Vortice Di Vendetta

Vortice Di Vendetta
BAB 46 : Rencana Jeana


__ADS_3

"Kak Syifa tolong jaga Kakakku. Bang Ryan tak seburuk itu." Jeana menggenggam hangat tangan Syifa sebelum dia menghilang malam itu.


*****


"Aaron Ryan Harrison, aku tahu dia adik dari Ny. Angela. Dan Angela masih hidup." pancing Diandra dengan ekspresi yang masih bersahabat jika dilihat dari kejauhan.


"Kau mau mencoba bernegosiasi soal apa?" Jeana masih terlihat sangat santai.


"Kau tahu kalau pertemuan pertamamu itu direkayasa oleh mereka?"


"Siapa yang kau maksud?"


"Adelio dan juga Yudha. Kau tahu nama aslinya adalah Aaron Ryan Harrison, dia adalah pamanmu yang menyamar sebagai Lio. Dia memberitahumu bahwa kau adalah adiknya. Kau percaya itu karena adanya drama dalam keluargamu. Kalian semua terlibat. Lalu bagaimana dengan Yudha." pancing Diandra.


"Apa yang kau inginkan?"


"Pergi! Aku tidak bisa membunuhmu sama seperti Yudha menyingkirkan kakakku Urdha. tetapi aku masih bisa membuat orang yang sangat dicintainya pergi bukan?" jelas Diandra mencoba bernegosiasi.


"Kau tahu masa lalu kami? Kenapa kau menyimpannya sendiri? Selama ini aku diam, karena kau tidak menunjukkan pergerakan apapun, aku masih menunggunya.


Setelah itu kau kehilangan ingatanmu, aku masih tenang. Tetapi setelah kau mengubah Yudha, apa kau pikir semua masih baik-baik saja?" Diandra menatapnya tajam.


"Aku mengerti apa yang kau maksud. Tenanglah! Aku akan melakukannya sesuai keinginanmu."


Jeana pergi tanpa lagi menunggu kelanjutan cerita Diandra. Ia telah mengingat semuanya, itu artinya ia tahu siapa Diandra sebenarnya, Ia adalah orang yang berbeda dari apa yang selama ini diketahui oleh orang-orang di sekitar mereka.


Diandra adalah kekasih Rayden. Ia yang memberi Rayden obat penawar untuk gangguan mentalnya. Ia berjasa untuk Jeana.


Alasan Jea selama ini berada di sekitarnya hanyalah agar gadis itu bisa terlihat sebagai seorang sahabat sekaligus pacar kakaknya. Tetapi siapa sangka jika mereka ternyata telah lebih dahulu memiliki rencana.


Kembalinya ingatan Jeana bukanlah hal baik. Karena ini akan kembali membuka jalannya untuk semua dendamnya pada masa lalu. Salah satunya berhubungan dengan Diandra.


Jea memutar kepalanya untuk mengulang kembali benang kusut yang ada di dalam kenangannya.


"Dia membunuh kakakku untuk mengambil identitasnya. Ia ingin mendekatimu lewat kakakku. Aku membencinya, aku mau kau membalaskan dendamku." tawar Diandra di hari pertama pertemuan mereka.


Dan itu terjadi di satu hari sebelum Jea menginjakkan kakinya di kediaman besar Goksel.

__ADS_1


"Apa yang akan aku terima sebagai imbalannya?"


"Obat penawar untuk Rayden. Clara meracuninya dan membuatnya terlihat gila. Kau akan butuh itu nanti. Setelah mereka membawamu masuk ke kediaman Goksel."


"Siapa Rayden?"


"Saudara laki-lakimu. Kalian kembar, kembar identik. Kau takkan kesulitan menemukannya nanti."


"Kau tahu, aku tidak peduli dengan hubungan. Apa untungnya aku mencari tahu tentang keluargaku?" gadis itu ingin bersikap acuh, namun penawaran Diandra benar-benar menarik di telinganya.


"Akan menarik. Karena semua akan menjadi alasan mereka meninggalkanmu. Karena kau berada di pusaran masalahnya. Kau harus mencari tahu itu, dan bersenang-senanglah." Diandra tersenyum licik dan meninggalkan gadis itu dalam rasa keingintahuannya.


Dan kini, ia kembali setelah semua rencana yang ia susun rapi berjalan secara natural tanpa ia harus repot-repot mengotori tangannya sendiri.


"Tinggalkan Yudha, sekarang! Karena ia sudah mencintaimu. Maka ia harus merasakan sakit yang lebih dariku."


"Apa alasanmu melakukannya? Bukankah kau juga membenci Urdha karena ia telah merenggut kesucianmu?" serang Jeana telak pada inti sasaran.


"Justru karena itu dia tidak boleh mati sebelum menerima ganjarannya. Kau kira aku tidak menderita?


Diandra memang terlahir dengan gen psikopat dalam darahnya. Ia, Urdha, bahkan ayah mereka. Semuanya benar-benar gila.


Bahkan ia rela menjadikan hidupnya sebagai bahan permainan. Seorang psikopat memang adalah aktor terbaik yang pernah ada.


Dan Jeana tahu, ia tidak bisa bermain-main dengan orang yang tak memiliki akal sehat seperti itu.


"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi jangan sakiti Ray! Kau bersamanya untuk menepati janjimu kepadaku. Kau tahu seberapa menyebalkannya jika milikmu di sentuh orang lain? Rayden adalah milikmu sekarang, jadi jagalah ia baik-baik."


Jeana menyudahi obrolan mereka dan berjalan ke arah mobil. Ia mengajak Adelio dan juga James ke tempat lain. Tempat di mana rencananya akan dimulai.


"Aku gak bisa bohongin Kak Yudha. Aku bakal kenalin Bang Lio sama seorang perempuan di bar itu. Ia memang pekerja disana, tapi bisa dipastikan bahwa ia adalah seorang gadis baik-baik." cengirnya mencoba bersikap normal di hadapan mereka.


"Aku udah tahu kalau kamu gak akan tiba-tiba ajakin aku kayak gini." ketus Lio.


"Namanya Syifa. Asyifa Zahrana. Dia cantik, berpendidikan, tetapi cuma gak beruntung aja. Sampai harus bekerja disana. Ia punya masalah keuangan, tetapi aku bisa pastikan kalau Mbak Syifa itu orang yang baik." ujarnya memberi penjelasan namun tidak didengar oleh Adelio.


Satu jam perjalanan dari tempat sebelumnya. Mereka berdiri tepat di depan Bar yang Jea maksud. Jeana turun terlebih dahulu dan membuka pembicaraannya dengan Syifa, sebelum akhirnya ia memaksa Adelio untuk turun dan berbicara empat mata dengan Syifa.

__ADS_1


****


"Ia menitipkan mu padaku, sama seperti ibumu yang menitipkan mu pada ibuku." jelas Syifa tanpa diminta.


"Apa maksudmu?" ujar Lio tak mengerti.


"Kau tahu kenapa nama mereka terdengar berbeda, padahal mereka adalah sepasang anak kembar?" Syifa menuangkan segelas minuman dan memberikannya kepada Lio.


"Bisakah kau tidak berbelit-belit?" Adelio menerima minuman itu dan langsung menengguk setengahnya.


"Ibuku bekerja dengan Tuan besar Harrison. Dahulu beliaulah yang memintanya untuk menjagamu dari kekejaman Sanjaya Goksel, karena itulah Sanjaya tak pernah menemukan keberadaan mu." ia berbicara sambil sibuk mengukir es batu di tangannya hingga membentuk bongkahan kristal.


Adelio mulai tertarik dengan pembicaraannya dan terus menatap gadis itu intens untuk mendengar semua penjelasannya.


"Setelah kau aman, Ny Angela sendiri yang memintanya datang ke kediaman Goksel demi melindungi kedua anak kembarnya. Ia lega karena kau yang mengasuh si cantik. Tapi anak satunya, berada di tangan Clara. Clara adalah ular. Anak itu berada dalam bahaya


Anak muda itu dilahirkan dengan nama Jason. Jeana dan Jason. dia yang tertua, tetapi lucunya karena gadis itu malah memanggilnya kakak." dia tersenyum sinis, setelah sedikit mengalihkan pembicaraan mereka.


"Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?" bentak Lio namun gadis itu masih saja terlihat sangat tenang.


"Ibuku yang memberinya nama Rayden, agar dia bisa mengingatmu melalui anak muda itu. Rayden, dan Ryan (dibaca Rayen) terdengar mirip bukan? Ibuku sangat menyayangi kalian, tetapi Clara mengusirnya. Penyakit Rayden bermula sejak itu.


Ibuku tidak ada lagi disana untuk menjaganya. Clara mulai meracuninya dengan berbagai obat-obatan yang menurunkan daya pikirnya. Bahkan ibuku pun juga sama. Ia lumpuh setelah keluar dari rumah itu.


Clara benar-benar iblis. Tetapi Jea membantunya. Ia memberikan ibuku penawarnya, sama seperti Rayden. Dan sekarang mereka berdua sudah aman. Kini tinggal tugasku untuk menjagamu. Biarkanlah gadis itu menyelesaikan pertarungannya."


"Apa sebenarnya yang kau maksud?"


"Aku hanya mendongeng sampai obatnya bereaksi. Jea juga pasti sudah pergi saat ini." Syifa menatap ke arah mobil James yang sudah dipenuhi oleh kepulan asap.


Tangannya terhenti. Ia menjatuhkan es yang sudah terukir dengan sempurna itu ke dalam gelas lainnya. Ia memberikannya kepada seekor burung hantu yang kakinya tengah terikat di pinggiran meja di dekatnya.


Burung itu jatuh dalam hitungan detik. Begitupun dengan Lio yang sudah merasakan sensasi berputar di kepalanya.


"Apa yang kau laku..." dia jatuh tak sadarkan diri sebelum sempat melanjutkan kalimatnya. Gadis itu tergelak.


"Kau harus tidur, agar ia bisa pergi." gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2