampak sobek,  dan memperlihatkan sebagian besar pahanya dan bahkan ia nyaris mengekspose bagian intimnya. Ia tak melihat wajah gadis itu. Hanya melihat sisi belakang kepalanya. Entah siapa dia, tetapi Jea terburu tak sadarkan diri dan pingsan di tempat.


Yudha pun menangkap tubuhnya dan membawanya kembali ke rumah sakit. Kondisinya belum sepenuhnya pulih. Di tambah lagi tekanan mental yang ia alami, keadaannya bahkan jauh lebih buruk dibanding dengan keadaannya sebulan yang lalu ketika Yudha menerobos masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu adalah Alicya, dan itu semua bagian dari rencananya.  Ia bahkan juga melibatkan Yudha di dalamnya.


Ia hanya memancing Yudha agar lengah sehingga Jea bisa pergi dan mengecohnya menuju ke lokasi keberadaan Aksa. Ia juga yang memasukkan narkotika ke dalam minuman Aksa hingga pemuda itu mengalami halusinasi yang parah.

__ADS_1


Gadis itu menekan titik kesadaran Aksa dan memancing emosinya yang terpendam. Karena itulah mengapa pemuda itu bisa mencumbunya malam itu. Karena di balik mata Aksa, sesungguhnya dia hanyalah melihat sosok Jeana istrinya.


Ia mencium Jea dan dia juga memeluk Jea dengan sangat posesif. Kejadian yang sama dengan yang terjadi kemarin di apartement mereka.


Alicya jugalah yang memancing Aksa dengan menggunakan obat.  Aksa tidak pernah sadar sejak kapan jejak gadis itu berada di dalam kamarnya. Karena seingatnya, ia hanya melakukan itu kepada Jea seorang.


Hanya Jea di matanya. Hanya Jea di dalam pikirannya. Dan hanya Jea di setiap detik hidupnya.


Itu semua otomatis memancing ego Alicya. Ia benci kalah dari gadis itu. Ia merasa harga dirinya benar-benar terluka. Apalagi saat seorang pemuda yang dia inginkan juga tak pernah melirik ke arahnya dan malah melirik ke arah gadis itu.


Ia makin gila dan berbisa. Ia menghancurkan semua yang berada dalam jangkauan tangannya. Ia benar-benar licik.


*****


“Kau menemui Aksa?” tanya Yudha yang menemukan Jea tengah menangis ketika gadis itu memasuki mobilnya.


Ia bukan hanya mengantar gadis itu kembali menemui Aksa. Tetapi ia juga menunggu gadis itu keluar meski harus dengan kemungkinan terburuk bahwa gadis itu akan meninggalkannya demi Aksa.


“Aku hanya ingin melihat kabarnya. Tapi, aku malah menemukan jejak gadis lain di dalam kamarnya.” Isak gadis itu yang terdengar seperti rengekan seorang anak kecil.


Yudha tidak berkomentar apapun. Ia hanya tersenyum kecut dan lanjut memajukan mobilnya menjauh dari apartement Aksa. Apartement yang dahulu juga merupakan miliknya. Mereka bertetangga, tapi itu semua dia lakukan hanya agar dia bisa terus berada di dekat Jea.

__ADS_1


“Mau es krim?” godanya begitu apartement itu telah menghilang cukup jauh dari pandangan.


“Nggak, aku ada pemotretan hari ini. Taman bermain aja gimana? Aku harus balikin mood dulu sebelum kerja.” Gadis itu menghapus paksa air matanya yang jatuh. Ia tahu persis Yudha benci melihatnya menangis.


__ADS_2